alexametrics
26.1 C
Banjarmasin
Kamis, 19 Mei 2022

APD Tiba, PCR Segera

Alat pelindung diri (APD) bagi perawat dan petugas tiba di Kalimantan Selatan, Selasa (24/3) malam. APD dikirim langsung ke rumah sakit rujukan di Kalsel, yakni untuk RSUD Ulin Banjarmasin dan RSUD H Boejasin, Pelaihari.

“Malam ini (tadi malam) datang lagi dengan jumlah besar. Sebanyak 1.500 pcs lebih,” terang Ketua Harian Gugus Tugas Pencegahan, Pengendalian dan Penanganan Covid-19 Kalsel, Wahyuddin kemarin.

Meski diprioritaskan untuk rumah sakit rujukan, namun dia menegaskan, semua rumah sakit di Kalsel akan diberikan sesuai kebutuhan.

Sementara, dalam waktu dekat Pemprov Kalsel dipastikan sudah bisa menguji spesimen untuk mengetahui hasil Covid-19. Kemenkes akan mengirimkan peralatan untuk uji laboratorium dalam waktu dekat.

Juru Bicara Gugus Tugas Pencegahan, Pengendalian dan Penanganan Covid-19 Kalsel, M Muslim membeberkan, setelah pihaknya berkoordinasi dengan salah satu Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes, Kalsel akan menerima sebanyak 2.400 rapid test. “Kita tunggu saja,” tuturnya.
Kalimantan Selatan menjadi prioritas bagi penanggulangan Covid-19 pulau Kalimantan, sebab Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pencegahan Penyakit (BBTKLPP) Banjarbaru telah ditetapkan sebagai Jejaring Laboraturiom Pemeriksaan Covid-19 sebagaimana SK Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/Menkes/214/2020 tanggal 19 Maret 2020.

Politisi senayan dari Kalsel, Syaifullah Tamliha mengatakan konsekuensi dari Keputusan tersebut adalah pemerintah pusat berkewajiban untuk memberikan peralatan dan fasilitas yang diperlukan untuk laboratorium pengujian ini. Rapid Test untuk Screening dan PCR untuk menentukan positif atau negatifnya seorang pasien,” ucapnya.

Plt Kepala BBTKL PP Banjarbaru, Hamidi mengatakan pada prinsipnya pihaknya sudah siap dari segi perlengkapan lab dan juga tenaga SDM. Mereka tinggal menunggu alat uji lab yang dikirim dari pusat.

“Untuk SDM kita siap, peralatan juga siap. Persoalannya kita di sini belum ada Primer PCR. Nah, primer ini bahan yang harus ada dalam tahapan pengujian, kalau itu tidak ada, maka tak bisa,” jelasnya.

PCR adalah pemeriksaan dengan teknologi amplifikasi asam nukleat virus untuk mengetahui ada atau tidaknya virus dan untuk mengetahui genotipe virus.

PCR saat ini kata Hamidi jadi “incaran” beberapa lab di seluruh penjuru Indonesia. “Saya belum bisa jawab kapan pastinya. Yang jelas kita terus berusaha untuk mendapatkannya dalam waktu dekat. Primer ini harus memesan dahulu dan impor,” responsnya.

Namun dipastikannya, pihak Balai sudah berkoordinasi dengan Gugus Tugas P3 Covid-19 Provinsi Kalsel terkait hal ini. Jadi, Pemprov ujarnya melalui Dinas Kesehatan terus mengusahakan ketersediaan benda ini dari pemerintah pusat.

Jika nanti primer PCR ini bakal datang, maka pihak balai katanya bisa langsung melakukan uji sampel terhadap pasien. Untuk waktu pengujian, ia menyebut berkisar dari 2-4 hari.

“Itu sejak sampel dari rumah sakit kita terima hingga kesimpulan dalam bentuk laporan. Maksimal empat hari pengujiannya,” informasinya.

