alexametrics
26.1 C
Banjarmasin
Rabu, 18 Mei 2022

Menelusuri Hilangnya Masker dari Pasaran; Langka karena Penuhi Pasar Cina..?

Apakah kelangkaan masker karena ulah pedagang? Belum tentu benar. Radar Banjarmasin mencoba menelusuri ke mana hilangnya masker-masker dari toko di Kalsel sejak pengumuman virus corona.

—- 

Nita mengaku bingung. Penjaga Apotek Sahabat di Jalan Hasan Basri Banjarmasin Utara ini capek menjawab banyak pelanggan yang mencari stok masker. Penutup wajah itu sedang tren justru saat stok di apoteknya kosong.

“Barangnya memang kosong dari Surabaya,” kata Nita.

Sebelum masker langka seperti ini, setiap bulannya apotek Sahabat, melakukan pemesanan 10 karton. Dalam satu karton terdapat 10 boks dengan isi satu kotak sebanyak 50 pack.

Lalu kenapa distributor tidak mengirim?

Nita tidak tahu pasti. Kabar yang sampai kepadanya hanya bahan baku masker habis. Ironisnya, bahan bakunya juga diimpor dari Cina.

Radar Banjarmasin mencoba menelusuri jalur distribusi masker di banua. Dari dua ekspedisi di Banjarmasin yang sempat dilacak mengakui tak menerima pengiriman masker.

Fauzan Ramadhani salah satu pekerja di ekspedisi PT Azhar Jaya Utama (AZU) mengungkapkan sejaknya merebak virus corona, pengiriman masker sudah tak pernah lagi.

“Sudah sebulan ini, sebelumnya sering saja pelanggan kami mengirimkan setiap satu minggu dan lancar-lancar saja . Jumlah masuk barang 10 koli, dan penerimanya langganan kami juga,” ungkap Fauzan.

Senada disampaikan Linda, pekerja di salah satu ekspedisi di kawasan Gubernu Subarjo.

Langkanya masker menjadi atensi pemerintah dan kepolisian seluruh Indonesia, tak terkecuali Polda Kalsel.

Direktur Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda Kalsel Kombes Pol Sugeng Riyadi, menegaskan pihaknya akan menindak tegas jika ditemukan oknum yang melakukan penimbunan masker. “Unit opsnal kami di lapangan masih giat lidik, apabila ditemukan akan diamankan,” tegasnya.

Polda Kalsel sendiri telah melakukan pemantauan terhadap kesejumlah distributor maupun penyedia masker. “Semua yang berkaitan dengan peredaran masker sudah terpantau oleh kami, jika ditemukan pelanggaran pasti akan kami proses lebih lanjut,” tandasnya.

Pedagang memang tidak menimbun, tetapi beberapa terkesan memanfaatkan keadaan dengan menaikkan harga masker yang masih tersisa. Di Kotabaru, satu masker dijual dengan harga berlipat-lipat.

“Ada cuma satu harganya Rp5 ribu. Tinggal ini stok saya,” ujar seorang penjual di pusat kota depan Pasar Limbur Raya.

Hanya satu minimarket yang stok maskernya lumayan banyak. Win Mart. Terlihat puluhan pack masker menumpuk di bagian belakang pasar modern terbesar di Kotabaru itu.

Harganya masih normal. Masker biasa Rp6 ribu satu pak. Masker impor dari Cina Rp15 ribu satu pak. Namun pembeli hanya boleh membeli maksimal 5 pak.

Sementara itu,setelah masker mengalami kelangkaan, kini produk pembersih tangan atau hand sanitizer juga ikut menghilang dari pasar.

Sejumlah apotek di Banjarbaru sekarang sudah banyak yang tidak memiliki stok hand sanitizer. Salah satunya, Apotek Thaibah yang berlokasi di Gerbang Pasar Bauntung Banjarbaru.

Asisten Apoteker di Apotek Thaibah, Noor mengatakan, stok hand sanitizer di tempat mereka kosong sejak dua pekan lalu. “Barangnya cepat habis, tapi distributor sudah beberapa pekan tidak ada mengirim,” katanya kepada Radar Banjarmasin, kemarin.

Ditanya apakah ada kenaikan harga sebelum stoknya kosong, dia menyampaikan, di Apotek Thaibah hanya masker yang mengalami lonjakan harga. Sedangkan hand sanitizer harganya relatif normal. “Sebelum kosong, harganya masih Rp12 ribu yang ukuran 50 mili,” ucapnya.

