alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Rabu, 18 Mei 2022

Karir Politiknya Jadi Objek Penelitian Skripsi, Rudy Resnawan Langsung Datang Sebagai Penguji

Mahasiswi FKIP Prodi Studi Pendidikan IPS Universitas Lambung Mangkurat, Sri Wahyuni beruntung. Skripsinya langsung diuji Wakil Gubernur Kalsel Rudy Resnawan dalam diseminasi terbuka di aula rektorat, kemarin (7/1) pagi.

— Oleh: JAMALUDDIN, Banjarmasin —

SRI Wahyuni menulis skripsi tentang kehidupan Rudy Resnawan. Sejak masa kecil hingga perjalanannya menjadi wagub.

Inspirasi datang dari sepak terjang politik Rudy. Lelaki 58 tahun itu pernah menjabat sebagai Wali Kota Banjarbaru pada dua periode, 2000-2005 dan 2005-2010.

Rudy juga dua kali menjadi wagub. Pertama berpasangan dengan Rudy Ariffin pada periode 2010-2015. Lalu bersama Sahbirin Noor dari tahun 2015 sampai sekarang.

Nama Rudy bahkan diabadikan menjadi gedung olahraga terbesar di Jalan Trikora, Banjarbaru. Sulit memungkiri pengaruh tokoh kelahiran Amuntai ini. Terutama bagi masyarakat Banjarbaru.

“Menarik. Karena beliau bisa memenangi kontestasi politik selama empat periode berturut-turut. Ini yang saya gali dalam skripsi ini,” kata Ayu, sapaan akrabnya.

Tak mudah mengumpulkan data biografi Rudy. Sebelumnya, Ayu harus melewati beberapa tahapan agar bisa bertemu orang nomor dua di Banua tersebut.

Penelitian sudah ia mulai sejak Juli 2019 silam. “Ada beberapa surat izin yang harus saya pegang untuk bisa bertemu beliau. Sudah punya izin pun tak bisa bertemu langsung. Harus buat janji dulu sama ajudannya,” kata mahasiswi kelahiran 4 Mei 1998 itu.

Dari sejumlah wawancara, ada beberapa kesimpulan yang Ayu tarik. Bahkan, ia masukkan dalam pelajaran IPS di sekolah. Dia ajarkan ke SMPN 6 Banjarmasin. Tanggapan dari siswa pun beragam.

“Dari hasil penelitian ini, saya mendapatkan enam nilai pada sosok Rudy. Yaitu religius, komunikatif, disiplin, bertanggungjawab, inovatif, dan rendah hati. Inilah yang saya ajarkan kepada para siswa,” kata mahasiswi asal Tanah Bumbu itu.

Hasilnya, Ayu dinyatakan lulus. IPK-nya mencapai 3,75. Tapi yang paling membuatnya bangga bisa menuntaskan kuliah dalam waktu hanya 3,5 tahun.

Dia berharap bisa memotivasi teman-teman mahasiswa lainnya. “Alhamdulillah. Terima kasih kepada orang tua, para dosen, dan tentu Pak Rudy,” pungkasnya.

Lalu, bagaimana komentar Rudy? Dia mengaku terkesan. FKIP berani menjadikan tokoh-tokoh lokal sebagai objek penelitian. Hingga mengundangnya sebagai penguji tamu.

“Saya penguji tamu sekaligus narasumber skripsi. Ujiannya sudah ada para dosen. Saya untuk penyempurnaan materi, mengingat skripsinya terkait riwayat hidup saya sendiri,” jelasnya.

Setelah membaca skripsi tersebut, Rudy memberikan kredit positif. “Tulisannya menarik, lalu diaplikasikan ke pelajaran IPS. Selama ilmiah, tak masalah. Buktinya Sri bisa lulus,” tambahnya.

Sementara itu, koordinator prodi, Prof Ersis Warmansyah Abbas mengatakan, terobosan semacam ini penting. Mengingat kampus terlalu banyak berkutat pada teori. Penelitian Rudy baru langkah awal.

