alexametrics
31.1 C
Banjarmasin
Monday, 23 May 2022

Kala Warga Dusun Ambatunin Bertekad Menerjang Buta Huruf: Dirikan Sekolah Darurat Beratap Terpal

Turun-temurun menanggung perihnya buta huruf, warga Dusun Ambatunin Desa Uren Kecamatan Halong Kabupaten Balangan, jengah dengan keadaan. Mereka merintis sekolah darurat agar anak mereka bisa membaca.

====================

WAHYUDI, Balangan

 ===================

TERLETAK di atas bukit belakang balai adat, selembar terpal menaungi beberapa meja dan kursi yang dibuat dari pepohonan sekitar. Delapan orang anak-anak tengah asyik menyimak pelajaran yang diberikan Pini, guru yang dengan suka rela mengajarkan baca tulis di sini.

Di tempat yang bahkan tidak layak untuk disebut gubuk ini lah, anak-anak Dusun Ambatunin dan sekitarnya menuntut ilmu sejak 2018 silam.

Total ada sekitar 18 anak yang rutin belajar di sini saat Pini, datang ke sini satu kali dalam dua pekan. Pini merupakan warga Desa Uren. Ia sempat berpikir saat dimintai tolong oleh warga Dusun Ambatunin untuk mengajari anak-anak baca tulis.

Namun, melihat tekad dan semangat warga Dusun yang berjarak 6 jam perjalanan dari tempat tinggalnya itu dalam menolak buta huruf selama-lamanya, Pini pun luluh. Ia menerima permohonan warga tanpa balas jasa.

Diakui Pini, ia tidak bisa setiap hari, karena akses menuju dusun ini cukup ekstrem. Hawa dingin, hamparan tanah becek bila hujan, sesemakan tajam, kontur curam bukit, adalah kendala yang harus ia taklukkan untuk bisa mencapai Dusun Ambatunin.

“Tapi kalau memang ada rencana dibangunkan sekolah dan fasilitas lainnya, saya siap bermukim di sini untuk mengajar,” ungkap Pini, pria yang berijazah SMA itu.

Tidak ada satu pun warga Dusun Ambatunin mengenal huruf. Semuanya terhijab dari dunia pendidikan yang sangat jauh untuk dijangkau. Sehingga, tidak ada pilihan selain meminta tolong kepada warga luar dusun untuk mendidik putra-putrinya.

Kepala Dusun Ambatunin, Unal mengungkapkan, setelah melihat sudah banyak anak-anak yang tumbuh berkembang, akhirnya warga berinisiatif untuk mendirikan sekolah darurat sejak 2018 lalu.

 

“Kami tidak ingin anak-anak ini seperti orang tuanya yang tidak bisa membaca dan menulis,” ujarnya.

Bermodal sekolah darurat ini, Unal bersama warga lainnya kemudian minta tolong Kepala Desa dan Camat, untuk mengajukan proposal permohonan pembangunan sekolah kecil di dusunnya ke Dinas Pendidikan Kabupaten Balangan. Agar mendapatkan pelayanan pendidikan yang lebih layak.

Rabu (15/1) kemarin, rombongan Dinas Pendidikan Balangan yang dipimpin langsung oleh Kepala Dinas, Sulaiman Kurdi, menyambangi Dusun Ambatunin.

“Insya Allah tahun 2020 ini akan kita bangunkan Sekolah Dasar Kecil (SDK) di sini. Makanya kita survei dulu,” tandas Sulaiman Kurdi.

Ditambahkan Sekretaris Disdik Balangan, Abdul Basyid, ia mengakui bahwa pihaknya sudah menerima proposal dari Dusun Ambatunin perihal pendirian sekolah sejak tahun 2018.

Namun, kata dia, pihaknya menganggap perlu dana yang cukup besar untuk membangun satu paket pembangunan sekolah menggunakan APBD, maka pihaknya meminta bantuan Kemdikbud.

Hingga 2019 proposal ke Kemdikbud tak kunjung mendapat jawaban. Dari sana, di tahun 2020 ini pihaknya memutuskan akan membangun SDK di dusun ini menggunakan dana APBD. Mengingat kesediaan anggaran dan tingkat urgensi pemenuhan hak pelayanan dasar pendidikan bagi masyarakat.

Setelah melakukan survei ini, kata Basyid, disimpulkan bahwa di dusun yang berbatasan langsung dengan wilayah administratif Provinsi Kalimantan Timur ini, sudah layak didirikan SDK.

Dikatakannya, unsur utama pendirian sekolah seperti jumlah calon peserta didik, ketersediaan lahan, dukungan masyarakat dan kajian akademis sudah terpenuhi.

“Itu yang utama, ditambah unsur pendukung lainnya seperti  adat budaya tradisi kearifan lokal dan faktor risiko bencana seperti banjir, kebakaran dan lain-lain,” tukasnya.