Sedangkan untuk masker, Noor menyampaikan harganya mencapai Rp150 ribu per kotak. Padahal sebelumnya hanya Rp30 ribu. “Kalau masker stoknya sudah habis sejak sebulan yang lalu. Permasalahannya, karena distributornya tidak mengirim,” ucapnya.

Selain di Apotek Thaibah, stok hand sanitizer juga habis di Apotek Kimia Farma di Jalan Panglima Batur Banjarbaru. Iskandar selaku supervisornya mengungkapkan, mereka mulai kehabisan produk pembersih tangan itu sejak tiga hari lalu. “Setelah Presiden RI mengumumkan ada dua orang warga Indonesia yang positif corona, langsung banyak orang yang beli hand sanitizer di sini,” ungkapnya.

Ketika stoknya habis, dia menuturkan bahwa pihaknya sebenarnya langsung memesan ke distributor. Namun, hingga kini belum juga dikirim. “Tapi walaupun stok langka, harganya tetap normal. Tiga hari lalu masih kami jual Rp13.900 untuk ukuran 50 mili,” tuturnya.

Sama halnya dengan hand sanitizer, persediaan masker juga habis di Apotek Kimia Farma lantaran sudah lama tidak dikirim oleh distributor. “Malahan masker habis sudah sejak Januari. Terakhir dikirimi distributor pada pertengahan Januari,” kata Iskandar.

Bahan baku masker memang masih mengandalkan pasokan Cina. Sehingga, ketika pasokan bahan masker Cina habis maka mesti mencari alternatif dari negara lain.

Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan, pihaknya telah menemukan alternatif bahan baku, yakni dari Eropa. Namun, dengan mengandalkan bahan dari Eropa maka harga masker bakal naik.

“Bahan dari masker itu dari Cina, jadi kalau nanti stoknya habis pasti kita juga harus membeli alternatif dari Eropa, sudah ada stoknya di Eropa tapi harganya kalau dari Eropa pasti lebih mahal,” katanya di Apotek Kimia Farma, Menteng Huis, Jakarta Pusat, Rabu (4/3/2020).

“Jadi jangan digosipin ketika nanti stok yang buatan tadi bahannya dari China habis, lalu tiba-tiba harganya naik, lalu dibilang Kimia Farma mengambil kesempatan dalam kesempitan karena bahan bakunya beda yang dari China dan Eropa,” ungkapnya.

Erick melanjutkan, dengan memakai bahan dari Eropa maka harga masker tak lagi Rp 2.000. Saat ini, Kimia Farma menjual masker dengan harga Rp 2.000 per buah.

“Kalau stoknya habis, stok bahan bakunya loh bukan maskernya, kan di dalam masker itu ada bahannya nah itu nanti kita mau ambil alternatif beli dari Eropa. Kalau harganya dari Eropa harganya nggak Rp 2.000. Cuma kalau sekarang stok ya masih ada dan masih order 7,2 juta (masker) dengan produksi yang tadi bahannya dari China ya harganya segitu,” terang Erick.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Kimia Farma Verdi Budidarmo menuturkan, pasokan masker di Kimia Farma sebanyak 215.000 pcs. Kimia Farma masih akan mendatangkan masker sebanyak 7,2 juta pcs.

“Jumlah sekarang yang kita ada untuk masker kain kurang lebih kita ada 4.000 dus, kurang lebih kali 50 ya, jadi sekitar 215.000 pcs,” ujarnya.

“Kondisi sementara ini tapi kami masih melakukan pemesanan kurang lebih 7,2 juta pcs, untuk yang masker kain, kita pastikan bahwa kita rilis harga Rp 2.000 per pcs,” jelasnya.

 

Warga Tak Perlu Panik

 

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kalsel dr Mohammad Rudiansyah memaklumi jika masker dan hand sanitizer banyak dicari masyarakat ketika virus corona mewabah. Ini dua alat yang digunakan untuk terhindar dari virus.

 

Dia menjelaskan, penularan Covid-19 biasanya lantaran ada kontak dengan produk tubuh penderita. Salah satunya percikan air liur yang tidak tampak mata. “Air liur penderita jangan sampai masuk ke tubuh kita. Misal lewat mulut, hidung dan mata,” jelasnya.

