alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Sunday, 22 May 2022

Margarita, Pejuang Pendidikan Usia Dini dari Pedalaman Hulu Sungai Utara

Bila di kota pendidikan anak usia dini telah menjamur, di Desa Ambahai, tahun 2005 belum ada TK. Bahkan ketika ada yang ingin mendirikan, justru mendapat penentangan. Dianggap merepotkan orang tua.

— Oleh: Muhammad Akbar, Amuntai —

Desa Ambahai, Kecamatan Paminggir. Desa yang masuk kategori 3T (terluar, terdepan dan terpencil) di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Di sini, saat musim hujan, hanya hamparan air dan tanaman rawa seperti eceng gondok sejauh cakrawala. Tidak ada jalan darat menuju desa berpenduduk 1.045 jiwa tersebut.

Ada angkutan umum menuju Ambahai, bus air –kapal kayu bermesin yang bisa mengangkut 20 penumpang – dari Dermaga Kecamatan Danau Panggang. Dermaga ini terletak satu jam perjalanan dari kota Amuntai, ibukota HSU. Sedangkan perjalanan menuju Ambahai sekitar 3 jam. Itu pun jadwal keberangkatan hanya sekali sehari, berangkat bada zuhur dengan ongkos 25 ribu.

Mau lebih cepat dan bisa berangkat kapan saja, naik speedboat 1,5 jam perjalanan. Tentu saja harus merogoh kocek lebih dalam, Rp600 ribu, bisa untuk membawa 6 penumpang.

Di desa inilah Radar Banjarmasin menemui Margarita, Kepala TK dan PAUD Harapan Mulia. Perempuan kelahiran Ambahai 46 tahun lalu ini sangat dihormati warga setempat. Berbekal dua ijazah sarjana, PGSD dan PGPAUD, kiprahnya dalam memajukan pendidikan anak sudah terbukti.

Padahal, ketika awal Margarita berniat mendirikan PAUD di tanah kelahirannya, ia sempat mendapat penentangan. Berawal dari tugasnya sebagai fasilitator desa di tahun 2000, ia sudah berniat ingin mendirikan TK.

“Tapi baru bisa terwujud 5 tahun kemudian, karena sempat ada penolakan dari masyarakat saat itu,” ungkap Ita, panggilan akrabnya.

Alasannya, menyekolahkan anak di usia dini dianggap merepotkan dan menyita waktu orang tua, untuk antar jemput. Warga yang kebanyakan nelayan tangkap dan juga peternak kerbau rawa, lebih memilih membawa anak-anak mereka sembari bekerja. Anak-anak Ambahai juga banyak yang putus sekolah.

Ita tidak berputus asa, ia berusaha menjelaskan argumentasinya kepada Kades Ambahai saat itu, H Ambran, tentang pentingnya PAUD dan TK, untuk masa depan anak-anak desanya.

“Saya nekat coba menjelaskan, sampai terbata-bata waktu itu,” ujarnya.

Beruntung, ketulusan Ita membuat sang Kades bisa menerima. Hingga akhirnya bersedia meminjamkan salah satu gudang kosong di kantor desa.

Tahun 2005 PAUD dan TK Ambahai dibuka, angkatan pertama diikuti 20 siswa, meski dengan fasilitas seadanya. Menariknya, lembaga pendidikan ini juga diintegrasikan dengan Posyandu Ambahai. Sehingga biasa menjadi tempat berkumpul para ibu dan balitanya.

Beberapa tahun berjalan, aktivitas Margarita ini menarik PT Adaro Indonesia, perusahaan tambang yang beroperasi di daerah tetangga HSU, yakni Kabupaten Balangan dan Tabalong. Tahun 2008, melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) PT AI, berdirilah bangunan Posyandu terintegrasi yang menyatu dengan PAUD Harapan Mulia.

Integrasi Posyandu dengan PAUD ini ternyata menjadi model yang bagus dan terus berkembang. Tidak hanya Posyandu anak, tapi juga Posyandu untuk Lansia. Didukung manajemen yang bagus, PAUD yang terintegrasi dengan Posyandu di Desa Ambahai ini mulai menuai prestasi. Hingga meraih penghargaan dari Kementerian Sosial dalam Gelar Karya Pemberdayaan Masyarakat (GKPM) pada 2011.

Puncaknya, model posyandu terintegrasi ini dibawa PT Adaro Indonesia ke forum International Business Award di Australia tahun 2012 lalu. Sehingga meraih Bronze Award dalam kategori CSR Program of The Year in Asia.

Penghargaan ini pun menarik sejumlah delegasi dari Inggris, untuk melihat dari dekat bagaimana integrasi pendidikan anak usia dini dengan pelayanan kesehatan di desa Ambahai ini berjalan. Sehingga setahun kemudian, mereka datang ke Ambahai.

