alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Friday, 20 May 2022

5 Positif, Kalsel Pertimbangkan Karantina Wilayah

BANJARMASIN – Tanda-tanda ledakan pasien virus corona di banua mulai terlihat. Hingga 30 Maret, 4 orang pasien terkonfirmasi positif. Total, sudah ada 5 orang pasien Covid-19 yang terdata di Kalsel.

Tambahan empat kasus ini datang dari 2 orang asal Kabupaten Banjar, 1 dari Kabupaten Tabalong dan 1 dari Kota Banjarmasin. Juru Bicara Gugus Tugas Pencegahan, Pengendalian dan Penanganan Covid-19 Kalsel, M Muslim menerangkan mereka yang positif adalah pasien dengan kode Ulin 9, usia 50 tahun berjenis kelamin perempuan. Ini yang berasal dari Kabupaten Banjar.

Satu pasien lainnya asal Kabupaten Banjar adalah Ulin 10 usia 45 tahun berjenis kelamin laki-laki. Sedangkan pasien yang terkonfirmasi positif asal Banjarmasin adalah Ulin 11, laki-laki berusia 56 tahun. Sementara pasien yang terkonfirmasi positif asal Tabalong adalah Ulin 13, laki-laki berusia 21 tahun.

Muslim tak menyebut rinci klaster mana empat pasien yang terkonfirmasi positif ini. Namun, Muslim membeberkan, empat orang ini adalah peningkatan status dari pasien dalam pengawasan (PDP) ke terkonfirmasi positif. “Hasilnya baru kami terima. Ada tambahan empat orang yang terkonfirmasi positif,” beber Muslim kemarin.

Kabar baiknya ucap Muslim, pasien Ulin 12 yang meninggal dunia pada 29 Maret lalu dinyatakan negatif. Ulin 12 ini adalah wanita asal Banjarmasin berusia 51 tahun. “Hasilnya negatif Covid-19,” terangnya. 

Selain mengalami peningkatan jumlah kasus positif, jumlah orang dalam pemantauan pun melonjak. Di hari sebelumnya jumlah ODP sebanyak 1.143 hingga kemarin menjadi 1.163 orang. Sementara, jumlah PDP yang saat ini tengah dirawat di RSUD Ulin sebanyak 7 orang. Tiga orang dari Kota Banjarmasin, Kabupaten Hulu Sungai Selatan 1, Kabupaten Banjar 1 dan Kota Banjarbaru 2 orang. “Tambahan terbaru PDP dari Banjarmasin, Ulin 23, laki-laki usia 47 tahun yang memiliki riwayat perjalanan dari Surabaya. Kondisinya batuk dan sesak napas,” sebut Muslim.

Lalu bagaimana dengan Rapid Test? dia menerangkan, sudah ada 15 orang yang diambil darahnya. Mereka adalah orang yang pernah kontak dengan PDP. “Hasilnya, semuanya non reaktif,” tandasnya sembari mengatakan pihaknya masih menunggu hasil laporan pelaksanaan rapid test yang juga dilakukan di 13 kabupaten dan kota di Kalsel.

Mulai Kaji Dampak Sosial dan Ekonomi

Sementara itu, kenaikan angka ODP dan PDP termasuk bertambahnya pasien terkonfirmasi positif Covid-19 di Kalsel, membuat pemerintah provinsi mulai mengkaji kemungkinan karantina wilayah. 

Kondisi daerah Kalsel boleh dikatakan rawan. Pasalnya, Kalsel dikepung provinsi tetangga yang memiliki banyak kasus terkonfirmasi postif, seperti Kalteng dan Kaltim. Jika tak dilakukan penanganan maksimal di pintu masuk Kalsel, bukan tak mungkin virus ini bisa menular ke Kalsel.

Ketua Harian Tim Gugus Tugas Covid-19, Wahyuddin mengatakan Kalsel belum memutuskan untuk karantina wilayah. Banyak yang harus dipikirkan. Sebab jika diberlakukan muncul beragam dampak, ekonomi sosial dan sebagainya. “Konsepnya sudah ada, tinggal bagaimana penerapannya,” ujarnya.

