alexametrics
28.1 C
Banjarmasin
Kamis, 19 Mei 2022

Masker menghilang, Disdag Lakukan Investigasi

Dinas Perdagangan (Disdag) Kalsel, kemarin (3/3) menginvenstigasi penyebab langkanya ketersediaan masker di Banua. Menghilangnya masker di pasaran sejak merebaknya virus corona (Covid-19) membuat harganya kini melambung tinggi.

Kepala Disdag Kalsel Birhasani mengatakan, investigasi yang mereka lakukan yakni dengan cara mendatangi dan meminta keterangan ke toko-toko obat di pasaran, serta apotek dan distributor.

“Berdasarkan pengamatan kami di lapangan hari ini (kemarin). Baik di toko-toko obat, di apotek dan di distributor memang kesetersedian masker mulai menipis. Serta, sudah banyak yang tidak punya stok,” katanya.

Dia mengungkapkan, dalam investigasi itu mereka tidak menemukan adanya indikasi penimbunan yang mengakibatkan menghilangnya masker di pasaran. “Kelangkaan kemungkinan lantaran tingkat pembelian masyarakat yang semakin tinggi. Bahkan masker dengan kualitas yang lebih baik pun dibeli,” ungkapnya.

Selain itu, kelangkaan masker juga dikarenakan pasokan dari distributor di Jakarta dan Surabaya ke Kalsel yang berkurang signifikan. “Kabarnya, industrinya mengalami kekurangan bahan baku. Karena sebagian bahan bakunya diimpor dari Cina. Sementara impor dari Cina terganggu akibat Corona,” beber Birhasani.

Rizki , pegawai salah satu apotek di Jalan Taruna Praja, Banjarbaru, membenarkan jika kelangkaan masker lantaran sejumlah distributor tidak lagi melakukan pengiriman ke apotek-apotek. “Kami mengambil masker di salah satu distributor di Banjarmasin. Sekitar satu bulan sudah kami tidak dikirimi,” ujarnya.

Ditambahkannya, stok masker yang mereka miliki pum sudah habis sejak dua pekan lalu. “Karena banyak permintaan, kami sudah mencoba mencari stok di pasar. Ternyata banyak yang kosong juga,” tambahnya.

Akibat kelangkaan itu, dia menuturkan bahwa harga jual masker saat ini melambung tinggi. “Sebelumnya paling Rp30 ribu sekotak. Sekarang Rp150 ribu sampai 200 ribu, itu pun kalau masih ada stoknya,” tuturnya.

Hal senada disampaikan Nafisah, salah satu pegawai apotek di sekitar Loktabat Utara, Banjarbaru. Dia mengaku sejak beberapa pekan terakhir sudah tidak menerima kiriman masker dari distributor. “Jadi yang kami jual masker stok lama. Sekarang sudah habis,” ucapnya.

Dia mengungkapkan, mereka sudah berusaha mencari masker di distributor lain. Namun, sama-sama kosong. “Jadi stok masker ini memang kosong di tingkat distributor,” pungkasnya. (ris/ran/ema)

Dinas Perdagangan (Disdag) Kalsel, kemarin (3/3) menginvenstigasi penyebab langkanya ketersediaan masker di Banua. Menghilangnya masker di pasaran sejak merebaknya virus corona (Covid-19) membuat harganya kini melambung tinggi.

Kepala Disdag Kalsel Birhasani mengatakan, investigasi yang mereka lakukan yakni dengan cara mendatangi dan meminta keterangan ke toko-toko obat di pasaran, serta apotek dan distributor.

“Berdasarkan pengamatan kami di lapangan hari ini (kemarin). Baik di toko-toko obat, di apotek dan di distributor memang kesetersedian masker mulai menipis. Serta, sudah banyak yang tidak punya stok,” katanya.

Dia mengungkapkan, dalam investigasi itu mereka tidak menemukan adanya indikasi penimbunan yang mengakibatkan menghilangnya masker di pasaran. “Kelangkaan kemungkinan lantaran tingkat pembelian masyarakat yang semakin tinggi. Bahkan masker dengan kualitas yang lebih baik pun dibeli,” ungkapnya.

Selain itu, kelangkaan masker juga dikarenakan pasokan dari distributor di Jakarta dan Surabaya ke Kalsel yang berkurang signifikan. “Kabarnya, industrinya mengalami kekurangan bahan baku. Karena sebagian bahan bakunya diimpor dari Cina. Sementara impor dari Cina terganggu akibat Corona,” beber Birhasani.

Rizki , pegawai salah satu apotek di Jalan Taruna Praja, Banjarbaru, membenarkan jika kelangkaan masker lantaran sejumlah distributor tidak lagi melakukan pengiriman ke apotek-apotek. “Kami mengambil masker di salah satu distributor di Banjarmasin. Sekitar satu bulan sudah kami tidak dikirimi,” ujarnya.

Ditambahkannya, stok masker yang mereka miliki pum sudah habis sejak dua pekan lalu. “Karena banyak permintaan, kami sudah mencoba mencari stok di pasar. Ternyata banyak yang kosong juga,” tambahnya.

Akibat kelangkaan itu, dia menuturkan bahwa harga jual masker saat ini melambung tinggi. “Sebelumnya paling Rp30 ribu sekotak. Sekarang Rp150 ribu sampai 200 ribu, itu pun kalau masih ada stoknya,” tuturnya.

Hal senada disampaikan Nafisah, salah satu pegawai apotek di sekitar Loktabat Utara, Banjarbaru. Dia mengaku sejak beberapa pekan terakhir sudah tidak menerima kiriman masker dari distributor. “Jadi yang kami jual masker stok lama. Sekarang sudah habis,” ucapnya.

Dia mengungkapkan, mereka sudah berusaha mencari masker di distributor lain. Namun, sama-sama kosong. “Jadi stok masker ini memang kosong di tingkat distributor,” pungkasnya. (ris/ran/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/