alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Monday, 23 May 2022

Elektabilitas Yuni-Fajar Rendah, Muhidin Tetap Pilih Karmila

BANJARMASIN – Berbeda dengan Pilwali Banjarbaru yang sudah mulai terlihat dan terang-terangan, sementara Pilwali Banjarmasin masih seperti bola liar yang terus bergelinding tak tentu arahnya.

Kabar terbaru, Yuni Abdi Nur Sulaiman dikabarkan akan dipasangkan dengan Nurul Fajar Desira. Yuni, salah satu anak almarhum H Sulaiman HB, adalah politisi Golkar. Sementara, Fajar adalah birokrat Pemprov Kalsel yang memiliki kedekatan dengan mantan Wali Kota Banjarmasin, H Muhidin selaku Ketua DPW PAN Kalsel.

Keduanya disebut-sebut akan disandingkan dengan perahu Golkar dan PAN. Soal ini, langsung dibantah Muhidin. Mantan Wali Kota Banjarmasin itu menegaskan, dia tetap akan mengusung sang anak, Karmila, yang akan dipasangkan dengan Fajar.

Sejak lama dia sudah menyampaikan soal ini ke publik. Dan tak berubah hingga saat ini. “Untuk sementara tak ada perubahan, tetap Karmila yang akan diusung PAN,” ujar Muhidin melalui pesan WhatsApp kemarin.

Untuk mengusung calon wali kota, DPW PAN Banjarmasin memenuhi syarat mutlak. Memiliki 9 kursi di DPRD Banjarmasin, sejatinya PAN tak perlu koalisi lantaran memenuhi 20 persen dari 45 kursi DPRD Banjarmasin. “Ya sementara tak ada perubahan,” tulis Muhidin lagi.

Soal kabar Yuni yang akan dipasangkan dengan Fajar, membuat Ketua DPD Golkar Banjarmasin, Ananda sedikit terkejut. Nanda sendiri mengaku tengah berada di Seoul dan belum bisa berkomentar banyak.

Meski demikian Nanda mengaku akan legawa jika keputusan partai tak menunjuk dirinya untuk maju di Pilwali Banjarmasin. “Pada prinsipnya ulun (saya) tunduk pada keputusan partai,” ujarnya kemarin.

Ditanyakan apakah partai sudah mengeluarkan keputusan siapa yang dipilih, Nanda menyampaikan sampai saat ini belum ada keputusan partai soal ini. “Sekarang ini keputusannya belum ada,” tandasnya.

Terpisah, Fajar mengaku terkejut ketika namanya disebut akan mendampingi Yuni pada Pilwali Banjarmasin. Dimintai komentar soal ini, Kepala Bappeda Kalsel itu irit bicara. Menurutnya, saat ini dia masih fokus terkait pekerjaan yang diembannya saat ini. “Saat ini masih fokus dengan pekerjaan. Soal politik, apapun yang terjadi, saya siap,” ujar Fajar singkat.

Selain nama Fajar, nama Sekdaprov Kalsel, Abdul Haris juga sempat mencuat. Bahkan, kabarnya dia sempat meminang ke partai PAN untuk diusung pada Pilwali Banjarmasin. Ditanyakan soal namanya yang sempat mencuat tersebut, Haris sedikit pun tak  mau berkomentar. “No coment,” ucapnya singkat.

Mencuatnya nama Yuni yang akan dipasangkan dengan Fajar, menurut pengamat politik ULM Gazali Rahman tak perlu disikapi berlebihan. “Saat ini masih belum ada tanda-tanda. Kalaupun dipasangkan, apakah mereka berdua disetujui juga oleh internal partai,” ujar Gazali kemarin.

Berbicara elektabilitas keduanya pun, menurut Dosen FISIP ULM itu masih perlu pendekatan kepada konstituen. “Yang patut diingat, Pilwali berbarengan dengan Pilgub. Keduanya sangat berkaitan, terutama soal kepentingan dan skala prioritas yang akan diambil oleh partai politik sebagai lumbung suara dan eksistensi partai politik,” terang Gazali.

Sementara, pengamat politik UIN Antasari, Ani Cahyadi mengatakan, batas waktu jadwal penyerahan dukungan ke KPU sendiri masih panjang, yakni pada 23 Februari mendatang. Melihat durasi waktu tersebut, konstelasi politik masih bergerak sangat dinamis.

 “Sadar atau tidak sadar sekarang kita memasuki era politik oligarkhi, yang salah satu cirinya adalah bagi-bagi kue kekuasaan. Artinya kalau sudah memperoleh posisi di provinsi, tidak akan ngotot di kabupaten dan kota,” ujarnya.

Soal elektabilitas pasangan Yuni dengan Fajar, mengutip salah satu hasil survei internal partai politik, hasilnya masih rendah. Namun, menurutnya, dalam rumus pilkada, selama elektabilitas calon petahana di bawah 70 persen, masih ada peluang untuk dikalahkan. “Dan kebetulan dalam konteks Kalsel, baik gubernur atau pun wali kota, elektabilitasnya masih di bawah 70 persen,” sebutnya. (mof/tof/ema)

BANJARMASIN – Berbeda dengan Pilwali Banjarbaru yang sudah mulai terlihat dan terang-terangan, sementara Pilwali Banjarmasin masih seperti bola liar yang terus bergelinding tak tentu arahnya.

