alexametrics
27.1 C
Banjarmasin
Friday, 27 May 2022

DLH Inisiasi Pengadaan Biodigester

BATULICIN – Sebagai upaya untuk mendorong pemanfaatan sampah organik di lingkungan sekolah yang masih belum bisa diuraikan sendiri, Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu melalui melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menginisiasi pengadaan biodigester kepada tiga sekolah di Kecamatan Sungai Loban.

Alat berkapasitas 70 liter kubik itu nantinya dapat menguraikan sampah organik berupa limbah makanan, sampah taman seperti daun kering dan rumput, serta kotoran sapi untuk diolah menjadi biogas dan pupuk cair.

Serah terima biodigester dilakukan di Musala SDN 1 Sari Mulya Kecamatan Sungai Loban, dari Dinas Lingkungan Hidup Tanah Bumbu diwakili Kasubbid Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup, Siti Fatimah kepada perwakilan tiga sekolah, diantaranya SMPN 2 Sungai Loban, SDN 1 Sari Mulya dan SDIT Dhia El Widad Selasa, 14 Januari 2020.

Kasubbid Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup DLH Tanah Bumbu, Siti Fatimah pada sesi sosialisasi penggunaan alat biodigester menyampaikan, langkah itu merupakan yang pertama dilakukan ke sekolah, sekaligus sebagai bentuk apresiasi kepada sekolah yang telah berhasil meraih predikat adiwiyata tingkat kabupaten dan tingkat provinsi tahun 2019 lalu.

“Untuk mempercepat aktivator akan lebih bagus jika dimasukkan kotoran sapi basah atau janjang sawit terlebih dahulu. Kotoran sapi yang tercampur air dibiarkan selama 2 minggu untuk menghidupi mikroba di dalamnya, dan minggu ketiga gas dibuang, setelahnya penggunaan gas baru dapat dimanfaatkan pada minggu keempat,” papar Fatimah.

Diungkapkannya, gerakan yang dilakukan oleh DLH Tanah Bumbu merupakan gambaran sederhana yang masih bisa dikembangkan secara lebih inovatif, serta salah satu wujud untuk mengembangkan program sekolah adiwiyata.

“Media pembuatan biodigester sangat terjangkau dengan biaya berkisar Rp300 ribu bisa terus berkembang. Namun memberikan manfaatnya sangat banyak dalam kehidupan karena penguraian sampah organik tidak terpakai mampu menghasilkan gas dan energi ramah lingkungan,” jelasnya.

Seusai penyerahan, Kepala SDIT Dhia El Widad, Eko Supian mengatakan, dengan bantuan biodigester itu akan menambah semangat untuk merubah paradigma tentang limbah sampah organik. Yang sebelumnya sampah dibuang begitu saja, kini banyaknya sisa-sisa makanan di sekolahnya dapat dimasukkan ke dalam alat biodigester.

“Selain itu keberadaan biodigester bisa menjadi sarana pendukung dalam upaya SDIT Dhia El Widad untuk meningkatkan kapasitas lingkungan sekolah yang bersih, sehat dan asri dalam mengikuti program penilaian sekolah adiwiyata tingkat Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2020,” terangnya. (kry/ram/ema)

BATULICIN – Sebagai upaya untuk mendorong pemanfaatan sampah organik di lingkungan sekolah yang masih belum bisa diuraikan sendiri, Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu melalui melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menginisiasi pengadaan biodigester kepada tiga sekolah di Kecamatan Sungai Loban.

Alat berkapasitas 70 liter kubik itu nantinya dapat menguraikan sampah organik berupa limbah makanan, sampah taman seperti daun kering dan rumput, serta kotoran sapi untuk diolah menjadi biogas dan pupuk cair.

Serah terima biodigester dilakukan di Musala SDN 1 Sari Mulya Kecamatan Sungai Loban, dari Dinas Lingkungan Hidup Tanah Bumbu diwakili Kasubbid Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup, Siti Fatimah kepada perwakilan tiga sekolah, diantaranya SMPN 2 Sungai Loban, SDN 1 Sari Mulya dan SDIT Dhia El Widad Selasa, 14 Januari 2020.

Kasubbid Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup DLH Tanah Bumbu, Siti Fatimah pada sesi sosialisasi penggunaan alat biodigester menyampaikan, langkah itu merupakan yang pertama dilakukan ke sekolah, sekaligus sebagai bentuk apresiasi kepada sekolah yang telah berhasil meraih predikat adiwiyata tingkat kabupaten dan tingkat provinsi tahun 2019 lalu.

“Untuk mempercepat aktivator akan lebih bagus jika dimasukkan kotoran sapi basah atau janjang sawit terlebih dahulu. Kotoran sapi yang tercampur air dibiarkan selama 2 minggu untuk menghidupi mikroba di dalamnya, dan minggu ketiga gas dibuang, setelahnya penggunaan gas baru dapat dimanfaatkan pada minggu keempat,” papar Fatimah.

Diungkapkannya, gerakan yang dilakukan oleh DLH Tanah Bumbu merupakan gambaran sederhana yang masih bisa dikembangkan secara lebih inovatif, serta salah satu wujud untuk mengembangkan program sekolah adiwiyata.

“Media pembuatan biodigester sangat terjangkau dengan biaya berkisar Rp300 ribu bisa terus berkembang. Namun memberikan manfaatnya sangat banyak dalam kehidupan karena penguraian sampah organik tidak terpakai mampu menghasilkan gas dan energi ramah lingkungan,” jelasnya.

Seusai penyerahan, Kepala SDIT Dhia El Widad, Eko Supian mengatakan, dengan bantuan biodigester itu akan menambah semangat untuk merubah paradigma tentang limbah sampah organik. Yang sebelumnya sampah dibuang begitu saja, kini banyaknya sisa-sisa makanan di sekolahnya dapat dimasukkan ke dalam alat biodigester.

“Selain itu keberadaan biodigester bisa menjadi sarana pendukung dalam upaya SDIT Dhia El Widad untuk meningkatkan kapasitas lingkungan sekolah yang bersih, sehat dan asri dalam mengikuti program penilaian sekolah adiwiyata tingkat Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2020,” terangnya. (kry/ram/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/