Prestasi ini pun membuat berbagai bantuan mengalir ke Desa Ambahai, khususnya untuk pengembangan posyandu terintegrasi, seperti modal usaha untuk fotokopi, lengkap dengan mesin genset dan bangunan.

“Jadi dari PAUD di sebuah gudang kantor desa, sekarang sudah menjadi Posyandu Integrasi Ambahai, di dalamnya ada PAUD dan TK, Posyandu Udang, Bina Keluarga Balita (BKB) Sayang Ibu ,Posyandu Lansia Mawar,” ujar Margarita.

Spirit Ita membangun desanya tidak hanya di bidang pendidikan dan kesehatan, kini ia juga aktif mengajak warga desanya untuk turut melestarikan lingkungan, dengan program Ambahai Recycle, juga didukung program CSR PT Adaro Indonesia. Memanfaatkan sampah untuk daur ulang. Sehingga Desa Ambahai pun mewakili Kecamatan Paminggir pada lomba pemanfaatan limbah sampah di tingkat Kabupaten.

Namun, dibalik sosok penuh semangat ini, ternyata Margarita juga pernah menghadapi masa-masa sulit. Tepatnya pada 2011 lalu, dalam rentang waktu setahun ia kehilangan dua sandaran hidupnya.

“Pertama suami meninggal dunia, saya berusaha tetap kuat, karena ada putra kami dan saya harus berusaha untuk kesembuhannya,” ujar Margarita.

Sebab anaknya yang berusia 14 tahun itu menderita epilepsi. Namun tujuh bulan kemudian, tepatnya pada April 2012, putranya menyusul sang ayah, berpulang ke Rahmatullah.

“Saya sempat down. Semangat hidup pun berkurang. Tetapi, demi melihat anak-anak didik di sekolah, hati yang rapuh karena duka ini kembali bangkit semangatnya,” kenangannya.

Sekarang, Margarita hanya berharap, sekolah yang dirintisnya terus berjalan, menjadi simbol dan pelita pendidikan warga Ambahai.

“Jangan lagi ada kalimat bahwa sekolah menyita waktu orang tua bekerja dan tidak bermanfaat. Ambahai harus maju dan sejajar dengan daerah lainnya,” tandasnya.

Sementara itu, Aan Nurhadi dari CSR PT Adaro Indonesia mengakui Margarita adalah sosok ulet dalam memajukan desa.  “Beliau merupakan kebanggaan Ambahai, Kartini masa kini, agen perubahan bagi masyarakat desa di sana,” ujarnya. (mar/bin/ema)

Bila di kota pendidikan anak usia dini telah menjamur, di Desa Ambahai, tahun 2005 belum ada TK. Bahkan ketika ada yang ingin mendirikan, justru mendapat penentangan. Dianggap merepotkan orang tua.

— Oleh: Muhammad Akbar, Amuntai —

Desa Ambahai, Kecamatan Paminggir. Desa yang masuk kategori 3T (terluar, terdepan dan terpencil) di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Di sini, saat musim hujan, hanya hamparan air dan tanaman rawa seperti eceng gondok sejauh cakrawala. Tidak ada jalan darat menuju desa berpenduduk 1.045 jiwa tersebut.

Ada angkutan umum menuju Ambahai, bus air –kapal kayu bermesin yang bisa mengangkut 20 penumpang – dari Dermaga Kecamatan Danau Panggang. Dermaga ini terletak satu jam perjalanan dari kota Amuntai, ibukota HSU. Sedangkan perjalanan menuju Ambahai sekitar 3 jam. Itu pun jadwal keberangkatan hanya sekali sehari, berangkat bada zuhur dengan ongkos 25 ribu.

Mau lebih cepat dan bisa berangkat kapan saja, naik speedboat 1,5 jam perjalanan. Tentu saja harus merogoh kocek lebih dalam, Rp600 ribu, bisa untuk membawa 6 penumpang.

Di desa inilah Radar Banjarmasin menemui Margarita, Kepala TK dan PAUD Harapan Mulia. Perempuan kelahiran Ambahai 46 tahun lalu ini sangat dihormati warga setempat. Berbekal dua ijazah sarjana, PGSD dan PGPAUD, kiprahnya dalam memajukan pendidikan anak sudah terbukti.

Padahal, ketika awal Margarita berniat mendirikan PAUD di tanah kelahirannya, ia sempat mendapat penentangan. Berawal dari tugasnya sebagai fasilitator desa di tahun 2000, ia sudah berniat ingin mendirikan TK.

“Tapi baru bisa terwujud 5 tahun kemudian, karena sempat ada penolakan dari masyarakat saat itu,” ungkap Ita, panggilan akrabnya.

Alasannya, menyekolahkan anak di usia dini dianggap merepotkan dan menyita waktu orang tua, untuk antar jemput. Warga yang kebanyakan nelayan tangkap dan juga peternak kerbau rawa, lebih memilih membawa anak-anak mereka sembari bekerja. Anak-anak Ambahai juga banyak yang putus sekolah.