Kabar terbaru, Yuni Abdi Nur Sulaiman dikabarkan akan dipasangkan dengan Nurul Fajar Desira. Yuni, salah satu anak almarhum H Sulaiman HB, adalah politisi Golkar. Sementara, Fajar adalah birokrat Pemprov Kalsel yang memiliki kedekatan dengan mantan Wali Kota Banjarmasin, H Muhidin selaku Ketua DPW PAN Kalsel.

Keduanya disebut-sebut akan disandingkan dengan perahu Golkar dan PAN. Soal ini, langsung dibantah Muhidin. Mantan Wali Kota Banjarmasin itu menegaskan, dia tetap akan mengusung sang anak, Karmila, yang akan dipasangkan dengan Fajar.

Sejak lama dia sudah menyampaikan soal ini ke publik. Dan tak berubah hingga saat ini. “Untuk sementara tak ada perubahan, tetap Karmila yang akan diusung PAN,” ujar Muhidin melalui pesan WhatsApp kemarin.

Untuk mengusung calon wali kota, DPW PAN Banjarmasin memenuhi syarat mutlak. Memiliki 9 kursi di DPRD Banjarmasin, sejatinya PAN tak perlu koalisi lantaran memenuhi 20 persen dari 45 kursi DPRD Banjarmasin. “Ya sementara tak ada perubahan,” tulis Muhidin lagi.

Soal kabar Yuni yang akan dipasangkan dengan Fajar, membuat Ketua DPD Golkar Banjarmasin, Ananda sedikit terkejut. Nanda sendiri mengaku tengah berada di Seoul dan belum bisa berkomentar banyak.

Meski demikian Nanda mengaku akan legawa jika keputusan partai tak menunjuk dirinya untuk maju di Pilwali Banjarmasin. “Pada prinsipnya ulun (saya) tunduk pada keputusan partai,” ujarnya kemarin.

Ditanyakan apakah partai sudah mengeluarkan keputusan siapa yang dipilih, Nanda menyampaikan sampai saat ini belum ada keputusan partai soal ini. “Sekarang ini keputusannya belum ada,” tandasnya.

Terpisah, Fajar mengaku terkejut ketika namanya disebut akan mendampingi Yuni pada Pilwali Banjarmasin. Dimintai komentar soal ini, Kepala Bappeda Kalsel itu irit bicara. Menurutnya, saat ini dia masih fokus terkait pekerjaan yang diembannya saat ini. “Saat ini masih fokus dengan pekerjaan. Soal politik, apapun yang terjadi, saya siap,” ujar Fajar singkat.

Selain nama Fajar, nama Sekdaprov Kalsel, Abdul Haris juga sempat mencuat. Bahkan, kabarnya dia sempat meminang ke partai PAN untuk diusung pada Pilwali Banjarmasin. Ditanyakan soal namanya yang sempat mencuat tersebut, Haris sedikit pun tak  mau berkomentar. “No coment,” ucapnya singkat.

Mencuatnya nama Yuni yang akan dipasangkan dengan Fajar, menurut pengamat politik ULM Gazali Rahman tak perlu disikapi berlebihan. “Saat ini masih belum ada tanda-tanda. Kalaupun dipasangkan, apakah mereka berdua disetujui juga oleh internal partai,” ujar Gazali kemarin.

Berbicara elektabilitas keduanya pun, menurut Dosen FISIP ULM itu masih perlu pendekatan kepada konstituen. “Yang patut diingat, Pilwali berbarengan dengan Pilgub. Keduanya sangat berkaitan, terutama soal kepentingan dan skala prioritas yang akan diambil oleh partai politik sebagai lumbung suara dan eksistensi partai politik,” terang Gazali.

Sementara, pengamat politik UIN Antasari, Ani Cahyadi mengatakan, batas waktu jadwal penyerahan dukungan ke KPU sendiri masih panjang, yakni pada 23 Februari mendatang. Melihat durasi waktu tersebut, konstelasi politik masih bergerak sangat dinamis.

 “Sadar atau tidak sadar sekarang kita memasuki era politik oligarkhi, yang salah satu cirinya adalah bagi-bagi kue kekuasaan. Artinya kalau sudah memperoleh posisi di provinsi, tidak akan ngotot di kabupaten dan kota,” ujarnya.

Soal elektabilitas pasangan Yuni dengan Fajar, mengutip salah satu hasil survei internal partai politik, hasilnya masih rendah. Namun, menurutnya, dalam rumus pilkada, selama elektabilitas calon petahana di bawah 70 persen, masih ada peluang untuk dikalahkan. “Dan kebetulan dalam konteks Kalsel, baik gubernur atau pun wali kota, elektabilitasnya masih di bawah 70 persen,” sebutnya. (mof/tof/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/