 

Kalau cairan penderita tidak masuk ke tubuh orang lain, maka menurutnya virus tidak bisa langsung menular. Asalkan, orang yang terkena cairan dari si penderita langsung mencucinya. “Jadi, cuci tangan salah satu cara yang sangat efektif untuk mencegah penularan virus corona. Selain pakai masker,” pungkasnya.

 

Ahli penyakit menular atau epidiomolog, dr. IBG Dharma Putra, mengatakan virus sejak dulu selalu ada dan akan selalu ada. Soal virus corona yang hidup dalam tubuh hewan menurutnya, lantaran habitat hewan tersebut sudah terganggu.

 

Dia memaparkan, virus corona mempunya daya infeksi yang sangat tinggi, yakni hampir 100 persen. Dimana orang yang saling berdekatan atau tersentuh bisa terinfeksi.

 

Meski memiliki daya infeksi dan daya menimbulkan penyakit sangat tinggi, namun virulensi atau sifat membunuhnya sangat rendah. “Untuk diketahui, pengidap virus ini tidak pasti otomatis meninggal,” sebutnya.

 

Dia menambahkan, berdasarkan data sementara, bagi yang berusia muda meskipun terkena covid-19 tetap bisa bertahan. Rata-rata yang sampai meninggal dunia adalah berusia di atas 65 tahun.

“Coba buat perbandingan antara yang positif covid-19 berapa dan yang meninggal berapa termasuk yang selamat berapa, itu lebih banyak yang selamat. Yang meninggal rata-rata orang tua atau memang punya penyakit lainnya,” terang pria yang juga menjabat sebagai Direktur Utama RSJD Sambang Lihum itu. 

 

Meski demikian, dia tetap mengingatkan kepada masyarakat untuk selalu waspada. Salah satunya adalah agar menerapkan pola hidup sehat seperti tidak sering berada di tempat keramaian, sering cuci tangan, menjaga daya tahan tubuh dengan istirahat yang cukup dan makanan bergizi.

 

Dharma juga memaparkan, virus juga punya umur, dan dia bisa mati dengan sendirinya. “Kita memang warus waspada namun tidak panik. Pemerintah harus memberi contoh tidak panik. Kepanikan bisa menjadi pembunuh yang lebih berbahaya dari corona. Dan jangan lupa untuk terus berdoa,” tandasnya. (lan/zal/ris/mof/by/ran/ema)

Apakah kelangkaan masker karena ulah pedagang? Belum tentu benar. Radar Banjarmasin mencoba menelusuri ke mana hilangnya masker-masker dari toko di Kalsel sejak pengumuman virus corona.

—- 

Nita mengaku bingung. Penjaga Apotek Sahabat di Jalan Hasan Basri Banjarmasin Utara ini capek menjawab banyak pelanggan yang mencari stok masker. Penutup wajah itu sedang tren justru saat stok di apoteknya kosong.

“Barangnya memang kosong dari Surabaya,” kata Nita.

Sebelum masker langka seperti ini, setiap bulannya apotek Sahabat, melakukan pemesanan 10 karton. Dalam satu karton terdapat 10 boks dengan isi satu kotak sebanyak 50 pack.

Lalu kenapa distributor tidak mengirim?

Nita tidak tahu pasti. Kabar yang sampai kepadanya hanya bahan baku masker habis. Ironisnya, bahan bakunya juga diimpor dari Cina.

Radar Banjarmasin mencoba menelusuri jalur distribusi masker di banua. Dari dua ekspedisi di Banjarmasin yang sempat dilacak mengakui tak menerima pengiriman masker.

Fauzan Ramadhani salah satu pekerja di ekspedisi PT Azhar Jaya Utama (AZU) mengungkapkan sejaknya merebak virus corona, pengiriman masker sudah tak pernah lagi.

“Sudah sebulan ini, sebelumnya sering saja pelanggan kami mengirimkan setiap satu minggu dan lancar-lancar saja . Jumlah masuk barang 10 koli, dan penerimanya langganan kami juga,” ungkap Fauzan.

Senada disampaikan Linda, pekerja di salah satu ekspedisi di kawasan Gubernu Subarjo.

Langkanya masker menjadi atensi pemerintah dan kepolisian seluruh Indonesia, tak terkecuali Polda Kalsel.

Direktur Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda Kalsel Kombes Pol Sugeng Riyadi, menegaskan pihaknya akan menindak tegas jika ditemukan oknum yang melakukan penimbunan masker. “Unit opsnal kami di lapangan masih giat lidik, apabila ditemukan akan diamankan,” tegasnya.

