alexametrics
27.1 C
Banjarmasin
Sunday, 22 May 2022

Suasana Taman Budaya Kalsel di Tengah Pandemi; Kangen Menonton Pergelaran, Harus Ada Panggung Daring

Berkecimpung di sana sejak tahun 1985, baru kali ini Yamani (62) melihat Taman Budaya sesepi ini.

— Oleh: Wahyu Ramadhan, Banjarmasin —

LELAKI tua itu asyik dengan kretek di tangan kiri dan gawai di tangan kanan. Kemarin (11/4), penulis menyambanginya di warung kopi samping Gedung Pertunjukan Balairung Sari.

Sejak pandemi, fasilitas berkesenian di Jalan Hasan Basri itu ditutup. Warung miliknya yang biasa ramai dengan diskusi kawula seniman, kini tampak murung.

Tak ada lagi yang latihan di panggung terbuka. Tak ada lagi yang keluar masuk galeri lukisan. Tak ada lagi sastrawan atau wartawan yang singgah ke warungnya.

“Hari ini, tidak ada satu pun yang datang. Sebelumnya, masih ada kawan-kawan seniman yang duduk. Meski hanya dua atau tiga orang,” ucap anggota Teater Banjarmasin itu.

Ya, tidak hanya warung kecil itu yang harus mengalah pada pandemi. Tapi juga seluruh pertunjukan ditunda, bahkan dibatalkan. Salah satunya adalah Hari Tari Sedunia yang semestinya digelar bulan ini.

“Warung ini pun bisa bertahan karena rezeki dari mereka (para seniman),” ungkapnya.

Yamani masih ingat, pada awal kedatangannya kemari, Taman Budaya tak pernah sepi dengan seabrek kegiatan. Dari seni lukis, tari, musik, hingga teater.

Hanya wabah virus corona yang bisa membuat Taman Budaya tutup. “Semoga pandemi lekas berlalu. Saya kangen menonton pagelaran. Kangen mengobrol sama kawan-kawan,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Taman Budaya Kalsel, melalui Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Pergelaran, Rudi Karno, tak memungkiri bahwa ada sejumlah pagelaran yang harus ditunda gara-gara COVID-19.

Contoh, pentas teater keliling yang dijadwalkan Maret lalu. Semestinya ada empat kali kegiatan, tapi baru berjalan dua kali, keburu dihentikan. “Setelah pandemi, insyaallah kegiatan berlanjut dan lebih banyak lagi,” harapnya.

Harus Ada Panggung Daring

KETERBATASAN ruang pentas di tengah pandemi, semestinya tidak mengekang kebebasan berekspresi seniman Banjarmasin. Agar seni dan budaya tetap mendapat wadah, sejumlah seniman memilih wadah daring. Baik sekadar berdiskusi atau pentas karya.

Sebut saja Edi Sutardi. Direktur Teater Matahari ini membuka ruang diskusi dan latihan secara online bersama anggota lainnya.

Menurutnya, sekarang justru kesenian tampak lebih bermakna. Lantaran suasana yang kian senyap dan tenang. Maksudnya, hiruk-pikuk kota berkurang lantaran anjuran berdiam diri di rumah.

“Bisa menjadi bahan pembelajaran. Tidak semua jenis kesenian atau budaya, cocok ditampilkan di tengah keramaian atau berkumpul langsung,” bebernya.

Edi optimis, setiap gelaran yang disajikan melalui daring pasti tak kalah menarik. Sisi lain, guna menunjang aktivitas berkesenian, Taman Budaya jangan berdiam diri. Mereka pun bisa menyediakan wadah secara daring bagi para seniman yang pentas.

Contoh, pada tanggal 17-18 April mendatang, bakal digelar pentas Bapandung Unlin Wayah Lauk Daun. Atau Bapandung (mirip stand up comedy) secara daring di tengah situasi pandemi. Kegiatan ini sendiri berkolaborasi dengan Kasumba Entertainment, digagas oleh sejumlah seniman.

“Konsepnya sama seperti pagelaran Bapandung pada umumnya. Bedanya, cuma tidak berhadapan dengan penonton secara tatap muka. Ada proses perekaman, tentu hanya ada pemain dan si kameramen. Ya, menerapkan physical distancing,” ungkapnya seraya terkekeh.

Dia tak memungkiri bahwa pandemi memang mengganggu aktivitas berkesenian. Tapi bukan berarti pandemi mampu mematikan kreativitas seniman.

