alexametrics
31.1 C
Banjarmasin
Monday, 23 May 2022

Kebakaran Terhebat dalam Sejarah Sebuku, Warga Kaitkan dengan Mitos Api

Sahriah bermimpi. Desanya didatangi banyak sekali orang berbaju merah. Seperti pasukan. Sehari setelah bermimpi, desanya hangus dihantam si jago merah.

KOTABARU – “Kakak saya mimpi begitu kemarin. Cuma gak tahu kalau itu pertanda,” ujar Jamilah, perempuan tua yang rumahnya rata dengan tanah kepada Radar Banjarmasin, Minggu (24/11) siang kemarin.

Di malam naas itu, Sabtu (23/11) sekitar pukul 22.00, Jamilah yang berada di rumah anaknya mendengar panik di luar. Ia pun berlari. Tepat di dekat rumahnya, di RT 1 Desa Sungai Bali Kecamatan Pulau Sebuku, api menjilat tinggi ke angkasa.

“Tinggi sekali. Dan besar apinya,” kenang Jamilah.

Ia pun berlari ke arah api. Ingin menyelamatkan. Namun tak kuasa. Kemarau, rumah kayu yang saling berdempetan membuatnya pasrah. Api mengamuk sejadi-jadinya, dalam waktu singkat.

Sekitar 300 meter dari sana, Kapolsek Pulau Sebuku Iptu Tumbur Sirait sibuk mengerahkan personelnya. Ia pun tak lupa mengontak atasan di pusat kota.

Seorang warga mengatakan, sudah 70 tahun tinggal di sana. Baru melihat api sehebat itu mengamuk di pulau kecil, sekitar satu jam perjalanan dari pusat kota kabupaten menggunakan speedboat itu.

Tumbur Sirait pucat pasi. Dia tahu persis, tidak ada pemadam di sana. Hanya ada milik perusahaan tambang batubara dan bijih besi.Bukan hanya itu, air pun tak ada. Kemarau membuat sungai mengering. Sumber air yang bisa diambil jaraknya cukup jauh. Tinggal air laut jadi pilihan.

“Tapi saat itu surut sekali air laut. Pasang baru mulai jam 11 malam,” kata Tumbur.

Tidak lama datang mobil pemadam dari perusahaan. Membawa air laut, dari pelabuhan terjauh. Air disemprotkan. Hampir tak ada guna.

“Ngeri apinya,” kenang Badaruddin warga di sana.

Air habis, pemadam jalan lagi. Jauh. Air belum pasang. Tangis terdengar riuh. Teriakan minta tolong sahut-sahutan. Badaruddin berkata, ia melihat beberapa orang berlari dari rumah tanpa sempat membawa apa-apa selain yang melekat di badan.

Beruntung sedikit, sinyal internet bagus di sana. Kabar cepat viral di sosial media. Pemadam di pusat kota, kalang-kabut. Berebut ke pelabuhan, adu cepat cari kapal. Sayang, sedikit yang kebagian speedboat.

Para pemadam senior yang tergabung di Pemadam 234 dan Rahel berhasil masuk. Apa yang mereka saksikan membuat bergidik.

Api melebar semakin luas. Kapolsek Tumbur Sirait dengan mata kepalanya sendiri melihat kantornya dilalap habis tanpa sisa. Alat berat tidak sempat membentengi areal kantornya. Bahkan operator alat berat nyaris tewas saat berjibaku di lapangan dan rodanya terjebak lubang. Beruntung operator cepat kabur.

Alat berat itu pun dilalap api. Kacanya pecah. Bannya hangus.

Namun semua tetap berjibaku. Alat berat lainnya dikerahkan membuat batasan di tepi desa. Rumah yang terlanjur dilalap, digusur, puingnya dilempar ke tengah api.

Asap mencekik tenggorokan mereka yang berada di dekat api. Panasnya terasa melingkupi desa. Warga berlarian ke atas gunung.

Dahsyatnya api bisa dibayangkan: pukul 03.30 baru padam sepenuhnya. Artinya api mengamuk selama 7,5 jam. “Semua rata dengan tanah. Seperti di Palu,” ujar seorang anggota pemadam dari Rahel pagi harinya.

Bahkan siang kemarin, dari pantauan Radar Banjarmasin masih ada kayu-kayu yang menyala. Alat berat masih beraksi membersihkan puing. Di tengah-tengah berdiri dinding masjid, hanya itu yang tersisa.

Hampir berbarengan pagi kemarin, Bupati Sayed Jafar, Kapolres AKBP Andi Adnan Syafruddin, Danlanal Letkol Guruh Dwi Yudhanto datang ke lokasi. Juga datang Bupati Tanah Bumbu Sudian Noor, ia datang karena banyak keluarganya di sana.