Wahyuddin mengatakan penanggulangan virus corona bukan hanya tugas pemerintah saja, tapi masyarakat harus ikut membantu. Caranya mudah, tinggal ikuti imbauan pemerintah, kurangi aktivitas di luar rumah. Jika memang ada keperluan jaga jarak. “Disiplin paling utama, tapi masyarakat masih banyak yang cuek,” ujarnya yang mengatakan akan semakin memperketat aturan agar warga tidak berkumpul.

Terpisah, Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Kalsel, M Muslim mengatakan, kebijakan karantina wilayah masih dalam rumusan-rumusan kebijakan. “Semua kebijakan akan diputuskan oleh kepala daerah,” ujar Muslim.

Soal karantina wilayah, Gubernur Kalsel, Sahbirin Noor menerangkan Minggu (29/3) malam tadi sudah ada pembicaraan terkait kemungkinan ini. Dia menyebut, karantina wilayah harus ada telaahan yang tajam agar bisa dipertanggungjawabkan.

“Lockdown belum sampai ke sana. Namun, anggaran siap. Terdata sekitar Rp56 miliar tersedia. Saya perintahkan untuk menggunakan pemberantasan corona. Harus efektif dan efisien dan jangan dikorupsi,” tegasnya.

Gubernur sendiri kemarin memantau perbatasan Kalsel di Kabupaten Tabalong. Bersama rombongan, Sahbirin mendatangi Posko Pemeriksaan Covid-19 di perbatasan daerah tersebut dengan Provinsi Kalimantan Tengah, di Desa Pasar Panas, Kecamatan Kelua. Kepada petugas posko, Sahbirin berpesan agar mereka menggunakan alat pelindung diri. Pasalnya, seluruh daerah perbatasan sangat rentan terhadap penularan.

Tim Gugus Tugas Covid 19 Kalsel sendiri membangun posko penjagaan di lima titik pintu masuk Kalsel dengan provinsi tetangga. Lima titik tersebut berada di Kabupaten Batola, Tanah Bumbu dan Tabalong. Di Tabalong sendiri selain pos jaga di Kecamatan Jaro, juga ada pos jaga Covid 19 di daerah Kecamatan Kelua, Pugaan, dan Tanta.

Bupati Tabalong H Anang Syakhfiani mengatakan petugas di posko-posko penjagaan tersebut dikerahkan selama 24 jam untuk memeriksa warga yang melintas.

Kabupaten Banjar Bersiap Perketat Kebijakan

Sementara itu, adanya pasien positif corona dari Kabupaten Banjar membuat pemerintah daerah setempat bersiap. Ketua Gugus Tugas Banjar HM Hilman mengatakan perkembangan terakhir menjadi kabar buruk bagi Banjar. Tim gugus langsung menggelar rapat internal. Sejumlah kebijakan diambil Termasuk mengawasi ketat lalu lintas orang yang datang ke Kabupaten Banjar.

”Kami siap jika ada akhirnya diputuskan karantina kewilayahan. Makanya kami memanggil satgas pangan dan sarana kesehatan. Kami mengambil keputusan yang paling kecil mudaratnya untuk warga,” ujar Hilman.

Kabupaten Banjar juga memasukkan 23 peserta Ijtima Dunia Zona Asia Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan ke orang dalam pemantauan (ODP). Total ODP se-Banjar sebanyak 114 orang dan 2 pasien dalam pengawasan (PDP) dinyatakan positif corona.

Sedangkan 1 orang yang sempat masuk dalam kategori PDP negatif atau terbebas dari corona. Kemudian 10 ODP dikeluarkan dari statusnya karena berhasil melalui masa inkubasi selama 14 hari dan dinyatakan sehat. Sepuluh orang tersebut telah melewati masa pemantauan dan dinyatakan aman.

Sekretaris Gugus Tugas dr Diauddin mengatakan, 2 dokter dan 4 perawat di Kabupaten Banjar diminta istirahat selama 14 hari dan masuk dalam pemantauan. Petugas medis saat ini sangat membutuhkan alat pelindung karena stok yang tersedia baru 50 buah. Jumlah itu tidak cukup untuk beberapa hari ke depan.

