alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Monday, 23 May 2022

Sadarlah, Virus Ini Berbahaya..! Potensi Pasar Zona Infeksi

Wali Kota Banjarmasin menyatakan kota ini berstatus siaga darurat. Segala bentuk aktivitas mengumpulkan massa tak boleh digelar. Kebijakan itu dikeluarkan demi mengantisipasi potensi penyebaran virus Corona. Lantas, bagaimana dengan pasar besar?

Ada ribuan orang tiap harinya bertandang ke pasar. Seperti ke Ujung Murung, Sudimampir, Malabar, dan pusat perdagangan besar lainnya.

Makin mencemaskan, yang datang tak cuma warga Banjarmasin. Juga dari daerah lainnya di Kalsel, bahkan Kalimantan. Contohnya seperti di Pasar Ujung Murung atau Sudimampir Baru.

Tanpa disadari, salah-salah pusat grosir terbesar di Kalimantan ini bisa menjadi zona infeksi. Ini bukannya menakut-nakuti. Tapi, apa jadinya jika ada satu dari pengunjung atau pedagang yang terinfeksi virus mematikan itu.

Ketua Komisi IV DPRD Banjarmasin, Matnor Ali setuju. Jantung perdagangan itu punya risiko besar menjadi tempat penularan virus corona. Mengingat ada ribuan orang yang bertransaksi di sana. “Kita tidak bisa membantahnya. Bisa saja penularan terjadi di pasar,” ucap politikus Partai Golkar itu.

Tapi, Matnor juga sependapat dengan Balai Kota. Tak membuat kebijakan ekstrem untuk menghentikan aktivitas di pasar. “Bagaimanapun di sana adalah jantung ekonomi kota, bahkan provinsi. Tak mungkin menutup pasar,” katanya.

Pernyataan Matnor masuk akal. Apa jadinya jika Pasar Ujung Murung, Sudimampir dan sekitarnya ditutup. Pada posisi ini, pemko tentu juga dilema.

Namun, fakta risiko infeksi di pasar tak boleh diabaikan. Mesti ada cara-cara tertentu agar pasar benar-benar steril. “Satuan Gugus Tugas Penanganan Corona ini tentu harus berperan aktif. Terutama memberikan pemahaman kepada masyarakat agar tak terpapar,” tuturnya.

Fakta risiko penularan virus di pasar sudah disadari tim Gugus Tugas Penanganan Corona. Intinya, mereka tak akan diam.

Ketua Gugus Tugas, Machli Riyadi menyebut pasar juga menjadi prioritas mereka. “Rencananya, Sabtu ini kami bersama Dinas Perdagangan dan pedagang pasar akan menggelar pertemuan,” kata Kepala Dinas Kesehatan Banjarmasin itu.

Machli sadar, untuk pasar tak bisa berbuat banyak. Terutama dalam hal pengawasan. “Kami tidak mempunyai tenaga untuk itu,” ucapnya. Untuk tenaga medis rumah sakit saja masih kekurangan.

Lantas, apakah Machli pasrah? Tidak. Timnya punya upaya lain. Satuan gugus tugas akan melakukan pendekatan. Menyadarkan masyarakat bahwa virus ini benar-benar berbahaya. “Karena inilah yang terpenting. Masyarakat juga harus sadar sepenuhnya soal virus ini. Supaya bisa mandiri menjaga diri masing-masing,” tuturnya.

Cara itulah yang akan dimaksimalkan. Menutup pasar, jelas akan sulit. Belum lagi dampak sosial yang muncul. “Kami akan terus menggugah hati masyarakat,” tegasnya.

Selain itu, pihaknya juga akan meminta setiap pengelola pasar penyediakan wastafel pencucian tangan atau hand sanitizer. “Kami juga akan menyosialisasikan pola Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS),” ungkapnya.

