alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Senin, 16 Mei 2022

Ditolak Warga, Rumah Karantina Ditunda; Warga Kayu Tangi II Sarankan Lingkar Selatan

BANJARMASIN – Penggunaan gedung Balai Diklat di Jalan Kayu Tangi II sebagai rumah Karantina bagi Orang Dalam Pemantauan (ODP) terpaksa harus ditunda Pemko Banjarmasin.

Kemarin (8/4) siang di Masjid Al Baraqah, Walikota Banjarmasin Ibnu Sina berunding dengan warga sekitar. Pada akhir musyawarah, Ibnu memutuskan mengalah.

“Ya, ditunda dulu sambil mencari tempat lain, karena harus tetap disiapkan,” kata Ibnu.

Sebelumnya, Selasa (7/4) malam, warga ramai-ramai berkumpul di depan balai. Mereka memprotes rencana rumah karantina tersebut. Masyarakat khawatir hal itu akan mempermudah penularan virus corona di lingkungannya.

Dalam mediasi, Kepala Dinas Kesehatan Banjarmasin Machli Riyadi menjelaskan, bahwa rumah karantina itu dikhusukan untuk ODP yang tak memiliki kamar khusus untuk mengisolasi diri di rumah.

Jadi fasilitas itu bukan untuk Pasien Dalam Pengawasan (PDP), apalagi pasien positif COVID-19.

Machli khawatir, ODP yang semestinya melakukan karantina mandiri selama 14 hari, tidak betul-betul mengisolasi diri atau malah berkeluyuran. Sementara pemko tak bisa mengawasinya selama 24 jam.

“Jumlah fasilitas yang disediakan sebanyak 35 tempat tidur. Agar tidak ada ODP yang melarikan diri atau kabur, maka juga dibangun pagar yang tinggi. Ke depan juga bakal dijaga aparat,” tegasnya.

Meski begitu, alih-alih warga melunak, penolakan kian sengit. Argumennya, sebelumnya tak pernah ada sosialisasi dengan warga.

“Tidak ada jaminan dari pemko bahwa ODP tidak berkeluyuran. Apalagi jarak bangunan yang terlalu dekat dengan permukiman. Di sini, banyak yang tua-tua. Kami khawatir kalau terjadi apa-apa,” ucap Fauzi, warga sekitar.

Warga pun menawarkan alternatif tempat. Yakni, kawasan pergudangan tidak terpakai di kawasan Lingkar Selatan atau di Jalan Gubernur Subarjo. “Di situ kan strategis. Jauh dari permukiman warga,” usul Yusriansyah Aziz, warga setempat.

Kini, keinginan warga Kayu Tangi II dipenuhi pemko. Tapi Ibnu menegaskan, rencana itu tidak dibatalkan, Banjarmasin harus tetap memiliki rumah karantina selama pandemi masih mengancam. “Demi kemaslahatan bersama,” tutup Ibnu. (war/fud/ema)

BANJARMASIN – Penggunaan gedung Balai Diklat di Jalan Kayu Tangi II sebagai rumah Karantina bagi Orang Dalam Pemantauan (ODP) terpaksa harus ditunda Pemko Banjarmasin.

Kemarin (8/4) siang di Masjid Al Baraqah, Walikota Banjarmasin Ibnu Sina berunding dengan warga sekitar. Pada akhir musyawarah, Ibnu memutuskan mengalah.

“Ya, ditunda dulu sambil mencari tempat lain, karena harus tetap disiapkan,” kata Ibnu.

Sebelumnya, Selasa (7/4) malam, warga ramai-ramai berkumpul di depan balai. Mereka memprotes rencana rumah karantina tersebut. Masyarakat khawatir hal itu akan mempermudah penularan virus corona di lingkungannya.

Dalam mediasi, Kepala Dinas Kesehatan Banjarmasin Machli Riyadi menjelaskan, bahwa rumah karantina itu dikhusukan untuk ODP yang tak memiliki kamar khusus untuk mengisolasi diri di rumah.

Jadi fasilitas itu bukan untuk Pasien Dalam Pengawasan (PDP), apalagi pasien positif COVID-19.

Machli khawatir, ODP yang semestinya melakukan karantina mandiri selama 14 hari, tidak betul-betul mengisolasi diri atau malah berkeluyuran. Sementara pemko tak bisa mengawasinya selama 24 jam.

“Jumlah fasilitas yang disediakan sebanyak 35 tempat tidur. Agar tidak ada ODP yang melarikan diri atau kabur, maka juga dibangun pagar yang tinggi. Ke depan juga bakal dijaga aparat,” tegasnya.

Meski begitu, alih-alih warga melunak, penolakan kian sengit. Argumennya, sebelumnya tak pernah ada sosialisasi dengan warga.

“Tidak ada jaminan dari pemko bahwa ODP tidak berkeluyuran. Apalagi jarak bangunan yang terlalu dekat dengan permukiman. Di sini, banyak yang tua-tua. Kami khawatir kalau terjadi apa-apa,” ucap Fauzi, warga sekitar.

Warga pun menawarkan alternatif tempat. Yakni, kawasan pergudangan tidak terpakai di kawasan Lingkar Selatan atau di Jalan Gubernur Subarjo. “Di situ kan strategis. Jauh dari permukiman warga,” usul Yusriansyah Aziz, warga setempat.

Kini, keinginan warga Kayu Tangi II dipenuhi pemko. Tapi Ibnu menegaskan, rencana itu tidak dibatalkan, Banjarmasin harus tetap memiliki rumah karantina selama pandemi masih mengancam. “Demi kemaslahatan bersama,” tutup Ibnu. (war/fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/