alexametrics
33.1 C
Banjarmasin
Monday, 23 May 2022

Pilkada Banjarbaru Masih Tiga Pasangan

BANJARBARU – Setelah dr Abdul Halim memilih mundur dari kontestasi Pilkada Banjarbaru, nampaknya membuat kandidat bakal calon Pilwali Banjarbaru mengerucut jadi tiga pasangan. Mundurnya Abdul Halim sebagai calon wakil wali kota, membuat pasangannya Sofwat Hadi mulai ragu untuk melanjutkan langkahnya menjadi bakal calon wali kota Banjarbaru.

“Sekarang posisi saya kembali ke nol lagi. Sehingga muncul berbagai kemungkinan,” kata Sofwat Hadi kepada Radar Banjarmasin.

Berbagai kemungkinan yang dia maksud, bisa jadi dirinya batal maju dalam Pilwali Banjarbaru pada 2020 mendatang. “Memang masih ada kemungkinan ikut di Banjarbaru. Tapi bisa jadi malah ikut di tingkat provinsi,” ucap Sofwat.

Belum jelasnya langkah Sofwat, maka saat ini tinggal tiga pasangan bakal calon Pilwali Banjarbaru yang masih bertahan. Yakni, pasangan petahana Nadjmi Adhani – Darmawan Jaya Setiawan. Serta dua pasangan penantang: Aditya Mufti Ariffin – AR Iwansyah dan Edy Syaifudin – Astina Zuraida.

Dari tiga pasangan ini, hanya Edy-Astina yang memilih jalur perseorangan. Hal itu pun membuat publik ragu mereka bisa ikut maju sebagai kontestan Pilwali Banjarbaru. Pasalnya, hingga kini mereka belum mampu mengumpulkan 15.635 dukungan KTP sebagai syarat calon independen pada Pilwali Banjarbaru. Sementara, batas akhir penyerahan persyaratan paslon perseorangan kurang dari dua bulan lagi. Yakni, pada 23 Februari 2020.

Namun, meski diragukan, Edy mengaku optimis bisa memenuhi persyaratan calon independen. “Kami targetkan 10 Februari semua persyaratan sudah lengkap, dan pada 19 Februari kami serahkan ke KPU,” ujar Edy kemarin.

Edy mengaku optimis, lantaran progres pengumpulan KTP yang dilakukan oleh timnya selalu positif setiap bulannya. Namun, dia enggan membeberkan berapa KTP yang sudah mereka kumpulkan. “Saya yakin, tim masih semangat untuk mengumpulkan KTP,” ucapnya.

Sementara itu, untuk dua pasangan yang memilih maju lewat jalur partai politik (parpol), hingga kini baru Aditya-Iwansyah yang sudah mengantongi SK dukungan. Yakni dari PPP. Sedangkan kubu petahana, Nadjmi-Jaya baru mendapatkan dukungan secara lisan dari Partai Gerindra.

Peta kekuatan parpol jelang Pilwali Banjarbaru hingga kini belum terlihat. Masih banyak partai yang belum menentukan sikap lantaran masih menunggu kabar dari tingkat pusat. Sampai saat ini baru Partai Gerindra yang blak-blakan menyampaikan arah dukungan, meski belum ada SK yang dikeluarkan oleh DPP. “Sampai sekarang kami masih ke petahana, Mas,” beber Ketua DPC Gerindra Banjarbaru, Syahriani Syahran, kemarin.

Syahriani mengaku sudah berbicara dengan pasangan Nadjmi-Jaya mengenai dukungan mereka. “Tapi masih sebatas pembicaraan lisan,” paparnya. Kalau memang Gerindra pada akhirnya mendukung Nadjmi-Jaya, maka pasangan petahana tersebut memiliki posisi lebih aman dibandingkan Aditya-Iwansyah.

Sebab, berbekal enam kursi di DPRD Banjarbaru, Gerindra bisa mengusung calon sendiri tanpa harus berkoalisi. Sedangkan PPP hanya punya empat kursi, sehingga perlu mencari koalisi untuk menambah dua kursi lagi. Selain Gerindra, petahana juga disebut-sebut bakal didukung Nasdem yang memiliki modal empat kursi di DPRD Banjarbaru.  

