alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Tuesday, 24 May 2022

24 Warga Banjarbaru Suspect Covid-19

BANJARBARU – Sebanyak 24 orang di Banjarbaru terindikasi kena paparan virus. Hal ini setelah Dinas Kesehatan banjarbaru melakukan pengujian cepat (rapid tes) terhadap puluhan orang yang memiliki riwayat perjalanan ke Gowa, Sulawesi Selatan. 

Kepala Dinas Kesehatan Banjarbaru Rizana Mirza tidak menampik bahwa ada puluhan warga yang hasil rapid test-nya reaktif. Ada 41 orang yang dites dan memang 24 diantaranya reaktif. Tapi, reaktif hanya gejala imunitas tubuh terhadap virus masuk. “Virus sendiri bukan hanya Covid-19. Bisa juga virus lain,” katanya.

Dia mengungkapkan, rapid test hanya bisa digunakan sebagai skrining atau penyaringan awal. Sementara untuk mendiagnosis seseorang terinfeksi Covid-19 harus ada tes pengambilan spesimen lendir menggunakan swab dan pemeriksaan PCR.

Sebagai penguat argumen, dia mengatakan tiga orang yang sebelumnya terindikasi corona dalam dengan rapid test, ternyata negatif Covid-19. “Itu membuktikan bahwa rapid test hanya skrining awal,” ungkapnya.

Lanjutnya, dari tiga orang tersebut dua diantaranya memang memiliki riwayat perjalanan ke Gowa. Namun, tidak masuk dalam rapid test bersama 41 orang yang informasinya kini sedang menyebar.

“Mereka dites duluan. Karena sebelum melakukan rapid test terhadap 41 orang, kami sudah melakukan tes ke orang-orang dalam pengawasan,” ujarnya.

Lalu bagaimana dengan 24 warga yang hasil rapid test-nya reaktif? Riza menyampaikan bahwa kini 22 diantaranya tengah menjalani karantina di gedung Balai Pendidikan dan Pelatihan, di Jalan Ambulung, Kelurahan Loktabat, Banjarbaru. Sedangkan dua lainnya, memilih melakukan karantina mandiri di rumah.

“Gedung Balai Diklat memang telah disiapkan Tim Gugus Pemprov Kalsel sebagai tempat karantina orang-orang dari berbagai daerah yang dinyatakan reaktif usai menjalani rapid test,” ucapnya.

Dia menuturkan, dalam gedung tersebut Pemprov Kalsel telah menyediakan dokter dan perawat untuk mengawasi para warga yang dikarantina. “Terkait biaya makan dan minum orang yang menjalani karantina, ditanggung oleh pemerintah daerah masing-masing yang menempatkan warganya di sana,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarbaru Zaini Syahranie menyampaikan, pihaknya telah memberikan bantuan kepada para keluarga warga yang saat ini sedang menjalani karantina di Ambulung. “BPBD Banjarbaru sudah mengirimkan bantuan berupa sembako kepada pihak keluarga,” ucapnya.

Di sisi lain, Komandan Kodim 1006/Martapura yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Tim Gugus Tugas P3 Covid-19 Kota Banjarbaru, Letkol Arm Siswo Budiarto meminta agar masyarakat tak perlu resah dan panik dengan adanya puluhan warga yang hasil rapid test-nya terindikasi virus. “Karena reaktif belum tentu positif virus corona,” paparnya.

Dia mengapresiasi langkah Pemko Banjarbaru yang langsung mengisolasi puluhan warga yang hasil tesnya reaktif. “Ini kebijakan dari walikota yang perlu didukung. Memang benar isolasi bisa dilakukan secara mandiri, tapi agar terjamin Pemko melakukan isolasi di Balai Diklat. Supaya bisa melihat perkembangan para warga selama 14 hari masa inkubasi,” pungkasnya.

Sementara itu, semenjak ditetapkan sebagai tempat karantina, akses ke gedung Ambulung dijaga ekstra ketat. Awak media yang ingin meliput pun tak diperkenankan untuk masuk. Batasnya hanya sebatas gerbang utama. Alasannya demi keamanan dan meminimalisir risiko.

Ada tiga unsur keamanan yang menjaga gedung ini. Mulai dari security internal, anggota Satpol PP serta dari unsur TNI. Yang boleh masuk adalah otoritas kesehatan atau dari tim gugus tugas P3 Covid-19 Kalsel.

Dari pantauan tampak luar, gedung ini lenggang. Tak nampak aktivitas orang. Kelompok yang dikarantina rupanya berada di bagian dalam gedung. Tepatnya di gedung asrama dengan kapasitas 80 kamar.

Menurut Kepala BPSDM Kalsel, M Nispuani, pihaknya terlibat hanya sebagai fasilitator tempat. Segala urusan teknis adalah wewenang gugus tugas. Bahkan petugas dari BPSDM pun terangnya hanya sebatas beroperasi di bagian luar, non-asrama.

