alexametrics
26.1 C
Banjarmasin
Rabu, 18 Mei 2022

Sudah Surut, Warga Masih Takut Kebanjiran Lagi

BANJARBARU – Banjir memang telah surut. Tapi sebagian masyarakat Cempaka tetap merasa takut. Khawatir sewaktu-waktu sungai kembali meluap hebat jika diguyur hujan lebat.

Banjir di Cempaka pada Minggu (5/1) lalu memang meninggalkan banyak cerita. Selain parah, sisa luapan air juga turut jadi momok bagi warga. Senin (6/1), warga terdampak tampak membersihkan rumahnya.

Secara umum, warga terpantau telah beraktivitas normal. Ibu-ibu tampak bersih-bersih rumah. Sementara bapak-bapak sibuk mengurus benda yang sempat terendam. Sedangkan sebagian remaja terlihat sibuk mengutak atik kendaraannya pascatergenang.

Kasur-kasur dijemur di teras atau halaman rumah. Motor yang mogok parah diserahkan ke bengkel terdekat. Barang yang berserakan perlahan mulai dirapikan. Anak-anak juga mulai beraktivitas dan bermain.

Sahraman (70), warga Los Basung RT 15 RW 05 Kelurahan Cempaka bercerita. Sembari melepas sarung guling dan bantal, ia tampak menjemur beberapa barang. Salah satunya buku dengan lafadz Alquran yang tampak basah bekas tergenang.

Khusus kemarin, Sahraman memprioritaskan untuk menjemur barang. Sejak pagi cuaca sudah cerah. Meski malam harinya hujan deras juga disebut sempat kembali mengguyur.

“Air sempat naik tadi malam usai hujan deras. Tetapi tidak tinggi, belum sampai ke rumah. Semoga saja tidak ada hujan lagi,” harapnya.

Banjir kemarin cerita Sahraman baru turun selepas salat Isya. Ia dan keluarga memilih tidur di rumah. Meski sempat mengamankan beberapa barang. Namun dia enggan tidur di tenda atau posko darurat yang disediakan.

“Alhamdulillah bisa tidur di rumah karena air sudah surut. Tapi kasur basah, jadi tidur beralas karpet saja. Namun, tidurnya juga kurang pulas, khawatir kalau banjir lagi karena sempat hujan,” katanya.

Beruntung dalam musibah kemarin tidak ada keluarga Sahraman yang didera sakit. Benda miliknya juga cenderung aman. Hanya motor yang perlu diservis. “Jika hujan deras dan lama, insya Allah kita siap saja,” katanya.

Bantuan kata Sahraman masih sebatas kebutuhan logistik. Untuk pakaian ataupun dalam bentuk uang tunai belum diterimanya. “Tetapi pakaian ataupun perlengkapan masak aman-aman saja, sempat diselamatkan. Tapi yang rusak pompa air, jadi kesulitan air,” ujarnya.

Hampir bernasib sama dengan Sahraman. Sulaiman (50) warga terdampak banjir di Kelurahan Cempaka lainnya juga mengaku waswas. Bahkan kemarin malam matanya selalu terjaga.

“Tidak tenang mau tidur, apalagi hujan lagi. Saya sampai begadang, takut air meluap lagi. Soalnya rumah saya juga dekat aliran sungai,” bebernya.

Selain mengamankan barang berharganya di tempat tinggi. Ia juga telah memindahkan barang elektronik seperti kulkas, TV dan lainnya ke sebuah mobil truk. Maklum saat banjir kemarin, ketinggian air mencapai dada orang dewasa di areal rumahnya.

“Kalau bantuan makanan alhamdulillah tersedia sejak kemarin. Jadi kita tidak kelaparan saat banjir masih menggenang. Paling ini yang basah seperti kasur yang memang tidak sempat diangkut,” kisahnya.

Di sela wawancara, Sulaiman mengungkapkan harapannya kepada pemerintah. Warga asli Cempaka ini berharap bahwa ada perhatian lebih dari pemerintah untuk mengatasi ancaman banjir di wilayahnya.

“Pemerintah bisa peduli sama banjir ini, jangan dibiarkan seperti ini terus. Karena jujur kita masih khawatir kalau ada hujan lagi,” jujurnya.

Lurah Cempaka Banjarbaru, Junaidi membeberkan bahwa saat ini kondisi air di kawasan terdampak sudah normal. Warga dijelaskannya sudah beraktivitas pada umumnya.