Sinyal dukungan Nasdem diketahui, setelah sebelumnya ada pertemuan antara Nadjmi-Jaya dan Ketua Umum Nasdem Surya Paloh. Pertemuan yang berlangsung di kantor DPP Nasdem tersebut berlangsung Jumat (25/10) lalu. Surya Paloh memberikan apresiasi terhadap calon petahana dengan ungkapan pelukan kepada Nadjmi-Jaya. Nadjmi pun mengatakan kesan positif pada pertemuan tersebut.

Nadjmi mengatakan, Surya Paloh menyampaikan bahwa Nasdem membuka pintu lebar bagi dirinya untuk menatap Pilwali Banjarbaru 2020 mendatang. Sebelumnya, Nadjmi-Jaya telah mengantarkan formulir perdaftaran ke DPD Partai Nasdem Banjarbaru, Rabu (9/10) lalu.

Selain kedua parpol tersebut, tidak menutup kemungkinan PKS juga akan bergabung ke Nadjmi-Jaya. Apalagi, sebelumnya kedua pasangan tersebut juga telah mendaftar ke partai yang juga menjadi koalisi bersama Gerindra di Pilpres 2019 lalu. PKS yang memiliki 2 kursi di DPRD Banjarbaru, akan menambah amunisi bagi Nadjmi-Jaya.

Akan tetapi, terkait kabar arah dukungan tersebut, kedua pimpinan partai, baik Nasdem Banjarbaru dan PKS Banjarbaru, masih belum buka-bukaan mengenai dukungan mereka pada Pilkada Banjarbaru. 

Ketua DPD PKS Banjarbaru, A Nur Irsan Finazli menyampaikan, saat ini pihaknya masih dalam masa penjaringan. Sehingga belum diketahui siapa yang akan mereka dukung. “Sekarang sudah masuk tahapan akhir dari penjaringan, sedang dibuatkan matrik penilaian pada bakal calon yang masuk mendaftar ke PKS untuk diusung,” ucapnya.

Lalu, bagaimana dengan dukungan untuk kubu penantang? Kabarnya, koalisi pendukung Aditya-Iwansyah lebih besar dibandingkan petahana. Selain, PPP, Golkar yang memiliki 5 kursi di DPRD Banjarbaru juga akan mendukung mereka. 

Tetapi saat dikonfirmasi, Aditya Mufti Ariffin masih enggan buka-bukaan partai mana saja yang sudah memberikan lampu hijau kepada mereka. “Ya kita lihat saja dalam beberapa waktu yang akan datang,” ujarnya.

Selain PPP dan Golkar, sinyal PDIP untuk merapat ke Aditya-Iwansyah juga cukup kuat. Tiga kursi PDIP akan menambah suara dari pasangan ini. Ditambah lagi kemungkinan dukungan dari PKB yang juga mengantongi 3 kursi dan PAN yang memiliki 2 kursi. Sehingga, pasangan ini kemungkinan akan maju berbekal sokongan 17 kursi.

Namun, sama dengan Aditya, para partai yang disebut-sebut akan mendukung Aditya-Iwansyah masih menutup rapat-rapat informasi arah dukungan mereka. Semua seakan kompak: menunggu keputusan dari DPW Provinsi atau DPP.

Ketua DPD PAN Banjarbaru, Emi Lasari misalnya, dia menyebut bahwa berkas bapaslon yang mendaftar di DPD telah diserahkan pihaknya. Namun, soal kapan akan diumumkannya SK dukungan dia mengaku belum mengetahuinya.

Senada, Ketua DPC PKB Banjarbaru, Ririek Sumari menjawab kalau saat ini dirinya juga belum mengetahui kapan akan mengumumkan bapaslon yang diusung parpol.

