alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Saturday, 21 May 2022

BANUA DARURAT BANJIR, Kejutannya Kata Warga Sudah Biasa….

BANJARMASIN- Hujan yang mengguyur dengan intensitas tinggi membuat sejumlah daerah di Kalimantan Selatan mulai direpotkan banjir.

Di Tapin, siswa-siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kupang 2 mengganti jadwal belajar dengan bermain air secara spontan. Hal ini karena sekolah mereka digenangi air pada hari pertama turun sekolah kemarin.

Satu persatu para siswa maupun siswi berdatangan. Beberapa pelampung besar dibawa anak-anak tersebut. Ada juga orang tua yang sengaja membawa anaknya untuk mandi di halaman sekolah.

“Asyik kalau banjir sekolah libur,” kata Ansari murid kelas 6 yang masih berumur 11 tahun.

Bustaniah, salah seorang guru memberitahukan bahwa sekolahnya memang langganan banjir. Kondisi ini membuat anak-anak akan dipulangkan dari aktivitas belajar.

“Kami takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Jadi, kalau ada genangan air otomatis tidak ada proses belajar mengajar,” ucap guru kelas 3 ini.

Orang tua yang menyekolahkan anaknya, di SD yang berada di Kelurahan Kupang Kecamatan Tapin Utara pun paham. Kalau sekolah tergenang air, mereka tidak memaksakan anaknya untuk turun.

“Sudah biasa kondisi seperti ini. Jadi, anak-anak yang jauh tidak bersekolah,” tuturnya.

Kondisi ini sudah dialami oleh pihak sekolah sejak beberapa tahun silam. Bahkan, saat itu ketinggian air bisa sampai pinggang orang dewasa.

Sementara Kepala SDN Kupang 2, Suryawati mengungkapkan kemarin hari pertama turun ke sekolah setelah libur semester. Sebenarnya bahkan ada jadwal pembagian raport.

“Pembagian rapot terpaksa tertunda besok,” pungkasnya, yang memberitahukan bahwa siswa di sekolahnya ada 127 orang.

Di Kabupaten Hulu Sungai Tengah beberapa kawasan di di bantaran sungai juga diluapi banjir.

Sebagai contoh, di Desa Pajukungan Kecamatan Barabai. Luapan air mencapai lutut orang dewasa. Beruntung, air hanya menyasar ke halaman beberapa rumah warga. Belum masuk ke dalam rumah. “Semoga saja tidak bertambah tinggi,” ucap salah seorang warga, Zainah.

Selain Desa Pajukungan, luapan air juga meliputi beberapa kawasan. Seperti misalnya di pinggir jalan simpang tiga Walangsi. Disusul kemudian di Desa Masiraan dan Desa Jaranih Kecamatan Pandawan.

Menurut penuturan salah satu warga lainnya, Yuni, luapan air memang kerap terjadi. Khususnya, setiap kali tiba musim penghujan.

“Sudah biasa dan kami cuma bisa bersabar. Kalau pun hujan deras, semoga tidak mengakibatkan luapan air yang cukup tinggi bahkan bisa membuat kebanjiran,” harapnya.

Terkait hal itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Hulu Sungai Tengah mengimbau masyarakat yang tinggal di bantaran sungai, untuk selalu waspada akan luapan air yang lebih besar.

“Kami akan terus memantau kondisi, mengingat intensitas curah hujan yang begitu tinggi dalam beberapa waktu terakhir. Semoga saja luapan air tidak sampai merengsek masuk ke dalam rumah warga,” tuntas Kepala Pelaksana BPBD HST, Budi Haryanto.

Guyuran hujan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir juga membuat volume air sungai Batang Balangan sedikit meningkat. Level ketinggian bahkan menyentuh sejumlah jembatan gantung.

Derasnya arus sungai yang menghantam jembatan, tak ayal membuat jembatan gantung antara Desa Sungai Tabuk dengan Desa Lampihong Kanan Kecamatan Lampihong agak miring.

Dari pantauan di lapangan, tiang penyangga tali sling jembatan terangkat sekitar 50 Cm, sehingga menyebabkan jembatan miring dan rawan untuk dilintasi.

Kasi Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Balangan, M Syuhada mengungkapkan, kondisi jembatan yang miring itu sudah dilaporkan ke dinas terkait untuk segera ditindaklanjuti sebelum memakan korban.