Semua potensi dikerahkan unsur Muspida menanggulangi pasca kebakaran. Sedikitnya terdata 200 rumah ludes. Dan sebanyak 750 jiwa mengungsi. Total ada empat RT yang terdampak.

Itu kebakaran hebat yang pernah dialami Pulau Sebuku. “Ke depan semua desa harus ada pemadam. Utamanya yang portabel itu. Ini harus kita upayakan bersama,” kata Sayed Jafar.

Bantuan terus mengalir. Baik dari pemerintah, TNI dan Polri. Juga beberapa perusahaan, seperti Jhonline Group, SILO, BKW dan Sakari Group.

Anggota Komisi I DPRD Kotabaru M Luthfi Ali mengatakan, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan semua pihak. Agar bantuan terus mengalir ke Pulau Sebuku.

“Juga itu, untuk pemadam tiap desa. Kita akan segera berkoordinasi dengan pemerintah,” ujarnya.

Kepala BPBD Rusian Ahmadi Jaya mengatakan, bantuan yang sangat diperlukan warga berupa air bersih. Makanan, pakaian, obat-obatan dan tenda darurat.

“Tidak ada korban jiwa. Namun obat-obatan sangat kami perlukan,” tegasnya.

Warga Kaitkan dengan Mitos Api 

Entah mengapa, jelang akhir tahun, Kotabaru dalam beberapa tahun terakhir selalu diamuk api. Mitosnya sudah lama beredar: itu karena nama Kotabaru.

“Namanya sih Kotabaru, makanya mau baru terus,” kata Rapi warga yang tinggal di pusat kota.

Sebelum amuk si jago merah di Sebuku, beberapa hari sebelumnya, ratusan kios di pasar harian juga ludes.

Akhir tahun 2018, tepatnya di bulan September. Sebanyak 409 toko dan 110 lapak hangus terbakar.

Paling sering terbakar pasar. Di Pulau Sebuku terbakar juga sebagian adalah pasar.

Faktanya adalah. Lokasi-lokasi terbakar itu merupakan kawasan padat, bangunan mayoritas dari kayu. Dipeparah dengan jaringan listrik yang acak kadut.

Kerugian besar biasanya timbul karena, pemadam kesulitan masuk ke lokasi. (zal/ran/ema)

Sahriah bermimpi. Desanya didatangi banyak sekali orang berbaju merah. Seperti pasukan. Sehari setelah bermimpi, desanya hangus dihantam si jago merah.

KOTABARU – “Kakak saya mimpi begitu kemarin. Cuma gak tahu kalau itu pertanda,” ujar Jamilah, perempuan tua yang rumahnya rata dengan tanah kepada Radar Banjarmasin, Minggu (24/11) siang kemarin.

Di malam naas itu, Sabtu (23/11) sekitar pukul 22.00, Jamilah yang berada di rumah anaknya mendengar panik di luar. Ia pun berlari. Tepat di dekat rumahnya, di RT 1 Desa Sungai Bali Kecamatan Pulau Sebuku, api menjilat tinggi ke angkasa.

“Tinggi sekali. Dan besar apinya,” kenang Jamilah.

Ia pun berlari ke arah api. Ingin menyelamatkan. Namun tak kuasa. Kemarau, rumah kayu yang saling berdempetan membuatnya pasrah. Api mengamuk sejadi-jadinya, dalam waktu singkat.

Sekitar 300 meter dari sana, Kapolsek Pulau Sebuku Iptu Tumbur Sirait sibuk mengerahkan personelnya. Ia pun tak lupa mengontak atasan di pusat kota.

Seorang warga mengatakan, sudah 70 tahun tinggal di sana. Baru melihat api sehebat itu mengamuk di pulau kecil, sekitar satu jam perjalanan dari pusat kota kabupaten menggunakan speedboat itu.

Tumbur Sirait pucat pasi. Dia tahu persis, tidak ada pemadam di sana. Hanya ada milik perusahaan tambang batubara dan bijih besi.Bukan hanya itu, air pun tak ada. Kemarau membuat sungai mengering. Sumber air yang bisa diambil jaraknya cukup jauh. Tinggal air laut jadi pilihan.

“Tapi saat itu surut sekali air laut. Pasang baru mulai jam 11 malam,” kata Tumbur.

Tidak lama datang mobil pemadam dari perusahaan. Membawa air laut, dari pelabuhan terjauh. Air disemprotkan. Hampir tak ada guna.

“Ngeri apinya,” kenang Badaruddin warga di sana.

