alexametrics
33.1 C
Banjarmasin
Senin, 16 Mei 2022

BEM ULM Desak Tutup Pelabuhan dan Bandara

BANJARMASIN – Pemprov Kalsel resmi membatasi warga pendatang yang hendak memasuki Kalsel sejak Selasa (31/3). Kebijakan itu diyakini mampu menghambat masifnya penyebaran virus corona di Banua.

Namun, kebijakan itu dinilai Ketua BEM Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Ahdiat Zairullah masih kurang efektif. Sebab, orang luar provinsi masih bebas masuk kemari.

Ada yang lewat bandara dan pelabuhan, lewat jalur udara dan air. Padahal tak diketahui, apakah penumpang yang turun tersebut Orang Dalam Pemantauan (ODP), Pasien Dalam Pengawasan (PDP) atau bahkan positif COVID-19.

“Jumlah ODP di Kalsel terus meningkat, karena pelabuhan dan bandara masih beroperasi normal,” kata Ahdiat, kemarin (1/4).

Mahasiswa FISIP semester 8 ini, mendesak pemerintah daerah menutup kedua pintu masuk tersebut untuk sementara waktu. Sehingga penyebaran virus corona dapat ditekan. Apalagi jumlah pasien positif di Kalsel tak mengalami penurunan, justru terus menaik.

Awalnya jumlah ODP hanya ratusan, sekarang sudah seribu lebih. Pasien positif yang semula satu orang, menjadi delapan orang. Harusnya dengan segala upaya yang dilakukan pemerintah, jumlah ODP mengalami penurunan, bukan malah berbanding lurus.

“Artinya, kalau tidak ditutup total, akan terus menambah ODP. Dan potensi pasien positif juga bertambah,” tandasnya.

Pemerintah daerah harus berani bersikap tegas, jangan hanya mengikuti keinginan pemerintah pusat. Memang kewenangan penutupan akses bandara dan pelabuhan ada di pusat. Minimal daerah bisa merekomendasikan karena yang lebih mengetahui kondisi daerahnya adalah otoritas setempat. Menurutnya, pemerintah jangan hanya melihat dampak ekonomi saja. Sebab ini sudah menyangkut perkara hidup dan mati.

“Ekonomi bisa dibangun lagi, kalau nyawa masyarakat yang hilang siapa yang akan membangun perekonomian,” ujarnya mengutip penggalan pernyataan Presiden Ghana Nana Addo Dankwa Akufo yang sedang viral itu.

Tak hanya mendesak menutup pintu masuk, Ahdiat juga mendesak agar identitas pasien terpapar corona jangan ditutupi. Karena itu justru membahayakan, masyarakat tidak tahu apakah orang yang ditemuinya ODP atau bukan.

Yang disampaikan ke publik selama ini hanya sebatas nama, umur dan jenis kelamin. Malah membuat publik menduga-duga. “Ini bukan aib, perlu diumumkan. Tujuannya agar masyarakat lebih mawas diri,” pungkasnya. (gmp/fud/ema)

BANJARMASIN – Pemprov Kalsel resmi membatasi warga pendatang yang hendak memasuki Kalsel sejak Selasa (31/3). Kebijakan itu diyakini mampu menghambat masifnya penyebaran virus corona di Banua.

Namun, kebijakan itu dinilai Ketua BEM Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Ahdiat Zairullah masih kurang efektif. Sebab, orang luar provinsi masih bebas masuk kemari.

Ada yang lewat bandara dan pelabuhan, lewat jalur udara dan air. Padahal tak diketahui, apakah penumpang yang turun tersebut Orang Dalam Pemantauan (ODP), Pasien Dalam Pengawasan (PDP) atau bahkan positif COVID-19.

“Jumlah ODP di Kalsel terus meningkat, karena pelabuhan dan bandara masih beroperasi normal,” kata Ahdiat, kemarin (1/4).

Mahasiswa FISIP semester 8 ini, mendesak pemerintah daerah menutup kedua pintu masuk tersebut untuk sementara waktu. Sehingga penyebaran virus corona dapat ditekan. Apalagi jumlah pasien positif di Kalsel tak mengalami penurunan, justru terus menaik.

Awalnya jumlah ODP hanya ratusan, sekarang sudah seribu lebih. Pasien positif yang semula satu orang, menjadi delapan orang. Harusnya dengan segala upaya yang dilakukan pemerintah, jumlah ODP mengalami penurunan, bukan malah berbanding lurus.

“Artinya, kalau tidak ditutup total, akan terus menambah ODP. Dan potensi pasien positif juga bertambah,” tandasnya.

Pemerintah daerah harus berani bersikap tegas, jangan hanya mengikuti keinginan pemerintah pusat. Memang kewenangan penutupan akses bandara dan pelabuhan ada di pusat. Minimal daerah bisa merekomendasikan karena yang lebih mengetahui kondisi daerahnya adalah otoritas setempat. Menurutnya, pemerintah jangan hanya melihat dampak ekonomi saja. Sebab ini sudah menyangkut perkara hidup dan mati.

“Ekonomi bisa dibangun lagi, kalau nyawa masyarakat yang hilang siapa yang akan membangun perekonomian,” ujarnya mengutip penggalan pernyataan Presiden Ghana Nana Addo Dankwa Akufo yang sedang viral itu.

Tak hanya mendesak menutup pintu masuk, Ahdiat juga mendesak agar identitas pasien terpapar corona jangan ditutupi. Karena itu justru membahayakan, masyarakat tidak tahu apakah orang yang ditemuinya ODP atau bukan.

Yang disampaikan ke publik selama ini hanya sebatas nama, umur dan jenis kelamin. Malah membuat publik menduga-duga. “Ini bukan aib, perlu diumumkan. Tujuannya agar masyarakat lebih mawas diri,” pungkasnya. (gmp/fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/