alexametrics
33.1 C
Banjarmasin
Senin, 16 Mei 2022

Banjir Cempaka: Terparah Sejak 2013

BANJARBARU – Intensitas hujan yang tinggi pada Minggu (5/1) dini hari, membuat empat kelurahan di Banjarbaru terendam banjir. Yakni, Kelurahan Cempaka dan Sungai Tiung di Kecamatan Cempaka. Kemudian Kelurahan Landasan Ulin Barat, Kecamatan Liang Anggang, dan Kemuning, Kecamatan Banjarbaru Selatan.

Dari empat kelurahan tersebut, banjir terparah berada di Kelurahan Cempaka dan Sungai Tiung. Di dua daerah yang bersebelahan ini, total ada 20 RT yang terendam banjir. Berdasarkan pantauan Radar Banjarmasin di lapangan, air yang merendam kawasan Cempaka cukup dalam dan arusnya lumayan deras. Di beberapa titik ketinggian airnya mencapai leher orang dewasa.

Selain itu, air juga menggenangi badan Jalan Mistar Cokrokusumo. Sehingga pengendara dari Banjarbaru yang ingin ke Pelaihari atau pun sebaliknya tidak bisa melintas. Pihak kepolisian pun terpaksa menutup jalan dan mengalihkan arus lalu lintas.

Salasiah, 39, salah seorang warga sekitar yang rumahnya turut terendam banjir mengatakan, air mulai naik menggenangi permukiman mereka pada pukul 06.00 Wita. “Naiknya sangat cepat. Arusnya juga deras,” katanya.

Dia mengungkapkan, air yang datang dengan tiba-tiba membuat warga sekitar tidak sempat mengeluarkan barang-barang di dalam rumah. “Paling cuma sempat memindahkan ke tempat yang lebih tinggi,” ungkapnya.

Menurutnya, musibah banjir kali ini menjadi yang terparah sejak tujuh tahun terakhir. “Terakhir banjir besar seperti ini terjadi sekitar tahun 2013 silam. Tahun lalu juga tidak terlalu parah,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Lurah Cempaka Junaidi. Dia mengatakan bahwa banjir yang terjadi di Cempaka kemarin merupakan yang terparah sejak 2013. “Malahan saya rasa lebih parah ini dibandingkan 2013 lalu,” bebernya.

Dia menyampaikan, banjir di Cempaka terjadi akibat tingginya curah hujan pada Minggu (5/1) dini hari. “Tingginya curah hujan membuat sungai tak mampu menampung air, sehingga air meluap ke permukiman,” ucapnya.

Diungkapkannya, berdasarkan hasil pendataan yang mereka lakukan ada sekitar 14 RT di Kelurahan Cempaka yang terendam banjir. “Alhamdulillah tidak ada korban jiwa,” ungkapnya.

Meski tak ada korban jiwa, Kepala Pelaksana BPBD Kalsel Wahyuddin menuturkan, ada sekitar 60 warga harus dievakuasi menggunakan perahu karet lantaran terjebak tingginya air. “Yang kami evakuasi anak-anak, lansia dan wanita. Ada juga dalam kondisi sakit, lalu kami bawa ke Puskesmas,” tuturnya.

Untuk bisa mengevakuasi para korban ada 10 perahu karet yang diturunkan. Lima milik BPBD Kalsel, dua milik Polri, satu milik BPBD Banjarbaru dan dua lagi dari Dinsos Kalsel. “Dinsos juga membuka dapur umum guna memasak makanan untuk para korban,” ujarnya. 

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Banjarbaru Zaini memaparkan, berdasarkan data sementara yang mereka himpun, banjir yang terjadi di Kecamatan Cempaka telah merendam 104 rumah dan 3 sekolah Paud. “Di Kelurahan Cempaka ada 70 rumah dan 3 Paud yang terendam. Sedangkan di Sungai Tiung ada 34 rumah,” paparnya.