Machli ingin warga kota maupun masyarakat Kalsel bersatu. Saling mendukung dalam hal mengantisipasi mewabahnya Covid-19. “Bagaimanapun, menangani ini harus bersama-sama, pemerintah dan semua unsur masyarakat,” tuntasnya.

Beri Pemahaman, Sentuh Logika Masyarakat

Balai Kota memang serius mengantisipasi serangan Covid-19. Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina bahkan mengklaim kebijakan semi lockdown. Setidaknya begitulah ia menyebut.

Aktivitas pelajar di sekolah ditiadakan. Semua event di dalam kota dibatalkan, tak boleh digelar. Termasuk car free day Minggu pagi dan pasar terapung.

Bahkan pemko juga membatalkan semua kunjungan kerja ke luar kota. Mereka juga tak menerima tamu. Intinya, kota ini ingin mengisolasi diri.

Kebijakan itu rupanya menarik perhatian analis kebijakan pemerintah, Arif Rahman Hakim. Menurutnya, tak ada yang salah. Tapi ada satu tempat yang luput dari perhatian. Pasar. “Dari sekian tempat keramaian yang belum terperhatikan adalah pasar. Di sini sangat rentan tersebar virus corona. Apalagi yang datang ke pasar sifatnya random. Bisa dari berbagai daerah. Datang silih berganti,” sebut dosen FISIP Universitas Lambung Mangkurat itu.

Dia bukannya mau menakuti. Tapi ingin menyadarkan bahwa memang ada potensi lokasi penularan di pasar.

Arif memaklumi kegamangan pemko. Antara menjaga perekonomian dan kesehatan warga. Ia juga paham, Balai Kota tak mau ada kepanikan di tengah masyarakat. “Karena itu pemerintah perlu menyikapi bagaimana pengawasan di pasar,” katanya.

Lantas, apa yang bisa dilakukan pemko? Jawab Arif sederhana. Menyentuh logika masyarakat. Supaya benar-benar memahami bahaya corona, dan bagaimana cara mengantisipasinya. “Intinya pemko harus benar-benar all out mengedukasi masyarakat. Memberikan pengertian sejelas-jelasnya tentang virus ini,” paparnya.

Kalau sudah begitu, Arif yakin akan tumbuh kesadaran dari masyarakat. Untuk menjaga diri masing-masing. “Mengedukasi ini sebenarnya cara yang efektif dalam kondisi sekarang. Asalkan serius menjalankannya,” tuturnya.

Pemko juga berkewajiban memberi masyarakat pengertian. Tak melakukan aktivitas berlebihan kalau memang harus pergi ke pasar. Secukup dan sewajarnya saja. “Begitu pula pedagang. Lebih hati-hati dalam bertransaksi,” tuntasnya. 

Tak Ingin Ada Kepanikan

Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina tak berbicara banyak soal penanganan pasar. Ibnu hanya bisa memastikan bahwa pemko akan melakukan segala upaya meminimalkan serangan virus tersebut.

“Kalau soal pasar kami tak ingin menimbulkan suasana kepanikan,” ucapnya.

Tapi, Balai Kota serius mengantisipasi potensi munculnya wabah corona. Sebagai bukti, dengan membentuk Satuan Gugus Tugas penanganan virus berkode Covid-19 itu. “Segala hal berkaitan dengan perkembangan virus corona ini akan ditangani gugus tugas,” katanya.

Intinya, Balai Kota tak mau kecolongan. Berusaha semaksimal mungkin agar kota ini terhindar dari corona.

Wakil Wali Kota Banjarmasin, Hermansyah meminta satuan gugus tugas penanganan corona serius bekerja. Termasuk melakukan antisipasi potensi munculnya penularan di pasar. “Jangan sampai terabaikan. Apa saja langkah-langkah yang dilakukan harus jelas,” tegasnya.