Jumlah ODP dari Banjar masih melandai seperti sebelumnya setelah ditetapkan masa tanggap darurat selama 8 hari. Gugus Tugas Covid-19 Banjar awalnya sempat mau mengumumkan warga Banjar yang positif tersebut ketika video conference di Command Center Barokah, kemarin. Namun urung dilakukan karena protokol mengharuskan yang memberikan keterangan resmi dari gugus tugas provinsi.

Kabupaten Banjar sebenarnya memiliki dana siap pakai sebesar Rp21,8 miliar lebih untuk kegiatan tanggap darurat. Dana itu bisa ditambah dengan pergeseran anggaran dari beberapa SKPD yang dibutuhkan oleh BPBD. Artinya, untuk tanggap darurat, semua kebutuhan bisa diambil cepat meski anggaran khusus untuk Covid-19 belum pernah dianggarkan.

“Anggaran kita sangat longgar dan dana itu bisa ditambah bila kebutuhan mendesak ada yang diperlukan,” kata Hilman.

Dandim 1002 Martapura Letkol Arm Siswo Budiarto menegaskan, karantina kewilayahan selama pandemi corona sangat mungkin namun keputusan tersebut perlu dirapatkan bersama. Sejak tanggap darurat, Kodim Martapura baru mendirikan posko di bandara untuk mengetahui kedatangan orang.

Sementara itu, Kepala Bappeda Litbang Galuh Tantri Narindra menegaskan, Konsep karantina kewilayahan tidak sama dengan lockdown. karantina wilayah sudah termuat dalam undang-undang nomor 6 Tahun 2018 tentang kekarantinaan kesehatan. Konsep ini hanya menerapkan sistem pembatasan pergerakan orang demi kepentingan kesehatan. Lagi pula, kewenangan karantina kewilayahan juga jadi kewenangan pusat.

Dalam undang-undang Nomor 6 Tahun 2018 disebutkan, keputusan karantina harus berdasarkan pada pertimbangan epidemiologis, besarnya ancaman, efektifitas, dukungan sumber daya, teknis operasional, pertimbangan ekonomi sosial, budaya, dan keamanan. (mof/gmp/mam/ran/ema)

BANJARMASIN – Tanda-tanda ledakan pasien virus corona di banua mulai terlihat. Hingga 30 Maret, 4 orang pasien terkonfirmasi positif. Total, sudah ada 5 orang pasien Covid-19 yang terdata di Kalsel.

Tambahan empat kasus ini datang dari 2 orang asal Kabupaten Banjar, 1 dari Kabupaten Tabalong dan 1 dari Kota Banjarmasin. Juru Bicara Gugus Tugas Pencegahan, Pengendalian dan Penanganan Covid-19 Kalsel, M Muslim menerangkan mereka yang positif adalah pasien dengan kode Ulin 9, usia 50 tahun berjenis kelamin perempuan. Ini yang berasal dari Kabupaten Banjar.

Satu pasien lainnya asal Kabupaten Banjar adalah Ulin 10 usia 45 tahun berjenis kelamin laki-laki. Sedangkan pasien yang terkonfirmasi positif asal Banjarmasin adalah Ulin 11, laki-laki berusia 56 tahun. Sementara pasien yang terkonfirmasi positif asal Tabalong adalah Ulin 13, laki-laki berusia 21 tahun.

Muslim tak menyebut rinci klaster mana empat pasien yang terkonfirmasi positif ini. Namun, Muslim membeberkan, empat orang ini adalah peningkatan status dari pasien dalam pengawasan (PDP) ke terkonfirmasi positif. “Hasilnya baru kami terima. Ada tambahan empat orang yang terkonfirmasi positif,” beber Muslim kemarin.

Kabar baiknya ucap Muslim, pasien Ulin 12 yang meninggal dunia pada 29 Maret lalu dinyatakan negatif. Ulin 12 ini adalah wanita asal Banjarmasin berusia 51 tahun. “Hasilnya negatif Covid-19,” terangnya. 