Ita tidak berputus asa, ia berusaha menjelaskan argumentasinya kepada Kades Ambahai saat itu, H Ambran, tentang pentingnya PAUD dan TK, untuk masa depan anak-anak desanya.

“Saya nekat coba menjelaskan, sampai terbata-bata waktu itu,” ujarnya.

Beruntung, ketulusan Ita membuat sang Kades bisa menerima. Hingga akhirnya bersedia meminjamkan salah satu gudang kosong di kantor desa.

Tahun 2005 PAUD dan TK Ambahai dibuka, angkatan pertama diikuti 20 siswa, meski dengan fasilitas seadanya. Menariknya, lembaga pendidikan ini juga diintegrasikan dengan Posyandu Ambahai. Sehingga biasa menjadi tempat berkumpul para ibu dan balitanya.

Beberapa tahun berjalan, aktivitas Margarita ini menarik PT Adaro Indonesia, perusahaan tambang yang beroperasi di daerah tetangga HSU, yakni Kabupaten Balangan dan Tabalong. Tahun 2008, melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) PT AI, berdirilah bangunan Posyandu terintegrasi yang menyatu dengan PAUD Harapan Mulia.

Integrasi Posyandu dengan PAUD ini ternyata menjadi model yang bagus dan terus berkembang. Tidak hanya Posyandu anak, tapi juga Posyandu untuk Lansia. Didukung manajemen yang bagus, PAUD yang terintegrasi dengan Posyandu di Desa Ambahai ini mulai menuai prestasi. Hingga meraih penghargaan dari Kementerian Sosial dalam Gelar Karya Pemberdayaan Masyarakat (GKPM) pada 2011.

Puncaknya, model posyandu terintegrasi ini dibawa PT Adaro Indonesia ke forum International Business Award di Australia tahun 2012 lalu. Sehingga meraih Bronze Award dalam kategori CSR Program of The Year in Asia.

Penghargaan ini pun menarik sejumlah delegasi dari Inggris, untuk melihat dari dekat bagaimana integrasi pendidikan anak usia dini dengan pelayanan kesehatan di desa Ambahai ini berjalan. Sehingga setahun kemudian, mereka datang ke Ambahai.

Prestasi ini pun membuat berbagai bantuan mengalir ke Desa Ambahai, khususnya untuk pengembangan posyandu terintegrasi, seperti modal usaha untuk fotokopi, lengkap dengan mesin genset dan bangunan.

“Jadi dari PAUD di sebuah gudang kantor desa, sekarang sudah menjadi Posyandu Integrasi Ambahai, di dalamnya ada PAUD dan TK, Posyandu Udang, Bina Keluarga Balita (BKB) Sayang Ibu ,Posyandu Lansia Mawar,” ujar Margarita.

Spirit Ita membangun desanya tidak hanya di bidang pendidikan dan kesehatan, kini ia juga aktif mengajak warga desanya untuk turut melestarikan lingkungan, dengan program Ambahai Recycle, juga didukung program CSR PT Adaro Indonesia. Memanfaatkan sampah untuk daur ulang. Sehingga Desa Ambahai pun mewakili Kecamatan Paminggir pada lomba pemanfaatan limbah sampah di tingkat Kabupaten.

Namun, dibalik sosok penuh semangat ini, ternyata Margarita juga pernah menghadapi masa-masa sulit. Tepatnya pada 2011 lalu, dalam rentang waktu setahun ia kehilangan dua sandaran hidupnya.

“Pertama suami meninggal dunia, saya berusaha tetap kuat, karena ada putra kami dan saya harus berusaha untuk kesembuhannya,” ujar Margarita.

Sebab anaknya yang berusia 14 tahun itu menderita epilepsi. Namun tujuh bulan kemudian, tepatnya pada April 2012, putranya menyusul sang ayah, berpulang ke Rahmatullah.

“Saya sempat down. Semangat hidup pun berkurang. Tetapi, demi melihat anak-anak didik di sekolah, hati yang rapuh karena duka ini kembali bangkit semangatnya,” kenangannya.

Sekarang, Margarita hanya berharap, sekolah yang dirintisnya terus berjalan, menjadi simbol dan pelita pendidikan warga Ambahai.

“Jangan lagi ada kalimat bahwa sekolah menyita waktu orang tua bekerja dan tidak bermanfaat. Ambahai harus maju dan sejajar dengan daerah lainnya,” tandasnya.

Sementara itu, Aan Nurhadi dari CSR PT Adaro Indonesia mengakui Margarita adalah sosok ulet dalam memajukan desa.  “Beliau merupakan kebanggaan Ambahai, Kartini masa kini, agen perubahan bagi masyarakat desa di sana,” ujarnya. (mar/bin/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/