“Tindakan pertama kita hanya bisa memberikan imbauan kepada warga berupa tulisan agar berhati-hati kalau melintasi jembatan, bahkan kalau bisa jangan dilintasi dulu,” imbuhnya.

Salah seorang warga sekitar, Suhaimi mengaku tidak berani melintasi jembatan tersebut sejak kondisinya miring dan lebih memilih untuk mencari jalur alternatif yang lain. “Semoga cepat mendapat tindakan dari dinas terkait, supaya aktivitas warga tidak terganggu,” harapnya.

Pemprov Kalsel sendiri mengambil langkah cepat menetapkan status siaga darurat bencana banjir dan tanah longsor sejak kemarin.

Status siaga darurat bencana banjir dan tanah longsor ini ditetapkan hingga 30 April mendatang. “Kami tetapkan mulai hari ini (kemarin), setelah dirapatkan pada 30 Desember 2019 tadi,” beber Kepala BPBD Kalsel, Wahyuddin. 

Dia menjelaskan, pemprov menetapkan status siaga darurat banjir dan longsor ini menyusul 4 kabupaten di Kalsel yang sudah menetapkan lebih dulu status ini.

Dengan ditetapkannya status siaga darurat bencana banjir dan tanah longsor, maka baik personel, peralatan dan sistem komunikasi antar daerah dilakukan kesiapsiagaan.

BPBD Kalsel akan langsung menggelontorkan bantuan baik material maupun non material saat terjadi bencana. “Selama tiga hari kami akan bantu daruratnya dulu. Setelah itu baru Dinsos yang turun tangan,” paparnya. 

Dia menggarisbawahi bencana banjir yang akan dibantu seperti bencana banjir besar lintas kabupaten/kota. “Ada level penanganan. Provinsi akan turun ketika bencana tersebut besar. Akan tetapi, bukannya BPBD tak turun tangan, personel tetap diturunkan dan pendampingan,” terangnya.

Dibeberkan Ujud, anggaran tanggap darurat yang sudah dianggarkan melalui APBD Kalsel nilainya mencapai Rp900 juta. Nilai ini sebutnya jauh lebih kecil jika dibandingkan saat Karhutla lalu. Saat itu nilainya mencapai Rp1,2 miliar. (dly/war/why/mof/ay/ran/ema)

BANJARMASIN- Hujan yang mengguyur dengan intensitas tinggi membuat sejumlah daerah di Kalimantan Selatan mulai direpotkan banjir.

Di Tapin, siswa-siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kupang 2 mengganti jadwal belajar dengan bermain air secara spontan. Hal ini karena sekolah mereka digenangi air pada hari pertama turun sekolah kemarin.

Satu persatu para siswa maupun siswi berdatangan. Beberapa pelampung besar dibawa anak-anak tersebut. Ada juga orang tua yang sengaja membawa anaknya untuk mandi di halaman sekolah.

“Asyik kalau banjir sekolah libur,” kata Ansari murid kelas 6 yang masih berumur 11 tahun.

Bustaniah, salah seorang guru memberitahukan bahwa sekolahnya memang langganan banjir. Kondisi ini membuat anak-anak akan dipulangkan dari aktivitas belajar.

“Kami takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Jadi, kalau ada genangan air otomatis tidak ada proses belajar mengajar,” ucap guru kelas 3 ini.

Orang tua yang menyekolahkan anaknya, di SD yang berada di Kelurahan Kupang Kecamatan Tapin Utara pun paham. Kalau sekolah tergenang air, mereka tidak memaksakan anaknya untuk turun.

“Sudah biasa kondisi seperti ini. Jadi, anak-anak yang jauh tidak bersekolah,” tuturnya.

Kondisi ini sudah dialami oleh pihak sekolah sejak beberapa tahun silam. Bahkan, saat itu ketinggian air bisa sampai pinggang orang dewasa.

Sementara Kepala SDN Kupang 2, Suryawati mengungkapkan kemarin hari pertama turun ke sekolah setelah libur semester. Sebenarnya bahkan ada jadwal pembagian raport.

“Pembagian rapot terpaksa tertunda besok,” pungkasnya, yang memberitahukan bahwa siswa di sekolahnya ada 127 orang.

Di Kabupaten Hulu Sungai Tengah beberapa kawasan di di bantaran sungai juga diluapi banjir.

