alexametrics
27.1 C
Banjarmasin
Sunday, 22 May 2022

331 Rumah Rusak Diterjang Angin, Kalsel Berada Dalam Cuaca Ekstrem

BANJARBARU – Sejak memasuki peralihan musim dari kemarau ke hujan, angin puting beliung marak terjadi di sejumlah daerah di Kalsel. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel mencatat sejak Oktober hingga November 2019 sudah ada tujuh kali kejadian angina keras menyapu permukiman.

Kepala BPBD Kalsel Wahyuddin mengatakan, musibah angin puting beliung pada masa pancaroba mulai sering terjadi sejak pekan terakhir Oktober. Di mana saat itu sejumlah rumah di Kabupaten Barito Kuala (batola) porak poranda akibat diterjang angin.

“Setelah di Batola. Puting Beliung juga dua kali terjadi di Kabupaten Banjar. Kemudian di Balangan satu kali dan di Batola ada lagi tiga kali. Jadi total sudah ada tujuh kali kejadian,” katanya, kemarin.

Akibat tujuh kejadian itu, dia mengungkapkan, total ada puluhan rumah rusak. Di mana, yang paling banyak berada di Batola. “Pada kejadian Minggu (17/11) sore saja 56 buah rumah rusak di Batola,” ungkapnya.

Lanjutnya, semakin banyaknya musibah puting beliung yang terjadi pada masa peralihan musim saat ini. Membuat jumlah rumah rusak lantaran diterjang angin di Banua sejak Januari hingga November 2019 menjadi 331 unit. “Kalau jumlah kejadian sejak Januari sampai sekarang sudah ada 81. Paling banyak di Kabupaten Banjar dengan total 19 kejadian,” bebernya.

Sedangkan, daerah paling banyak ditemukan rumah rusak karena diterjang angin puting beliung yakni Kabupaten Tanah Laut dengan total 86 unit. “Terbanyak kedua di Batola, sudah 80 rumah rusak di sana lantaran diterjang angin,” kata Wahyuddin.

Dia menyampaikan, saat ini BPBD Kalsel bersama BPBD di daerah mulai waspada dengan cuaca akhir-akhir ini yang kurang bersahabat dan mengakibatkan munculnya angin kencang. “Sejak Oktober mulai marak terjadi angin puting beliung, jadi kita semakin waspada,” ucapnya.

Selain semakin waspada, pria yang akrab disapa Ujud ini menuturkan bahwa dalam waktu dekat juga akan dibentuk Satgas Banjir. Guna mengantisipasi tiga jenis bencana. Yakni,banjir, longsor dan puting beliung. “Nanti kami juga membuat surat edaran untuk bupati dan walikota agar melakukan antisipasi bencana,” bebernya.

Antisipasi yang dia maksud yaitu, mengerahkan personel dan peralatan dari SKPD terkait masing-masing daerah untuk membantu masyarakat yang terkena musibah. “Selain itu, antisipasi juga dilakukan dengan cara memperbaiki saluran air, supaya terhindar dari banjir,” ujar Wahyuddin.

Secara terpisah, Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas II Syamsudin Noor, Bayu Kencana Putra menjelaskan, mulai banyaknya kejadian angin puting beliung lantaran saat ini Kalsel sedang berada dalam cuaca ekstrem. “Ciri-ciri cuaca ekstrem yang ditimbulkan saat musim peralihan yaitu puting beliung, thunderstorm dan angin kencang. Seperti halnya saat ini,” jelasnya.

Terkait kondisi cuaca, dia memaparkan, pola angin di wilayah Kalimantan Selatan dalam sepekan terakhir sebagian besar membentuk pola divergen. Hal itu diakibatkan oleh banyaknya anomali atau gangguan cuaca, seperti adanya beberapa siklon tropis dan daerah tekanan rendah di wilayah Laut Filipina hingga Laut Cina Selatan.