Dia menambahkan, banyaknya rumah yang terendam membuat banjir di Cempaka menjadi yang terparah dibandingkan dengan di Liang Anggang dan Kemuning. “Kalau di Kemuning rumah yang terendam 55 buah, sementara di Liang Anggang air tidak sampai naik ke dalam rumah,” pungkasnya. (ris/tof/ema)

BANJARBARU – Intensitas hujan yang tinggi pada Minggu (5/1) dini hari, membuat empat kelurahan di Banjarbaru terendam banjir. Yakni, Kelurahan Cempaka dan Sungai Tiung di Kecamatan Cempaka. Kemudian Kelurahan Landasan Ulin Barat, Kecamatan Liang Anggang, dan Kemuning, Kecamatan Banjarbaru Selatan.

Dari empat kelurahan tersebut, banjir terparah berada di Kelurahan Cempaka dan Sungai Tiung. Di dua daerah yang bersebelahan ini, total ada 20 RT yang terendam banjir. Berdasarkan pantauan Radar Banjarmasin di lapangan, air yang merendam kawasan Cempaka cukup dalam dan arusnya lumayan deras. Di beberapa titik ketinggian airnya mencapai leher orang dewasa.

Selain itu, air juga menggenangi badan Jalan Mistar Cokrokusumo. Sehingga pengendara dari Banjarbaru yang ingin ke Pelaihari atau pun sebaliknya tidak bisa melintas. Pihak kepolisian pun terpaksa menutup jalan dan mengalihkan arus lalu lintas.

Salasiah, 39, salah seorang warga sekitar yang rumahnya turut terendam banjir mengatakan, air mulai naik menggenangi permukiman mereka pada pukul 06.00 Wita. “Naiknya sangat cepat. Arusnya juga deras,” katanya.

Dia mengungkapkan, air yang datang dengan tiba-tiba membuat warga sekitar tidak sempat mengeluarkan barang-barang di dalam rumah. “Paling cuma sempat memindahkan ke tempat yang lebih tinggi,” ungkapnya.

Menurutnya, musibah banjir kali ini menjadi yang terparah sejak tujuh tahun terakhir. “Terakhir banjir besar seperti ini terjadi sekitar tahun 2013 silam. Tahun lalu juga tidak terlalu parah,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Lurah Cempaka Junaidi. Dia mengatakan bahwa banjir yang terjadi di Cempaka kemarin merupakan yang terparah sejak 2013. “Malahan saya rasa lebih parah ini dibandingkan 2013 lalu,” bebernya.

Dia menyampaikan, banjir di Cempaka terjadi akibat tingginya curah hujan pada Minggu (5/1) dini hari. “Tingginya curah hujan membuat sungai tak mampu menampung air, sehingga air meluap ke permukiman,” ucapnya.

Diungkapkannya, berdasarkan hasil pendataan yang mereka lakukan ada sekitar 14 RT di Kelurahan Cempaka yang terendam banjir. “Alhamdulillah tidak ada korban jiwa,” ungkapnya.

Meski tak ada korban jiwa, Kepala Pelaksana BPBD Kalsel Wahyuddin menuturkan, ada sekitar 60 warga harus dievakuasi menggunakan perahu karet lantaran terjebak tingginya air. “Yang kami evakuasi anak-anak, lansia dan wanita. Ada juga dalam kondisi sakit, lalu kami bawa ke Puskesmas,” tuturnya.

Untuk bisa mengevakuasi para korban ada 10 perahu karet yang diturunkan. Lima milik BPBD Kalsel, dua milik Polri, satu milik BPBD Banjarbaru dan dua lagi dari Dinsos Kalsel. “Dinsos juga membuka dapur umum guna memasak makanan untuk para korban,” ujarnya. 

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Banjarbaru Zaini memaparkan, berdasarkan data sementara yang mereka himpun, banjir yang terjadi di Kecamatan Cempaka telah merendam 104 rumah dan 3 sekolah Paud. “Di Kelurahan Cempaka ada 70 rumah dan 3 Paud yang terendam. Sedangkan di Sungai Tiung ada 34 rumah,” paparnya.

Dia menambahkan, banyaknya rumah yang terendam membuat banjir di Cempaka menjadi yang terparah dibandingkan dengan di Liang Anggang dan Kemuning. “Kalau di Kemuning rumah yang terendam 55 buah, sementara di Liang Anggang air tidak sampai naik ke dalam rumah,” pungkasnya. (ris/tof/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/