“Alhamdulillah. Luapan air juga sudah turun sejak kemarin. Warga sudah kembali ke rumah masing-masing,” kata Lurah Junaidi.

Sejauh ini, sebut Juanidi belum ada warga yang melapor karena sakit. “Tidak ada (sakit). Untuk kerugian materil sepertinya juga tidak begitu besar, karena warga juga sudah terbiasa untuk menyelamatkan barangnya saat banjir,” jelasnya.

Menurutnya, dapur umum sangat efektif. Lantaran saat malam kemarin dan berlanjut ke pagi harinya warga belum optimal melakukan aktivitas masak. Sehingga bantuan logistik begitu dibutuhkan warga.

“Meski sekarang sudah normal. Saya tentu berharap bahwa tidak ada banjir susulan. Semoga tidak ada hujan deras. Saya juga sudah meminta warga untuk waspada apabila ada potensi luapan lagi,” ungkapnya.

Terpisah, Kepala Pelaksana BPBD Kota Banjarbaru, M Zaini membeberkan data kejadian banjir. Dalam laporannya, total ada tiga kecamatan yang terdampak banjir. Yakni Landasan Ulin, Banjarbaru Selatan, Liang Anggang dan terparah di Cempaka.

“Banjir pada Minggu (5/1) totalnya mengakibatkan 2.517 jiwa di Banjarbaru terdampak. Rinciannya Liang Anggang ada 38 Jiwa, Banjarbaru Selatan 706 jiwa, Landasan Ulin 32 Jiwa serta yang terparah Cempaka, yakni 1.714 jiwa,” rilisnya.

Untuk di Cempaka, ada 19 RT di dua kelurahan yang terdampak. Yakni di Kelurahan Cempaka serta Kelurahan Sungai Tiung. Kalau di kelurahan Cempaka 13 RT dan di Sungai Tiung ada 6 RT.

Dipastikan Zaini tidak ada korban jiwa dalam musibah tersebut. Namun untuk taksiran kerugian materil ia belum mendapat data pasti. “Masih belum bisa terdata,” katanya.

Saat ini tenda darurat yang sebelumnya dibangun di kawasan terdampak telah dicabut. Meski begitu, personel BPBD tetap disiagakan untuk memantau lokasi rawan.

“Kita tetap menyiagakan petugas dan juga dibantu relawan di sana (Cempaka),” pungkasnya.

Dalam musibah banjir kemarin, salah satu lorong di bawah Jembatan Basung di Jalan HM Cokrokusomo diperbincangkan. Sebab, kondisi lorong dinilai sangat sempit. Alhasil debit air sungai yang melalui lorong tersebut cukup terhambat.

Ainah, salah seorang warga Basung Cempaka berpendapat demikian. Pasalnya, ketika hujan turun, maka aliran sungai di Basung ujarnya kerap terhambat. Ia menilai air cepat meluap ke pemukiman warga di bantaran sungai tersebut.

“Apalagi kalau ada pohon nyangkut di sela-sela lorong. Biasanya aliran air bakal terhambat dan cepat meluber ke rumah warga karena tertahan. Seharusnya saya pikir bisa diperlebar atau diperluas lorongnya, jadi kalau debit air tinggi bisa lancar,” katanya.

Atas hal ini, Kepala Dinas PUPR Kota Banjarbaru, Jaya Kreshna mengkonfirmasi. Dijelaskannya bahwa karena letak jembatan tersebut berada di Jalan HM Cokrokusomo, maka wewenangnya berada di bawah Pemprov Kalsel.

“Itu jalan Provinsi. Memang kita di Pemko sudah pernah mengusulkan soal perluasan lorong tersebut. Tetapi mungkin belum ada anggaran untuk itu. Kalau pengusulannya sudah lama kita ajukan,” kata Jaya kemarin.

Soal infrastuktur untuk menanggulangi banjir, diklaim Jaya bahwa semua mulai berjalan baik. Mulai dari normalisasi sungai serta ada beberapa titik pelebaran sungai yang kerap berpotensi membuat cepat meluber.