“Yang jelas, berkas sudah sampai di DPW Kalsel. Nah tugas kita di DPC sudah selesai dan berpindah ke DPW. Jadi soal kapannya, kita masih menunggu instruksi dari DPW dan DPP,” jawab Ririek. Ketua DPC PDI Perjuangan Banjarbaru, Wartono juga demikian. Dia mengaku masih menunggu rekomendasi dari pusat. “Mudah-mudahan Januari ini sudah turun,” pungkasnya. (ris/ema)

BANJARBARU – Setelah dr Abdul Halim memilih mundur dari kontestasi Pilkada Banjarbaru, nampaknya membuat kandidat bakal calon Pilwali Banjarbaru mengerucut jadi tiga pasangan. Mundurnya Abdul Halim sebagai calon wakil wali kota, membuat pasangannya Sofwat Hadi mulai ragu untuk melanjutkan langkahnya menjadi bakal calon wali kota Banjarbaru.

“Sekarang posisi saya kembali ke nol lagi. Sehingga muncul berbagai kemungkinan,” kata Sofwat Hadi kepada Radar Banjarmasin.

Berbagai kemungkinan yang dia maksud, bisa jadi dirinya batal maju dalam Pilwali Banjarbaru pada 2020 mendatang. “Memang masih ada kemungkinan ikut di Banjarbaru. Tapi bisa jadi malah ikut di tingkat provinsi,” ucap Sofwat.

Belum jelasnya langkah Sofwat, maka saat ini tinggal tiga pasangan bakal calon Pilwali Banjarbaru yang masih bertahan. Yakni, pasangan petahana Nadjmi Adhani – Darmawan Jaya Setiawan. Serta dua pasangan penantang: Aditya Mufti Ariffin – AR Iwansyah dan Edy Syaifudin – Astina Zuraida.

Dari tiga pasangan ini, hanya Edy-Astina yang memilih jalur perseorangan. Hal itu pun membuat publik ragu mereka bisa ikut maju sebagai kontestan Pilwali Banjarbaru. Pasalnya, hingga kini mereka belum mampu mengumpulkan 15.635 dukungan KTP sebagai syarat calon independen pada Pilwali Banjarbaru. Sementara, batas akhir penyerahan persyaratan paslon perseorangan kurang dari dua bulan lagi. Yakni, pada 23 Februari 2020.

Namun, meski diragukan, Edy mengaku optimis bisa memenuhi persyaratan calon independen. “Kami targetkan 10 Februari semua persyaratan sudah lengkap, dan pada 19 Februari kami serahkan ke KPU,” ujar Edy kemarin.

Edy mengaku optimis, lantaran progres pengumpulan KTP yang dilakukan oleh timnya selalu positif setiap bulannya. Namun, dia enggan membeberkan berapa KTP yang sudah mereka kumpulkan. “Saya yakin, tim masih semangat untuk mengumpulkan KTP,” ucapnya.

Sementara itu, untuk dua pasangan yang memilih maju lewat jalur partai politik (parpol), hingga kini baru Aditya-Iwansyah yang sudah mengantongi SK dukungan. Yakni dari PPP. Sedangkan kubu petahana, Nadjmi-Jaya baru mendapatkan dukungan secara lisan dari Partai Gerindra.

Peta kekuatan parpol jelang Pilwali Banjarbaru hingga kini belum terlihat. Masih banyak partai yang belum menentukan sikap lantaran masih menunggu kabar dari tingkat pusat. Sampai saat ini baru Partai Gerindra yang blak-blakan menyampaikan arah dukungan, meski belum ada SK yang dikeluarkan oleh DPP. “Sampai sekarang kami masih ke petahana, Mas,” beber Ketua DPC Gerindra Banjarbaru, Syahriani Syahran, kemarin.

Syahriani mengaku sudah berbicara dengan pasangan Nadjmi-Jaya mengenai dukungan mereka. “Tapi masih sebatas pembicaraan lisan,” paparnya. Kalau memang Gerindra pada akhirnya mendukung Nadjmi-Jaya, maka pasangan petahana tersebut memiliki posisi lebih aman dibandingkan Aditya-Iwansyah.

Sebab, berbekal enam kursi di DPRD Banjarbaru, Gerindra bisa mengusung calon sendiri tanpa harus berkoalisi. Sedangkan PPP hanya punya empat kursi, sehingga perlu mencari koalisi untuk menambah dua kursi lagi. Selain Gerindra, petahana juga disebut-sebut bakal didukung Nasdem yang memiliki modal empat kursi di DPRD Banjarbaru.  