Jumlah penguji di Balai Besar berjumlah 9 orang. Mereka semuanya katanya merupakan analis kesehatan di Balai. “Tidak ada dari daerah lain atau dari pusat yang didatangkan ke sini.” (mof/rvn/ran/ema)

Alat pelindung diri (APD) bagi perawat dan petugas tiba di Kalimantan Selatan, Selasa (24/3) malam. APD dikirim langsung ke rumah sakit rujukan di Kalsel, yakni untuk RSUD Ulin Banjarmasin dan RSUD H Boejasin, Pelaihari.

“Malam ini (tadi malam) datang lagi dengan jumlah besar. Sebanyak 1.500 pcs lebih,” terang Ketua Harian Gugus Tugas Pencegahan, Pengendalian dan Penanganan Covid-19 Kalsel, Wahyuddin kemarin.

Meski diprioritaskan untuk rumah sakit rujukan, namun dia menegaskan, semua rumah sakit di Kalsel akan diberikan sesuai kebutuhan.

Sementara, dalam waktu dekat Pemprov Kalsel dipastikan sudah bisa menguji spesimen untuk mengetahui hasil Covid-19. Kemenkes akan mengirimkan peralatan untuk uji laboratorium dalam waktu dekat.

Juru Bicara Gugus Tugas Pencegahan, Pengendalian dan Penanganan Covid-19 Kalsel, M Muslim membeberkan, setelah pihaknya berkoordinasi dengan salah satu Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes, Kalsel akan menerima sebanyak 2.400 rapid test. “Kita tunggu saja,” tuturnya.
Kalimantan Selatan menjadi prioritas bagi penanggulangan Covid-19 pulau Kalimantan, sebab Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pencegahan Penyakit (BBTKLPP) Banjarbaru telah ditetapkan sebagai Jejaring Laboraturiom Pemeriksaan Covid-19 sebagaimana SK Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/Menkes/214/2020 tanggal 19 Maret 2020.

Politisi senayan dari Kalsel, Syaifullah Tamliha mengatakan konsekuensi dari Keputusan tersebut adalah pemerintah pusat berkewajiban untuk memberikan peralatan dan fasilitas yang diperlukan untuk laboratorium pengujian ini. Rapid Test untuk Screening dan PCR untuk menentukan positif atau negatifnya seorang pasien,” ucapnya.

Plt Kepala BBTKL PP Banjarbaru, Hamidi mengatakan pada prinsipnya pihaknya sudah siap dari segi perlengkapan lab dan juga tenaga SDM. Mereka tinggal menunggu alat uji lab yang dikirim dari pusat.

“Untuk SDM kita siap, peralatan juga siap. Persoalannya kita di sini belum ada Primer PCR. Nah, primer ini bahan yang harus ada dalam tahapan pengujian, kalau itu tidak ada, maka tak bisa,” jelasnya.

PCR adalah pemeriksaan dengan teknologi amplifikasi asam nukleat virus untuk mengetahui ada atau tidaknya virus dan untuk mengetahui genotipe virus.

PCR saat ini kata Hamidi jadi “incaran” beberapa lab di seluruh penjuru Indonesia. “Saya belum bisa jawab kapan pastinya. Yang jelas kita terus berusaha untuk mendapatkannya dalam waktu dekat. Primer ini harus memesan dahulu dan impor,” responsnya.

Namun dipastikannya, pihak Balai sudah berkoordinasi dengan Gugus Tugas P3 Covid-19 Provinsi Kalsel terkait hal ini. Jadi, Pemprov ujarnya melalui Dinas Kesehatan terus mengusahakan ketersediaan benda ini dari pemerintah pusat.

Jika nanti primer PCR ini bakal datang, maka pihak balai katanya bisa langsung melakukan uji sampel terhadap pasien. Untuk waktu pengujian, ia menyebut berkisar dari 2-4 hari.

“Itu sejak sampel dari rumah sakit kita terima hingga kesimpulan dalam bentuk laporan. Maksimal empat hari pengujiannya,” informasinya.

Jumlah penguji di Balai Besar berjumlah 9 orang. Mereka semuanya katanya merupakan analis kesehatan di Balai. “Tidak ada dari daerah lain atau dari pusat yang didatangkan ke sini.” (mof/rvn/ran/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/