alexametrics
28.1 C
Banjarmasin
Selasa, 17 Mei 2022

Kalsel Perketat Kedatangan di Bandara dan Pelabuhan; Kotabaru Paling Rawan Corona

Setelah ditemukannya dua warga yang positif terinfeksi virus corona (Covid-19) di Depok, Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Banjarmasin langsung memperketat pemeriksaan di pintu-pintu masuk Banua, seperti bandara dan pelabuhan.

    —-

“Dengan pengumuman yang disampaikan presiden bahwa sudah ada warga Indonesia yang positif terinfeksi Covid-19, maka kami harus mengambil sikap memperketat penjaringan di bandara dan pelabuhan,” kata Kepala KKP Banjarmasin Ruslan Fajar.

Dia mengungkapkan, pihaknya Selasa (3/3) telah menggelar rapat mengenai rencana tersebut. “Dalam rapat, saya minta kepada teman-teman di Bandara Syamsudin Noor agar mengoperasikan alat pemindai suhu tubuh sampai penerbangan pesawat terakhir,” ungkapnya.

Selain itu, disampaikannya, pihaknya juga berencana menyiapkan sejumlah fasilitas pendukung untuk menangani penumpang yang terindikasi terinfeksi Covid-19. “Kami ingin menyiapkan ruang sterilisasi dan tenda tabung di bandara,” ucapnya.

Ruslan menjelaskan, ruang sterilisasi berfungsi untuk mengobservasi penumpang yang terpantau memiliki suhu tubuh tinggi di atas 38 derajat celsius ketika melintasi alat pemindai suhu tubuh atau Thermal Scanner yang diletakkan di terminal kedatangan bandara.

“Kalau dalam observasi gejalanya mirip terinfeksi Covid-19 maka penumpang akan dimasukkan ke dalam tandu tabung untuk dirujuk ke rumah sakit,” jelasnya.

Dengan tandu berbentuk tabung itu, menurutnya akan aman bagi penumpang lain. Sebab, virus yang ada di dalam tubuh penumpang yang terindikasi terinfeksi Covid-19 tidak bisa menyebar. “Tandunya berbentuk tabung dengan warna transparan. Unitnya sudah ada di KKP Banjarmasin. Sebentar lagi kita bawa ke bandara,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, saat ini pihaknya masih menunggu kabar dari otoritas bandara mengenai penyediaan tempat untuk ruang sterilisasi. “Mereka (bandara) masih berkoordinasi dengan tim pengawas bangunan untuk penyediaan ruangan,” ungkapnya.

Lalu apakah fasilitas tersebut juga akan disediakan di pelabuhan? Menurut Ruslan tak perlu. Karena, waktu perjalanan kapal lebih lama dibandingkan pesawat. Sehingga, lebih mudah mengidentifikasi penumpang yang datang. “Semakin lama di perjalanan, suhu badan penderita akan semakin panas kalau memang terinfeksi virus. Kalau badannya panas, langsung saja kita rujuk,” bebernya.

Dia menyampaikan, untuk mengidentifikasi orang yang baru terinfeksi virus memang susah. Pasalnya, jika hanya dalam satu atau dua hari setelah terinfeksi, penderita tidak langsung memberikan gejala. “Mungkin tiga sampai lima hari baru ada gejalanya. Seperti badan panas, batuk dan lain-lain. Tergantung daya tahan tubuh. Kalau daya tahan tubuhnya kuat, bisa satu pekan baru ada gejala,” ucapnya.

Meski begitu, Ruslan menuturkan KKP Banjarmasin selalu berusaha menjaga pintu-pintu masuk di Kalsel. Supaya, virus corona tidak sampai masuk. “Sejauh ini belum ada kami temukan orang yang terindikasi terinfeksi Covid-19,” paparnya.

Sementara itu, Kepala Komunikasi dan Legal Bandara Syamsudin Noor, Aditya Putra Patria menyampaikan bahwa pihaknya bakal mendukung rencana KKP Banjarmasin dalam menyiapkan ruang sterilisasi di bandara. “Prinsipnya kita dukung,” singkatnya.

Dia menuturkan, untuk mengantisipasi penyebaran virus, bandara juga menyediakan hand sanitizer untuk penumpang. “Ada 21 hand sanitizer yang kami pasang. Mulai dari di check in area dan di screening check point,” tuturnya.

Di Banua, Kotabaru ditengarai jadi kawasan paling rawan kemungkinan masuknya corona. Perairan Kotabaru masuk dalam alur lintas internasional, ALKI II.

