alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Friday, 20 May 2022

RS Ulin Empot-empotan, BPJS Masih Ngutang Rp85 Miliar, Kapan Dibayarnya Tak Bisa Dipastikan

BANJARMASIN – Sempat bernapas lega saat klaimnya dibayar, keuangan RSUD Ulin Banjarmasin kembali empot-empotan. Wajar saja, dari Juli hingga Oktober, klaim BPJS Kesehatan belum dibayarkan di rumah sakit ini nilainya mencapai Rp85 miliar.

Direktur RSUD Ulin Banjarmasin, Suciati mengaku, keuangan pihaknya jika tak dibayarkan hingga akhir November ini sudah tak mencukupi untuk membayar tagihan obat-obatan dan makan pasien. “Kami betul-betul mengencangkan ikat pinggang. Keuangan sudah mulai berpengaruh,” ucap Suci kemarin.

Dia merinci, klaim tagihan yang belum dibayar bulan Juli nilainya sebesar Rp31 miliar, bulan Agustus sebesar Rp28 miliar, dan sebesar Rp26 miliar untuk klaim bulan Oktober. Suci mengungkapkan, deposito pihaknya bahkan sudah habis untuk menutup biaya operasional rumah sakit. “Dibayar sebulan saja syukur. Apalagi jika dibayar sampai dua bulan,” keluhnya.

Suci tetap ngotot tak mau memakai opsi pinjam ke bank sesuai yang disarankan BPJS Kesehatan. “Saya tetap tak mau. Yang tanggung jawab mereka. Bukan kami yang malah meminjam,” tegasnya.

Dia sangat berharap ada klaim yang dibayarkan dalam bulan ini, sehingga dapat menutupi persoalan keuangan hingga awal tahun 2020. “Kalau dibayar dua bulan, keuangan kami bisa bertahan sampai Februari tahun depan,” sebut Suci.

Sebelumnya, BPJS Kesehatan sudah membayar tagihan bulan Juni yang sempat tertunda pada akhir Oktober lalu. Nilai yang dibayarkan ke RSUD Ulin sebesar Rp22 miliar. Menurut Suci, pembayaran tersebut sangat membantu keuangan rumah sakit. Salah satunya untuk membayar tagihan obat-obatan.

Suci mengatakan, uang yang harus dikeluarkan pihaknya tiap bulan mencapai Rp25 miliar. Yakni untuk membayar listrik, gaji non PNS hingga makan pasien termasuk membayar obat-obatan.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala BPJS Kesehatan Banjarmasin, Tutus Novita Dewi mengatakan, pihaknya tak bisa memastikan kapan klaim tersebut dibayarkan. Menurutnya, jadwal pembayaran sesuai dengan klaim yang masuk duluan secara nasional. “First in first out secara nasional,” ujar Tutus kemarin. (mof/ran/ema)

BANJARMASIN – Sempat bernapas lega saat klaimnya dibayar, keuangan RSUD Ulin Banjarmasin kembali empot-empotan. Wajar saja, dari Juli hingga Oktober, klaim BPJS Kesehatan belum dibayarkan di rumah sakit ini nilainya mencapai Rp85 miliar.

Direktur RSUD Ulin Banjarmasin, Suciati mengaku, keuangan pihaknya jika tak dibayarkan hingga akhir November ini sudah tak mencukupi untuk membayar tagihan obat-obatan dan makan pasien. “Kami betul-betul mengencangkan ikat pinggang. Keuangan sudah mulai berpengaruh,” ucap Suci kemarin.

Dia merinci, klaim tagihan yang belum dibayar bulan Juli nilainya sebesar Rp31 miliar, bulan Agustus sebesar Rp28 miliar, dan sebesar Rp26 miliar untuk klaim bulan Oktober. Suci mengungkapkan, deposito pihaknya bahkan sudah habis untuk menutup biaya operasional rumah sakit. “Dibayar sebulan saja syukur. Apalagi jika dibayar sampai dua bulan,” keluhnya.

Suci tetap ngotot tak mau memakai opsi pinjam ke bank sesuai yang disarankan BPJS Kesehatan. “Saya tetap tak mau. Yang tanggung jawab mereka. Bukan kami yang malah meminjam,” tegasnya.

Dia sangat berharap ada klaim yang dibayarkan dalam bulan ini, sehingga dapat menutupi persoalan keuangan hingga awal tahun 2020. “Kalau dibayar dua bulan, keuangan kami bisa bertahan sampai Februari tahun depan,” sebut Suci.

Sebelumnya, BPJS Kesehatan sudah membayar tagihan bulan Juni yang sempat tertunda pada akhir Oktober lalu. Nilai yang dibayarkan ke RSUD Ulin sebesar Rp22 miliar. Menurut Suci, pembayaran tersebut sangat membantu keuangan rumah sakit. Salah satunya untuk membayar tagihan obat-obatan.

Suci mengatakan, uang yang harus dikeluarkan pihaknya tiap bulan mencapai Rp25 miliar. Yakni untuk membayar listrik, gaji non PNS hingga makan pasien termasuk membayar obat-obatan.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala BPJS Kesehatan Banjarmasin, Tutus Novita Dewi mengatakan, pihaknya tak bisa memastikan kapan klaim tersebut dibayarkan. Menurutnya, jadwal pembayaran sesuai dengan klaim yang masuk duluan secara nasional. “First in first out secara nasional,” ujar Tutus kemarin. (mof/ran/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/