“Ada banyak seniman yang sudah memulai. Bisa dilihat di akun-akun media sosial para seniman. Ini bukti bahwa keterbatasan tempat bukanlah persoalan,” tuntasnya. (war/fud/ema)

Berkecimpung di sana sejak tahun 1985, baru kali ini Yamani (62) melihat Taman Budaya sesepi ini.

— Oleh: Wahyu Ramadhan, Banjarmasin —

LELAKI tua itu asyik dengan kretek di tangan kiri dan gawai di tangan kanan. Kemarin (11/4), penulis menyambanginya di warung kopi samping Gedung Pertunjukan Balairung Sari.

Sejak pandemi, fasilitas berkesenian di Jalan Hasan Basri itu ditutup. Warung miliknya yang biasa ramai dengan diskusi kawula seniman, kini tampak murung.

Tak ada lagi yang latihan di panggung terbuka. Tak ada lagi yang keluar masuk galeri lukisan. Tak ada lagi sastrawan atau wartawan yang singgah ke warungnya.

“Hari ini, tidak ada satu pun yang datang. Sebelumnya, masih ada kawan-kawan seniman yang duduk. Meski hanya dua atau tiga orang,” ucap anggota Teater Banjarmasin itu.

Ya, tidak hanya warung kecil itu yang harus mengalah pada pandemi. Tapi juga seluruh pertunjukan ditunda, bahkan dibatalkan. Salah satunya adalah Hari Tari Sedunia yang semestinya digelar bulan ini.

“Warung ini pun bisa bertahan karena rezeki dari mereka (para seniman),” ungkapnya.

Yamani masih ingat, pada awal kedatangannya kemari, Taman Budaya tak pernah sepi dengan seabrek kegiatan. Dari seni lukis, tari, musik, hingga teater.

Hanya wabah virus corona yang bisa membuat Taman Budaya tutup. “Semoga pandemi lekas berlalu. Saya kangen menonton pagelaran. Kangen mengobrol sama kawan-kawan,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Taman Budaya Kalsel, melalui Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Pergelaran, Rudi Karno, tak memungkiri bahwa ada sejumlah pagelaran yang harus ditunda gara-gara COVID-19.

Contoh, pentas teater keliling yang dijadwalkan Maret lalu. Semestinya ada empat kali kegiatan, tapi baru berjalan dua kali, keburu dihentikan. “Setelah pandemi, insyaallah kegiatan berlanjut dan lebih banyak lagi,” harapnya.

Harus Ada Panggung Daring

KETERBATASAN ruang pentas di tengah pandemi, semestinya tidak mengekang kebebasan berekspresi seniman Banjarmasin. Agar seni dan budaya tetap mendapat wadah, sejumlah seniman memilih wadah daring. Baik sekadar berdiskusi atau pentas karya.

Sebut saja Edi Sutardi. Direktur Teater Matahari ini membuka ruang diskusi dan latihan secara online bersama anggota lainnya.

Menurutnya, sekarang justru kesenian tampak lebih bermakna. Lantaran suasana yang kian senyap dan tenang. Maksudnya, hiruk-pikuk kota berkurang lantaran anjuran berdiam diri di rumah.

“Bisa menjadi bahan pembelajaran. Tidak semua jenis kesenian atau budaya, cocok ditampilkan di tengah keramaian atau berkumpul langsung,” bebernya.

Edi optimis, setiap gelaran yang disajikan melalui daring pasti tak kalah menarik. Sisi lain, guna menunjang aktivitas berkesenian, Taman Budaya jangan berdiam diri. Mereka pun bisa menyediakan wadah secara daring bagi para seniman yang pentas.

Contoh, pada tanggal 17-18 April mendatang, bakal digelar pentas Bapandung Unlin Wayah Lauk Daun. Atau Bapandung (mirip stand up comedy) secara daring di tengah situasi pandemi. Kegiatan ini sendiri berkolaborasi dengan Kasumba Entertainment, digagas oleh sejumlah seniman.

“Konsepnya sama seperti pagelaran Bapandung pada umumnya. Bedanya, cuma tidak berhadapan dengan penonton secara tatap muka. Ada proses perekaman, tentu hanya ada pemain dan si kameramen. Ya, menerapkan physical distancing,” ungkapnya seraya terkekeh.

Dia tak memungkiri bahwa pandemi memang mengganggu aktivitas berkesenian. Tapi bukan berarti pandemi mampu mematikan kreativitas seniman.

“Ada banyak seniman yang sudah memulai. Bisa dilihat di akun-akun media sosial para seniman. Ini bukti bahwa keterbatasan tempat bukanlah persoalan,” tuntasnya. (war/fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/