alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Rabu, 18 Mei 2022

Proyek Pasar Dimulai, Debunya Dikeluhkan

BANJARBARU – Semenjak berlangsungnya proyek pembangunan pasar Bauntung yang baru di Jalan RO Ulin Banjarbaru atau eks Stadion Mini Haji Idak. Sebagian warga maupun pengendara yang lewat mengaku mengeluh.

Pasalnya, debu dari hasil proses pembangunan pasar berkonsep tradisional modern ini berdampak langsung dengan warga dan pengendara. Mengingat, lokasi pasar memang cukup dekat dengan badan jalan RO Ulin.

Dari pantauan, debu-debu ini bersumber dari tanah yang mengendap di badan jalan. Tanah ini sendiri terlihat berasal dari ban mobil proyek yang keluar masuk proyek. Alhasil, tanah yang semula menempel di ban malah berpindah ke dasar aspal.

Ketika cuaca cerah dan kering. Tanah ini menjadi partikel debu yang terbang ketika dilindas pengendara. Sontak, baik pengendara maupun warga yang bermukim di sekitar sana merasa tak nyaman.

Misalnya adalah salah satu usaha warung makan di dekat sana. Karena debu, ia harus menutup kue-kue dengan plastik transparan. Hal ini pun juga membuat pengunjung rumah makan jadi tak nyaman.

“Kurang lebih hampir dua pekan seingat saya. Kalau kondisi terik debunya beterbangan sampai ke sini. Makanan harus tertutup plastik atau dalam lemari kaca. Pelanggan juga beberapa mengeluh,” kata penjaga warung yang meminta identitasnya tidak dikorankan.

Senada, Wahyu salah seorang warga Palm Banjarbaru yang kerap melintas di jalan ini juga menyoroti hal serupa. Diceritakannya, tanah di dasar jalan cukup mengganggu kenyamanan pengendara.

“Saya pernah lewat sewaktu hujan deras. Jalanan jadi licin dan kotor. Kalau cuaca kering juga berdebu. Sekarang agak malas lewat jalan RO Ulin, lebih memilih lewat persimpangan Brimob jika dari arah Banjarbaru Kota mau ke Palm,” curhatnya.

Atas hal ini, Radar Banjarmasin coba mengonfirmasi ke pihak Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Banjarbaru. Kabid Cipta Karya Dinas PUPR Kota Banjarbaru, Abdussamad pun memberikan tanggapan.

Diakuinya, jika pihaknya sudah mengetahui ihwal keluhan debu itu. Pihak proyek pun terangnya selalu menindaklanjutinya dengan cara membersihkan sisa tanah yang menempel di badan jalan.

“Sebenarnya dipantau secara rutin. Apabila memang ada tanah yang menempel di jalan maka langsung dibersihkan oleh pekerja. Karena memang itu bagian dari tanggung jawab lingkungannya,” jawabnya.

Dikatakannya, memang bahwa sumber debu itu berasal dari tanah yang sebelumnya menempel di truk proyek. Yang mana, memang areal pengerjaan sebelumnya diuruk tanah merah.

“Pembersihan sudah secara berkala. Pihak proyek juga memerhatikan hal ini. Jadi memang tanah itu berasal dari truk mixer semen, bukan dari bak tanah yang jatuh ke jalan. Soalnya sementara tidak ada truk pengangkut tanah lagi, hanya truk mixer semen yang beroperasi,” pungkasnya, sembari mengatakan jika progress pasar sudah lebih dari 10 persen.

Diketahui sendiri jika proyek Pasar Bauntung di RO Ulin ini dikerjakan oleh kontraktor pelaksana PT Nindya Karya (Persero) Wilayah III. Tanggal kontrak diketahui dari 6 Desember 2019 dengan nilai kontrak Rp86.283.736.000 dari APBD Kota Banjarbaru tahun angaran 2019/2020 waktu pelaksana 390 hari.

Kemudian, turut diketahui bahwa luas bangunan pasar baru ini sekitar 1,7 hektare. Dengan luas lahan 3,9 hektar. Selain bangunan utama pasar yang ditata, lahan parkir dikonsep juga lebih besar dari pasar terdahulu.

