alexametrics
24.1 C
Banjarmasin
Saturday, 28 May 2022

Tidak Tinggal di Rumah Saat Corona, Tukang Gigi: Kalau Khawatir Justru Bahaya

Siapa yang paling berisiko terpapar COVID-19 ? Jawabannya, bisa saja tukang gigi palsu.

— Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin —

Pandemi menghantam seluruh usaha bisnis. Termasuk usaha yang dilakoni para tukang gigi palsu. Hal itu bukan tanpa alasan. Para pelaku usaha yang satu ini langsung berhubungan dengan bagian paling rentan. Mulut.

Ketika bertemu, para tukang gigi palsu harus membuat klien membuka mulutnya, untuk bisa melakukan pengecekan dan mencocokkan seperti apa gigi palsu yang bakal dibuat. Di situlah risiko penularan COVID-19 bisa terjadi.

Dari rilis yamg dikeluarkan oleh organisasi kesehatan dunia atau WHO, penularan COVID-19 ditularkan melalui percikan, tetesan, persentuhan. Atau dalam istilah medis dikenal dengan droplet. Misalnya, saat seseorang batuk, bersin atau berbicara.

Hujan masih mengguyur deras Kota Banjarmasin, kemarin (11/4) sore. Kawasan Pasar Sudimampir Banjarmasin pun masih ramai dengan hilir mudik warga.

Di antara deretan toko yang berada di kawasan pasar, Hwang Sui Lan (67), masih tampak serius mengukir gigi palsu di depan toko miliknya. Sudah 15 tahun, perempuan yang akrab disapa Taci Wawa ini menjadi tukang gigi.

“Yang ini, besok sudah mau diambil si pemesan,” ucapnya.

Dalam sehari, dia bisa membuat satu hingga lima set gigi palsu. Sementara paling lama, bisa sampai memakan waktu hingga dua hari. Tergantung pesanan.

Kepada penulis, Taci Wawa, menuturkan bahwa keahliannya membuat gigi palsu sudah didapatkannya turun menurun dari keluarganya. Mulai dari kakek, ayah dan ibu hingga ke dirinya.

“Ini bisnis turun temurun dan menyenangkan, bisa membantu orang-orang,” bebernya.

Diakuinya, pandemi memang sedikit menyulitkan usahanya. Klien yang datang pun mulai berkurang. Tepatnya, semenjak orang-orang diimbau untuk tidak keluar rumah, kecuali dalam hal mendesak.

“Sebelum pandemi, dalam sepekan tak terhitung berapa banyak klien yang datang. Sekarang paling hanya beberapa,” ungkapnya, seraya tersenyum.

Namun, ketika disinggung perihal usahanya yang rentan terpapar,  Taci Wawa, justru mengaku tidak khawatir.

“Kalau tertekan atau merasa terlalu khawatir, justru bisa terkena penyakit. Yang penting, kita berusaha saja semampunya. Sesuai apa yang dianjurkan,” pesannya.

Hal senada juga diungkapkan oleh seorang tukang gigi palsu lainnya, Amin Wahyudi. Pemilik toko gigi palsu Tjang Eng What, ini sudah 20 tahun menggeluti usahanya.

Menurutnya, selama kita mau berusaha, maka tak ada satu pun kesulitan yang tak dapat dilalui. Termasuk pandemi.

“Setiap usaha tentu ada risikonya. Tetap semangat dan teruslah berusaha sebaik mungkin, itu kunci suksesnya,” tuntasnya. (Bersambung)

Siapa yang paling berisiko terpapar COVID-19 ? Jawabannya, bisa saja tukang gigi palsu.

— Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin —

Pandemi menghantam seluruh usaha bisnis. Termasuk usaha yang dilakoni para tukang gigi palsu. Hal itu bukan tanpa alasan. Para pelaku usaha yang satu ini langsung berhubungan dengan bagian paling rentan. Mulut.

Ketika bertemu, para tukang gigi palsu harus membuat klien membuka mulutnya, untuk bisa melakukan pengecekan dan mencocokkan seperti apa gigi palsu yang bakal dibuat. Di situlah risiko penularan COVID-19 bisa terjadi.

Dari rilis yamg dikeluarkan oleh organisasi kesehatan dunia atau WHO, penularan COVID-19 ditularkan melalui percikan, tetesan, persentuhan. Atau dalam istilah medis dikenal dengan droplet. Misalnya, saat seseorang batuk, bersin atau berbicara.

Hujan masih mengguyur deras Kota Banjarmasin, kemarin (11/4) sore. Kawasan Pasar Sudimampir Banjarmasin pun masih ramai dengan hilir mudik warga.

Di antara deretan toko yang berada di kawasan pasar, Hwang Sui Lan (67), masih tampak serius mengukir gigi palsu di depan toko miliknya. Sudah 15 tahun, perempuan yang akrab disapa Taci Wawa ini menjadi tukang gigi.

“Yang ini, besok sudah mau diambil si pemesan,” ucapnya.

Dalam sehari, dia bisa membuat satu hingga lima set gigi palsu. Sementara paling lama, bisa sampai memakan waktu hingga dua hari. Tergantung pesanan.

Kepada penulis, Taci Wawa, menuturkan bahwa keahliannya membuat gigi palsu sudah didapatkannya turun menurun dari keluarganya. Mulai dari kakek, ayah dan ibu hingga ke dirinya.

“Ini bisnis turun temurun dan menyenangkan, bisa membantu orang-orang,” bebernya.

Diakuinya, pandemi memang sedikit menyulitkan usahanya. Klien yang datang pun mulai berkurang. Tepatnya, semenjak orang-orang diimbau untuk tidak keluar rumah, kecuali dalam hal mendesak.

“Sebelum pandemi, dalam sepekan tak terhitung berapa banyak klien yang datang. Sekarang paling hanya beberapa,” ungkapnya, seraya tersenyum.

Namun, ketika disinggung perihal usahanya yang rentan terpapar,  Taci Wawa, justru mengaku tidak khawatir.

“Kalau tertekan atau merasa terlalu khawatir, justru bisa terkena penyakit. Yang penting, kita berusaha saja semampunya. Sesuai apa yang dianjurkan,” pesannya.

Hal senada juga diungkapkan oleh seorang tukang gigi palsu lainnya, Amin Wahyudi. Pemilik toko gigi palsu Tjang Eng What, ini sudah 20 tahun menggeluti usahanya.

Menurutnya, selama kita mau berusaha, maka tak ada satu pun kesulitan yang tak dapat dilalui. Termasuk pandemi.

“Setiap usaha tentu ada risikonya. Tetap semangat dan teruslah berusaha sebaik mungkin, itu kunci suksesnya,” tuntasnya. (Bersambung)

Most Read

Artikel Terbaru

/