alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Thursday, 18 August 2022

Sekali Tak Hadir, Jokowi Kapok

BANJARBARU – Hajatan besar, Sabtu (8/2) kemarin digelar di Banua. Yakni, peringatan puncak Hari Pers Nasional 2020 di Halaman Kantor Setdaprov Kalsel yang dihadiri langsung oleh Presiden RI Joko Widodo.

Mengawali sambutannya, Jokowi mengaku kapok jika tidak menghadiri acara HPN. Padahal, dirinya kemarin seharusnya terbang ke Canberra, Australia, untuk melakukan kunjungan kerja. Namun, tetap berusaha keras untuk terlebih dahulu menghadiri HPN 2020.

“Setiap ada peringatan Hari Pers Nasional, saya berusaha keras untuk hadir. Saya pernah nggak hadir sekali, setelah itu kapok betul karena mengatur waktu sangat sulit, begitu juga hari ini (kemarin),” katanya.

Di hadapan insan pers dalam acara yang turut dihadiri Ketua DPR RI Puan Maharani, para menteri kabinet Indonesia Maju dan sejumlah duta besar negara sahabat tersebut, Jokowi menyebut bahwa insan pers merupakan pihak yang selalu ada dalam kesehariannya sebagai Presiden Republik Indonesia.

“Ke manapun saya pergi yang selalu ikut bersama saya adalah para wartawan. Menteri kadang-kadang enggak ikut, tetapi wartawan pasti ikut. Yang mengejar saya sehari-hari, yang menghadang saya untuk doorstop, yang menyebabkan saya kadang-kadang gugup dan gagap karena enggak siap ditanya sesuatu juga insan pers,” ucapnya disambut tawa hadirin.

“Jadi berhadapan dengan insan pers, saya itu bukan benci tapi rindu, tetapi selalu di hati dan selalu rindu,” tambah Jokowi.

Dia menyampaikan, negara membutuhkan kehadiran pers dengan perspektif jernihnya untuk berdiri di depan melawan kekacauan informasi, penyebaran hoaks dan ujaran kebencian yang mengancam kehidupan demokrasi.

Apalagi bila dihadapkan dengan situasi ancaman kesehatan global yang belakangan merebak, menurutnya peranan pers sangat dibutuhkan dan kian relevan. 

“Dalam menghadapi situasi yang tidak normal seperti ancaman virus Corona saat ini peran pers sangat dibutuhkan untuk membantu menyampaikan informasi yang benar kepada masyarakat dan tidak menambah kepanikan apalagi ikut memberikan informasi yang salah,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, masyarakat sehat terlahir lewat pembentukan pola pikir positif yang didapatkan lewat informasi-informasi yang baik. Sementara informasi yang baik tersebut terlahir lewat jurnalisme dan ekosistemnya yang juga berjalan baik. “Ekosistem media harus dilindungi dan harus diproteksi sehingga masyarakat mendapatkan konten berita yang baik. Untuk itu diperlukan industri pers yang sehat,” ungkapnya.

Maka dari itu, Jokowi mendukung sepenuhnya adanya regulasi untuk melindungi dunia pers nasional yang saat ini terancam oleh platform digital dari luar. “Tadi malam saya sudah berbincang dengan para pemred. Saya minta segera disiapkan draf regulasi yang bisa melindungi dan memproteksi dunia pers kita,” bebernya.

Menurutnya, belum adanya regulasi membuat platform digital dari luar saat ini sangat menjajah dunia pers Indonesia. “Saya menyerap semua aspirasi Pak Ketua PWI. Jangan sampai semuanya diambil oleh platform digital dari luar. Pajak juga tidak bayar, aturan maupun regulasi juga tidak ada,” paparnya.

Padahal, dia menyampaikan bahwa aturan pers nasional diatur sangat rinci. Sebaliknya, platform digital malah tidak punya aturan dan dengan bebas meraup iklan untuk mengeruk keuntungan tanpa membayar pajak. “Hampir semua negara mengalami hal yang sama sekarang,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pers, Mohammad Nuh kagum dengan sosok Jokowi lantaran mau mengorbankan waktu untuk menghadiri puncak HPN. “Kami sangat yakin dan tahu betul kesibukan Bapak Presiden yang sungguh sangat luar biasa,” katanya.

Dia menyampaikan, kehadiran Jokowi merupakan bentuk kepedulian presiden terhadap dunia pers. “Ini juga pertanda presiden sangat mencintai dan menyayangi betul, dan memahami betul pentingnya dunia pers bagi bangsa dan negara kita,” ujarnya.

Lebih lanjut dia menuturkan, HPN digelar untuk wadah silaturahmi para insan pers dan seluruh pemangku kepentingan. “Bisa kita bayangkan, kalau tidak ada HPN bagaimana ceritanya semua wartawan bisa hadir di sini,” paparnya.

Selain itu, Mohammad Nuh mengatakan, sesuai dengan temanya “Pers Menggelorakan Kalsel Gerbang Ibu Kota Negara”, HPN diharapkan bisa menginformasikan masyarakat bahwa Kalsel merupakan pintu gerbang ibu kota negara.