“Untuk teknisnya itu dari tim kesehatan gugus tugas. Karena mereka yang paham bagaimana protokol dan penanganannya. Kami hanya diminta menyiapkan tempat,” katanya kemarin.

Secara umumnya, kampus II ini kata Nispuani terbagi beberapa bangunan. Mulai dari ruang kelas, aula hingga asrama. Untuk karantina, dua gedung asrama bertingkat dua yang difungsikan.

“Daya tampungnya 80 kamar. Satu kamar itu ada dua bed (kasur) dan sudah tersedia kamar mandinya. Kalau soal satu kamar berapa diisi pasien (ODP) saya tidak mengetahui, itu wewenang gugus tugas Kalsel,” jelasnya.

Selama masa karantina ini, dari BPSDM hanya petugas kebersihan yang bertugas. Itupun tegasnya tidak masuk ke dalam areal asrama. Lantaran zona tersebut wewenang tim kesehatan dan keamanan.

“Kami tidak terlibat untuk urusan yang sifatnya teknis. Hanya sebatas menyediakan tempat termasuk kebutuhan listrik dan air bersih. Sisanya dari gugus tugas,” pungkasnya.

Sebagian warga yang bermukim di sekitaran gedung mengaku masih cukup was-was dengan keberadaan gedung ini sebagai tempat karantina. Meskipun tidak ada bentuk penolakan seperti di beberapa wilayah tertentu.

Misalnya Ahmad yang rumahnya tepat bersebelahan dengan pagar gedung. Ia dan keluarga menyebut jika akhir-akhir ini agak menjaga jarak dengan areal gedung. “Memang sudah diberitahu bakal jadi tempat karantina beberapa waktu lalu, namun tetap saja ada rasa was-was. Jadi ya agak menjaga jarak, tidak pernah berani mendekat, takut kalau menular,” ceritanya.

Ketakutan Ahmad bukan tak berdasar, menurut sepengakuannya bahwa informasi atau sosialisasi yang sampai kepadanya dari petugas hanya sebatas pemberitahuan. Tidak ada spesifik soal tingkat keamanannya.
Senada, meskipun rumahnya agak jauh dari gedung, Rita juga berujar sedikir khawatir. Karena menurut sepemahamannya, bahwa virus ini cepat dan mudah menular.

“Khawatir sih kalau mau jujur, ya siapa yang tidak takut karena lumayan dekat kan. Tapi ada baca beberapa berita kalau tempat karantina dipastikan aman bagi warga di sekitar. Nah semoga saja di sini juga dipastikan aman,” katanya. (ris/rvn/ran/ema)

BANJARBARU – Sebanyak 24 orang di Banjarbaru terindikasi kena paparan virus. Hal ini setelah Dinas Kesehatan banjarbaru melakukan pengujian cepat (rapid tes) terhadap puluhan orang yang memiliki riwayat perjalanan ke Gowa, Sulawesi Selatan. 

Kepala Dinas Kesehatan Banjarbaru Rizana Mirza tidak menampik bahwa ada puluhan warga yang hasil rapid test-nya reaktif. Ada 41 orang yang dites dan memang 24 diantaranya reaktif. Tapi, reaktif hanya gejala imunitas tubuh terhadap virus masuk. “Virus sendiri bukan hanya Covid-19. Bisa juga virus lain,” katanya.

Dia mengungkapkan, rapid test hanya bisa digunakan sebagai skrining atau penyaringan awal. Sementara untuk mendiagnosis seseorang terinfeksi Covid-19 harus ada tes pengambilan spesimen lendir menggunakan swab dan pemeriksaan PCR.

Sebagai penguat argumen, dia mengatakan tiga orang yang sebelumnya terindikasi corona dalam dengan rapid test, ternyata negatif Covid-19. “Itu membuktikan bahwa rapid test hanya skrining awal,” ungkapnya.

Lanjutnya, dari tiga orang tersebut dua diantaranya memang memiliki riwayat perjalanan ke Gowa. Namun, tidak masuk dalam rapid test bersama 41 orang yang informasinya kini sedang menyebar.

“Mereka dites duluan. Karena sebelum melakukan rapid test terhadap 41 orang, kami sudah melakukan tes ke orang-orang dalam pengawasan,” ujarnya.

Lalu bagaimana dengan 24 warga yang hasil rapid test-nya reaktif? Riza menyampaikan bahwa kini 22 diantaranya tengah menjalani karantina di gedung Balai Pendidikan dan Pelatihan, di Jalan Ambulung, Kelurahan Loktabat, Banjarbaru. Sedangkan dua lainnya, memilih melakukan karantina mandiri di rumah.

“Gedung Balai Diklat memang telah disiapkan Tim Gugus Pemprov Kalsel sebagai tempat karantina orang-orang dari berbagai daerah yang dinyatakan reaktif usai menjalani rapid test,” ucapnya.

