alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Monday, 23 May 2022

Masih Ada Kasus Pasien Miskin Tak Bisa Pulang: RS Ulin Minta Rp43 Juta, Anita Bingung

Anita Febriani Safitri kebingungan. Suaminya tak bisa pulang dari Rumah Sakit Ulin. Ibu dua anak ini kebingungan mencari uang puluhan juta rupiah untuk melunasi biaya operasi suaminya.

— Oleh: MAULANA, Banjarmasin —

SUAMINYA bernama Sigit Setiawan, 31 tahun. Memiliki KTP Samarinda, Kaltim, ia sekarang tinggal di alamat istrinya di Jalan Kemasan Dalam RT 01 RW 01 Kelurahan Barabai Selatan Kabupaten Hulu Sungai Tengah.

Pangkal masalah, tak satu lembar kartu jaminan kesehatan pun ia miliki. Contoh BPJS Kesehatan. Sampai sekarang, Sigit masih terbaring lemah di Ruang Tulip. Kondisinya belum stabil.

“Kata dokter, suami saya mengalami pembengkakan di kepala. Bengkaknya sudah melebihi ukuran tengkoraknya,” kata perempuan 34 tahun itu, (6/1).

Selama sepekan, suaminya mendapat penanganan medis di Ulin. Sabtu (30/12) lalu suaminya masuk rumah sakit. Akibat mengalami kecelakaan kerja saat mengangkut barang.

Sigit perlu dioperasi dan sudah terlaksana. Selepas masa kritis, Anita dibuat pusing oleh biaya pengobatan. “Tadi menerima kabar, biayanya mencapai Rp43 juta. Sudah termasuk operasi, ruangan ICU, dan lainnya,” sebutnya lirih.

“Masa kritis sudah lewat, tapi masih trauma. Operasi ini baru pertama, rencananya masih ada yang kedua. Saya belum bisa memikirkan biaya operasi lanjutan itu,” jelasnya.

Anita bingung mau kemana. Karena kecelakaan kerja itu bukan terjadi di perusahaan. Sigit cuma buruh angkut alias kuli. Biasa menjual tenaganya di kawasan pertokoan dan pasar di Barabai.

Lewat bantuan sejumlah relawan emergency, terkumpul sumbangan Rp1,2 juta. Jelas jauh dari kata cukup.

“Saya punya keluarga, tapi mereka juga bukan orang berpunya. Dan sebelum dirujuk ke Ulin, sempat ditangani rumah sakit di Barabai. Cuma ada bantuan dari teman-teman kerjanya dan pedagang di sana,” kisahnya.

Jadi, apa yang diharapkan Anita? Dia berharap ada keringanan biaya dari rumah sakit.

“Hari ini sudah diizinkan pulang. Tapi saya masih harus mencari uang itu. Saya meminta pihak rumah sakit bisa bijaksana. Alhamdulillah, besok mereka mau diajak bertemu,” jawabnya.

Sementara itu, Koordinator Lapangan Relawan Informasi Emergency Relawan Tersembunyi (IERT), Ima mengaku sempat kaget mendengar nominal yang dipinta rumah sakit.

“Kami hanya mendapat waktu empat hari untuk menggalang dana di jalan raya. Apalagi hujan terus, jadi tak maksimal. Semoga ada hati dermawan yang terketuk setelah mengetahui kisah ini,” kata Ima.

Dikonfirmasi terpisah, Humas RSUD Ulin Iyan Setiawan, berjanji akan mengecek kondisi pasien. “Kami cek dulu data pasien dan kebenaran cerita itu,” ujarnya. (fud/ema)

Anita Febriani Safitri kebingungan. Suaminya tak bisa pulang dari Rumah Sakit Ulin. Ibu dua anak ini kebingungan mencari uang puluhan juta rupiah untuk melunasi biaya operasi suaminya.

— Oleh: MAULANA, Banjarmasin —

SUAMINYA bernama Sigit Setiawan, 31 tahun. Memiliki KTP Samarinda, Kaltim, ia sekarang tinggal di alamat istrinya di Jalan Kemasan Dalam RT 01 RW 01 Kelurahan Barabai Selatan Kabupaten Hulu Sungai Tengah.

Pangkal masalah, tak satu lembar kartu jaminan kesehatan pun ia miliki. Contoh BPJS Kesehatan. Sampai sekarang, Sigit masih terbaring lemah di Ruang Tulip. Kondisinya belum stabil.

“Kata dokter, suami saya mengalami pembengkakan di kepala. Bengkaknya sudah melebihi ukuran tengkoraknya,” kata perempuan 34 tahun itu, (6/1).

Selama sepekan, suaminya mendapat penanganan medis di Ulin. Sabtu (30/12) lalu suaminya masuk rumah sakit. Akibat mengalami kecelakaan kerja saat mengangkut barang.

Sigit perlu dioperasi dan sudah terlaksana. Selepas masa kritis, Anita dibuat pusing oleh biaya pengobatan. “Tadi menerima kabar, biayanya mencapai Rp43 juta. Sudah termasuk operasi, ruangan ICU, dan lainnya,” sebutnya lirih.

“Masa kritis sudah lewat, tapi masih trauma. Operasi ini baru pertama, rencananya masih ada yang kedua. Saya belum bisa memikirkan biaya operasi lanjutan itu,” jelasnya.

Anita bingung mau kemana. Karena kecelakaan kerja itu bukan terjadi di perusahaan. Sigit cuma buruh angkut alias kuli. Biasa menjual tenaganya di kawasan pertokoan dan pasar di Barabai.

Lewat bantuan sejumlah relawan emergency, terkumpul sumbangan Rp1,2 juta. Jelas jauh dari kata cukup.

“Saya punya keluarga, tapi mereka juga bukan orang berpunya. Dan sebelum dirujuk ke Ulin, sempat ditangani rumah sakit di Barabai. Cuma ada bantuan dari teman-teman kerjanya dan pedagang di sana,” kisahnya.

Jadi, apa yang diharapkan Anita? Dia berharap ada keringanan biaya dari rumah sakit.

“Hari ini sudah diizinkan pulang. Tapi saya masih harus mencari uang itu. Saya meminta pihak rumah sakit bisa bijaksana. Alhamdulillah, besok mereka mau diajak bertemu,” jawabnya.

Sementara itu, Koordinator Lapangan Relawan Informasi Emergency Relawan Tersembunyi (IERT), Ima mengaku sempat kaget mendengar nominal yang dipinta rumah sakit.

“Kami hanya mendapat waktu empat hari untuk menggalang dana di jalan raya. Apalagi hujan terus, jadi tak maksimal. Semoga ada hati dermawan yang terketuk setelah mengetahui kisah ini,” kata Ima.

Dikonfirmasi terpisah, Humas RSUD Ulin Iyan Setiawan, berjanji akan mengecek kondisi pasien. “Kami cek dulu data pasien dan kebenaran cerita itu,” ujarnya. (fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/