alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Monday, 23 May 2022

Khawatir Kecolongan, Wali Kota: Jemaah Gowa Wajib Melapor

BANJARMASIN – Dari lima kecamatan, Banjarmasin Utara adalah zona paling berbahaya. Bukan ingin menakut-nakuti, tapi agar warga lebih waspada.

Fakta ini diungkap Tim Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Banjarmasin. Yang melaporkan, dari 10 pasien positif corona, separuhnya ada di Utara.

Ketua Gugus Tugas, Machli Riyadi menyebut, jumlah itu sudah termasuk pasien Ulin-1. “Dari 10 kasus, lima di antaranya ada di Banjarmasin Utara,” katanya.

Kasus terbanyak kedua disusul Banjarmasin Selatan. Di sini ada tiga pasien yang dinyatakan positif. Kemudian masing-masing satu di Timur dan Barat.

Yang masih bebas tinggal Banjarmasin Tengah. Apakah kecamatan ini benar-benar bersih? Tim gugus tugas tak bisa menjamin, karena memang belum terdeteksi.

Kesimpulannya, warga kota di mana pun berada mesti waspada. Karena ancaman virus bisa datang dari mana saja. Termasuk dari udara. Seperti yang dilansir WHO baru-baru ini.

Meski begitu, Machli meminta warga agar tetap tenang. Dan berdisiplin menerapkan imbauan pemerintah. Gunakan masker, cuci tangan dengan sabun, jaga jarak interaksi dan tetap tinggal di rumah jika tak ada keperluan mendesak.

“Tetap berpikir positif dan bertindak preventif. Ikuti arahan dan kebijakan pemerintah. Demi orang-orang tercinta,” tuturnya.

Sejauh ini, satgas terus mengupayakan disinfeksi. Dilakukan demi mencegah mewabahnya virus mematikan itu di Banjarmasin.

Sisi lain, soal peserta ijtima ulama di Gowa, Sulawesi Selatan, ada 79 orang yang berasal dari kota ini. 40 di antaranya sudah menjalani rapid test. Hasilnya negatif. Namun mereka tetap diminta untuk menjalani karantina mandiri. Setidaknya selama 14 hari.

Jika baru 40 yang menjalani rapid test, artinya ada 37 lagi yang belum. Masih berpotensi terpapar corona. Karena itu, Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina tegas.

Meminta mereka untuk segera melapor dan memeriksakan kesehatan masing-masing. “Jika tidak, kami meminta aparat baik babinsa dan bhabin untuk memaksa mereka agar mengkarantina diri,” tegasnya.

Kali ini Ibnu tak main-main. Ia tak mau kecolongan, mengingat jumlah pasien positif di Banjarmasin melonjak drastis. “Mereka kami pantau secara langsung. Baru sebagian yang sudah melaporkan diri,” katanya.

Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Banjarmasin, Matnor Ali meminta pemko maupun Dinkes untuk memperketat pemeriksaan. Terutama di wilayah-wilayah yang paling banyak ditemukan pasien positif.

“Kini pemko harus lebih waspada. Sebisa mungkin mengambil langkah antisipasi. Warga juga harus bekerja sama dalam penanganan virus ini,” ucap politikus Partai Golkar itu. (nur/fud/ema)

BANJARMASIN – Dari lima kecamatan, Banjarmasin Utara adalah zona paling berbahaya. Bukan ingin menakut-nakuti, tapi agar warga lebih waspada.

Fakta ini diungkap Tim Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Banjarmasin. Yang melaporkan, dari 10 pasien positif corona, separuhnya ada di Utara.

Ketua Gugus Tugas, Machli Riyadi menyebut, jumlah itu sudah termasuk pasien Ulin-1. “Dari 10 kasus, lima di antaranya ada di Banjarmasin Utara,” katanya.

Kasus terbanyak kedua disusul Banjarmasin Selatan. Di sini ada tiga pasien yang dinyatakan positif. Kemudian masing-masing satu di Timur dan Barat.

Yang masih bebas tinggal Banjarmasin Tengah. Apakah kecamatan ini benar-benar bersih? Tim gugus tugas tak bisa menjamin, karena memang belum terdeteksi.

Kesimpulannya, warga kota di mana pun berada mesti waspada. Karena ancaman virus bisa datang dari mana saja. Termasuk dari udara. Seperti yang dilansir WHO baru-baru ini.

Meski begitu, Machli meminta warga agar tetap tenang. Dan berdisiplin menerapkan imbauan pemerintah. Gunakan masker, cuci tangan dengan sabun, jaga jarak interaksi dan tetap tinggal di rumah jika tak ada keperluan mendesak.

“Tetap berpikir positif dan bertindak preventif. Ikuti arahan dan kebijakan pemerintah. Demi orang-orang tercinta,” tuturnya.

Sejauh ini, satgas terus mengupayakan disinfeksi. Dilakukan demi mencegah mewabahnya virus mematikan itu di Banjarmasin.

Sisi lain, soal peserta ijtima ulama di Gowa, Sulawesi Selatan, ada 79 orang yang berasal dari kota ini. 40 di antaranya sudah menjalani rapid test. Hasilnya negatif. Namun mereka tetap diminta untuk menjalani karantina mandiri. Setidaknya selama 14 hari.

Jika baru 40 yang menjalani rapid test, artinya ada 37 lagi yang belum. Masih berpotensi terpapar corona. Karena itu, Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina tegas.

Meminta mereka untuk segera melapor dan memeriksakan kesehatan masing-masing. “Jika tidak, kami meminta aparat baik babinsa dan bhabin untuk memaksa mereka agar mengkarantina diri,” tegasnya.

Kali ini Ibnu tak main-main. Ia tak mau kecolongan, mengingat jumlah pasien positif di Banjarmasin melonjak drastis. “Mereka kami pantau secara langsung. Baru sebagian yang sudah melaporkan diri,” katanya.

Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Banjarmasin, Matnor Ali meminta pemko maupun Dinkes untuk memperketat pemeriksaan. Terutama di wilayah-wilayah yang paling banyak ditemukan pasien positif.

“Kini pemko harus lebih waspada. Sebisa mungkin mengambil langkah antisipasi. Warga juga harus bekerja sama dalam penanganan virus ini,” ucap politikus Partai Golkar itu. (nur/fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/