“Intensitas hujan yang tinggi kemarin kita akui belum bisa menampung sepenuhnya. Tetapi ada pengeringan lebih cepat dibanding sebelum ada normalisasi dan juga embung. Ini memang masih jadi PR kita khususnya apabila intesitasnya tinggi, ya secara bertahap,” jawabnya. (rvn/ema)

BANJARBARU – Banjir memang telah surut. Tapi sebagian masyarakat Cempaka tetap merasa takut. Khawatir sewaktu-waktu sungai kembali meluap hebat jika diguyur hujan lebat.

Banjir di Cempaka pada Minggu (5/1) lalu memang meninggalkan banyak cerita. Selain parah, sisa luapan air juga turut jadi momok bagi warga. Senin (6/1), warga terdampak tampak membersihkan rumahnya.

Secara umum, warga terpantau telah beraktivitas normal. Ibu-ibu tampak bersih-bersih rumah. Sementara bapak-bapak sibuk mengurus benda yang sempat terendam. Sedangkan sebagian remaja terlihat sibuk mengutak atik kendaraannya pascatergenang.

Kasur-kasur dijemur di teras atau halaman rumah. Motor yang mogok parah diserahkan ke bengkel terdekat. Barang yang berserakan perlahan mulai dirapikan. Anak-anak juga mulai beraktivitas dan bermain.

Sahraman (70), warga Los Basung RT 15 RW 05 Kelurahan Cempaka bercerita. Sembari melepas sarung guling dan bantal, ia tampak menjemur beberapa barang. Salah satunya buku dengan lafadz Alquran yang tampak basah bekas tergenang.

Khusus kemarin, Sahraman memprioritaskan untuk menjemur barang. Sejak pagi cuaca sudah cerah. Meski malam harinya hujan deras juga disebut sempat kembali mengguyur.

“Air sempat naik tadi malam usai hujan deras. Tetapi tidak tinggi, belum sampai ke rumah. Semoga saja tidak ada hujan lagi,” harapnya.

Banjir kemarin cerita Sahraman baru turun selepas salat Isya. Ia dan keluarga memilih tidur di rumah. Meski sempat mengamankan beberapa barang. Namun dia enggan tidur di tenda atau posko darurat yang disediakan.

“Alhamdulillah bisa tidur di rumah karena air sudah surut. Tapi kasur basah, jadi tidur beralas karpet saja. Namun, tidurnya juga kurang pulas, khawatir kalau banjir lagi karena sempat hujan,” katanya.

Beruntung dalam musibah kemarin tidak ada keluarga Sahraman yang didera sakit. Benda miliknya juga cenderung aman. Hanya motor yang perlu diservis. “Jika hujan deras dan lama, insya Allah kita siap saja,” katanya.

Bantuan kata Sahraman masih sebatas kebutuhan logistik. Untuk pakaian ataupun dalam bentuk uang tunai belum diterimanya. “Tetapi pakaian ataupun perlengkapan masak aman-aman saja, sempat diselamatkan. Tapi yang rusak pompa air, jadi kesulitan air,” ujarnya.

Hampir bernasib sama dengan Sahraman. Sulaiman (50) warga terdampak banjir di Kelurahan Cempaka lainnya juga mengaku waswas. Bahkan kemarin malam matanya selalu terjaga.

“Tidak tenang mau tidur, apalagi hujan lagi. Saya sampai begadang, takut air meluap lagi. Soalnya rumah saya juga dekat aliran sungai,” bebernya.

Selain mengamankan barang berharganya di tempat tinggi. Ia juga telah memindahkan barang elektronik seperti kulkas, TV dan lainnya ke sebuah mobil truk. Maklum saat banjir kemarin, ketinggian air mencapai dada orang dewasa di areal rumahnya.

“Kalau bantuan makanan alhamdulillah tersedia sejak kemarin. Jadi kita tidak kelaparan saat banjir masih menggenang. Paling ini yang basah seperti kasur yang memang tidak sempat diangkut,” kisahnya.

Di sela wawancara, Sulaiman mengungkapkan harapannya kepada pemerintah. Warga asli Cempaka ini berharap bahwa ada perhatian lebih dari pemerintah untuk mengatasi ancaman banjir di wilayahnya.

“Pemerintah bisa peduli sama banjir ini, jangan dibiarkan seperti ini terus. Karena jujur kita masih khawatir kalau ada hujan lagi,” jujurnya.

Lurah Cempaka Banjarbaru, Junaidi membeberkan bahwa saat ini kondisi air di kawasan terdampak sudah normal. Warga dijelaskannya sudah beraktivitas pada umumnya.

