alexametrics
24.1 C
Banjarmasin
Thursday, 26 May 2022

Polisi Gerebek Rumah Penimbun Masker; Jual Online Sampai Korea

BANJARMASIN – Bisnis bisa membuat nurani Erna Novita gelap. Demi mengais keuntungan, dia tega mengesploitasi kepanikan warga akibat virus corona dengan melakukan penimbunan masker.  

Erna mengatakan dia terinspirasi dari apa yang dilakukan keluarganya, Ridho. Ridho mengajaknya berbisnis masker untuk menangguk kentungan dari banyaknya warga Kalsel yang mencari penutup wajah itu setelah kabar dua orang WNI positif virus.

Dia kemudian mulai menghubungi pengepul di daerah Hulu Sungai Utara dan Tabalong. Tugas mereka adalah mengumpulkan sebanyak-banyaknya masker yang ada di hulu sungai.

Setelah terkumpul, masker-masker itu dikirim ke rumahnya di Jalan A Yani Km 8 Banjarmasin. Rumah itulah yang digerebek petugas kepolisian dari Polda Kalsel tadi malam.

Kanit Jatanras Ditkrimum Polda Kalsel Ajun Komisaris Polisi Agus Rusdi yang memimpin operasi penangkapan mengatakan, rumah Erna  sudah diintai selama sepekan terakhir. “Hari ini (kemarin), sejak jam satu siang sudah kami pantau. Tapi baru petangnya digerebek,” beber Rusdi.

Dari rumah itu, polisi menyita 67 boks masker merek Primadona, plus lima botol hand sanitizier. Erna mengaku sudah sebulan terakhir berbisnis barang langka di era wabah itu.

Bagaimana polisi melacak keberadaan rumah yang dijadikan tempat penimbunan masker itu?

Ternyata sebelumnya polisi telah menangkap Ridho. Ridho diringkus di rumahnya di kawasan Pemurus Dalam, perbatasan Banjarmasin dan Banjar. Di sana polisi menemukan tiga boks masker. Bermodal informasi dari tersangka pertama ini, polisi pun bergerak ke rumah Erna sebagai tersangka kedua.

“Pengakuan mereka, sudah beberapa kali mengirimkan masker ke Jakarta, Bali, Medan, bahkan Korea. Ada bukti resi pengirimannya,” ucap Rusdi.

Erna menjual masker per boks  antara Rp200 ribu sampai Rp300 ribu. Jualannya laris terutama sejak virus Corona mewabah dan ditemukan di Indonesia. 

“Idenya sebenarnya milik Ridho, dia yang mengajak. Rumah saya sebagai tempat penyimpanan saja. Satu bulan ini sudah mengirim ke Jakarta sampai Korea,” aku Erna.

Berapa modalnya? Dia menyebut, satu boks besar dibeli Rp170 ribu. “Tapi baru masker, kalau cairan antiseptik belum keluar,” timpal Ridho yang diwawancarai bersama Erna.

Pemasaran dilakukan melalui situs belanja online. Ketika diunggah, ternyata banyak peminat yang hendak memesan. “Kalau pemesanan dalam kota, harganya Rp200 ribu per boks. Tapi kalau keluar kota sampai Rp300 ribu,” sebutnya.

Saat ini keduanya terus menjalani pemeriksaan di Ditkrimum Polda Kalsel. (lan/ran/ema)

BANJARMASIN – Bisnis bisa membuat nurani Erna Novita gelap. Demi mengais keuntungan, dia tega mengesploitasi kepanikan warga akibat virus corona dengan melakukan penimbunan masker.  

Erna mengatakan dia terinspirasi dari apa yang dilakukan keluarganya, Ridho. Ridho mengajaknya berbisnis masker untuk menangguk kentungan dari banyaknya warga Kalsel yang mencari penutup wajah itu setelah kabar dua orang WNI positif virus.

Dia kemudian mulai menghubungi pengepul di daerah Hulu Sungai Utara dan Tabalong. Tugas mereka adalah mengumpulkan sebanyak-banyaknya masker yang ada di hulu sungai.

Setelah terkumpul, masker-masker itu dikirim ke rumahnya di Jalan A Yani Km 8 Banjarmasin. Rumah itulah yang digerebek petugas kepolisian dari Polda Kalsel tadi malam.

Kanit Jatanras Ditkrimum Polda Kalsel Ajun Komisaris Polisi Agus Rusdi yang memimpin operasi penangkapan mengatakan, rumah Erna  sudah diintai selama sepekan terakhir. “Hari ini (kemarin), sejak jam satu siang sudah kami pantau. Tapi baru petangnya digerebek,” beber Rusdi.

Dari rumah itu, polisi menyita 67 boks masker merek Primadona, plus lima botol hand sanitizier. Erna mengaku sudah sebulan terakhir berbisnis barang langka di era wabah itu.

Bagaimana polisi melacak keberadaan rumah yang dijadikan tempat penimbunan masker itu?

Ternyata sebelumnya polisi telah menangkap Ridho. Ridho diringkus di rumahnya di kawasan Pemurus Dalam, perbatasan Banjarmasin dan Banjar. Di sana polisi menemukan tiga boks masker. Bermodal informasi dari tersangka pertama ini, polisi pun bergerak ke rumah Erna sebagai tersangka kedua.

“Pengakuan mereka, sudah beberapa kali mengirimkan masker ke Jakarta, Bali, Medan, bahkan Korea. Ada bukti resi pengirimannya,” ucap Rusdi.

Erna menjual masker per boks  antara Rp200 ribu sampai Rp300 ribu. Jualannya laris terutama sejak virus Corona mewabah dan ditemukan di Indonesia. 

“Idenya sebenarnya milik Ridho, dia yang mengajak. Rumah saya sebagai tempat penyimpanan saja. Satu bulan ini sudah mengirim ke Jakarta sampai Korea,” aku Erna.

Berapa modalnya? Dia menyebut, satu boks besar dibeli Rp170 ribu. “Tapi baru masker, kalau cairan antiseptik belum keluar,” timpal Ridho yang diwawancarai bersama Erna.

Pemasaran dilakukan melalui situs belanja online. Ketika diunggah, ternyata banyak peminat yang hendak memesan. “Kalau pemesanan dalam kota, harganya Rp200 ribu per boks. Tapi kalau keluar kota sampai Rp300 ribu,” sebutnya.

Saat ini keduanya terus menjalani pemeriksaan di Ditkrimum Polda Kalsel. (lan/ran/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/