Pertengahan Februari tadi misalnya kapal Vega Rose dari China membuat geger saat dua ABK-nya saat itu menderita demam tinggi dan batuk.

Walau Kotabaru tidak punya fasilitas. Namun dua ABK sempat diisolasi sebelum dinyatakan aman pada 16 Februari.

Sekda Said Akhmad, kepada Radar Banjarmasin, Selasa (3/3) mengatakan. Mereka sudah menggelar rapat koordinasi dengan tim teknis internal.

Hasil rapat, semua kapal dari negara asing akan dipantau. Jika ada gejala maka seluruh awak kapal tidak boleh naik ke darat.

“Karena kita tidak punya fasilitas. Yang jadi rujukan hanya rumah sakit Ulin Banjarmasin dan di Kabupaten Tanah Laut,” ujarnya.

Sementara itu Plt Dinas Kesehatan mengatakan, semua petugas kesehatan pro aktif menjalin komunikasi dengan semua instansi. “Kami juga lakukan sosialisasi ke masyarakat secara langsung. Dan ke radio tiap hari Selasa jam 10 pagi,” ujarnya.

Semua Puskesmas di Kotabaru lanjut Erna telah diminta meningkatkan kewaspadaan. Dan menaikkan skala deteksi dini kasus-kasus yang mengarah ke infeksi Covid 19.

Kepala Dinas Kesehatan Kalsel M Muslim meminta agar masyarakat tidak cemas dan waspada secara berlebihan akibat masuknya virus corona di Indonesia. “Yang penting kita bisa menjaga daya tahan tubuh dan membiasakan diri berperilaku hidup bersih,” imbaunya.

Dia menyampaikan bahwa pemerintah daerah akan terus berwaspada bagaimana agar Covid-19 tidak sampai masuk ke Banua. “Sejak awal virus merebak kita sudah melakukan kesiapsiagaan. Sekarang kita lebih memperkuat koordinasi dan komunikasi dengan pihak KKP Banjarmasin, fasilitas kesehatan dan rumah sakit rujukan,” ucapnya.

Menurutnya, sejauh belum ada ditemukan indikasi masuknya virus corona di Kalsel. “Bahkan warga yang kita awasi pun tidak ada. Mudah-mudahan seterusnya seperti ini. Tidak ada warga yang terindikasi terinfeksi Covid-19,” pungkasnya. (ris/zal/by/ran/ema)

Setelah ditemukannya dua warga yang positif terinfeksi virus corona (Covid-19) di Depok, Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Banjarmasin langsung memperketat pemeriksaan di pintu-pintu masuk Banua, seperti bandara dan pelabuhan.

    —-

“Dengan pengumuman yang disampaikan presiden bahwa sudah ada warga Indonesia yang positif terinfeksi Covid-19, maka kami harus mengambil sikap memperketat penjaringan di bandara dan pelabuhan,” kata Kepala KKP Banjarmasin Ruslan Fajar.

Dia mengungkapkan, pihaknya Selasa (3/3) telah menggelar rapat mengenai rencana tersebut. “Dalam rapat, saya minta kepada teman-teman di Bandara Syamsudin Noor agar mengoperasikan alat pemindai suhu tubuh sampai penerbangan pesawat terakhir,” ungkapnya.

Selain itu, disampaikannya, pihaknya juga berencana menyiapkan sejumlah fasilitas pendukung untuk menangani penumpang yang terindikasi terinfeksi Covid-19. “Kami ingin menyiapkan ruang sterilisasi dan tenda tabung di bandara,” ucapnya.

Ruslan menjelaskan, ruang sterilisasi berfungsi untuk mengobservasi penumpang yang terpantau memiliki suhu tubuh tinggi di atas 38 derajat celsius ketika melintasi alat pemindai suhu tubuh atau Thermal Scanner yang diletakkan di terminal kedatangan bandara.

“Kalau dalam observasi gejalanya mirip terinfeksi Covid-19 maka penumpang akan dimasukkan ke dalam tandu tabung untuk dirujuk ke rumah sakit,” jelasnya.

Dengan tandu berbentuk tabung itu, menurutnya akan aman bagi penumpang lain. Sebab, virus yang ada di dalam tubuh penumpang yang terindikasi terinfeksi Covid-19 tidak bisa menyebar. “Tandunya berbentuk tabung dengan warna transparan. Unitnya sudah ada di KKP Banjarmasin. Sebentar lagi kita bawa ke bandara,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, saat ini pihaknya masih menunggu kabar dari otoritas bandara mengenai penyediaan tempat untuk ruang sterilisasi. “Mereka (bandara) masih berkoordinasi dengan tim pengawas bangunan untuk penyediaan ruangan,” ungkapnya.