Polda Kalsel sendiri telah melakukan pemantauan terhadap kesejumlah distributor maupun penyedia masker. “Semua yang berkaitan dengan peredaran masker sudah terpantau oleh kami, jika ditemukan pelanggaran pasti akan kami proses lebih lanjut,” tandasnya.

Pedagang memang tidak menimbun, tetapi beberapa terkesan memanfaatkan keadaan dengan menaikkan harga masker yang masih tersisa. Di Kotabaru, satu masker dijual dengan harga berlipat-lipat.

“Ada cuma satu harganya Rp5 ribu. Tinggal ini stok saya,” ujar seorang penjual di pusat kota depan Pasar Limbur Raya.

Hanya satu minimarket yang stok maskernya lumayan banyak. Win Mart. Terlihat puluhan pack masker menumpuk di bagian belakang pasar modern terbesar di Kotabaru itu.

Harganya masih normal. Masker biasa Rp6 ribu satu pak. Masker impor dari Cina Rp15 ribu satu pak. Namun pembeli hanya boleh membeli maksimal 5 pak.

Sementara itu,setelah masker mengalami kelangkaan, kini produk pembersih tangan atau hand sanitizer juga ikut menghilang dari pasar.

Sejumlah apotek di Banjarbaru sekarang sudah banyak yang tidak memiliki stok hand sanitizer. Salah satunya, Apotek Thaibah yang berlokasi di Gerbang Pasar Bauntung Banjarbaru.

Asisten Apoteker di Apotek Thaibah, Noor mengatakan, stok hand sanitizer di tempat mereka kosong sejak dua pekan lalu. “Barangnya cepat habis, tapi distributor sudah beberapa pekan tidak ada mengirim,” katanya kepada Radar Banjarmasin, kemarin.

Ditanya apakah ada kenaikan harga sebelum stoknya kosong, dia menyampaikan, di Apotek Thaibah hanya masker yang mengalami lonjakan harga. Sedangkan hand sanitizer harganya relatif normal. “Sebelum kosong, harganya masih Rp12 ribu yang ukuran 50 mili,” ucapnya.

Sedangkan untuk masker, Noor menyampaikan harganya mencapai Rp150 ribu per kotak. Padahal sebelumnya hanya Rp30 ribu. “Kalau masker stoknya sudah habis sejak sebulan yang lalu. Permasalahannya, karena distributornya tidak mengirim,” ucapnya.

Selain di Apotek Thaibah, stok hand sanitizer juga habis di Apotek Kimia Farma di Jalan Panglima Batur Banjarbaru. Iskandar selaku supervisornya mengungkapkan, mereka mulai kehabisan produk pembersih tangan itu sejak tiga hari lalu. “Setelah Presiden RI mengumumkan ada dua orang warga Indonesia yang positif corona, langsung banyak orang yang beli hand sanitizer di sini,” ungkapnya.

Ketika stoknya habis, dia menuturkan bahwa pihaknya sebenarnya langsung memesan ke distributor. Namun, hingga kini belum juga dikirim. “Tapi walaupun stok langka, harganya tetap normal. Tiga hari lalu masih kami jual Rp13.900 untuk ukuran 50 mili,” tuturnya.

Sama halnya dengan hand sanitizer, persediaan masker juga habis di Apotek Kimia Farma lantaran sudah lama tidak dikirim oleh distributor. “Malahan masker habis sudah sejak Januari. Terakhir dikirimi distributor pada pertengahan Januari,” kata Iskandar.

Bahan baku masker memang masih mengandalkan pasokan Cina. Sehingga, ketika pasokan bahan masker Cina habis maka mesti mencari alternatif dari negara lain.

Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan, pihaknya telah menemukan alternatif bahan baku, yakni dari Eropa. Namun, dengan mengandalkan bahan dari Eropa maka harga masker bakal naik.

“Bahan dari masker itu dari Cina, jadi kalau nanti stoknya habis pasti kita juga harus membeli alternatif dari Eropa, sudah ada stoknya di Eropa tapi harganya kalau dari Eropa pasti lebih mahal,” katanya di Apotek Kimia Farma, Menteng Huis, Jakarta Pusat, Rabu (4/3/2020).