Dia menuturkan, dalam gedung tersebut Pemprov Kalsel telah menyediakan dokter dan perawat untuk mengawasi para warga yang dikarantina. “Terkait biaya makan dan minum orang yang menjalani karantina, ditanggung oleh pemerintah daerah masing-masing yang menempatkan warganya di sana,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarbaru Zaini Syahranie menyampaikan, pihaknya telah memberikan bantuan kepada para keluarga warga yang saat ini sedang menjalani karantina di Ambulung. “BPBD Banjarbaru sudah mengirimkan bantuan berupa sembako kepada pihak keluarga,” ucapnya.

Di sisi lain, Komandan Kodim 1006/Martapura yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Tim Gugus Tugas P3 Covid-19 Kota Banjarbaru, Letkol Arm Siswo Budiarto meminta agar masyarakat tak perlu resah dan panik dengan adanya puluhan warga yang hasil rapid test-nya terindikasi virus. “Karena reaktif belum tentu positif virus corona,” paparnya.

Dia mengapresiasi langkah Pemko Banjarbaru yang langsung mengisolasi puluhan warga yang hasil tesnya reaktif. “Ini kebijakan dari walikota yang perlu didukung. Memang benar isolasi bisa dilakukan secara mandiri, tapi agar terjamin Pemko melakukan isolasi di Balai Diklat. Supaya bisa melihat perkembangan para warga selama 14 hari masa inkubasi,” pungkasnya.

Sementara itu, semenjak ditetapkan sebagai tempat karantina, akses ke gedung Ambulung dijaga ekstra ketat. Awak media yang ingin meliput pun tak diperkenankan untuk masuk. Batasnya hanya sebatas gerbang utama. Alasannya demi keamanan dan meminimalisir risiko.

Ada tiga unsur keamanan yang menjaga gedung ini. Mulai dari security internal, anggota Satpol PP serta dari unsur TNI. Yang boleh masuk adalah otoritas kesehatan atau dari tim gugus tugas P3 Covid-19 Kalsel.

Dari pantauan tampak luar, gedung ini lenggang. Tak nampak aktivitas orang. Kelompok yang dikarantina rupanya berada di bagian dalam gedung. Tepatnya di gedung asrama dengan kapasitas 80 kamar.

Menurut Kepala BPSDM Kalsel, M Nispuani, pihaknya terlibat hanya sebagai fasilitator tempat. Segala urusan teknis adalah wewenang gugus tugas. Bahkan petugas dari BPSDM pun terangnya hanya sebatas beroperasi di bagian luar, non-asrama.

“Untuk teknisnya itu dari tim kesehatan gugus tugas. Karena mereka yang paham bagaimana protokol dan penanganannya. Kami hanya diminta menyiapkan tempat,” katanya kemarin.

Secara umumnya, kampus II ini kata Nispuani terbagi beberapa bangunan. Mulai dari ruang kelas, aula hingga asrama. Untuk karantina, dua gedung asrama bertingkat dua yang difungsikan.

“Daya tampungnya 80 kamar. Satu kamar itu ada dua bed (kasur) dan sudah tersedia kamar mandinya. Kalau soal satu kamar berapa diisi pasien (ODP) saya tidak mengetahui, itu wewenang gugus tugas Kalsel,” jelasnya.

Selama masa karantina ini, dari BPSDM hanya petugas kebersihan yang bertugas. Itupun tegasnya tidak masuk ke dalam areal asrama. Lantaran zona tersebut wewenang tim kesehatan dan keamanan.

“Kami tidak terlibat untuk urusan yang sifatnya teknis. Hanya sebatas menyediakan tempat termasuk kebutuhan listrik dan air bersih. Sisanya dari gugus tugas,” pungkasnya.

Sebagian warga yang bermukim di sekitaran gedung mengaku masih cukup was-was dengan keberadaan gedung ini sebagai tempat karantina. Meskipun tidak ada bentuk penolakan seperti di beberapa wilayah tertentu.

Misalnya Ahmad yang rumahnya tepat bersebelahan dengan pagar gedung. Ia dan keluarga menyebut jika akhir-akhir ini agak menjaga jarak dengan areal gedung. “Memang sudah diberitahu bakal jadi tempat karantina beberapa waktu lalu, namun tetap saja ada rasa was-was. Jadi ya agak menjaga jarak, tidak pernah berani mendekat, takut kalau menular,” ceritanya.

Ketakutan Ahmad bukan tak berdasar, menurut sepengakuannya bahwa informasi atau sosialisasi yang sampai kepadanya dari petugas hanya sebatas pemberitahuan. Tidak ada spesifik soal tingkat keamanannya.
Senada, meskipun rumahnya agak jauh dari gedung, Rita juga berujar sedikir khawatir. Karena menurut sepemahamannya, bahwa virus ini cepat dan mudah menular.

“Khawatir sih kalau mau jujur, ya siapa yang tidak takut karena lumayan dekat kan. Tapi ada baca beberapa berita kalau tempat karantina dipastikan aman bagi warga di sekitar. Nah semoga saja di sini juga dipastikan aman,” katanya. (ris/rvn/ran/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/