alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Saturday, 20 August 2022

Dari Tiktok, Ungkap Prostitusi Online Anak di Banjarbaru

BANJARBARU – Berawal dari video Tiktok yang viral tersebar di media social, praktik prostitusi online usia di bawah umur akhirnya terbongkar. Sejak dilakukan penyelidikan oleh Satpol PP Banjarbaru dari Rabu (19/2). Akhirnya, teka-teki praktik terlarang ini terungkap Kamis (20/2) tadi.

Petugas penegak perda bersama tim gabungan yang terdiri dari Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana, Pengendalian Masyarakat, Perempuan & Anak (Disdalduk KB PMP & PA) Banjarbaru, Dinas Sosial, Polsek Banjarbaru Barat dan Unit PPA Polres Banjarbaru menertibkan beberapa orang. Totalnya ada 8 orang. 6 remaja wanita, dua remaja pria.

Mirisnya, semuanya merupakan anak di bawah umur. Paling muda berusia 14 tahun. Mereka berdomisili di Banjarbaru. Namun untuk wilayah operasinya, cenderung dilakukan di Banjarmasin.

Dalam melancarkan aksinya, mereka punya tim yang sudah terkoordinir. Generasi muda ini saling berbagi peran. Mereka mengelola bisnis ini secara independen. Tanpa ada campur tangan sindikat prostitusi online.

Perannya ada yang sebagai penyedia jasa kencan satu malam. Ada sebagai makelar (mucikari), dan satunya adalah tukang antar & jemput. Sementara sisanya mengaku baru ingin coba-coba.

Ke delapan anak di bawah umur ini rata-rata berusia 14-17 tahun. Mereka diamankan pada hari Kamis (20/2) dengan tempat dan waktu yang berbeda. Untuk kelompok wanita diamankan lebih dulu di sebuah hotel di Banjarmasin.

Sementara duo lelaki hasil pengembangan diamankan usai beberapa jam kelompok wanita dijemput. Tepatnya saat malam harinya di wilayah Landasan Ulin Banjarbaru oleh Polsek Banjarbaru Barat bersama Satpol PP Banjarbaru.

Berhubung di bawah umur, penanganan kasus ini dilakukan dengan sangat hati-hati serta tertutup. Selama pemeriksaan, mereka didampingi Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak maupun unit PPA Polres Banjarbaru.

Di antara enam wanita tersebut, satu di antaranya mengakui bahwa terlibat dalam bisnis prostitusi via daring ini. Caranya lewat aplikasi bernama MiChat.

Dia punya nama samaran Putri atau Sasa di aplikasi tersebut. Sedangkan lima wanita lainnya tergiur mau ikut memulainya. “Empat wanita mengaku ingin mencoba-coba. Satu lagi mengaku pernah melakukannya (bisnis prostitusi online) dahulu,” kata PPNS Seksi Opsdal, Yanto Hidayat mewakili Kasat Pol PP Banjarbaru, Marhain Rahman.

Putri dibantu dua teman lelakinya yang juga telah diamankan. Satu berperan mengelola akun dengan foto profil Putri. Lelaki satunya adalah sebagai “ojek” pengantar jemput. “Jika di Banjarbaru kebanyakan melayani panggilan oleh pelanggannya. Jadi teman lelakinya yang menjalankan akun aplikasinya sekaligus proses lobi harga. Jika deal, maka lelaki satunya mengantar ke lokasi janjian,” cerita Yanto.

“Saat kami jemput di Banjarmasin, dia bersama teman-teman wanitanya saat itu di dalam kamar,” info Yanto.

Tarif mawar bervariatif. Karena merasa masih muda, mematok harga dari Rp300 ribu hingga Rp 500 ribu untuk paket ST (Short Time). Sementara jika LT (Long Time) bisa mencapai di atas Rp1 juta.

Putri tak serta merta mengantongi seluruh penghasilannya. Tapi, harus membagi dengan rekan lelakinya. Si perantara yang menjalankan akun MiChat mendapat komisi paling rendah Rp 50 ribu per sekali transaksi. Sementara nominal pengantarnya tergantung jauh dekatnya lokasi tujuan.

Setelah didata dan dimintai keterangan, kedelapan anak di bawah umur dilakukan tes urine di BNN Kota Banjarbaru. Dikhawatirkan, mereka juga pernah mengonsumsi narkotika.

Lantas apakah mereka akan diproses secara hukum? Yanto menegaskan bahwa tujuan pengungkapan ini bukan untuk menjerat mereka. Melainkan pihaknya bersama tim bermaksud menyelamatkan masa depan mereka. “Tentu akan dilakukan pembinaan. Karena di bawah umur, tidak bisa diproses secara hukum. Sekarang kami masih berkoordinasi dengan pihak terkait dalam hal solusi penanganannya,” katanya.

Orang tua atau keluarga dari anak-anak ini juga sudah dipanggil. Menurut Yanto, cenderung orang tua sepakat untuk buah hatinya tersebut dilakukan pembinaan. “Orang tua memberikan restu untuk dilakukan pembinaan. Sekarang posisi mereka masih dititipkan di rumah singgah Dinas Sosial Banjarbaru,” terangnya.