Selain mengalami peningkatan jumlah kasus positif, jumlah orang dalam pemantauan pun melonjak. Di hari sebelumnya jumlah ODP sebanyak 1.143 hingga kemarin menjadi 1.163 orang. Sementara, jumlah PDP yang saat ini tengah dirawat di RSUD Ulin sebanyak 7 orang. Tiga orang dari Kota Banjarmasin, Kabupaten Hulu Sungai Selatan 1, Kabupaten Banjar 1 dan Kota Banjarbaru 2 orang. “Tambahan terbaru PDP dari Banjarmasin, Ulin 23, laki-laki usia 47 tahun yang memiliki riwayat perjalanan dari Surabaya. Kondisinya batuk dan sesak napas,” sebut Muslim.

Lalu bagaimana dengan Rapid Test? dia menerangkan, sudah ada 15 orang yang diambil darahnya. Mereka adalah orang yang pernah kontak dengan PDP. “Hasilnya, semuanya non reaktif,” tandasnya sembari mengatakan pihaknya masih menunggu hasil laporan pelaksanaan rapid test yang juga dilakukan di 13 kabupaten dan kota di Kalsel.

Mulai Kaji Dampak Sosial dan Ekonomi

Sementara itu, kenaikan angka ODP dan PDP termasuk bertambahnya pasien terkonfirmasi positif Covid-19 di Kalsel, membuat pemerintah provinsi mulai mengkaji kemungkinan karantina wilayah. 

Kondisi daerah Kalsel boleh dikatakan rawan. Pasalnya, Kalsel dikepung provinsi tetangga yang memiliki banyak kasus terkonfirmasi postif, seperti Kalteng dan Kaltim. Jika tak dilakukan penanganan maksimal di pintu masuk Kalsel, bukan tak mungkin virus ini bisa menular ke Kalsel.

Ketua Harian Tim Gugus Tugas Covid-19, Wahyuddin mengatakan Kalsel belum memutuskan untuk karantina wilayah. Banyak yang harus dipikirkan. Sebab jika diberlakukan muncul beragam dampak, ekonomi sosial dan sebagainya. “Konsepnya sudah ada, tinggal bagaimana penerapannya,” ujarnya.

Wahyuddin mengatakan penanggulangan virus corona bukan hanya tugas pemerintah saja, tapi masyarakat harus ikut membantu. Caranya mudah, tinggal ikuti imbauan pemerintah, kurangi aktivitas di luar rumah. Jika memang ada keperluan jaga jarak. “Disiplin paling utama, tapi masyarakat masih banyak yang cuek,” ujarnya yang mengatakan akan semakin memperketat aturan agar warga tidak berkumpul.

Terpisah, Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Kalsel, M Muslim mengatakan, kebijakan karantina wilayah masih dalam rumusan-rumusan kebijakan. “Semua kebijakan akan diputuskan oleh kepala daerah,” ujar Muslim.

Soal karantina wilayah, Gubernur Kalsel, Sahbirin Noor menerangkan Minggu (29/3) malam tadi sudah ada pembicaraan terkait kemungkinan ini. Dia menyebut, karantina wilayah harus ada telaahan yang tajam agar bisa dipertanggungjawabkan.

“Lockdown belum sampai ke sana. Namun, anggaran siap. Terdata sekitar Rp56 miliar tersedia. Saya perintahkan untuk menggunakan pemberantasan corona. Harus efektif dan efisien dan jangan dikorupsi,” tegasnya.

Gubernur sendiri kemarin memantau perbatasan Kalsel di Kabupaten Tabalong. Bersama rombongan, Sahbirin mendatangi Posko Pemeriksaan Covid-19 di perbatasan daerah tersebut dengan Provinsi Kalimantan Tengah, di Desa Pasar Panas, Kecamatan Kelua. Kepada petugas posko, Sahbirin berpesan agar mereka menggunakan alat pelindung diri. Pasalnya, seluruh daerah perbatasan sangat rentan terhadap penularan.

Tim Gugus Tugas Covid 19 Kalsel sendiri membangun posko penjagaan di lima titik pintu masuk Kalsel dengan provinsi tetangga. Lima titik tersebut berada di Kabupaten Batola, Tanah Bumbu dan Tabalong. Di Tabalong sendiri selain pos jaga di Kecamatan Jaro, juga ada pos jaga Covid 19 di daerah Kecamatan Kelua, Pugaan, dan Tanta.