“Kondisi itu menyebabkan kelembaban udara atmosfer lapisan atas wilayah Kalimantan Selatan menjadi kering. Sehingga cuaca umum yang terjadi di wilayah Kalsel adalah cerah berawan di pagi hingga siang hari, dan pada siang hingga sore hari diprediksikan hujan,” pungkasnya. (ris/ran/ema)

BANJARBARU – Sejak memasuki peralihan musim dari kemarau ke hujan, angin puting beliung marak terjadi di sejumlah daerah di Kalsel. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel mencatat sejak Oktober hingga November 2019 sudah ada tujuh kali kejadian angina keras menyapu permukiman.

Kepala BPBD Kalsel Wahyuddin mengatakan, musibah angin puting beliung pada masa pancaroba mulai sering terjadi sejak pekan terakhir Oktober. Di mana saat itu sejumlah rumah di Kabupaten Barito Kuala (batola) porak poranda akibat diterjang angin.

“Setelah di Batola. Puting Beliung juga dua kali terjadi di Kabupaten Banjar. Kemudian di Balangan satu kali dan di Batola ada lagi tiga kali. Jadi total sudah ada tujuh kali kejadian,” katanya, kemarin.

Akibat tujuh kejadian itu, dia mengungkapkan, total ada puluhan rumah rusak. Di mana, yang paling banyak berada di Batola. “Pada kejadian Minggu (17/11) sore saja 56 buah rumah rusak di Batola,” ungkapnya.

Lanjutnya, semakin banyaknya musibah puting beliung yang terjadi pada masa peralihan musim saat ini. Membuat jumlah rumah rusak lantaran diterjang angin di Banua sejak Januari hingga November 2019 menjadi 331 unit. “Kalau jumlah kejadian sejak Januari sampai sekarang sudah ada 81. Paling banyak di Kabupaten Banjar dengan total 19 kejadian,” bebernya.

Sedangkan, daerah paling banyak ditemukan rumah rusak karena diterjang angin puting beliung yakni Kabupaten Tanah Laut dengan total 86 unit. “Terbanyak kedua di Batola, sudah 80 rumah rusak di sana lantaran diterjang angin,” kata Wahyuddin.

Dia menyampaikan, saat ini BPBD Kalsel bersama BPBD di daerah mulai waspada dengan cuaca akhir-akhir ini yang kurang bersahabat dan mengakibatkan munculnya angin kencang. “Sejak Oktober mulai marak terjadi angin puting beliung, jadi kita semakin waspada,” ucapnya.

Selain semakin waspada, pria yang akrab disapa Ujud ini menuturkan bahwa dalam waktu dekat juga akan dibentuk Satgas Banjir. Guna mengantisipasi tiga jenis bencana. Yakni,banjir, longsor dan puting beliung. “Nanti kami juga membuat surat edaran untuk bupati dan walikota agar melakukan antisipasi bencana,” bebernya.

Antisipasi yang dia maksud yaitu, mengerahkan personel dan peralatan dari SKPD terkait masing-masing daerah untuk membantu masyarakat yang terkena musibah. “Selain itu, antisipasi juga dilakukan dengan cara memperbaiki saluran air, supaya terhindar dari banjir,” ujar Wahyuddin.

Secara terpisah, Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas II Syamsudin Noor, Bayu Kencana Putra menjelaskan, mulai banyaknya kejadian angin puting beliung lantaran saat ini Kalsel sedang berada dalam cuaca ekstrem. “Ciri-ciri cuaca ekstrem yang ditimbulkan saat musim peralihan yaitu puting beliung, thunderstorm dan angin kencang. Seperti halnya saat ini,” jelasnya.

Terkait kondisi cuaca, dia memaparkan, pola angin di wilayah Kalimantan Selatan dalam sepekan terakhir sebagian besar membentuk pola divergen. Hal itu diakibatkan oleh banyaknya anomali atau gangguan cuaca, seperti adanya beberapa siklon tropis dan daerah tekanan rendah di wilayah Laut Filipina hingga Laut Cina Selatan.

“Kondisi itu menyebabkan kelembaban udara atmosfer lapisan atas wilayah Kalimantan Selatan menjadi kering. Sehingga cuaca umum yang terjadi di wilayah Kalsel adalah cerah berawan di pagi hingga siang hari, dan pada siang hingga sore hari diprediksikan hujan,” pungkasnya. (ris/ran/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/