Terkait dua lelaki yang melakoni peran sebagai mucikari, keduanya juga tidak bisa diproses secara hukum. Alasannya, masih di bawah umur.

Kapolsek Banjarbaru Barat, Andri Hutagalung menyatakan bahwa pihaknya telah bekerja sama dengan Satpol PP dan PPA Polres Banjarbaru dan instansi terkait lainnya terkait kasus ini. Kedua orang laki-laki ini kata Kapolsek masih berusia 16 tahun. “Kami sudah mintai keterangan, dan mereka diserahkan kembali ke Satpol PP dan instansi terkait untuk dilakukan pembinaan,” tuntasnya.(rvn/yn/dye)

 

++++++++++++++++++++

Kronologis pengungkapan

  1. Video Tiktok viral berdurasi 14 detik dengan konten bermuatan asusila tersebar. Tampak, Putri berjoget di depan kamera dengan latar belakang sepasang laki-laki dan wanita seperti melakukan hubungan intim. Dari pengakuannya, bahwa pasangan tersebut hanya pura-pura (tidak melakukan hubungan intim)
  2. Setelah didalami, rupanya pemeran video tersebut, Putri adalah seorang anak asal Banjarbaru.
  3. Tim gabungan dari Satpol PP dan Disdalduk KB PMP & PA melakukan pencarian terhadap yang bersangkutan. Putri terdeteksi sedang berada di sebuah hotel di Banjarmasin.
  4. Petugas mendatangi lokasi tersebut. Di lokasi ini petugas tak hanya mendapati Putri. Namun dia ditemukan bersama lima rekannya. Diindikasi kuat mereka sedang “stay” di hotel tersebut.
  5. Putri dan rekan-rekannya bersikap kooperatif saat dibawa petugas dan dimintai keterangan. Terungkap, jika Putri melakoni bisnis prostitusi online.
  6. Setelah diperiksa, Putri dan satu orang rekannya terbukti menjalani prostitusi online. Empat wanita lainnya hanya menemani meskipun mengaku tergiur ingin mencobanya.
  7. Putri membeberkan fakta lain. Bahwa ada dua teman lelakinya yang terlibat. Petugas langsung mencari dua laki-laki ini. Mereka diamankan di wilayah Landasan Ulin. Perannya sebagai perantara transaksi via aplikasi, dan satunya sebagai “ojek” ketika ingin mendatangi pelanggannya.
  8. Setelah dimintai keterangan, orang tua atau keluarga delapan anak di bawah umur ini dipanggil. Mereka akan dilakukan pembinaan oleh instansi terkait.

BANJARBARU – Berawal dari video Tiktok yang viral tersebar di media social, praktik prostitusi online usia di bawah umur akhirnya terbongkar. Sejak dilakukan penyelidikan oleh Satpol PP Banjarbaru dari Rabu (19/2). Akhirnya, teka-teki praktik terlarang ini terungkap Kamis (20/2) tadi.

Petugas penegak perda bersama tim gabungan yang terdiri dari Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana, Pengendalian Masyarakat, Perempuan & Anak (Disdalduk KB PMP & PA) Banjarbaru, Dinas Sosial, Polsek Banjarbaru Barat dan Unit PPA Polres Banjarbaru menertibkan beberapa orang. Totalnya ada 8 orang. 6 remaja wanita, dua remaja pria.

Mirisnya, semuanya merupakan anak di bawah umur. Paling muda berusia 14 tahun. Mereka berdomisili di Banjarbaru. Namun untuk wilayah operasinya, cenderung dilakukan di Banjarmasin.

Dalam melancarkan aksinya, mereka punya tim yang sudah terkoordinir. Generasi muda ini saling berbagi peran. Mereka mengelola bisnis ini secara independen. Tanpa ada campur tangan sindikat prostitusi online.

Perannya ada yang sebagai penyedia jasa kencan satu malam. Ada sebagai makelar (mucikari), dan satunya adalah tukang antar & jemput. Sementara sisanya mengaku baru ingin coba-coba.

Ke delapan anak di bawah umur ini rata-rata berusia 14-17 tahun. Mereka diamankan pada hari Kamis (20/2) dengan tempat dan waktu yang berbeda. Untuk kelompok wanita diamankan lebih dulu di sebuah hotel di Banjarmasin.

Sementara duo lelaki hasil pengembangan diamankan usai beberapa jam kelompok wanita dijemput. Tepatnya saat malam harinya di wilayah Landasan Ulin Banjarbaru oleh Polsek Banjarbaru Barat bersama Satpol PP Banjarbaru.

Berhubung di bawah umur, penanganan kasus ini dilakukan dengan sangat hati-hati serta tertutup. Selama pemeriksaan, mereka didampingi Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak maupun unit PPA Polres Banjarbaru.

Di antara enam wanita tersebut, satu di antaranya mengakui bahwa terlibat dalam bisnis prostitusi via daring ini. Caranya lewat aplikasi bernama MiChat.

