alexametrics
27.1 C
Banjarmasin
Sunday, 14 August 2022

Ingin Dampingi Sahbirin, Muhidin Belum Mau Menanggapi Isu Bakal Digeser Hasnur

BANJARMASIN – Teka-teki siapa pendamping Sahbirin Noor pada Pilgub kali ini semakin menarik setelah mencuatnya nama Hasnuriyadi. Adanya nama Hasnur yang akan mendampingi petahana membuat nama Muhidin, Ketua DPW PAN Kalsel, sedikit meredup. 

Padahal Muhidin sangat berambisi untuk menjadi wakil Sahbirin Noor. Pada akhir tahun 2019 tadi, dia melamar ke Partai Golkar sebagai wakil gubernur. Begitu juga sebaliknya, Sahbirin melamar ke PAN sebagai calon gubernur. Muhidin sendiri menegaskan, dia tak ingin lagi maju sebagai calon gubernur seperti lima tahun silam. Dia hanya ingin menjadi wakil gubernur untuk mendampingi petahana melanjutkan periode keduanya.

Untuk membuktikan keseriusan itu, PAN tak membuka pendaftaran bakal calon gubernur. Menurut Muhidin, pihaknya tak ingin memberi harapan kepada para pelamar yang menyerahkan berkas formulir pendaftaran ke partainya. Pasalnya, PAN sudah bulat hanya mengusung calon wakil gubernur, yakni dirinya. 

Terbaru, setelah mencuatnya nama Hasnuriyadi, Muhidin tak mau memberikan komentar dan mengatakan akan ada saatnya dia berbicara ke publik. “Saya belum bisa memberikan komantar, mohon maaf. Kita tunggu SK nya,” jawab mantan Wali Kota Banjarmasin itu melalui pesan WhatsAppnya.

Di mata pengamat politik UIN Antasari Banjarmasin Ani Cahyadi Maseri, pergulatan mencari sosok pendamping petahana memang sangat dinamis. Baik partai politik pengusung akan hitung-hitungan untuk menyodorkan calonnya. Yakni konfigurasi basis dukungan antara daerah pesisir dan daerah Banua Anam plus.

Figur Hasnur sendiri sebutnya, memiliki basis dukungan yang hampir sama dengan basis dukungan petahana. Yakni Kota Banjarmasin, Kabupaten Batola, Banjar dan sekitarnya. Di luar Tanah Bumbu dan Kotabaru.

“Meski hal ini bukan satu-satunya faktor dalam memenangkan kontestasi Pilkada. Tapi, ini harus menjadi pertimbangan bagi partai politik pengusung maupun pendukung,” ujar Ani kemarin.

Dia mencontohkan, pada Pilgub 2015 lalu, peran Rudy Resnawan yang mendampingi Sahbirin, sangat signifikan dalam memberikan suplai suara. “Dalam hitung-hitungan ini, tentunya akan sangat lebih baik bukan berasal dari satu partai yang sama. Di samping memang memperhatikan juga modal sosial dan modal capital,” tuturnya.

Bagaimana dengan sosok Muhidin? Ani menilai, jika petahana dipasangkan dengan dia, hitung-hitungan kasarnya lebih baik. Namun menurutnya, kadang dalam politik tidak bisa dibaca hitam putih.“Bisa saja Muhidin hanya membuat bargaining politik dengan posisi anaknya Karmila di Pilwali Banjarmasin. Sehingga posisi wagub, hanya sekedar proses tawar menawar. Sangat dinamis,” tandasnya. (mof/ran/ema)

BANJARMASIN – Teka-teki siapa pendamping Sahbirin Noor pada Pilgub kali ini semakin menarik setelah mencuatnya nama Hasnuriyadi. Adanya nama Hasnur yang akan mendampingi petahana membuat nama Muhidin, Ketua DPW PAN Kalsel, sedikit meredup. 

Padahal Muhidin sangat berambisi untuk menjadi wakil Sahbirin Noor. Pada akhir tahun 2019 tadi, dia melamar ke Partai Golkar sebagai wakil gubernur. Begitu juga sebaliknya, Sahbirin melamar ke PAN sebagai calon gubernur. Muhidin sendiri menegaskan, dia tak ingin lagi maju sebagai calon gubernur seperti lima tahun silam. Dia hanya ingin menjadi wakil gubernur untuk mendampingi petahana melanjutkan periode keduanya.

Untuk membuktikan keseriusan itu, PAN tak membuka pendaftaran bakal calon gubernur. Menurut Muhidin, pihaknya tak ingin memberi harapan kepada para pelamar yang menyerahkan berkas formulir pendaftaran ke partainya. Pasalnya, PAN sudah bulat hanya mengusung calon wakil gubernur, yakni dirinya. 

Terbaru, setelah mencuatnya nama Hasnuriyadi, Muhidin tak mau memberikan komentar dan mengatakan akan ada saatnya dia berbicara ke publik. “Saya belum bisa memberikan komantar, mohon maaf. Kita tunggu SK nya,” jawab mantan Wali Kota Banjarmasin itu melalui pesan WhatsAppnya.

Di mata pengamat politik UIN Antasari Banjarmasin Ani Cahyadi Maseri, pergulatan mencari sosok pendamping petahana memang sangat dinamis. Baik partai politik pengusung akan hitung-hitungan untuk menyodorkan calonnya. Yakni konfigurasi basis dukungan antara daerah pesisir dan daerah Banua Anam plus.

Figur Hasnur sendiri sebutnya, memiliki basis dukungan yang hampir sama dengan basis dukungan petahana. Yakni Kota Banjarmasin, Kabupaten Batola, Banjar dan sekitarnya. Di luar Tanah Bumbu dan Kotabaru.

“Meski hal ini bukan satu-satunya faktor dalam memenangkan kontestasi Pilkada. Tapi, ini harus menjadi pertimbangan bagi partai politik pengusung maupun pendukung,” ujar Ani kemarin.

Dia mencontohkan, pada Pilgub 2015 lalu, peran Rudy Resnawan yang mendampingi Sahbirin, sangat signifikan dalam memberikan suplai suara. “Dalam hitung-hitungan ini, tentunya akan sangat lebih baik bukan berasal dari satu partai yang sama. Di samping memang memperhatikan juga modal sosial dan modal capital,” tuturnya.

Bagaimana dengan sosok Muhidin? Ani menilai, jika petahana dipasangkan dengan dia, hitung-hitungan kasarnya lebih baik. Namun menurutnya, kadang dalam politik tidak bisa dibaca hitam putih.“Bisa saja Muhidin hanya membuat bargaining politik dengan posisi anaknya Karmila di Pilwali Banjarmasin. Sehingga posisi wagub, hanya sekedar proses tawar menawar. Sangat dinamis,” tandasnya. (mof/ran/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/