alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Selasa, 17 Mei 2022

Sempat Kejar Penyetruman, Razia Berdasarkan Informasi Masyarakat

RANTAU – Kasus illegal fishing terutama menangkap ikan menggunakan alat setrum marak terjadi di Tapin. Dinas Perikanan terus melakukan langkah antisipasi, terutama dengan razia rutin.

Minggu (19/1) tepat pukul 21.45 Wita, mesin speedboat dinyalakan dari dermaga yang ada di sekitar Polsek dan kantor Kecamatan Candi Laras Utara. Sembilan orang termasuk penulis berangkat menuju Desa Batalas.

Suasana malam sangat terasa. Pepohonan di pinggir sungai samar terlihat. Nahkoda Speedboat hanya menggunakan lampu sorot di kepala, sesekali lampu itu dinyalakan, untuk melihat jalur.

Setengah perjalanan menyusur sungai, hampir terjadi insiden tabrakan dengan kapal lain, beruntung sekitar 10 meter nahkoda menyalakan lampu sorot dan langsung membelokkan speedboat sebelah kiri.

75 menit berlalu tepatnya pukul 23.00 Wita, akhirnya tim yang terdiri dari Kepala Dinas Perikanan Tapin, Parianata, Penyidik Satpol PP Tapin Yus Sudarmanto, anggota Polsek CLU dan rombongan Dinas Perikanan Bidang Tangkap dan Sumber Daya Ikan, sampai ke Desa Batalas.

Tim sudah memantau, banyak lampu-lampu yang terpampang di tengah persawahan. Tapi, speedboat tidak bisa ke sana. Terpaksa menyusun strategi, menunggu di jalur keluar.

Hampir satu jam menunggu. Sepanjang itu, bunyi mesin genset dari persawahan terdengar. Namun, tim tidak bisa berbuat apa-apa, karena aksesnya tidak bisa dimasuki.

Sambil menunggu, sesekali melihat nyala handphone masing-masing, ada yang menonton youtube, ada yang santai menyalakan rokok. Ketika bunyi kapal kecil mau keluar. Kemudian bersiap-siap.

Lampu sorot pun dinyalakan, terpantau ada peralatan setrum di kapal tersebut. Berbarengan dengan itu, mesin speedboat dinyalakan, pria yang mengendarai kapal kecil itu, ketika melihat speedboat langsung melesat dengan kencang.

Berusaha di kejar, sekitar 100 meter saat menyeberang sungai, kapal tersebut masuk ke sungai kecil. Masih terus berusaha di kejar, ketika beberapa meter masuk, jejak kapal kecil itu sudah hilang. Speedboat juga tidak bisa masuk terlalu dalam.

Tim kembali ke lokasi pemantauan, rencana untuk menunggu kapal lainnya, setengah jam tidak ada yang keluar dari sungai tersebut. Langit kelihatan mendung, tepatnya Senin (20/1) sekitar pukul 00.30 Wita, rombongan pun kembali untuk pulang.

Baru beberapa meter menyusuri sungai, ada sedikit kendala, Speedboat mogok di tengah sungai. Coba diperbaiki, ternyata tidak bisa. Terpaksa menelpon warga lainnya untuk meminta tolong.

Kepala Dinas Perikanan Tapin, Parianata menuturkan bahwa razia kali berawal dari informasi masyarakat yang memberitahukan lewat aplikasi Lapor, bahwa di Desanya marak terjadi penyetruman ikan.

“Setelah menerima informasi tersebut, langsung kami tindaklanjuti, dengan patroli sekaligus razia malam ini,” ucapnya.

Diakui Kadis, perlu strategi khusus untuk menangkap para penyetruman ikan. Tidak hanya itu, perlu juga sebelum giat, survei lokasi. Ini untuk mengetahui, titik sentral di mana mereka keluar dan masuk secara pasti.

“Di samping itu, supaya kita hapal medan,” katanya, seraya mengakui kalau pakai speedboat memang kurang efektif, harus menggunakan sarana seperti penyetrum ikan, agar bisa masuk persawahan. “Razia seperti ini akan rutin kita laksanakan,” tambahnya.

Mantan Camat Candi Laras Utara ini juga mengimbau kepada masyarakat yang berada di wilayah pesisir sungai. Supaya saat mencari ikan jangan menggunakan alat setrum lagi. Di samping berbahaya untuk ekosistem kelestarian ikan juga berbahaya untuk keselamatan.

“Tidak sedikit kasus yang terjadi, akibat alat setrum ikan bisa menghilangkan nyawa,” tuturnya.