Sebagai contoh, di Desa Pajukungan Kecamatan Barabai. Luapan air mencapai lutut orang dewasa. Beruntung, air hanya menyasar ke halaman beberapa rumah warga. Belum masuk ke dalam rumah. “Semoga saja tidak bertambah tinggi,” ucap salah seorang warga, Zainah.

Selain Desa Pajukungan, luapan air juga meliputi beberapa kawasan. Seperti misalnya di pinggir jalan simpang tiga Walangsi. Disusul kemudian di Desa Masiraan dan Desa Jaranih Kecamatan Pandawan.

Menurut penuturan salah satu warga lainnya, Yuni, luapan air memang kerap terjadi. Khususnya, setiap kali tiba musim penghujan.

“Sudah biasa dan kami cuma bisa bersabar. Kalau pun hujan deras, semoga tidak mengakibatkan luapan air yang cukup tinggi bahkan bisa membuat kebanjiran,” harapnya.

Terkait hal itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Hulu Sungai Tengah mengimbau masyarakat yang tinggal di bantaran sungai, untuk selalu waspada akan luapan air yang lebih besar.

“Kami akan terus memantau kondisi, mengingat intensitas curah hujan yang begitu tinggi dalam beberapa waktu terakhir. Semoga saja luapan air tidak sampai merengsek masuk ke dalam rumah warga,” tuntas Kepala Pelaksana BPBD HST, Budi Haryanto.

Guyuran hujan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir juga membuat volume air sungai Batang Balangan sedikit meningkat. Level ketinggian bahkan menyentuh sejumlah jembatan gantung.

Derasnya arus sungai yang menghantam jembatan, tak ayal membuat jembatan gantung antara Desa Sungai Tabuk dengan Desa Lampihong Kanan Kecamatan Lampihong agak miring.

Dari pantauan di lapangan, tiang penyangga tali sling jembatan terangkat sekitar 50 Cm, sehingga menyebabkan jembatan miring dan rawan untuk dilintasi.

Kasi Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Balangan, M Syuhada mengungkapkan, kondisi jembatan yang miring itu sudah dilaporkan ke dinas terkait untuk segera ditindaklanjuti sebelum memakan korban.

“Tindakan pertama kita hanya bisa memberikan imbauan kepada warga berupa tulisan agar berhati-hati kalau melintasi jembatan, bahkan kalau bisa jangan dilintasi dulu,” imbuhnya.

Salah seorang warga sekitar, Suhaimi mengaku tidak berani melintasi jembatan tersebut sejak kondisinya miring dan lebih memilih untuk mencari jalur alternatif yang lain. “Semoga cepat mendapat tindakan dari dinas terkait, supaya aktivitas warga tidak terganggu,” harapnya.

Pemprov Kalsel sendiri mengambil langkah cepat menetapkan status siaga darurat bencana banjir dan tanah longsor sejak kemarin.

Status siaga darurat bencana banjir dan tanah longsor ini ditetapkan hingga 30 April mendatang. “Kami tetapkan mulai hari ini (kemarin), setelah dirapatkan pada 30 Desember 2019 tadi,” beber Kepala BPBD Kalsel, Wahyuddin. 

Dia menjelaskan, pemprov menetapkan status siaga darurat banjir dan longsor ini menyusul 4 kabupaten di Kalsel yang sudah menetapkan lebih dulu status ini.

Dengan ditetapkannya status siaga darurat bencana banjir dan tanah longsor, maka baik personel, peralatan dan sistem komunikasi antar daerah dilakukan kesiapsiagaan.

BPBD Kalsel akan langsung menggelontorkan bantuan baik material maupun non material saat terjadi bencana. “Selama tiga hari kami akan bantu daruratnya dulu. Setelah itu baru Dinsos yang turun tangan,” paparnya. 

Dia menggarisbawahi bencana banjir yang akan dibantu seperti bencana banjir besar lintas kabupaten/kota. “Ada level penanganan. Provinsi akan turun ketika bencana tersebut besar. Akan tetapi, bukannya BPBD tak turun tangan, personel tetap diturunkan dan pendampingan,” terangnya.

Dibeberkan Ujud, anggaran tanggap darurat yang sudah dianggarkan melalui APBD Kalsel nilainya mencapai Rp900 juta. Nilai ini sebutnya jauh lebih kecil jika dibandingkan saat Karhutla lalu. Saat itu nilainya mencapai Rp1,2 miliar. (dly/war/why/mof/ay/ran/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/