alexametrics
33.1 C
Banjarmasin
Monday, 23 May 2022

Mereka yang Tidak Tinggal di Rumah Saat Corona (3)

Jauh sebelum pandemi menghantam Kalsel, para pengayuh becak di Banjarmasin sudah kesulitan mencari penumpang. Alih-alih membuat mereka semakin terpuruk, pandemi justru mengajarkan mereka lebih banyak bersyukur.

 

WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin

 

Yadi tampak berkeringat. Perlahan, dia melepaskan masker yang menutupi separuh wajahnya. Mengambil botol yang berisi air putih di jok bagian depan becaknya, kemudian minum sepuasnya.

Setelah minum, Yadi kembali berjongkok. Memerhatikan tukang tambal, yang menyelesaikan pekerjaannya. Menambal ban becak kesayangan Yadi.

“Tadi, ketika keliling mencari penumpang, ternyata ban becak saya bocor. Tuh, bocornya di situ,” ucapnya, sembari mengarahkan telunjuknya ke arah lampu merah di pertigaan kawasan Jalan A Yani. Tepatnya, di kilometer 2,5 Banjarmasin.

Sedari pagi hingga siang kemarin (10/4), lelaki berumur 67 tahun itu belum mendapatkan satu pun penumpang yang bisa dibawa ke mana pun penumpang mau.

Kondisi seperti ini memang bukan yang pertama kali dialaminya. Tapi, semenjak bisnis perhotelan sepi pengunjung akibat pandemi, dia mengaku penumpangnya secara otomatis menghilang.

“Selain orang-orang yang ingin berbelanja ke pasar, saya lebih sering mendapat penumpang tamu hotel. Biasanya, mereka ingin diantar ke pusat perbelanjaan, atau objek wisata Pasar Terapung yang di Siring itu,” bebernya.

Selain berkeliling mencari penumpang, Yadi mempunyai tempat mangkal favorit. Yakni, di kawasan yang tak jauh dari kawasan perhotelan. Salah satunya, di Jalan Kolonel Sugiono Banjarmasin. Di kawasan ini, sedikitnya ada empat hotel yang berdiri kokoh.

“Kalau saya nongkrong di pasar, becak-becak sudah banyak,” ucapnya.

Yadi, lahir Dimakassar. Merantau ke Banjarmasin, sekitar tahun 1970. Dan saat itu, sebelum menjadi pengayuh becak, dia lebih dahulu merasakan menjadi buruh bangunan.

Berselang beberapa tahun menjadi buruh bangunan, dia mulai tertarik untuk mengayuh becak. Tepatnya di Tahun 1980. Menurutnya, saat itu becak menjadi alat transportasi favorit. Becak pertamanya, diperoleh dengan cara menyewa.

“Sewanya sehari Rp2 ribu. Kemudian naik menjadi Rp2.500. Waktu itu masih bisa kejar setoran untuk bayar sewa. Penumpang ramai. Tinggal kakinya saja yang kuat atau tidak,” tuturnya, kemudian tertawa.

Seiring berjalannya waktu, dia mulai punya keinginan memiliki becak sendiri. Uang hasil mengayuh becak sehari-hari, sebagian disisihkan untuk membayar arisan becak.

“Alhamdulillah kebeli. Becak itu ya ini. Awet sampai sekarang,” ucapnya.

Pada Tahun 1980 hingga 1982, menurut Yadi, adalah zaman keemasan para pengayuh becak. Kemudian, para pengayuh becak berangsur-angsur mengalami hambatan hingga sekarang.

“Kondisi sekarang benar-benar perih. Saya pernah merasakan selama dua hari berkeliling, tak ada satu orang pun yang mau naik becak,” tuturnya.

Meski begitu, Yadi mengaku bersyukur. Ucapan terima kasih juga meluncur dari mulutnya. Alasannya sederhana, ada banyak warga Kota Banjarmasin yang peduli dengan nasib para pengayuh becak.

“Setiap hari, lebih-lebih hari Jumat, selalu ada warga yang memberikan bantuan. Baik itu beras, maupun nasi bungkus,” ungkapnya.

Benar apa yang dikatakan Yadi. Tak berselang lama, sebuah mobil berkelir putih tiba-tiba berhenti tepat di depan kami. Sosok perempuan muncul ketika kaca mobil diturunkan, sambil menyodorkan dua bungkus nasi, kemudian berlalu. Yadi, dan si tukang tambal ban yang enggan namanya dikorankan pun tersenyum.

“Saya mungkin tak bisa membalas kebaikan yang diberikan, tapi Tuhan pasti membalas jasa-jasa mereka,” ungkapnya.

Lantas, bagaimana dengan pandemi? Apakah Yadi merasa takut? Ternyata, tidak. Menurut Yadi, orang-orang sepertinya tak memiliki pilihan lain selain tetap berusaha dan berdoa semoga pandemi lekas berlalu. Bahkan, pandemi menurutnya membuat orang-orang seperti dirinya bersyukur.

“Selama sembilan bulan di dalam kandungan, kita sudah terikat janji dengan Tuhan. Baik soal rezeki mau pun maut. Bersyukur karena pernah diberikan kondisi nyaman. Di balik pandemi, pasti ada hikmahnya. Kalau memang harus bekerja ikuti saja anjuran pemerintah, seperti memakai masker bila keluar rumah dan lain-lain,” tuntas lelaki, yang kini hanya tinggal sebatang kara, itu. (Bersambung)

Jauh sebelum pandemi menghantam Kalsel, para pengayuh becak di Banjarmasin sudah kesulitan mencari penumpang. Alih-alih membuat mereka semakin terpuruk, pandemi justru mengajarkan mereka lebih banyak bersyukur.