Sekali lagi Herman menegaskan pasar harus dapat perhatian serius. Tak boleh diremehkan. “Sekarang sudah ada satuan tugas khusus. Silakan lakukan upaya antisipasi di pasar-pasar,” tuntasnya.(nur/dye/ema)

Wali Kota Banjarmasin menyatakan kota ini berstatus siaga darurat. Segala bentuk aktivitas mengumpulkan massa tak boleh digelar. Kebijakan itu dikeluarkan demi mengantisipasi potensi penyebaran virus Corona. Lantas, bagaimana dengan pasar besar?

Ada ribuan orang tiap harinya bertandang ke pasar. Seperti ke Ujung Murung, Sudimampir, Malabar, dan pusat perdagangan besar lainnya.

Makin mencemaskan, yang datang tak cuma warga Banjarmasin. Juga dari daerah lainnya di Kalsel, bahkan Kalimantan. Contohnya seperti di Pasar Ujung Murung atau Sudimampir Baru.

Tanpa disadari, salah-salah pusat grosir terbesar di Kalimantan ini bisa menjadi zona infeksi. Ini bukannya menakut-nakuti. Tapi, apa jadinya jika ada satu dari pengunjung atau pedagang yang terinfeksi virus mematikan itu.

Ketua Komisi IV DPRD Banjarmasin, Matnor Ali setuju. Jantung perdagangan itu punya risiko besar menjadi tempat penularan virus corona. Mengingat ada ribuan orang yang bertransaksi di sana. “Kita tidak bisa membantahnya. Bisa saja penularan terjadi di pasar,” ucap politikus Partai Golkar itu.

Tapi, Matnor juga sependapat dengan Balai Kota. Tak membuat kebijakan ekstrem untuk menghentikan aktivitas di pasar. “Bagaimanapun di sana adalah jantung ekonomi kota, bahkan provinsi. Tak mungkin menutup pasar,” katanya.

Pernyataan Matnor masuk akal. Apa jadinya jika Pasar Ujung Murung, Sudimampir dan sekitarnya ditutup. Pada posisi ini, pemko tentu juga dilema.

Namun, fakta risiko infeksi di pasar tak boleh diabaikan. Mesti ada cara-cara tertentu agar pasar benar-benar steril. “Satuan Gugus Tugas Penanganan Corona ini tentu harus berperan aktif. Terutama memberikan pemahaman kepada masyarakat agar tak terpapar,” tuturnya.

Fakta risiko penularan virus di pasar sudah disadari tim Gugus Tugas Penanganan Corona. Intinya, mereka tak akan diam.

Ketua Gugus Tugas, Machli Riyadi menyebut pasar juga menjadi prioritas mereka. “Rencananya, Sabtu ini kami bersama Dinas Perdagangan dan pedagang pasar akan menggelar pertemuan,” kata Kepala Dinas Kesehatan Banjarmasin itu.

Machli sadar, untuk pasar tak bisa berbuat banyak. Terutama dalam hal pengawasan. “Kami tidak mempunyai tenaga untuk itu,” ucapnya. Untuk tenaga medis rumah sakit saja masih kekurangan.

Lantas, apakah Machli pasrah? Tidak. Timnya punya upaya lain. Satuan gugus tugas akan melakukan pendekatan. Menyadarkan masyarakat bahwa virus ini benar-benar berbahaya. “Karena inilah yang terpenting. Masyarakat juga harus sadar sepenuhnya soal virus ini. Supaya bisa mandiri menjaga diri masing-masing,” tuturnya.

Cara itulah yang akan dimaksimalkan. Menutup pasar, jelas akan sulit. Belum lagi dampak sosial yang muncul. “Kami akan terus menggugah hati masyarakat,” tegasnya.

Selain itu, pihaknya juga akan meminta setiap pengelola pasar penyediakan wastafel pencucian tangan atau hand sanitizer. “Kami juga akan menyosialisasikan pola Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS),” ungkapnya.

Machli ingin warga kota maupun masyarakat Kalsel bersatu. Saling mendukung dalam hal mengantisipasi mewabahnya Covid-19. “Bagaimanapun, menangani ini harus bersama-sama, pemerintah dan semua unsur masyarakat,” tuntasnya.