Sementara Aipda R Fernandez, menambahkan bahwa langkah antisipasi sudah dilakukan pihak Polsek untuk mencegah illegal fishing. Rutin melaksanakan sosialisasi ke Desa-desa dan memasang spanduk serta pamplet. (dly/ema)

RANTAU – Kasus illegal fishing terutama menangkap ikan menggunakan alat setrum marak terjadi di Tapin. Dinas Perikanan terus melakukan langkah antisipasi, terutama dengan razia rutin.

Minggu (19/1) tepat pukul 21.45 Wita, mesin speedboat dinyalakan dari dermaga yang ada di sekitar Polsek dan kantor Kecamatan Candi Laras Utara. Sembilan orang termasuk penulis berangkat menuju Desa Batalas.

Suasana malam sangat terasa. Pepohonan di pinggir sungai samar terlihat. Nahkoda Speedboat hanya menggunakan lampu sorot di kepala, sesekali lampu itu dinyalakan, untuk melihat jalur.

Setengah perjalanan menyusur sungai, hampir terjadi insiden tabrakan dengan kapal lain, beruntung sekitar 10 meter nahkoda menyalakan lampu sorot dan langsung membelokkan speedboat sebelah kiri.

75 menit berlalu tepatnya pukul 23.00 Wita, akhirnya tim yang terdiri dari Kepala Dinas Perikanan Tapin, Parianata, Penyidik Satpol PP Tapin Yus Sudarmanto, anggota Polsek CLU dan rombongan Dinas Perikanan Bidang Tangkap dan Sumber Daya Ikan, sampai ke Desa Batalas.

Tim sudah memantau, banyak lampu-lampu yang terpampang di tengah persawahan. Tapi, speedboat tidak bisa ke sana. Terpaksa menyusun strategi, menunggu di jalur keluar.

Hampir satu jam menunggu. Sepanjang itu, bunyi mesin genset dari persawahan terdengar. Namun, tim tidak bisa berbuat apa-apa, karena aksesnya tidak bisa dimasuki.

Sambil menunggu, sesekali melihat nyala handphone masing-masing, ada yang menonton youtube, ada yang santai menyalakan rokok. Ketika bunyi kapal kecil mau keluar. Kemudian bersiap-siap.

Lampu sorot pun dinyalakan, terpantau ada peralatan setrum di kapal tersebut. Berbarengan dengan itu, mesin speedboat dinyalakan, pria yang mengendarai kapal kecil itu, ketika melihat speedboat langsung melesat dengan kencang.

Berusaha di kejar, sekitar 100 meter saat menyeberang sungai, kapal tersebut masuk ke sungai kecil. Masih terus berusaha di kejar, ketika beberapa meter masuk, jejak kapal kecil itu sudah hilang. Speedboat juga tidak bisa masuk terlalu dalam.

Tim kembali ke lokasi pemantauan, rencana untuk menunggu kapal lainnya, setengah jam tidak ada yang keluar dari sungai tersebut. Langit kelihatan mendung, tepatnya Senin (20/1) sekitar pukul 00.30 Wita, rombongan pun kembali untuk pulang.

Baru beberapa meter menyusuri sungai, ada sedikit kendala, Speedboat mogok di tengah sungai. Coba diperbaiki, ternyata tidak bisa. Terpaksa menelpon warga lainnya untuk meminta tolong.

Kepala Dinas Perikanan Tapin, Parianata menuturkan bahwa razia kali berawal dari informasi masyarakat yang memberitahukan lewat aplikasi Lapor, bahwa di Desanya marak terjadi penyetruman ikan.

“Setelah menerima informasi tersebut, langsung kami tindaklanjuti, dengan patroli sekaligus razia malam ini,” ucapnya.

Diakui Kadis, perlu strategi khusus untuk menangkap para penyetruman ikan. Tidak hanya itu, perlu juga sebelum giat, survei lokasi. Ini untuk mengetahui, titik sentral di mana mereka keluar dan masuk secara pasti.

“Di samping itu, supaya kita hapal medan,” katanya, seraya mengakui kalau pakai speedboat memang kurang efektif, harus menggunakan sarana seperti penyetrum ikan, agar bisa masuk persawahan. “Razia seperti ini akan rutin kita laksanakan,” tambahnya.

Mantan Camat Candi Laras Utara ini juga mengimbau kepada masyarakat yang berada di wilayah pesisir sungai. Supaya saat mencari ikan jangan menggunakan alat setrum lagi. Di samping berbahaya untuk ekosistem kelestarian ikan juga berbahaya untuk keselamatan.

“Tidak sedikit kasus yang terjadi, akibat alat setrum ikan bisa menghilangkan nyawa,” tuturnya.

Sementara Aipda R Fernandez, menambahkan bahwa langkah antisipasi sudah dilakukan pihak Polsek untuk mencegah illegal fishing. Rutin melaksanakan sosialisasi ke Desa-desa dan memasang spanduk serta pamplet. (dly/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/