 

WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin

 

Yadi tampak berkeringat. Perlahan, dia melepaskan masker yang menutupi separuh wajahnya. Mengambil botol yang berisi air putih di jok bagian depan becaknya, kemudian minum sepuasnya.

Setelah minum, Yadi kembali berjongkok. Memerhatikan tukang tambal, yang menyelesaikan pekerjaannya. Menambal ban becak kesayangan Yadi.

“Tadi, ketika keliling mencari penumpang, ternyata ban becak saya bocor. Tuh, bocornya di situ,” ucapnya, sembari mengarahkan telunjuknya ke arah lampu merah di pertigaan kawasan Jalan A Yani. Tepatnya, di kilometer 2,5 Banjarmasin.

Sedari pagi hingga siang kemarin (10/4), lelaki berumur 67 tahun itu belum mendapatkan satu pun penumpang yang bisa dibawa ke mana pun penumpang mau.

Kondisi seperti ini memang bukan yang pertama kali dialaminya. Tapi, semenjak bisnis perhotelan sepi pengunjung akibat pandemi, dia mengaku penumpangnya secara otomatis menghilang.

“Selain orang-orang yang ingin berbelanja ke pasar, saya lebih sering mendapat penumpang tamu hotel. Biasanya, mereka ingin diantar ke pusat perbelanjaan, atau objek wisata Pasar Terapung yang di Siring itu,” bebernya.

Selain berkeliling mencari penumpang, Yadi mempunyai tempat mangkal favorit. Yakni, di kawasan yang tak jauh dari kawasan perhotelan. Salah satunya, di Jalan Kolonel Sugiono Banjarmasin. Di kawasan ini, sedikitnya ada empat hotel yang berdiri kokoh.

“Kalau saya nongkrong di pasar, becak-becak sudah banyak,” ucapnya.

Yadi, lahir Dimakassar. Merantau ke Banjarmasin, sekitar tahun 1970. Dan saat itu, sebelum menjadi pengayuh becak, dia lebih dahulu merasakan menjadi buruh bangunan.

Berselang beberapa tahun menjadi buruh bangunan, dia mulai tertarik untuk mengayuh becak. Tepatnya di Tahun 1980. Menurutnya, saat itu becak menjadi alat transportasi favorit. Becak pertamanya, diperoleh dengan cara menyewa.

“Sewanya sehari Rp2 ribu. Kemudian naik menjadi Rp2.500. Waktu itu masih bisa kejar setoran untuk bayar sewa. Penumpang ramai. Tinggal kakinya saja yang kuat atau tidak,” tuturnya, kemudian tertawa.

Seiring berjalannya waktu, dia mulai punya keinginan memiliki becak sendiri. Uang hasil mengayuh becak sehari-hari, sebagian disisihkan untuk membayar arisan becak.

“Alhamdulillah kebeli. Becak itu ya ini. Awet sampai sekarang,” ucapnya.

Pada Tahun 1980 hingga 1982, menurut Yadi, adalah zaman keemasan para pengayuh becak. Kemudian, para pengayuh becak berangsur-angsur mengalami hambatan hingga sekarang.

“Kondisi sekarang benar-benar perih. Saya pernah merasakan selama dua hari berkeliling, tak ada satu orang pun yang mau naik becak,” tuturnya.

Meski begitu, Yadi mengaku bersyukur. Ucapan terima kasih juga meluncur dari mulutnya. Alasannya sederhana, ada banyak warga Kota Banjarmasin yang peduli dengan nasib para pengayuh becak.

“Setiap hari, lebih-lebih hari Jumat, selalu ada warga yang memberikan bantuan. Baik itu beras, maupun nasi bungkus,” ungkapnya.

Benar apa yang dikatakan Yadi. Tak berselang lama, sebuah mobil berkelir putih tiba-tiba berhenti tepat di depan kami. Sosok perempuan muncul ketika kaca mobil diturunkan, sambil menyodorkan dua bungkus nasi, kemudian berlalu. Yadi, dan si tukang tambal ban yang enggan namanya dikorankan pun tersenyum.

“Saya mungkin tak bisa membalas kebaikan yang diberikan, tapi Tuhan pasti membalas jasa-jasa mereka,” ungkapnya.

Lantas, bagaimana dengan pandemi? Apakah Yadi merasa takut? Ternyata, tidak. Menurut Yadi, orang-orang sepertinya tak memiliki pilihan lain selain tetap berusaha dan berdoa semoga pandemi lekas berlalu. Bahkan, pandemi menurutnya membuat orang-orang seperti dirinya bersyukur.

“Selama sembilan bulan di dalam kandungan, kita sudah terikat janji dengan Tuhan. Baik soal rezeki mau pun maut. Bersyukur karena pernah diberikan kondisi nyaman. Di balik pandemi, pasti ada hikmahnya. Kalau memang harus bekerja ikuti saja anjuran pemerintah, seperti memakai masker bila keluar rumah dan lain-lain,” tuntas lelaki, yang kini hanya tinggal sebatang kara, itu. (Bersambung)

Most Read

Artikel Terbaru

/