alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Monday, 23 May 2022

Siswa SMP Praktik Langsung Proses Menyirang; Bebaskan Gambar Corak, Mewarnai Paling Menantang

Kolaborasi penting dilakukan Dinas Koperasi dan Tenaga Kerja Banjarmasin, Yayasan Pecinta Sasirangan, dan Rumah Sasirangan Kreatif. Mereka mengajari para pelajar di Banjarmasin praktik langsung proses menyirang.

Sebetulnya total ada 100 siswa diajak praktik. Tapi, bergantian. Di Rumah Sasirangan Kreatif, Jalan A Yani, KM 4, Banjarmasin.

Terbagi lima sesi. Masing-masing 20 orang. Satu sesi diisi perwakilan dua sekolah sekaligus. Sesi terakhir program ini berlangsung kemarin (5/3). Giliran siswa SMPN 26 Banjarmasin dan SMPN 32 Banjarmasin.

Sebelumnya lebih dulu SMPN 14 Banjarmasin, SMPN 15 Banjarmasin, SMPN 21 Banjarmasin, SMPN 7 Banjarmasin, SMPN 9 Banjarmasin, SMPN 4 Banjarmasin, SMPN 6 Banjarmasin, dan SMPN 19 Banjarmasin.

Para siswa tampak antusias menjelujur. Sesuai pola kain yang mereka gambar lebih dulu di sekolah masing-masing. Satu anak kebagian sehelai kain berukuran 2 meter. Kain itu difasilitasi Diskopnaker Banjarmasin.

Spesialnya lagi, motif tersebut digambar langsung oleh mereka. Tidak dibatasi. Artinya tak hanya motif pakem Sasirangan. Anak-anak dibebaskan menggambar corak sesuai kreativitasnya. “Ada yang menggambar motif tugu intan, bekantan, kembang teratai, dan banyak lagi,” beber Muhammad Naseruddin, tim manajemen Rumah Sasirangan Kreatif.

Proses berlanjut dengan menyisit dan membuhul. Teknik penting untuk mempertahankan motif saat proses mewarnai kain.

Setelah itu masuk ke proses pewarnaan. Didampingi anggota YPS dan pengurus Rumah Sasirangan Kreatif, para siswa mulai mewarnai. Dengan mencelupkan kain ke air panas yang telah diisi bubuk pewarna, hydro, dan soda api. “Pewarnaan panas terdiri dari tiga komponen ini,” ujarnya.

Naseruddin berharap praktik langsung seperti ini akan mempermudah para siswa dalam memahami teknik pewarnaan. Terlebih menanamkan rasa cinta dan memiliki terhadap kain khas Kalsel ini.

“Pewarnaan Sasirangan enggak sesulit yang dibayangkan,” ujarnya.

Ketua Dekranasda Kota Banjarmasin, Siti Wasilah dibuat bangga dengan kreativitas para peserta pelatihan. Kegiatan ini menjadi bagian dalam kemeriahan Banjarmasin Sasirangan Festival (BSF) Kalsel 2020.

“Saya bangga karena pola-pola Sasirangan ini adalah karya kreativitas para siswa,” ucapnya.
Wasilah berharap Sasirangan akan terus eksis. Salah satunya dengan mengenalkan lebih dalam tentang kain ini kepada generasi muda.

Fatma Bunga baru pertama kali praktik langsung menyirang. Proses mewarnai menjadi bagian paling menantang bagi siswi SMPN 26 ini. “Baru pertama kali bikin Sasirangan. Seru dan banyak pembelajaran yang didapat,” tuntasnya.(dye/ema)

Kolaborasi penting dilakukan Dinas Koperasi dan Tenaga Kerja Banjarmasin, Yayasan Pecinta Sasirangan, dan Rumah Sasirangan Kreatif. Mereka mengajari para pelajar di Banjarmasin praktik langsung proses menyirang.

Sebetulnya total ada 100 siswa diajak praktik. Tapi, bergantian. Di Rumah Sasirangan Kreatif, Jalan A Yani, KM 4, Banjarmasin.

Terbagi lima sesi. Masing-masing 20 orang. Satu sesi diisi perwakilan dua sekolah sekaligus. Sesi terakhir program ini berlangsung kemarin (5/3). Giliran siswa SMPN 26 Banjarmasin dan SMPN 32 Banjarmasin.

Sebelumnya lebih dulu SMPN 14 Banjarmasin, SMPN 15 Banjarmasin, SMPN 21 Banjarmasin, SMPN 7 Banjarmasin, SMPN 9 Banjarmasin, SMPN 4 Banjarmasin, SMPN 6 Banjarmasin, dan SMPN 19 Banjarmasin.

Para siswa tampak antusias menjelujur. Sesuai pola kain yang mereka gambar lebih dulu di sekolah masing-masing. Satu anak kebagian sehelai kain berukuran 2 meter. Kain itu difasilitasi Diskopnaker Banjarmasin.

Spesialnya lagi, motif tersebut digambar langsung oleh mereka. Tidak dibatasi. Artinya tak hanya motif pakem Sasirangan. Anak-anak dibebaskan menggambar corak sesuai kreativitasnya. “Ada yang menggambar motif tugu intan, bekantan, kembang teratai, dan banyak lagi,” beber Muhammad Naseruddin, tim manajemen Rumah Sasirangan Kreatif.

Proses berlanjut dengan menyisit dan membuhul. Teknik penting untuk mempertahankan motif saat proses mewarnai kain.

Setelah itu masuk ke proses pewarnaan. Didampingi anggota YPS dan pengurus Rumah Sasirangan Kreatif, para siswa mulai mewarnai. Dengan mencelupkan kain ke air panas yang telah diisi bubuk pewarna, hydro, dan soda api. “Pewarnaan panas terdiri dari tiga komponen ini,” ujarnya.

Naseruddin berharap praktik langsung seperti ini akan mempermudah para siswa dalam memahami teknik pewarnaan. Terlebih menanamkan rasa cinta dan memiliki terhadap kain khas Kalsel ini.

“Pewarnaan Sasirangan enggak sesulit yang dibayangkan,” ujarnya.

Ketua Dekranasda Kota Banjarmasin, Siti Wasilah dibuat bangga dengan kreativitas para peserta pelatihan. Kegiatan ini menjadi bagian dalam kemeriahan Banjarmasin Sasirangan Festival (BSF) Kalsel 2020.

“Saya bangga karena pola-pola Sasirangan ini adalah karya kreativitas para siswa,” ucapnya.
Wasilah berharap Sasirangan akan terus eksis. Salah satunya dengan mengenalkan lebih dalam tentang kain ini kepada generasi muda.

Fatma Bunga baru pertama kali praktik langsung menyirang. Proses mewarnai menjadi bagian paling menantang bagi siswi SMPN 26 ini. “Baru pertama kali bikin Sasirangan. Seru dan banyak pembelajaran yang didapat,” tuntasnya.(dye/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/