Bupati Tabalong H Anang Syakhfiani mengatakan petugas di posko-posko penjagaan tersebut dikerahkan selama 24 jam untuk memeriksa warga yang melintas.

Kabupaten Banjar Bersiap Perketat Kebijakan

Sementara itu, adanya pasien positif corona dari Kabupaten Banjar membuat pemerintah daerah setempat bersiap. Ketua Gugus Tugas Banjar HM Hilman mengatakan perkembangan terakhir menjadi kabar buruk bagi Banjar. Tim gugus langsung menggelar rapat internal. Sejumlah kebijakan diambil Termasuk mengawasi ketat lalu lintas orang yang datang ke Kabupaten Banjar.

”Kami siap jika ada akhirnya diputuskan karantina kewilayahan. Makanya kami memanggil satgas pangan dan sarana kesehatan. Kami mengambil keputusan yang paling kecil mudaratnya untuk warga,” ujar Hilman.

Kabupaten Banjar juga memasukkan 23 peserta Ijtima Dunia Zona Asia Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan ke orang dalam pemantauan (ODP). Total ODP se-Banjar sebanyak 114 orang dan 2 pasien dalam pengawasan (PDP) dinyatakan positif corona.

Sedangkan 1 orang yang sempat masuk dalam kategori PDP negatif atau terbebas dari corona. Kemudian 10 ODP dikeluarkan dari statusnya karena berhasil melalui masa inkubasi selama 14 hari dan dinyatakan sehat. Sepuluh orang tersebut telah melewati masa pemantauan dan dinyatakan aman.

Sekretaris Gugus Tugas dr Diauddin mengatakan, 2 dokter dan 4 perawat di Kabupaten Banjar diminta istirahat selama 14 hari dan masuk dalam pemantauan. Petugas medis saat ini sangat membutuhkan alat pelindung karena stok yang tersedia baru 50 buah. Jumlah itu tidak cukup untuk beberapa hari ke depan.

Jumlah ODP dari Banjar masih melandai seperti sebelumnya setelah ditetapkan masa tanggap darurat selama 8 hari. Gugus Tugas Covid-19 Banjar awalnya sempat mau mengumumkan warga Banjar yang positif tersebut ketika video conference di Command Center Barokah, kemarin. Namun urung dilakukan karena protokol mengharuskan yang memberikan keterangan resmi dari gugus tugas provinsi.

Kabupaten Banjar sebenarnya memiliki dana siap pakai sebesar Rp21,8 miliar lebih untuk kegiatan tanggap darurat. Dana itu bisa ditambah dengan pergeseran anggaran dari beberapa SKPD yang dibutuhkan oleh BPBD. Artinya, untuk tanggap darurat, semua kebutuhan bisa diambil cepat meski anggaran khusus untuk Covid-19 belum pernah dianggarkan.

“Anggaran kita sangat longgar dan dana itu bisa ditambah bila kebutuhan mendesak ada yang diperlukan,” kata Hilman.

Dandim 1002 Martapura Letkol Arm Siswo Budiarto menegaskan, karantina kewilayahan selama pandemi corona sangat mungkin namun keputusan tersebut perlu dirapatkan bersama. Sejak tanggap darurat, Kodim Martapura baru mendirikan posko di bandara untuk mengetahui kedatangan orang.

Sementara itu, Kepala Bappeda Litbang Galuh Tantri Narindra menegaskan, Konsep karantina kewilayahan tidak sama dengan lockdown. karantina wilayah sudah termuat dalam undang-undang nomor 6 Tahun 2018 tentang kekarantinaan kesehatan. Konsep ini hanya menerapkan sistem pembatasan pergerakan orang demi kepentingan kesehatan. Lagi pula, kewenangan karantina kewilayahan juga jadi kewenangan pusat.

Dalam undang-undang Nomor 6 Tahun 2018 disebutkan, keputusan karantina harus berdasarkan pada pertimbangan epidemiologis, besarnya ancaman, efektifitas, dukungan sumber daya, teknis operasional, pertimbangan ekonomi sosial, budaya, dan keamanan. (mof/gmp/mam/ran/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/