Air habis, pemadam jalan lagi. Jauh. Air belum pasang. Tangis terdengar riuh. Teriakan minta tolong sahut-sahutan. Badaruddin berkata, ia melihat beberapa orang berlari dari rumah tanpa sempat membawa apa-apa selain yang melekat di badan.

Beruntung sedikit, sinyal internet bagus di sana. Kabar cepat viral di sosial media. Pemadam di pusat kota, kalang-kabut. Berebut ke pelabuhan, adu cepat cari kapal. Sayang, sedikit yang kebagian speedboat.

Para pemadam senior yang tergabung di Pemadam 234 dan Rahel berhasil masuk. Apa yang mereka saksikan membuat bergidik.

Api melebar semakin luas. Kapolsek Tumbur Sirait dengan mata kepalanya sendiri melihat kantornya dilalap habis tanpa sisa. Alat berat tidak sempat membentengi areal kantornya. Bahkan operator alat berat nyaris tewas saat berjibaku di lapangan dan rodanya terjebak lubang. Beruntung operator cepat kabur.

Alat berat itu pun dilalap api. Kacanya pecah. Bannya hangus.

Namun semua tetap berjibaku. Alat berat lainnya dikerahkan membuat batasan di tepi desa. Rumah yang terlanjur dilalap, digusur, puingnya dilempar ke tengah api.

Asap mencekik tenggorokan mereka yang berada di dekat api. Panasnya terasa melingkupi desa. Warga berlarian ke atas gunung.

Dahsyatnya api bisa dibayangkan: pukul 03.30 baru padam sepenuhnya. Artinya api mengamuk selama 7,5 jam. “Semua rata dengan tanah. Seperti di Palu,” ujar seorang anggota pemadam dari Rahel pagi harinya.

Bahkan siang kemarin, dari pantauan Radar Banjarmasin masih ada kayu-kayu yang menyala. Alat berat masih beraksi membersihkan puing. Di tengah-tengah berdiri dinding masjid, hanya itu yang tersisa.

Hampir berbarengan pagi kemarin, Bupati Sayed Jafar, Kapolres AKBP Andi Adnan Syafruddin, Danlanal Letkol Guruh Dwi Yudhanto datang ke lokasi. Juga datang Bupati Tanah Bumbu Sudian Noor, ia datang karena banyak keluarganya di sana.

Semua potensi dikerahkan unsur Muspida menanggulangi pasca kebakaran. Sedikitnya terdata 200 rumah ludes. Dan sebanyak 750 jiwa mengungsi. Total ada empat RT yang terdampak.

Itu kebakaran hebat yang pernah dialami Pulau Sebuku. “Ke depan semua desa harus ada pemadam. Utamanya yang portabel itu. Ini harus kita upayakan bersama,” kata Sayed Jafar.

Bantuan terus mengalir. Baik dari pemerintah, TNI dan Polri. Juga beberapa perusahaan, seperti Jhonline Group, SILO, BKW dan Sakari Group.

Anggota Komisi I DPRD Kotabaru M Luthfi Ali mengatakan, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan semua pihak. Agar bantuan terus mengalir ke Pulau Sebuku.

“Juga itu, untuk pemadam tiap desa. Kita akan segera berkoordinasi dengan pemerintah,” ujarnya.

Kepala BPBD Rusian Ahmadi Jaya mengatakan, bantuan yang sangat diperlukan warga berupa air bersih. Makanan, pakaian, obat-obatan dan tenda darurat.

“Tidak ada korban jiwa. Namun obat-obatan sangat kami perlukan,” tegasnya.

Warga Kaitkan dengan Mitos Api 

Entah mengapa, jelang akhir tahun, Kotabaru dalam beberapa tahun terakhir selalu diamuk api. Mitosnya sudah lama beredar: itu karena nama Kotabaru.

“Namanya sih Kotabaru, makanya mau baru terus,” kata Rapi warga yang tinggal di pusat kota.

Sebelum amuk si jago merah di Sebuku, beberapa hari sebelumnya, ratusan kios di pasar harian juga ludes.

Akhir tahun 2018, tepatnya di bulan September. Sebanyak 409 toko dan 110 lapak hangus terbakar.

Paling sering terbakar pasar. Di Pulau Sebuku terbakar juga sebagian adalah pasar.

Faktanya adalah. Lokasi-lokasi terbakar itu merupakan kawasan padat, bangunan mayoritas dari kayu. Dipeparah dengan jaringan listrik yang acak kadut.

Kerugian besar biasanya timbul karena, pemadam kesulitan masuk ke lokasi. (zal/ran/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

Pikap Tabrak Pohon, Sopir Terjepit

BPK adalah Aset Kota

Keluarga Sudah Ikhlas

Izin Kafe, Isi Karaoke

Dompet dan Handphone Sasaran Copet

/