Lalu apakah fasilitas tersebut juga akan disediakan di pelabuhan? Menurut Ruslan tak perlu. Karena, waktu perjalanan kapal lebih lama dibandingkan pesawat. Sehingga, lebih mudah mengidentifikasi penumpang yang datang. “Semakin lama di perjalanan, suhu badan penderita akan semakin panas kalau memang terinfeksi virus. Kalau badannya panas, langsung saja kita rujuk,” bebernya.

Dia menyampaikan, untuk mengidentifikasi orang yang baru terinfeksi virus memang susah. Pasalnya, jika hanya dalam satu atau dua hari setelah terinfeksi, penderita tidak langsung memberikan gejala. “Mungkin tiga sampai lima hari baru ada gejalanya. Seperti badan panas, batuk dan lain-lain. Tergantung daya tahan tubuh. Kalau daya tahan tubuhnya kuat, bisa satu pekan baru ada gejala,” ucapnya.

Meski begitu, Ruslan menuturkan KKP Banjarmasin selalu berusaha menjaga pintu-pintu masuk di Kalsel. Supaya, virus corona tidak sampai masuk. “Sejauh ini belum ada kami temukan orang yang terindikasi terinfeksi Covid-19,” paparnya.

Sementara itu, Kepala Komunikasi dan Legal Bandara Syamsudin Noor, Aditya Putra Patria menyampaikan bahwa pihaknya bakal mendukung rencana KKP Banjarmasin dalam menyiapkan ruang sterilisasi di bandara. “Prinsipnya kita dukung,” singkatnya.

Dia menuturkan, untuk mengantisipasi penyebaran virus, bandara juga menyediakan hand sanitizer untuk penumpang. “Ada 21 hand sanitizer yang kami pasang. Mulai dari di check in area dan di screening check point,” tuturnya.

Di Banua, Kotabaru ditengarai jadi kawasan paling rawan kemungkinan masuknya corona. Perairan Kotabaru masuk dalam alur lintas internasional, ALKI II.

Pertengahan Februari tadi misalnya kapal Vega Rose dari China membuat geger saat dua ABK-nya saat itu menderita demam tinggi dan batuk.

Walau Kotabaru tidak punya fasilitas. Namun dua ABK sempat diisolasi sebelum dinyatakan aman pada 16 Februari.

Sekda Said Akhmad, kepada Radar Banjarmasin, Selasa (3/3) mengatakan. Mereka sudah menggelar rapat koordinasi dengan tim teknis internal.

Hasil rapat, semua kapal dari negara asing akan dipantau. Jika ada gejala maka seluruh awak kapal tidak boleh naik ke darat.

“Karena kita tidak punya fasilitas. Yang jadi rujukan hanya rumah sakit Ulin Banjarmasin dan di Kabupaten Tanah Laut,” ujarnya.

Sementara itu Plt Dinas Kesehatan mengatakan, semua petugas kesehatan pro aktif menjalin komunikasi dengan semua instansi. “Kami juga lakukan sosialisasi ke masyarakat secara langsung. Dan ke radio tiap hari Selasa jam 10 pagi,” ujarnya.

Semua Puskesmas di Kotabaru lanjut Erna telah diminta meningkatkan kewaspadaan. Dan menaikkan skala deteksi dini kasus-kasus yang mengarah ke infeksi Covid 19.

Kepala Dinas Kesehatan Kalsel M Muslim meminta agar masyarakat tidak cemas dan waspada secara berlebihan akibat masuknya virus corona di Indonesia. “Yang penting kita bisa menjaga daya tahan tubuh dan membiasakan diri berperilaku hidup bersih,” imbaunya.

Dia menyampaikan bahwa pemerintah daerah akan terus berwaspada bagaimana agar Covid-19 tidak sampai masuk ke Banua. “Sejak awal virus merebak kita sudah melakukan kesiapsiagaan. Sekarang kita lebih memperkuat koordinasi dan komunikasi dengan pihak KKP Banjarmasin, fasilitas kesehatan dan rumah sakit rujukan,” ucapnya.

Menurutnya, sejauh belum ada ditemukan indikasi masuknya virus corona di Kalsel. “Bahkan warga yang kita awasi pun tidak ada. Mudah-mudahan seterusnya seperti ini. Tidak ada warga yang terindikasi terinfeksi Covid-19,” pungkasnya. (ris/zal/by/ran/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/