alexametrics
28.1 C
Banjarmasin
Kamis, 19 Mei 2022

Hanya Coba-coba, Eh Berhasil, Ternyata Lahan Eks Tambang Bisa Dimanfaatkan

Bagi sebagian orang lahan eks tambang sulit untuk dimanfaatkan. Tapi, berbeda dengan masyarakat yang ada di Desa Kalumpang Kecamatan Bungur, yang menjadikan lahan tersebut untuk budi daya ikan.

— Oleh: RASIDI FADLI, Rantau —

Desa Kalumpang merupakan wilayah yang ada pertambangan batubaranya. Untuk sampai ke sana memerlukan waktu 15 menit menggunakan sepeda motor dari pusat kota Rantau.

Sesampainya di Desa Kalumpang. Penulis langsung bertemu dengan Abdul Wahid, salah seorang masyarakat yang membudidayakan ikan di lahan eks tambang. Ia langsung mengajak ke lahan tersebut.

“Jaraknya sekitar 1 kilometer dari rumah saya,” ucapnya.

Tiba di lahan eks tambang. Ada empat kolam ikan masyarakat. Posisinya tepat dipinggir, air berwarna biru. Untuk kolam sendiri dibuat dengan sederhana.

Ada yang hanya dengan bambu-bambu, kemudian ditengah dikasih jaring. Ada juga yang menggunakan pelampung. Di pinggir sekitar lahan dibuat pondokan sederhana.

Abdul Wahid, menceritakan sejak enam bulan lalu ia bersama warga sudah mulai membudidayakan ikan mas dan ikan nila di lahan eks tambang. Waktu itu sungai surut dan saluran menjadi kering, sedangkan ikan di keramba kami masih belum dijual.

“Kami berpikir di mana lagi bisa menampung ikan ini,” katanya.

Hingga terselip pikiran untuk mencoba di lahan eks tambang. Sebelumnya ada warga yang terlebih dahulu budi daya ikan di sana. Tapi masih skala kecil.

“Pertama hanya coba-coba. Ternyata memang berhasil budi daya ikan di sini,” kata pria berumur 50 tahun ini.

Memang pada awal budi daya, Ikan-ikan kecil sempat ada yang mati. Tapi, itu karena pengaruh musim kemarau, waktu itu juga ada kasus ikan mati di Banjarmasin dan Kabupaten Banjar.

“Akhirnya kami siasati, untuk ikan kecil kami budidayakan di tempat yang normal. Sedangkan ikan yang besar tetap di lahan eks tambang,” ucapnya.

Akhirnya Abdul Wahid bersama anaknya Rizki Fauzan dan 10 warga lainnya memutuskan untuk budi daya ikan di lahan tersebut sampai sekarang. Bahkan, ia sudah empat kali panen di lahan ini.

“Untuk lahan eks tambang sendiri sudah 10 tahun lebih ditinggalkan, kedalamannya sekitar 50 meter dan di sini juga masih ada tanah milik warga. Kita sudah minta izin kepada yang bersangkutan,” bebernya

Apalagi untuk pemeliharaannya juga mudah. Yang biasanya harus siaga saat air surut, karena harus mencari tempat memindah ikan. Maupun saat banjir datang, yang harus berjuang mencegah agar tidak kena batang kayu yang larut ke keramba.

“Sekarang kendala itu tidak ada lagi. Baik musim panas maupun hujan, di sini tetap ada air,” leganya.

Lantas bagaimana dengan hasil ikannya ? Menurut ayah empat orang anak ini, selama empat kali panen tidak ada masalah dari pembeli. Warga di sini pun sering membeli ikannya.

“Belum ada keluhan datang. Saya pun sering memakan ikan tersebut,” jelasnya, yang biasanya kalau panen menjual di pasar Rantau.

Untuk pemeliharaan dan pemberian pakannya sendiri tidak berbeda dengan yang ada di sungai. Biayanya pun sama saja, tidak ada penambahan. Ia tiga kali sehari memberi makan di sini.

“Keuntungannya pun sama saja. 1 ton ikan bisa laku sekitar 30 juta rupiah. Sekali panen saya menghasilkan 1,5 ton,” jelasnya.

Berhasilnya warga Desa Kalumpang membudidayakan ikan di lahan eks tambang membuat Dinas Perikanan, berencana untuk mengembangkan. Namun, sebelum itu pihaknya akan melakukan penelitian.

