alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Selasa, 17 Mei 2022

Masjid Al Munawwarah Batasi 50 Jemaah

SEMENTARA itu, ketika sejumlah masjid, Jumat (27/3) kemarin memilih untuk tidak melaksanakan salat Jumat, guna mengantisipasi wabah virus corona. Hal itu tak dilakukan oleh pengurus Masjid Agung Al Munawwarah. Masjid di Jalan Trikora, Banjarbaru ini masih tetap menggelar Salat Jumat.

Hanya saja, pengurus masjid membatasi jumlah jemaah yang mengikuti Salat Jumat. Yakni, tidak lebih dari 50 orang. Adanya pembatasan jemaah, membuat penjagaan di gerbang masjid tampak diperketat.

Dari pantauan Radar Banjarmasin, di gerbang masjid ada dua orang yang bertugas untuk menghitung jemaah yang masuk. Sistem buka tutup pintu gerbang pun dilakukan, supaya mereka bisa lebih mudah memantau berapa banyak jemaah yang sudah masuk.

Selain dihitung, jemaah yang ingin masuk ke area masjid juga disemprot menggunakan cairan sabun antiseptik. Termasuk, kendaraan dan barang bawaan para jemaah.

Ketua Badan Pengelola Masjid Al Munawwarah, Said Abdullah mengatakan, masih digelarnya Salat Jumat di Masjid Al Munawwarah merupakan kesepakatan para jemaah. “Kami sebagai badan pengelola hanya bertugas memelihara masjid dan memakmurkannya. Saya tidak punya kewenangan dan tupoksi untuk menutup. Saya serahkan ke jemaah, jadi terserah kepada jemaah,” katanya.

Menurutnya, badan pengelola tidak punya kewenangan meniadakan Salat Jumat lantaran status masjid adalah wakaf dan milik para jemaah. “Jadi kalau ada jemaah yang datang, akan kita fasilitasi,” ujarnya.

Akan tetapi dia mengungkapkan, meski tetap melaksanakan Salat Jumat, pengelola tetap tidak meremehkan mewabahnya virus corona. Di mana, ada beberapa hal yang dilakukan untuk mengantisipasi pandemi tersebut. “Ada tujuh ketentuan yang dilakukan dalam pelaksanaan Salat Jumat di Masjid Al Munawwarah,” ungkapnya.

Dirincikannya, ketentuan-ketentuan tersebut ialah diadakan penyemprotan disinfektan pada pukul 10.00 Wita, jemaah dianjurkan membawa sajadah masing-masing, diusahakan khotbah pendek. Termasuk, surah salat dan wirid juga diusahakan pendek.

“Selain itu, salat qabliah (sunat sebelum Jumat) juga diimbau dilakukan di rumah. Salaman juga hanya boleh kepada jemaah yang ada di kiri dan kanan,” rincinya.

Sementara itu, Dani salah seorang jemaah mengaku masih ingin ikut Salat Jumat di tengah pandemi Covid-19 lantaran takut dengan dosa. “Saya lebih takut neraka, dibandingkan virus. Jadi, memilih untuk tetap ikut Salat Jumat,” ujarnya.

Diakuinya, pelaksanaan Salat Jumat di Masjid Al Munawwarah berbeda dari biasanya. Sebab, khutbah, surah yang dibacakan imam dan wirid lebih dipersingkat. “Iya, sebentar selesai. Selain itu, speaker masjid juga tidak dinyalakan. Jadi pelaksanaan salat tidak terdengar sampai ke luar masjid,” pungkasnya. (ris/by/bin)

SEMENTARA itu, ketika sejumlah masjid, Jumat (27/3) kemarin memilih untuk tidak melaksanakan salat Jumat, guna mengantisipasi wabah virus corona. Hal itu tak dilakukan oleh pengurus Masjid Agung Al Munawwarah. Masjid di Jalan Trikora, Banjarbaru ini masih tetap menggelar Salat Jumat.

Hanya saja, pengurus masjid membatasi jumlah jemaah yang mengikuti Salat Jumat. Yakni, tidak lebih dari 50 orang. Adanya pembatasan jemaah, membuat penjagaan di gerbang masjid tampak diperketat.

Dari pantauan Radar Banjarmasin, di gerbang masjid ada dua orang yang bertugas untuk menghitung jemaah yang masuk. Sistem buka tutup pintu gerbang pun dilakukan, supaya mereka bisa lebih mudah memantau berapa banyak jemaah yang sudah masuk.

Selain dihitung, jemaah yang ingin masuk ke area masjid juga disemprot menggunakan cairan sabun antiseptik. Termasuk, kendaraan dan barang bawaan para jemaah.

Ketua Badan Pengelola Masjid Al Munawwarah, Said Abdullah mengatakan, masih digelarnya Salat Jumat di Masjid Al Munawwarah merupakan kesepakatan para jemaah. “Kami sebagai badan pengelola hanya bertugas memelihara masjid dan memakmurkannya. Saya tidak punya kewenangan dan tupoksi untuk menutup. Saya serahkan ke jemaah, jadi terserah kepada jemaah,” katanya.

Menurutnya, badan pengelola tidak punya kewenangan meniadakan Salat Jumat lantaran status masjid adalah wakaf dan milik para jemaah. “Jadi kalau ada jemaah yang datang, akan kita fasilitasi,” ujarnya.

Akan tetapi dia mengungkapkan, meski tetap melaksanakan Salat Jumat, pengelola tetap tidak meremehkan mewabahnya virus corona. Di mana, ada beberapa hal yang dilakukan untuk mengantisipasi pandemi tersebut. “Ada tujuh ketentuan yang dilakukan dalam pelaksanaan Salat Jumat di Masjid Al Munawwarah,” ungkapnya.

Dirincikannya, ketentuan-ketentuan tersebut ialah diadakan penyemprotan disinfektan pada pukul 10.00 Wita, jemaah dianjurkan membawa sajadah masing-masing, diusahakan khotbah pendek. Termasuk, surah salat dan wirid juga diusahakan pendek.

“Selain itu, salat qabliah (sunat sebelum Jumat) juga diimbau dilakukan di rumah. Salaman juga hanya boleh kepada jemaah yang ada di kiri dan kanan,” rincinya.

Sementara itu, Dani salah seorang jemaah mengaku masih ingin ikut Salat Jumat di tengah pandemi Covid-19 lantaran takut dengan dosa. “Saya lebih takut neraka, dibandingkan virus. Jadi, memilih untuk tetap ikut Salat Jumat,” ujarnya.

Diakuinya, pelaksanaan Salat Jumat di Masjid Al Munawwarah berbeda dari biasanya. Sebab, khutbah, surah yang dibacakan imam dan wirid lebih dipersingkat. “Iya, sebentar selesai. Selain itu, speaker masjid juga tidak dinyalakan. Jadi pelaksanaan salat tidak terdengar sampai ke luar masjid,” pungkasnya. (ris/by/bin)

Most Read

Artikel Terbaru

/