Dalam acara itu sendiri, digelar Deklarasi Kebebasan Pers, Penyerahan Penghargaan Jurnalistik Adinegara dan Jurnalistik Kebudayaan bidang Pers yang diserahkan oleh Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Atal S. Depari. (ris/bin/ema)

BANJARBARU – Hajatan besar, Sabtu (8/2) kemarin digelar di Banua. Yakni, peringatan puncak Hari Pers Nasional 2020 di Halaman Kantor Setdaprov Kalsel yang dihadiri langsung oleh Presiden RI Joko Widodo.

Mengawali sambutannya, Jokowi mengaku kapok jika tidak menghadiri acara HPN. Padahal, dirinya kemarin seharusnya terbang ke Canberra, Australia, untuk melakukan kunjungan kerja. Namun, tetap berusaha keras untuk terlebih dahulu menghadiri HPN 2020.

“Setiap ada peringatan Hari Pers Nasional, saya berusaha keras untuk hadir. Saya pernah nggak hadir sekali, setelah itu kapok betul karena mengatur waktu sangat sulit, begitu juga hari ini (kemarin),” katanya.

Di hadapan insan pers dalam acara yang turut dihadiri Ketua DPR RI Puan Maharani, para menteri kabinet Indonesia Maju dan sejumlah duta besar negara sahabat tersebut, Jokowi menyebut bahwa insan pers merupakan pihak yang selalu ada dalam kesehariannya sebagai Presiden Republik Indonesia.

“Ke manapun saya pergi yang selalu ikut bersama saya adalah para wartawan. Menteri kadang-kadang enggak ikut, tetapi wartawan pasti ikut. Yang mengejar saya sehari-hari, yang menghadang saya untuk doorstop, yang menyebabkan saya kadang-kadang gugup dan gagap karena enggak siap ditanya sesuatu juga insan pers,” ucapnya disambut tawa hadirin.

“Jadi berhadapan dengan insan pers, saya itu bukan benci tapi rindu, tetapi selalu di hati dan selalu rindu,” tambah Jokowi.

Dia menyampaikan, negara membutuhkan kehadiran pers dengan perspektif jernihnya untuk berdiri di depan melawan kekacauan informasi, penyebaran hoaks dan ujaran kebencian yang mengancam kehidupan demokrasi.

Apalagi bila dihadapkan dengan situasi ancaman kesehatan global yang belakangan merebak, menurutnya peranan pers sangat dibutuhkan dan kian relevan. 

“Dalam menghadapi situasi yang tidak normal seperti ancaman virus Corona saat ini peran pers sangat dibutuhkan untuk membantu menyampaikan informasi yang benar kepada masyarakat dan tidak menambah kepanikan apalagi ikut memberikan informasi yang salah,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, masyarakat sehat terlahir lewat pembentukan pola pikir positif yang didapatkan lewat informasi-informasi yang baik. Sementara informasi yang baik tersebut terlahir lewat jurnalisme dan ekosistemnya yang juga berjalan baik. “Ekosistem media harus dilindungi dan harus diproteksi sehingga masyarakat mendapatkan konten berita yang baik. Untuk itu diperlukan industri pers yang sehat,” ungkapnya.

Maka dari itu, Jokowi mendukung sepenuhnya adanya regulasi untuk melindungi dunia pers nasional yang saat ini terancam oleh platform digital dari luar. “Tadi malam saya sudah berbincang dengan para pemred. Saya minta segera disiapkan draf regulasi yang bisa melindungi dan memproteksi dunia pers kita,” bebernya.

Menurutnya, belum adanya regulasi membuat platform digital dari luar saat ini sangat menjajah dunia pers Indonesia. “Saya menyerap semua aspirasi Pak Ketua PWI. Jangan sampai semuanya diambil oleh platform digital dari luar. Pajak juga tidak bayar, aturan maupun regulasi juga tidak ada,” paparnya.

Padahal, dia menyampaikan bahwa aturan pers nasional diatur sangat rinci. Sebaliknya, platform digital malah tidak punya aturan dan dengan bebas meraup iklan untuk mengeruk keuntungan tanpa membayar pajak. “Hampir semua negara mengalami hal yang sama sekarang,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pers, Mohammad Nuh kagum dengan sosok Jokowi lantaran mau mengorbankan waktu untuk menghadiri puncak HPN. “Kami sangat yakin dan tahu betul kesibukan Bapak Presiden yang sungguh sangat luar biasa,” katanya.

Dia menyampaikan, kehadiran Jokowi merupakan bentuk kepedulian presiden terhadap dunia pers. “Ini juga pertanda presiden sangat mencintai dan menyayangi betul, dan memahami betul pentingnya dunia pers bagi bangsa dan negara kita,” ujarnya.

Lebih lanjut dia menuturkan, HPN digelar untuk wadah silaturahmi para insan pers dan seluruh pemangku kepentingan. “Bisa kita bayangkan, kalau tidak ada HPN bagaimana ceritanya semua wartawan bisa hadir di sini,” paparnya.

Selain itu, Mohammad Nuh mengatakan, sesuai dengan temanya “Pers Menggelorakan Kalsel Gerbang Ibu Kota Negara”, HPN diharapkan bisa menginformasikan masyarakat bahwa Kalsel merupakan pintu gerbang ibu kota negara.

Dalam acara itu sendiri, digelar Deklarasi Kebebasan Pers, Penyerahan Penghargaan Jurnalistik Adinegara dan Jurnalistik Kebudayaan bidang Pers yang diserahkan oleh Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Atal S. Depari. (ris/bin/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/