Disdik tidak sendirian dalam mengunjungi dusun ini, turut serta juga dari Diskominfo Balangan, Disdukcapil, Dinas PU, Dinkes, Kecamatan dan anggota dewan. Untuk bahu-membahu mengeluarkan Dusun Ambatunin dari kesenjangan sosial. (by/bin)

Turun-temurun menanggung perihnya buta huruf, warga Dusun Ambatunin Desa Uren Kecamatan Halong Kabupaten Balangan, jengah dengan keadaan. Mereka merintis sekolah darurat agar anak mereka bisa membaca.

====================

WAHYUDI, Balangan

 ===================

TERLETAK di atas bukit belakang balai adat, selembar terpal menaungi beberapa meja dan kursi yang dibuat dari pepohonan sekitar. Delapan orang anak-anak tengah asyik menyimak pelajaran yang diberikan Pini, guru yang dengan suka rela mengajarkan baca tulis di sini.

Di tempat yang bahkan tidak layak untuk disebut gubuk ini lah, anak-anak Dusun Ambatunin dan sekitarnya menuntut ilmu sejak 2018 silam.

Total ada sekitar 18 anak yang rutin belajar di sini saat Pini, datang ke sini satu kali dalam dua pekan. Pini merupakan warga Desa Uren. Ia sempat berpikir saat dimintai tolong oleh warga Dusun Ambatunin untuk mengajari anak-anak baca tulis.

Namun, melihat tekad dan semangat warga Dusun yang berjarak 6 jam perjalanan dari tempat tinggalnya itu dalam menolak buta huruf selama-lamanya, Pini pun luluh. Ia menerima permohonan warga tanpa balas jasa.

Diakui Pini, ia tidak bisa setiap hari, karena akses menuju dusun ini cukup ekstrem. Hawa dingin, hamparan tanah becek bila hujan, sesemakan tajam, kontur curam bukit, adalah kendala yang harus ia taklukkan untuk bisa mencapai Dusun Ambatunin.

“Tapi kalau memang ada rencana dibangunkan sekolah dan fasilitas lainnya, saya siap bermukim di sini untuk mengajar,” ungkap Pini, pria yang berijazah SMA itu.

Tidak ada satu pun warga Dusun Ambatunin mengenal huruf. Semuanya terhijab dari dunia pendidikan yang sangat jauh untuk dijangkau. Sehingga, tidak ada pilihan selain meminta tolong kepada warga luar dusun untuk mendidik putra-putrinya.

Kepala Dusun Ambatunin, Unal mengungkapkan, setelah melihat sudah banyak anak-anak yang tumbuh berkembang, akhirnya warga berinisiatif untuk mendirikan sekolah darurat sejak 2018 lalu.

 

“Kami tidak ingin anak-anak ini seperti orang tuanya yang tidak bisa membaca dan menulis,” ujarnya.

Bermodal sekolah darurat ini, Unal bersama warga lainnya kemudian minta tolong Kepala Desa dan Camat, untuk mengajukan proposal permohonan pembangunan sekolah kecil di dusunnya ke Dinas Pendidikan Kabupaten Balangan. Agar mendapatkan pelayanan pendidikan yang lebih layak.

Rabu (15/1) kemarin, rombongan Dinas Pendidikan Balangan yang dipimpin langsung oleh Kepala Dinas, Sulaiman Kurdi, menyambangi Dusun Ambatunin.

“Insya Allah tahun 2020 ini akan kita bangunkan Sekolah Dasar Kecil (SDK) di sini. Makanya kita survei dulu,” tandas Sulaiman Kurdi.

Ditambahkan Sekretaris Disdik Balangan, Abdul Basyid, ia mengakui bahwa pihaknya sudah menerima proposal dari Dusun Ambatunin perihal pendirian sekolah sejak tahun 2018.

Namun, kata dia, pihaknya menganggap perlu dana yang cukup besar untuk membangun satu paket pembangunan sekolah menggunakan APBD, maka pihaknya meminta bantuan Kemdikbud.

Hingga 2019 proposal ke Kemdikbud tak kunjung mendapat jawaban. Dari sana, di tahun 2020 ini pihaknya memutuskan akan membangun SDK di dusun ini menggunakan dana APBD. Mengingat kesediaan anggaran dan tingkat urgensi pemenuhan hak pelayanan dasar pendidikan bagi masyarakat.

Setelah melakukan survei ini, kata Basyid, disimpulkan bahwa di dusun yang berbatasan langsung dengan wilayah administratif Provinsi Kalimantan Timur ini, sudah layak didirikan SDK.

Dikatakannya, unsur utama pendirian sekolah seperti jumlah calon peserta didik, ketersediaan lahan, dukungan masyarakat dan kajian akademis sudah terpenuhi.

“Itu yang utama, ditambah unsur pendukung lainnya seperti  adat budaya tradisi kearifan lokal dan faktor risiko bencana seperti banjir, kebakaran dan lain-lain,” tukasnya.

Disdik tidak sendirian dalam mengunjungi dusun ini, turut serta juga dari Diskominfo Balangan, Disdukcapil, Dinas PU, Dinkes, Kecamatan dan anggota dewan. Untuk bahu-membahu mengeluarkan Dusun Ambatunin dari kesenjangan sosial. (by/bin)

Most Read

Artikel Terbaru

/