Beri Pemahaman, Sentuh Logika Masyarakat

Balai Kota memang serius mengantisipasi serangan Covid-19. Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina bahkan mengklaim kebijakan semi lockdown. Setidaknya begitulah ia menyebut.

Aktivitas pelajar di sekolah ditiadakan. Semua event di dalam kota dibatalkan, tak boleh digelar. Termasuk car free day Minggu pagi dan pasar terapung.

Bahkan pemko juga membatalkan semua kunjungan kerja ke luar kota. Mereka juga tak menerima tamu. Intinya, kota ini ingin mengisolasi diri.

Kebijakan itu rupanya menarik perhatian analis kebijakan pemerintah, Arif Rahman Hakim. Menurutnya, tak ada yang salah. Tapi ada satu tempat yang luput dari perhatian. Pasar. “Dari sekian tempat keramaian yang belum terperhatikan adalah pasar. Di sini sangat rentan tersebar virus corona. Apalagi yang datang ke pasar sifatnya random. Bisa dari berbagai daerah. Datang silih berganti,” sebut dosen FISIP Universitas Lambung Mangkurat itu.

Dia bukannya mau menakuti. Tapi ingin menyadarkan bahwa memang ada potensi lokasi penularan di pasar.

Arif memaklumi kegamangan pemko. Antara menjaga perekonomian dan kesehatan warga. Ia juga paham, Balai Kota tak mau ada kepanikan di tengah masyarakat. “Karena itu pemerintah perlu menyikapi bagaimana pengawasan di pasar,” katanya.

Lantas, apa yang bisa dilakukan pemko? Jawab Arif sederhana. Menyentuh logika masyarakat. Supaya benar-benar memahami bahaya corona, dan bagaimana cara mengantisipasinya. “Intinya pemko harus benar-benar all out mengedukasi masyarakat. Memberikan pengertian sejelas-jelasnya tentang virus ini,” paparnya.

Kalau sudah begitu, Arif yakin akan tumbuh kesadaran dari masyarakat. Untuk menjaga diri masing-masing. “Mengedukasi ini sebenarnya cara yang efektif dalam kondisi sekarang. Asalkan serius menjalankannya,” tuturnya.

Pemko juga berkewajiban memberi masyarakat pengertian. Tak melakukan aktivitas berlebihan kalau memang harus pergi ke pasar. Secukup dan sewajarnya saja. “Begitu pula pedagang. Lebih hati-hati dalam bertransaksi,” tuntasnya. 

Tak Ingin Ada Kepanikan

Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina tak berbicara banyak soal penanganan pasar. Ibnu hanya bisa memastikan bahwa pemko akan melakukan segala upaya meminimalkan serangan virus tersebut.

“Kalau soal pasar kami tak ingin menimbulkan suasana kepanikan,” ucapnya.

Tapi, Balai Kota serius mengantisipasi potensi munculnya wabah corona. Sebagai bukti, dengan membentuk Satuan Gugus Tugas penanganan virus berkode Covid-19 itu. “Segala hal berkaitan dengan perkembangan virus corona ini akan ditangani gugus tugas,” katanya.

Intinya, Balai Kota tak mau kecolongan. Berusaha semaksimal mungkin agar kota ini terhindar dari corona.

Wakil Wali Kota Banjarmasin, Hermansyah meminta satuan gugus tugas penanganan corona serius bekerja. Termasuk melakukan antisipasi potensi munculnya penularan di pasar. “Jangan sampai terabaikan. Apa saja langkah-langkah yang dilakukan harus jelas,” tegasnya.

Sekali lagi Herman menegaskan pasar harus dapat perhatian serius. Tak boleh diremehkan. “Sekarang sudah ada satuan tugas khusus. Silakan lakukan upaya antisipasi di pasar-pasar,” tuntasnya.(nur/dye/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/