Dia punya nama samaran Putri atau Sasa di aplikasi tersebut. Sedangkan lima wanita lainnya tergiur mau ikut memulainya. “Empat wanita mengaku ingin mencoba-coba. Satu lagi mengaku pernah melakukannya (bisnis prostitusi online) dahulu,” kata PPNS Seksi Opsdal, Yanto Hidayat mewakili Kasat Pol PP Banjarbaru, Marhain Rahman.

Putri dibantu dua teman lelakinya yang juga telah diamankan. Satu berperan mengelola akun dengan foto profil Putri. Lelaki satunya adalah sebagai “ojek” pengantar jemput. “Jika di Banjarbaru kebanyakan melayani panggilan oleh pelanggannya. Jadi teman lelakinya yang menjalankan akun aplikasinya sekaligus proses lobi harga. Jika deal, maka lelaki satunya mengantar ke lokasi janjian,” cerita Yanto.

“Saat kami jemput di Banjarmasin, dia bersama teman-teman wanitanya saat itu di dalam kamar,” info Yanto.

Tarif mawar bervariatif. Karena merasa masih muda, mematok harga dari Rp300 ribu hingga Rp 500 ribu untuk paket ST (Short Time). Sementara jika LT (Long Time) bisa mencapai di atas Rp1 juta.

Putri tak serta merta mengantongi seluruh penghasilannya. Tapi, harus membagi dengan rekan lelakinya. Si perantara yang menjalankan akun MiChat mendapat komisi paling rendah Rp 50 ribu per sekali transaksi. Sementara nominal pengantarnya tergantung jauh dekatnya lokasi tujuan.

Setelah didata dan dimintai keterangan, kedelapan anak di bawah umur dilakukan tes urine di BNN Kota Banjarbaru. Dikhawatirkan, mereka juga pernah mengonsumsi narkotika.

Lantas apakah mereka akan diproses secara hukum? Yanto menegaskan bahwa tujuan pengungkapan ini bukan untuk menjerat mereka. Melainkan pihaknya bersama tim bermaksud menyelamatkan masa depan mereka. “Tentu akan dilakukan pembinaan. Karena di bawah umur, tidak bisa diproses secara hukum. Sekarang kami masih berkoordinasi dengan pihak terkait dalam hal solusi penanganannya,” katanya.

Orang tua atau keluarga dari anak-anak ini juga sudah dipanggil. Menurut Yanto, cenderung orang tua sepakat untuk buah hatinya tersebut dilakukan pembinaan. “Orang tua memberikan restu untuk dilakukan pembinaan. Sekarang posisi mereka masih dititipkan di rumah singgah Dinas Sosial Banjarbaru,” terangnya.

Terkait dua lelaki yang melakoni peran sebagai mucikari, keduanya juga tidak bisa diproses secara hukum. Alasannya, masih di bawah umur.

Kapolsek Banjarbaru Barat, Andri Hutagalung menyatakan bahwa pihaknya telah bekerja sama dengan Satpol PP dan PPA Polres Banjarbaru dan instansi terkait lainnya terkait kasus ini. Kedua orang laki-laki ini kata Kapolsek masih berusia 16 tahun. “Kami sudah mintai keterangan, dan mereka diserahkan kembali ke Satpol PP dan instansi terkait untuk dilakukan pembinaan,” tuntasnya.(rvn/yn/dye)

 

++++++++++++++++++++

Kronologis pengungkapan

  1. Video Tiktok viral berdurasi 14 detik dengan konten bermuatan asusila tersebar. Tampak, Putri berjoget di depan kamera dengan latar belakang sepasang laki-laki dan wanita seperti melakukan hubungan intim. Dari pengakuannya, bahwa pasangan tersebut hanya pura-pura (tidak melakukan hubungan intim)
  2. Setelah didalami, rupanya pemeran video tersebut, Putri adalah seorang anak asal Banjarbaru.
  3. Tim gabungan dari Satpol PP dan Disdalduk KB PMP & PA melakukan pencarian terhadap yang bersangkutan. Putri terdeteksi sedang berada di sebuah hotel di Banjarmasin.
  4. Petugas mendatangi lokasi tersebut. Di lokasi ini petugas tak hanya mendapati Putri. Namun dia ditemukan bersama lima rekannya. Diindikasi kuat mereka sedang “stay” di hotel tersebut.
  5. Putri dan rekan-rekannya bersikap kooperatif saat dibawa petugas dan dimintai keterangan. Terungkap, jika Putri melakoni bisnis prostitusi online.
  6. Setelah diperiksa, Putri dan satu orang rekannya terbukti menjalani prostitusi online. Empat wanita lainnya hanya menemani meskipun mengaku tergiur ingin mencobanya.
  7. Putri membeberkan fakta lain. Bahwa ada dua teman lelakinya yang terlibat. Petugas langsung mencari dua laki-laki ini. Mereka diamankan di wilayah Landasan Ulin. Perannya sebagai perantara transaksi via aplikasi, dan satunya sebagai “ojek” ketika ingin mendatangi pelanggannya.
  8. Setelah dimintai keterangan, orang tua atau keluarga delapan anak di bawah umur ini dipanggil. Mereka akan dilakukan pembinaan oleh instansi terkait.

Most Read

Artikel Terbaru

/