alexametrics
33.1 C
Banjarmasin
Senin, 16 Mei 2022

214 Santriwati Wajib Screening, Pendamping: Mereka Sudah 3 Hari Dikarantina di Pondok

Sebelas bus dari Martapura, membawa 214 santriwati. Di Terminal Induk Banjarmasin, petugas Dinas Kesehatan sudah siap mencegat.

BANJARMASIN – Banjarmasin menyandang status zona merah, bahkan ditetapkan sebagai kawasan transmisi lokal terkait penyebaran virus corona.

Maka, meski ada warga yang datang dari wilayah zona hijau alias berisiko rendah, Pemko Banjarmasin tetap memperketat pemantauan.

Seperti kemarin (14/4) siang di Terminal Pal Enam. Ratusan santriwati asal Banjarmasin yang pulang dari Pondok Pesantren Darul Hijrah, Martapura, menjalani screening massal. Sebelum dijemput para orang tua untuk kembali ke rumahnya masing-masing.

Pantauan Radar Banjarmasin di lapangan, rombongan santriwati itu datang menumpang 11 bus. Total, ada 214 santriwati dan 11 pendamping di dalam bus. Semuanya mengenakan masker.

Setibanya di terminal batas kota, tim kesehatan langsung bergerak memeriksa satu demi satu penumpang dengan alat pengukur suhu tubuh. Metode pemeriksaan yang dipilih adalah screening cepat, agar bisa memilah mana yang menunjukkan gejala dan tidak.

Bagi santriwati yang suhu tubuhnya tinggi, maka akan diperiksa lebih intensif oleh petugas kesehatan yang mengenakan alat pelindung diri lengkap.

Salah satu yang demam adalah Saida Hafizah. “Iya, tadi suhu tubuh saya tinggi. Jadi diperiksa ulang,” ujarnya.

Sementara itu, Kabid Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Banjarmasin, Bandiyah Marifah mengatakan, meski para santriwati itu datang dari zona hijau, screening harus tetap dilakukan agar memudahkan pemantauan.

Bagi santriwati yang tidak bergejala, maka diberikan edukasi terkait apa yang harus dilakukan di rumah. Sementara apabila ditemukan santri yang bergejala, akan dilihat kembali apakah mereka bergejala ringan atau berat.

“Kalau gejala ringan, cukup diedukasi agar yang bersangkutan mengisolasi diri di rumah dan berobat ke puskesmas. Tapi kalau gejala berat, akan kami rujuk langsung ke rumah sakit,” tuntasnya. (war/fud/ema)

Sudah Dikarantina di Pondok

SALAH seorang pendamping santriwati Pondok Pesantren Darul Hijrah Puteri, Aulia mengatakan, sebelum mereka dipulangkan ke daerah masing-masing, sudah lebih dulu menjalani screening di pondok selama tiga hari berturut-turut.

“Dari data yang saya pegang dari pihak kesehatan pondok, kelompok saya berjumlah 19 orang, alhamdulillah sehat semua,” bebernya.

Tidak hanya screening saja. Aulia menjelaskan bahwa pihak ponpes juga melakukan karantina mandiri guna mengantisipasi COVID-19. Para santriwati tidak diperkenankan meninggalkan pondok. Bahkan, orang tua santri pun tidak diperkenankan menjenguk.

Terhitung sejak 18 Maret hingga 14 April kemarin. “Santri, dipulangkan karena libur bulan Ramadan. Santri akan kembali ke pondok seusai Idulfitri,” tambahnya.

Salah seorang wali santriwati asal Banjarmasin, Dailami mengatakan, sebagai orang tua, mau tidak mau harus mengikuti aturan yang diberlakukan pihak ponpes.

Alhasil, dia pun harus menahan diri dari rasa kangen. Untuk menjenguk atau menjemput putrinya. “Alhamdulillah anak saya sehat. Akhirnya bisa bertemu lagi,” ujarnya.

Perlu diketahui, kemarin (14/4) seluruh santriwati Pondok Pesantren Darul Hijrah Puteri, Martapura secara serentak telah dipulangkan.