Sinyal dukungan Nasdem diketahui, setelah sebelumnya ada pertemuan antara Nadjmi-Jaya dan Ketua Umum Nasdem Surya Paloh. Pertemuan yang berlangsung di kantor DPP Nasdem tersebut berlangsung Jumat (25/10) lalu. Surya Paloh memberikan apresiasi terhadap calon petahana dengan ungkapan pelukan kepada Nadjmi-Jaya. Nadjmi pun mengatakan kesan positif pada pertemuan tersebut.

Nadjmi mengatakan, Surya Paloh menyampaikan bahwa Nasdem membuka pintu lebar bagi dirinya untuk menatap Pilwali Banjarbaru 2020 mendatang. Sebelumnya, Nadjmi-Jaya telah mengantarkan formulir perdaftaran ke DPD Partai Nasdem Banjarbaru, Rabu (9/10) lalu.

Selain kedua parpol tersebut, tidak menutup kemungkinan PKS juga akan bergabung ke Nadjmi-Jaya. Apalagi, sebelumnya kedua pasangan tersebut juga telah mendaftar ke partai yang juga menjadi koalisi bersama Gerindra di Pilpres 2019 lalu. PKS yang memiliki 2 kursi di DPRD Banjarbaru, akan menambah amunisi bagi Nadjmi-Jaya.

Akan tetapi, terkait kabar arah dukungan tersebut, kedua pimpinan partai, baik Nasdem Banjarbaru dan PKS Banjarbaru, masih belum buka-bukaan mengenai dukungan mereka pada Pilkada Banjarbaru. 

Ketua DPD PKS Banjarbaru, A Nur Irsan Finazli menyampaikan, saat ini pihaknya masih dalam masa penjaringan. Sehingga belum diketahui siapa yang akan mereka dukung. “Sekarang sudah masuk tahapan akhir dari penjaringan, sedang dibuatkan matrik penilaian pada bakal calon yang masuk mendaftar ke PKS untuk diusung,” ucapnya.

Lalu, bagaimana dengan dukungan untuk kubu penantang? Kabarnya, koalisi pendukung Aditya-Iwansyah lebih besar dibandingkan petahana. Selain, PPP, Golkar yang memiliki 5 kursi di DPRD Banjarbaru juga akan mendukung mereka. 

Tetapi saat dikonfirmasi, Aditya Mufti Ariffin masih enggan buka-bukaan partai mana saja yang sudah memberikan lampu hijau kepada mereka. “Ya kita lihat saja dalam beberapa waktu yang akan datang,” ujarnya.

Selain PPP dan Golkar, sinyal PDIP untuk merapat ke Aditya-Iwansyah juga cukup kuat. Tiga kursi PDIP akan menambah suara dari pasangan ini. Ditambah lagi kemungkinan dukungan dari PKB yang juga mengantongi 3 kursi dan PAN yang memiliki 2 kursi. Sehingga, pasangan ini kemungkinan akan maju berbekal sokongan 17 kursi.

Namun, sama dengan Aditya, para partai yang disebut-sebut akan mendukung Aditya-Iwansyah masih menutup rapat-rapat informasi arah dukungan mereka. Semua seakan kompak: menunggu keputusan dari DPW Provinsi atau DPP.

Ketua DPD PAN Banjarbaru, Emi Lasari misalnya, dia menyebut bahwa berkas bapaslon yang mendaftar di DPD telah diserahkan pihaknya. Namun, soal kapan akan diumumkannya SK dukungan dia mengaku belum mengetahuinya.

Senada, Ketua DPC PKB Banjarbaru, Ririek Sumari menjawab kalau saat ini dirinya juga belum mengetahui kapan akan mengumumkan bapaslon yang diusung parpol.

“Yang jelas, berkas sudah sampai di DPW Kalsel. Nah tugas kita di DPC sudah selesai dan berpindah ke DPW. Jadi soal kapannya, kita masih menunggu instruksi dari DPW dan DPP,” jawab Ririek. Ketua DPC PDI Perjuangan Banjarbaru, Wartono juga demikian. Dia mengaku masih menunggu rekomendasi dari pusat. “Mudah-mudahan Januari ini sudah turun,” pungkasnya. (ris/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/