“Kita akan uji sample baik itu untuk kondisi air ataupun ikannya,” kata Kepala Bidang (Kabid) Budi Daya Perikanan Dinas Perikanan Kabupaten Tapin, Bambang Purwanto. (*/ema)

Bagi sebagian orang lahan eks tambang sulit untuk dimanfaatkan. Tapi, berbeda dengan masyarakat yang ada di Desa Kalumpang Kecamatan Bungur, yang menjadikan lahan tersebut untuk budi daya ikan.

— Oleh: RASIDI FADLI, Rantau —

Desa Kalumpang merupakan wilayah yang ada pertambangan batubaranya. Untuk sampai ke sana memerlukan waktu 15 menit menggunakan sepeda motor dari pusat kota Rantau.

Sesampainya di Desa Kalumpang. Penulis langsung bertemu dengan Abdul Wahid, salah seorang masyarakat yang membudidayakan ikan di lahan eks tambang. Ia langsung mengajak ke lahan tersebut.

“Jaraknya sekitar 1 kilometer dari rumah saya,” ucapnya.

Tiba di lahan eks tambang. Ada empat kolam ikan masyarakat. Posisinya tepat dipinggir, air berwarna biru. Untuk kolam sendiri dibuat dengan sederhana.

Ada yang hanya dengan bambu-bambu, kemudian ditengah dikasih jaring. Ada juga yang menggunakan pelampung. Di pinggir sekitar lahan dibuat pondokan sederhana.

Abdul Wahid, menceritakan sejak enam bulan lalu ia bersama warga sudah mulai membudidayakan ikan mas dan ikan nila di lahan eks tambang. Waktu itu sungai surut dan saluran menjadi kering, sedangkan ikan di keramba kami masih belum dijual.

“Kami berpikir di mana lagi bisa menampung ikan ini,” katanya.

Hingga terselip pikiran untuk mencoba di lahan eks tambang. Sebelumnya ada warga yang terlebih dahulu budi daya ikan di sana. Tapi masih skala kecil.

“Pertama hanya coba-coba. Ternyata memang berhasil budi daya ikan di sini,” kata pria berumur 50 tahun ini.

Memang pada awal budi daya, Ikan-ikan kecil sempat ada yang mati. Tapi, itu karena pengaruh musim kemarau, waktu itu juga ada kasus ikan mati di Banjarmasin dan Kabupaten Banjar.

“Akhirnya kami siasati, untuk ikan kecil kami budidayakan di tempat yang normal. Sedangkan ikan yang besar tetap di lahan eks tambang,” ucapnya.

Akhirnya Abdul Wahid bersama anaknya Rizki Fauzan dan 10 warga lainnya memutuskan untuk budi daya ikan di lahan tersebut sampai sekarang. Bahkan, ia sudah empat kali panen di lahan ini.

“Untuk lahan eks tambang sendiri sudah 10 tahun lebih ditinggalkan, kedalamannya sekitar 50 meter dan di sini juga masih ada tanah milik warga. Kita sudah minta izin kepada yang bersangkutan,” bebernya

Apalagi untuk pemeliharaannya juga mudah. Yang biasanya harus siaga saat air surut, karena harus mencari tempat memindah ikan. Maupun saat banjir datang, yang harus berjuang mencegah agar tidak kena batang kayu yang larut ke keramba.

“Sekarang kendala itu tidak ada lagi. Baik musim panas maupun hujan, di sini tetap ada air,” leganya.

Lantas bagaimana dengan hasil ikannya ? Menurut ayah empat orang anak ini, selama empat kali panen tidak ada masalah dari pembeli. Warga di sini pun sering membeli ikannya.

“Belum ada keluhan datang. Saya pun sering memakan ikan tersebut,” jelasnya, yang biasanya kalau panen menjual di pasar Rantau.

Untuk pemeliharaan dan pemberian pakannya sendiri tidak berbeda dengan yang ada di sungai. Biayanya pun sama saja, tidak ada penambahan. Ia tiga kali sehari memberi makan di sini.

“Keuntungannya pun sama saja. 1 ton ikan bisa laku sekitar 30 juta rupiah. Sekali panen saya menghasilkan 1,5 ton,” jelasnya.

Berhasilnya warga Desa Kalumpang membudidayakan ikan di lahan eks tambang membuat Dinas Perikanan, berencana untuk mengembangkan. Namun, sebelum itu pihaknya akan melakukan penelitian.

“Kita akan uji sample baik itu untuk kondisi air ataupun ikannya,” kata Kepala Bidang (Kabid) Budi Daya Perikanan Dinas Perikanan Kabupaten Tapin, Bambang Purwanto. (*/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/