Narahubung Ponpes Darul Hijrah Puteri, untuk wilayah Kota Banjarmasin, Cecep Ramadhani menerangkan bahwa total santriwati yang dipulangkan berjumlah sekitar dua ribu orang. (war/fud/ema)

Sebelas bus dari Martapura, membawa 214 santriwati. Di Terminal Induk Banjarmasin, petugas Dinas Kesehatan sudah siap mencegat.

BANJARMASIN – Banjarmasin menyandang status zona merah, bahkan ditetapkan sebagai kawasan transmisi lokal terkait penyebaran virus corona.

Maka, meski ada warga yang datang dari wilayah zona hijau alias berisiko rendah, Pemko Banjarmasin tetap memperketat pemantauan.

Seperti kemarin (14/4) siang di Terminal Pal Enam. Ratusan santriwati asal Banjarmasin yang pulang dari Pondok Pesantren Darul Hijrah, Martapura, menjalani screening massal. Sebelum dijemput para orang tua untuk kembali ke rumahnya masing-masing.

Pantauan Radar Banjarmasin di lapangan, rombongan santriwati itu datang menumpang 11 bus. Total, ada 214 santriwati dan 11 pendamping di dalam bus. Semuanya mengenakan masker.

Setibanya di terminal batas kota, tim kesehatan langsung bergerak memeriksa satu demi satu penumpang dengan alat pengukur suhu tubuh. Metode pemeriksaan yang dipilih adalah screening cepat, agar bisa memilah mana yang menunjukkan gejala dan tidak.

Bagi santriwati yang suhu tubuhnya tinggi, maka akan diperiksa lebih intensif oleh petugas kesehatan yang mengenakan alat pelindung diri lengkap.

Salah satu yang demam adalah Saida Hafizah. “Iya, tadi suhu tubuh saya tinggi. Jadi diperiksa ulang,” ujarnya.

Sementara itu, Kabid Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Banjarmasin, Bandiyah Marifah mengatakan, meski para santriwati itu datang dari zona hijau, screening harus tetap dilakukan agar memudahkan pemantauan.

Bagi santriwati yang tidak bergejala, maka diberikan edukasi terkait apa yang harus dilakukan di rumah. Sementara apabila ditemukan santri yang bergejala, akan dilihat kembali apakah mereka bergejala ringan atau berat.

“Kalau gejala ringan, cukup diedukasi agar yang bersangkutan mengisolasi diri di rumah dan berobat ke puskesmas. Tapi kalau gejala berat, akan kami rujuk langsung ke rumah sakit,” tuntasnya. (war/fud/ema)

Sudah Dikarantina di Pondok

SALAH seorang pendamping santriwati Pondok Pesantren Darul Hijrah Puteri, Aulia mengatakan, sebelum mereka dipulangkan ke daerah masing-masing, sudah lebih dulu menjalani screening di pondok selama tiga hari berturut-turut.

“Dari data yang saya pegang dari pihak kesehatan pondok, kelompok saya berjumlah 19 orang, alhamdulillah sehat semua,” bebernya.

Tidak hanya screening saja. Aulia menjelaskan bahwa pihak ponpes juga melakukan karantina mandiri guna mengantisipasi COVID-19. Para santriwati tidak diperkenankan meninggalkan pondok. Bahkan, orang tua santri pun tidak diperkenankan menjenguk.

Terhitung sejak 18 Maret hingga 14 April kemarin. “Santri, dipulangkan karena libur bulan Ramadan. Santri akan kembali ke pondok seusai Idulfitri,” tambahnya.

Salah seorang wali santriwati asal Banjarmasin, Dailami mengatakan, sebagai orang tua, mau tidak mau harus mengikuti aturan yang diberlakukan pihak ponpes.

Alhasil, dia pun harus menahan diri dari rasa kangen. Untuk menjenguk atau menjemput putrinya. “Alhamdulillah anak saya sehat. Akhirnya bisa bertemu lagi,” ujarnya.

Perlu diketahui, kemarin (14/4) seluruh santriwati Pondok Pesantren Darul Hijrah Puteri, Martapura secara serentak telah dipulangkan.

Narahubung Ponpes Darul Hijrah Puteri, untuk wilayah Kota Banjarmasin, Cecep Ramadhani menerangkan bahwa total santriwati yang dipulangkan berjumlah sekitar dua ribu orang. (war/fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/