“Alhamdulillah. Luapan air juga sudah turun sejak kemarin. Warga sudah kembali ke rumah masing-masing,” kata Lurah Junaidi.

Sejauh ini, sebut Juanidi belum ada warga yang melapor karena sakit. “Tidak ada (sakit). Untuk kerugian materil sepertinya juga tidak begitu besar, karena warga juga sudah terbiasa untuk menyelamatkan barangnya saat banjir,” jelasnya.

Menurutnya, dapur umum sangat efektif. Lantaran saat malam kemarin dan berlanjut ke pagi harinya warga belum optimal melakukan aktivitas masak. Sehingga bantuan logistik begitu dibutuhkan warga.

“Meski sekarang sudah normal. Saya tentu berharap bahwa tidak ada banjir susulan. Semoga tidak ada hujan deras. Saya juga sudah meminta warga untuk waspada apabila ada potensi luapan lagi,” ungkapnya.

Terpisah, Kepala Pelaksana BPBD Kota Banjarbaru, M Zaini membeberkan data kejadian banjir. Dalam laporannya, total ada tiga kecamatan yang terdampak banjir. Yakni Landasan Ulin, Banjarbaru Selatan, Liang Anggang dan terparah di Cempaka.

“Banjir pada Minggu (5/1) totalnya mengakibatkan 2.517 jiwa di Banjarbaru terdampak. Rinciannya Liang Anggang ada 38 Jiwa, Banjarbaru Selatan 706 jiwa, Landasan Ulin 32 Jiwa serta yang terparah Cempaka, yakni 1.714 jiwa,” rilisnya.

Untuk di Cempaka, ada 19 RT di dua kelurahan yang terdampak. Yakni di Kelurahan Cempaka serta Kelurahan Sungai Tiung. Kalau di kelurahan Cempaka 13 RT dan di Sungai Tiung ada 6 RT.

Dipastikan Zaini tidak ada korban jiwa dalam musibah tersebut. Namun untuk taksiran kerugian materil ia belum mendapat data pasti. “Masih belum bisa terdata,” katanya.

Saat ini tenda darurat yang sebelumnya dibangun di kawasan terdampak telah dicabut. Meski begitu, personel BPBD tetap disiagakan untuk memantau lokasi rawan.

“Kita tetap menyiagakan petugas dan juga dibantu relawan di sana (Cempaka),” pungkasnya.

Dalam musibah banjir kemarin, salah satu lorong di bawah Jembatan Basung di Jalan HM Cokrokusomo diperbincangkan. Sebab, kondisi lorong dinilai sangat sempit. Alhasil debit air sungai yang melalui lorong tersebut cukup terhambat.

Ainah, salah seorang warga Basung Cempaka berpendapat demikian. Pasalnya, ketika hujan turun, maka aliran sungai di Basung ujarnya kerap terhambat. Ia menilai air cepat meluap ke pemukiman warga di bantaran sungai tersebut.

“Apalagi kalau ada pohon nyangkut di sela-sela lorong. Biasanya aliran air bakal terhambat dan cepat meluber ke rumah warga karena tertahan. Seharusnya saya pikir bisa diperlebar atau diperluas lorongnya, jadi kalau debit air tinggi bisa lancar,” katanya.

Atas hal ini, Kepala Dinas PUPR Kota Banjarbaru, Jaya Kreshna mengkonfirmasi. Dijelaskannya bahwa karena letak jembatan tersebut berada di Jalan HM Cokrokusomo, maka wewenangnya berada di bawah Pemprov Kalsel.

“Itu jalan Provinsi. Memang kita di Pemko sudah pernah mengusulkan soal perluasan lorong tersebut. Tetapi mungkin belum ada anggaran untuk itu. Kalau pengusulannya sudah lama kita ajukan,” kata Jaya kemarin.

Soal infrastuktur untuk menanggulangi banjir, diklaim Jaya bahwa semua mulai berjalan baik. Mulai dari normalisasi sungai serta ada beberapa titik pelebaran sungai yang kerap berpotensi membuat cepat meluber.

“Intensitas hujan yang tinggi kemarin kita akui belum bisa menampung sepenuhnya. Tetapi ada pengeringan lebih cepat dibanding sebelum ada normalisasi dan juga embung. Ini memang masih jadi PR kita khususnya apabila intesitasnya tinggi, ya secara bertahap,” jawabnya. (rvn/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/