alexametrics
26.1 C
Banjarmasin
Senin, 16 Mei 2022

Tahun Depan Kirim Sampah ke Banjarbaru

BANJARMASIN – Sekalipun ada pengurangan sampah kantong plastik di ritel modern, tetap saja sampah masih menjadi momok bagi Banjarmasin. Yang terancam adalah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Basirih.

Kabid Kebersihan dan Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup Banjarmasin Marzuki mengungkapkan, daya tampung TPA di Jalan Gubernur Soebarjo itu semakin mengecil. Lantaran tiap hari dimasuki 500 sampai 600 ton sampah.

DLH bahkan sudah punya prediksi. Lima tahun ke depan TPA Basirih akan overload. Tak mungkin lagi dijejali sampah. “Karena sudah penuh dan kehabisan daya tampung,” katanya.

TPA di Banjarmasin Selatan itu satu-satunya tempat pembuangan terakhir yang dimiliki Banjarmasin. Ada yang namanya TPA Banjarbakula, tapi tak bisa dimaksimalkan. Aksesnya terlalu jauh. Butuh armada khusus untuk ke sana.

Apakah TPA Basirih terlalu kecil? Tidak juga. Kawasan ini memiliki luas sekitar 40 hektare. Tapi sekarang cuma tersisa 10 hektare, 30 hektare lainnya sudah penuh gunungan sampah.

“Sekarang kami terus berupaya mengurangi sampah. Termasuk dengan adanya Perwali tentang larangan penggunaan kantong plastik di ritel,” sebutnya.

Selain itu, pemko juga tetap mengandalkan TPA Regional di Banjarbaru. Untuk mengirim sampah ke sana, pemko mesti membayar retribusi Rp65 ribu per ton.

“Tahun depan rencananya mulai dikirim ke TPA Regional. Biaya retribusinya juga sudah disediakan. Walau cukup jauh, tetap harus dimanfaatkan,” tuturnya.

Terlepas dari itu, Marzuki sadar. Upaya ini hanya solusi jangka pendek. Ditegaskannya, butuh kesadaran masyarakat untuk turut berperan dalam mengurangi sampah. Setidaknya dimulai dari rumah masing-masing. (nur/at/fud)

BANJARMASIN – Sekalipun ada pengurangan sampah kantong plastik di ritel modern, tetap saja sampah masih menjadi momok bagi Banjarmasin. Yang terancam adalah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Basirih.

Kabid Kebersihan dan Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup Banjarmasin Marzuki mengungkapkan, daya tampung TPA di Jalan Gubernur Soebarjo itu semakin mengecil. Lantaran tiap hari dimasuki 500 sampai 600 ton sampah.

DLH bahkan sudah punya prediksi. Lima tahun ke depan TPA Basirih akan overload. Tak mungkin lagi dijejali sampah. “Karena sudah penuh dan kehabisan daya tampung,” katanya.

TPA di Banjarmasin Selatan itu satu-satunya tempat pembuangan terakhir yang dimiliki Banjarmasin. Ada yang namanya TPA Banjarbakula, tapi tak bisa dimaksimalkan. Aksesnya terlalu jauh. Butuh armada khusus untuk ke sana.

Apakah TPA Basirih terlalu kecil? Tidak juga. Kawasan ini memiliki luas sekitar 40 hektare. Tapi sekarang cuma tersisa 10 hektare, 30 hektare lainnya sudah penuh gunungan sampah.

“Sekarang kami terus berupaya mengurangi sampah. Termasuk dengan adanya Perwali tentang larangan penggunaan kantong plastik di ritel,” sebutnya.

Selain itu, pemko juga tetap mengandalkan TPA Regional di Banjarbaru. Untuk mengirim sampah ke sana, pemko mesti membayar retribusi Rp65 ribu per ton.

“Tahun depan rencananya mulai dikirim ke TPA Regional. Biaya retribusinya juga sudah disediakan. Walau cukup jauh, tetap harus dimanfaatkan,” tuturnya.

Terlepas dari itu, Marzuki sadar. Upaya ini hanya solusi jangka pendek. Ditegaskannya, butuh kesadaran masyarakat untuk turut berperan dalam mengurangi sampah. Setidaknya dimulai dari rumah masing-masing. (nur/at/fud)

Most Read

Artikel Terbaru

/