“Secara keilmuan, kami bimbing di kampus. Lalu mahasiswa terjun meneliti. Baru dicek di depan umum kebenarannya. Kalau misalkan ada kekeliruan, narasumber akan merespons. Kami tidak mau skripsi hanya untuk disimpan di rak perpustakaan,” tegas Ersis. (fud/ema)

Mahasiswi FKIP Prodi Studi Pendidikan IPS Universitas Lambung Mangkurat, Sri Wahyuni beruntung. Skripsinya langsung diuji Wakil Gubernur Kalsel Rudy Resnawan dalam diseminasi terbuka di aula rektorat, kemarin (7/1) pagi.

— Oleh: JAMALUDDIN, Banjarmasin —

SRI Wahyuni menulis skripsi tentang kehidupan Rudy Resnawan. Sejak masa kecil hingga perjalanannya menjadi wagub.

Inspirasi datang dari sepak terjang politik Rudy. Lelaki 58 tahun itu pernah menjabat sebagai Wali Kota Banjarbaru pada dua periode, 2000-2005 dan 2005-2010.

Rudy juga dua kali menjadi wagub. Pertama berpasangan dengan Rudy Ariffin pada periode 2010-2015. Lalu bersama Sahbirin Noor dari tahun 2015 sampai sekarang.

Nama Rudy bahkan diabadikan menjadi gedung olahraga terbesar di Jalan Trikora, Banjarbaru. Sulit memungkiri pengaruh tokoh kelahiran Amuntai ini. Terutama bagi masyarakat Banjarbaru.

“Menarik. Karena beliau bisa memenangi kontestasi politik selama empat periode berturut-turut. Ini yang saya gali dalam skripsi ini,” kata Ayu, sapaan akrabnya.

Tak mudah mengumpulkan data biografi Rudy. Sebelumnya, Ayu harus melewati beberapa tahapan agar bisa bertemu orang nomor dua di Banua tersebut.

Penelitian sudah ia mulai sejak Juli 2019 silam. “Ada beberapa surat izin yang harus saya pegang untuk bisa bertemu beliau. Sudah punya izin pun tak bisa bertemu langsung. Harus buat janji dulu sama ajudannya,” kata mahasiswi kelahiran 4 Mei 1998 itu.

Dari sejumlah wawancara, ada beberapa kesimpulan yang Ayu tarik. Bahkan, ia masukkan dalam pelajaran IPS di sekolah. Dia ajarkan ke SMPN 6 Banjarmasin. Tanggapan dari siswa pun beragam.

“Dari hasil penelitian ini, saya mendapatkan enam nilai pada sosok Rudy. Yaitu religius, komunikatif, disiplin, bertanggungjawab, inovatif, dan rendah hati. Inilah yang saya ajarkan kepada para siswa,” kata mahasiswi asal Tanah Bumbu itu.

Hasilnya, Ayu dinyatakan lulus. IPK-nya mencapai 3,75. Tapi yang paling membuatnya bangga bisa menuntaskan kuliah dalam waktu hanya 3,5 tahun.

Dia berharap bisa memotivasi teman-teman mahasiswa lainnya. “Alhamdulillah. Terima kasih kepada orang tua, para dosen, dan tentu Pak Rudy,” pungkasnya.

Lalu, bagaimana komentar Rudy? Dia mengaku terkesan. FKIP berani menjadikan tokoh-tokoh lokal sebagai objek penelitian. Hingga mengundangnya sebagai penguji tamu.

“Saya penguji tamu sekaligus narasumber skripsi. Ujiannya sudah ada para dosen. Saya untuk penyempurnaan materi, mengingat skripsinya terkait riwayat hidup saya sendiri,” jelasnya.

Setelah membaca skripsi tersebut, Rudy memberikan kredit positif. “Tulisannya menarik, lalu diaplikasikan ke pelajaran IPS. Selama ilmiah, tak masalah. Buktinya Sri bisa lulus,” tambahnya.

Sementara itu, koordinator prodi, Prof Ersis Warmansyah Abbas mengatakan, terobosan semacam ini penting. Mengingat kampus terlalu banyak berkutat pada teori. Penelitian Rudy baru langkah awal.

“Secara keilmuan, kami bimbing di kampus. Lalu mahasiswa terjun meneliti. Baru dicek di depan umum kebenarannya. Kalau misalkan ada kekeliruan, narasumber akan merespons. Kami tidak mau skripsi hanya untuk disimpan di rak perpustakaan,” tegas Ersis. (fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/