Secara spesifikasi, pasar baru dikonsep dapat menampung 1.071 pedagang. Yang dirincikan dengan jenis ruko, toko, kios serta lapak dagangan. (rvn/al/bin)

 

BANJARBARU – Semenjak berlangsungnya proyek pembangunan pasar Bauntung yang baru di Jalan RO Ulin Banjarbaru atau eks Stadion Mini Haji Idak. Sebagian warga maupun pengendara yang lewat mengaku mengeluh.

Pasalnya, debu dari hasil proses pembangunan pasar berkonsep tradisional modern ini berdampak langsung dengan warga dan pengendara. Mengingat, lokasi pasar memang cukup dekat dengan badan jalan RO Ulin.

Dari pantauan, debu-debu ini bersumber dari tanah yang mengendap di badan jalan. Tanah ini sendiri terlihat berasal dari ban mobil proyek yang keluar masuk proyek. Alhasil, tanah yang semula menempel di ban malah berpindah ke dasar aspal.

Ketika cuaca cerah dan kering. Tanah ini menjadi partikel debu yang terbang ketika dilindas pengendara. Sontak, baik pengendara maupun warga yang bermukim di sekitar sana merasa tak nyaman.

Misalnya adalah salah satu usaha warung makan di dekat sana. Karena debu, ia harus menutup kue-kue dengan plastik transparan. Hal ini pun juga membuat pengunjung rumah makan jadi tak nyaman.

“Kurang lebih hampir dua pekan seingat saya. Kalau kondisi terik debunya beterbangan sampai ke sini. Makanan harus tertutup plastik atau dalam lemari kaca. Pelanggan juga beberapa mengeluh,” kata penjaga warung yang meminta identitasnya tidak dikorankan.

Senada, Wahyu salah seorang warga Palm Banjarbaru yang kerap melintas di jalan ini juga menyoroti hal serupa. Diceritakannya, tanah di dasar jalan cukup mengganggu kenyamanan pengendara.

“Saya pernah lewat sewaktu hujan deras. Jalanan jadi licin dan kotor. Kalau cuaca kering juga berdebu. Sekarang agak malas lewat jalan RO Ulin, lebih memilih lewat persimpangan Brimob jika dari arah Banjarbaru Kota mau ke Palm,” curhatnya.

Atas hal ini, Radar Banjarmasin coba mengonfirmasi ke pihak Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Banjarbaru. Kabid Cipta Karya Dinas PUPR Kota Banjarbaru, Abdussamad pun memberikan tanggapan.

Diakuinya, jika pihaknya sudah mengetahui ihwal keluhan debu itu. Pihak proyek pun terangnya selalu menindaklanjutinya dengan cara membersihkan sisa tanah yang menempel di badan jalan.

“Sebenarnya dipantau secara rutin. Apabila memang ada tanah yang menempel di jalan maka langsung dibersihkan oleh pekerja. Karena memang itu bagian dari tanggung jawab lingkungannya,” jawabnya.

Dikatakannya, memang bahwa sumber debu itu berasal dari tanah yang sebelumnya menempel di truk proyek. Yang mana, memang areal pengerjaan sebelumnya diuruk tanah merah.

“Pembersihan sudah secara berkala. Pihak proyek juga memerhatikan hal ini. Jadi memang tanah itu berasal dari truk mixer semen, bukan dari bak tanah yang jatuh ke jalan. Soalnya sementara tidak ada truk pengangkut tanah lagi, hanya truk mixer semen yang beroperasi,” pungkasnya, sembari mengatakan jika progress pasar sudah lebih dari 10 persen.

Diketahui sendiri jika proyek Pasar Bauntung di RO Ulin ini dikerjakan oleh kontraktor pelaksana PT Nindya Karya (Persero) Wilayah III. Tanggal kontrak diketahui dari 6 Desember 2019 dengan nilai kontrak Rp86.283.736.000 dari APBD Kota Banjarbaru tahun angaran 2019/2020 waktu pelaksana 390 hari.

Kemudian, turut diketahui bahwa luas bangunan pasar baru ini sekitar 1,7 hektare. Dengan luas lahan 3,9 hektar. Selain bangunan utama pasar yang ditata, lahan parkir dikonsep juga lebih besar dari pasar terdahulu.

Secara spesifikasi, pasar baru dikonsep dapat menampung 1.071 pedagang. Yang dirincikan dengan jenis ruko, toko, kios serta lapak dagangan. (rvn/al/bin)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/