alexametrics
29.1 C
Banjarmasin
Rabu, 18 Mei 2022

PMI Hadapi Krisis Darah dan APD

BANJARMASIN – Unit Donor Darah (UDD) Palang Merah Indonesia (PMI) Banjarmasin tidak hanya mengalami krisis stok darah, tapi juga Alat Pelindung Diri (APD).

Stok masker, hand sanitizer (cairan antiseptik) dan handscone (sarung tangan medis) di gudang sudah sekarat. Hanya mampu bertahan untuk beberapa hari.

“Paling-paling hanya cukup untuk dua hari,” ungkap Kepala UDD PMI Banjarmasin, dr Aulia Ramadhan Supit, kemarin (31/3) siang.

Biasanya, setiap bulan disiapkan anggaran Rp7,6 juta untuk pembelian APD. Cukup untuk 100 boks sarung tangan, cairan antiseptik 20 liter dan masker sebanyak 15 boks.

Sarung tangan dan masker digunakan para petugas, sedangkan cairan antiseptik sengaja disediakan untuk para pendonor. Sekarang, untuk mendapatkan barang-barang yang dibutuhkan sangat sulit, langka. Kalaupun ada harganya melonjak tinggi.

Contoh masker. Sebelumnya hanya Rp25 ribu per boks sekarang harganya melonjak tiga sampai empat kali lipat di pasaran.

Dokter Rama, begitu panggilannya, mengatakan sudah mendapat bantuan dari PMI Kalsel. Meski tidak terlalu banyak, tapi dapat membantu kebutuhan di UDD.

Dia sudah coba menghubungi dinas terkait, tapi kondisinya juga sama. Beberapa hari sebelumnya ia coba memesan di toko online, ternyata penipuan.

Maka, bersama seluruh karyawan PMI, disebar pesan kekurangan APD ini di media sosial. Siapa tahu ada yang mau dan bisa membantu. “Mudahan ada yang bisa membantu,” tuturnya.

APD merupakan standar wajib yang digunakan petugas PMI saat menjalankan tugas melayani pendonor. Selain memberikan rasa aman kepada pendonor, juga terhadap para petugas PMI sendiri.

Apalagi di tengah pendemi virus corona sekarang. “Aduh, jangan sampai deh. Bagaimana keamanan petugas-petugas di PMI, kasihan,” tutupnya. (gmp/fud/ema)

BANJARMASIN – Unit Donor Darah (UDD) Palang Merah Indonesia (PMI) Banjarmasin tidak hanya mengalami krisis stok darah, tapi juga Alat Pelindung Diri (APD).

Stok masker, hand sanitizer (cairan antiseptik) dan handscone (sarung tangan medis) di gudang sudah sekarat. Hanya mampu bertahan untuk beberapa hari.

“Paling-paling hanya cukup untuk dua hari,” ungkap Kepala UDD PMI Banjarmasin, dr Aulia Ramadhan Supit, kemarin (31/3) siang.

Biasanya, setiap bulan disiapkan anggaran Rp7,6 juta untuk pembelian APD. Cukup untuk 100 boks sarung tangan, cairan antiseptik 20 liter dan masker sebanyak 15 boks.

Sarung tangan dan masker digunakan para petugas, sedangkan cairan antiseptik sengaja disediakan untuk para pendonor. Sekarang, untuk mendapatkan barang-barang yang dibutuhkan sangat sulit, langka. Kalaupun ada harganya melonjak tinggi.

Contoh masker. Sebelumnya hanya Rp25 ribu per boks sekarang harganya melonjak tiga sampai empat kali lipat di pasaran.

Dokter Rama, begitu panggilannya, mengatakan sudah mendapat bantuan dari PMI Kalsel. Meski tidak terlalu banyak, tapi dapat membantu kebutuhan di UDD.

Dia sudah coba menghubungi dinas terkait, tapi kondisinya juga sama. Beberapa hari sebelumnya ia coba memesan di toko online, ternyata penipuan.

Maka, bersama seluruh karyawan PMI, disebar pesan kekurangan APD ini di media sosial. Siapa tahu ada yang mau dan bisa membantu. “Mudahan ada yang bisa membantu,” tuturnya.

APD merupakan standar wajib yang digunakan petugas PMI saat menjalankan tugas melayani pendonor. Selain memberikan rasa aman kepada pendonor, juga terhadap para petugas PMI sendiri.

Apalagi di tengah pendemi virus corona sekarang. “Aduh, jangan sampai deh. Bagaimana keamanan petugas-petugas di PMI, kasihan,” tutupnya. (gmp/fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/