“Jadi jangan digosipin ketika nanti stok yang buatan tadi bahannya dari China habis, lalu tiba-tiba harganya naik, lalu dibilang Kimia Farma mengambil kesempatan dalam kesempitan karena bahan bakunya beda yang dari China dan Eropa,” ungkapnya.

Erick melanjutkan, dengan memakai bahan dari Eropa maka harga masker tak lagi Rp 2.000. Saat ini, Kimia Farma menjual masker dengan harga Rp 2.000 per buah.

“Kalau stoknya habis, stok bahan bakunya loh bukan maskernya, kan di dalam masker itu ada bahannya nah itu nanti kita mau ambil alternatif beli dari Eropa. Kalau harganya dari Eropa harganya nggak Rp 2.000. Cuma kalau sekarang stok ya masih ada dan masih order 7,2 juta (masker) dengan produksi yang tadi bahannya dari China ya harganya segitu,” terang Erick.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Kimia Farma Verdi Budidarmo menuturkan, pasokan masker di Kimia Farma sebanyak 215.000 pcs. Kimia Farma masih akan mendatangkan masker sebanyak 7,2 juta pcs.

“Jumlah sekarang yang kita ada untuk masker kain kurang lebih kita ada 4.000 dus, kurang lebih kali 50 ya, jadi sekitar 215.000 pcs,” ujarnya.

“Kondisi sementara ini tapi kami masih melakukan pemesanan kurang lebih 7,2 juta pcs, untuk yang masker kain, kita pastikan bahwa kita rilis harga Rp 2.000 per pcs,” jelasnya.

 

Warga Tak Perlu Panik

 

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kalsel dr Mohammad Rudiansyah memaklumi jika masker dan hand sanitizer banyak dicari masyarakat ketika virus corona mewabah. Ini dua alat yang digunakan untuk terhindar dari virus.

 

Dia menjelaskan, penularan Covid-19 biasanya lantaran ada kontak dengan produk tubuh penderita. Salah satunya percikan air liur yang tidak tampak mata. “Air liur penderita jangan sampai masuk ke tubuh kita. Misal lewat mulut, hidung dan mata,” jelasnya.

 

Kalau cairan penderita tidak masuk ke tubuh orang lain, maka menurutnya virus tidak bisa langsung menular. Asalkan, orang yang terkena cairan dari si penderita langsung mencucinya. “Jadi, cuci tangan salah satu cara yang sangat efektif untuk mencegah penularan virus corona. Selain pakai masker,” pungkasnya.

 

Ahli penyakit menular atau epidiomolog, dr. IBG Dharma Putra, mengatakan virus sejak dulu selalu ada dan akan selalu ada. Soal virus corona yang hidup dalam tubuh hewan menurutnya, lantaran habitat hewan tersebut sudah terganggu.

 

Dia memaparkan, virus corona mempunya daya infeksi yang sangat tinggi, yakni hampir 100 persen. Dimana orang yang saling berdekatan atau tersentuh bisa terinfeksi.

 

Meski memiliki daya infeksi dan daya menimbulkan penyakit sangat tinggi, namun virulensi atau sifat membunuhnya sangat rendah. “Untuk diketahui, pengidap virus ini tidak pasti otomatis meninggal,” sebutnya.

 

Dia menambahkan, berdasarkan data sementara, bagi yang berusia muda meskipun terkena covid-19 tetap bisa bertahan. Rata-rata yang sampai meninggal dunia adalah berusia di atas 65 tahun.

“Coba buat perbandingan antara yang positif covid-19 berapa dan yang meninggal berapa termasuk yang selamat berapa, itu lebih banyak yang selamat. Yang meninggal rata-rata orang tua atau memang punya penyakit lainnya,” terang pria yang juga menjabat sebagai Direktur Utama RSJD Sambang Lihum itu. 

 

Meski demikian, dia tetap mengingatkan kepada masyarakat untuk selalu waspada. Salah satunya adalah agar menerapkan pola hidup sehat seperti tidak sering berada di tempat keramaian, sering cuci tangan, menjaga daya tahan tubuh dengan istirahat yang cukup dan makanan bergizi.

 

Dharma juga memaparkan, virus juga punya umur, dan dia bisa mati dengan sendirinya. “Kita memang warus waspada namun tidak panik. Pemerintah harus memberi contoh tidak panik. Kepanikan bisa menjadi pembunuh yang lebih berbahaya dari corona. Dan jangan lupa untuk terus berdoa,” tandasnya. (lan/zal/ris/mof/by/ran/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/