alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Monday, 23 May 2022

Semua Harus Berawal dari Cinta

Habiburrahman El Shirazy datang ke Banjarmasin, kemarin (10/3) pagi. Dalam acara temu dan sapa penulis di aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kalsel di Jalan Ahmad Yani kilometer 6.

— Oleh: ENDANG SYARIFUDIN, Banjarmasin —

KEHADIRAN Kang Abik, sapaan akrabnya, menjadi pengalaman berharga bagi penulis-penulis pemula Banua. Banyak pertanyaan yang dilontarkan kepada penulis roman Ketika Cinta Bertasbih itu.

Salah satunya dari Nadya, mahasiswi Jurusan Pendidikan Ilmu Perpustakaan Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari. Dia bertanya bagaimana kiat memecahkan kebuntuan saat menulis.

Masalah ini kerap ia hadapi. “Bagaimana tips agar tidak buntu?” tanya perempuan berhijab itu.

Kang Abik menjawab, kebuntuan adalah masalah semua penulis, tanpa terkecuali. Semua pernah mengalaminya. Baik yang baru belajar menulis atau sudah menjual novel-novel best seller.

Tapi bukan berarti tak bisa diatasi. Prinsipnya, menyukai apa yang dikerjakan. Kalau sudah suka, bakal mudah. “Menulis itu harus cinta dulu. Sebab, kalau enggak tidak akan bisa menjadi penulis,” ujarnya.

Untuk menyukai menulis, Kang Abik menyarankan agar mendefinisikan ulang menulis sebagai kegiatan yang mengasyikkan. Yakinlah, akan memudahkan dalam penulisan.

Satu lagi, menetapkan motivasi. Seperti menjadikan buku sebagai mahar pernikahan. Atau menulis agar bisa mengumrahkan orang tua.

“Barengi dengan banyak praktik dan membaca. Semakin tinggi jam terbangnya akan memudahkan dalam menulis,” tambahnya.

Kepala Dispersip Kalsel, Nurliani Dardie pun optimis. Literasi di Kalsel bakal berkembang pesat. Terbukti dari betapa antusiasnya para penanya. “Artinya mereka benar-benar ingin belajar,” katanya.

Menurutnya, inilah tujuan Dispersip mendatangkan penulis-penulis ternama ke Banua. Bisa memberikan inspirasi dan motivasi anak muda untuk mulai menulis.

“Penulis top ini sengaja kami datangkan untuk memancing minat baca masyarakat,” ujarnya. (fud/ema)

Habiburrahman El Shirazy datang ke Banjarmasin, kemarin (10/3) pagi. Dalam acara temu dan sapa penulis di aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kalsel di Jalan Ahmad Yani kilometer 6.

— Oleh: ENDANG SYARIFUDIN, Banjarmasin —

KEHADIRAN Kang Abik, sapaan akrabnya, menjadi pengalaman berharga bagi penulis-penulis pemula Banua. Banyak pertanyaan yang dilontarkan kepada penulis roman Ketika Cinta Bertasbih itu.

Salah satunya dari Nadya, mahasiswi Jurusan Pendidikan Ilmu Perpustakaan Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari. Dia bertanya bagaimana kiat memecahkan kebuntuan saat menulis.

Masalah ini kerap ia hadapi. “Bagaimana tips agar tidak buntu?” tanya perempuan berhijab itu.

Kang Abik menjawab, kebuntuan adalah masalah semua penulis, tanpa terkecuali. Semua pernah mengalaminya. Baik yang baru belajar menulis atau sudah menjual novel-novel best seller.

Tapi bukan berarti tak bisa diatasi. Prinsipnya, menyukai apa yang dikerjakan. Kalau sudah suka, bakal mudah. “Menulis itu harus cinta dulu. Sebab, kalau enggak tidak akan bisa menjadi penulis,” ujarnya.

Untuk menyukai menulis, Kang Abik menyarankan agar mendefinisikan ulang menulis sebagai kegiatan yang mengasyikkan. Yakinlah, akan memudahkan dalam penulisan.

Satu lagi, menetapkan motivasi. Seperti menjadikan buku sebagai mahar pernikahan. Atau menulis agar bisa mengumrahkan orang tua.

“Barengi dengan banyak praktik dan membaca. Semakin tinggi jam terbangnya akan memudahkan dalam menulis,” tambahnya.

Kepala Dispersip Kalsel, Nurliani Dardie pun optimis. Literasi di Kalsel bakal berkembang pesat. Terbukti dari betapa antusiasnya para penanya. “Artinya mereka benar-benar ingin belajar,” katanya.

Menurutnya, inilah tujuan Dispersip mendatangkan penulis-penulis ternama ke Banua. Bisa memberikan inspirasi dan motivasi anak muda untuk mulai menulis.

“Penulis top ini sengaja kami datangkan untuk memancing minat baca masyarakat,” ujarnya. (fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/