alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Selasa, 17 Mei 2022

Kelola Hutan, Dishut Ingin Berguru ke Finlandia Lagi

BANJARBARU – Dalam waktu dekat, jajaran Dinas Kehutanan Kalsel akan kembali terbang ke Finlandia. Kunjungan ini untuk belajar cara mengelola hutan.

Sebelumnya, pada tahun lalu mereka juga sudah berguru di negara Nordik yang terletak di Eropa Utara itu.

Rencananya, Kepala Dishut Kalsel, Hanif Faisol Nurofiq bersama delapan pejabat eselon III berada di Finlandia selama sepuluh hari. Untuk belajar pengelolaan tanaman berbasis digital lewat aplikasi e-service. Mulai dari pembibitan, perawatan, dan pemasaran hasil tanaman.

“Ada sembilan orang ke Finlandia pada tanggal 15 sampai 24 November. Enam orang eselon III (Dishut dan UPT), satu orang eselon IV, kadis, dan dosen senior Fakultas Kehutanan ULM,” kata Hanif Faisol Nurofiq, kemarin.

Dia berkata, timnya perlu belajar e-service demi memudahkan pemantauan setiap tanaman. “Seperti halnya perawatan kendaraan yang serba computerize. Dengan e-service, ketika tanaman sudah saatnya diberi pupuk, maka sistem akan menginstruksikan segera diberi perawatan berkala,” ucapnya.

Lalu kenapa memilih ke Finlandia lagi? Dia beralasan, karena Finlandia sudah dapat menata luas hutan mereka dengan bagus. “Finlandia menjadi barometer pembangunan kehutanan Internasional, lantaran luas hutan mereka yang hampir 80 persen dari luas daratannya dapat terkelola dengan baik,” lanjutnya.

Bahkan Hanif menyampaikan, kendala yang besar seperti adanya musim salju sudah bukan jadi kendala bagi Finlandia untuk bisa mengelola hutannya dengan baik karena adanya e-service. “Model pengelolaan hutan digital di sana mau kita aplikasikan ke Kalsel dan Indonesia,” ucapnya.

Dia berharap pola pengelolaan tanaman berbasis digital lewat aplikasi e-service bisa mulai efektif pada 2020. “Dengan menghadapi revolusi 4.0, maka semuanya harus berbasis online,” bebernya.

Hanif optimis dengan belajar dan menerapkan e-service ke depannya hasil perhutanan akan dikerjakan teratur mulai hulu sampai hilirnya.

Sebab, selama ini dia mengakui pola penanaman dan hilirisasi hasil hutan di Kalsel kurang optimal. Sehingga belum berdampak signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat lokal.

“E-service bisa detail, pemasaran kemana. Ketika hilirnya masih lemah, kita bisa orientasi pasar atau hasil,” pungkas Hanif. (ris/ran/ema)

BANJARBARU – Dalam waktu dekat, jajaran Dinas Kehutanan Kalsel akan kembali terbang ke Finlandia. Kunjungan ini untuk belajar cara mengelola hutan.

Sebelumnya, pada tahun lalu mereka juga sudah berguru di negara Nordik yang terletak di Eropa Utara itu.

Rencananya, Kepala Dishut Kalsel, Hanif Faisol Nurofiq bersama delapan pejabat eselon III berada di Finlandia selama sepuluh hari. Untuk belajar pengelolaan tanaman berbasis digital lewat aplikasi e-service. Mulai dari pembibitan, perawatan, dan pemasaran hasil tanaman.

“Ada sembilan orang ke Finlandia pada tanggal 15 sampai 24 November. Enam orang eselon III (Dishut dan UPT), satu orang eselon IV, kadis, dan dosen senior Fakultas Kehutanan ULM,” kata Hanif Faisol Nurofiq, kemarin.

Dia berkata, timnya perlu belajar e-service demi memudahkan pemantauan setiap tanaman. “Seperti halnya perawatan kendaraan yang serba computerize. Dengan e-service, ketika tanaman sudah saatnya diberi pupuk, maka sistem akan menginstruksikan segera diberi perawatan berkala,” ucapnya.

Lalu kenapa memilih ke Finlandia lagi? Dia beralasan, karena Finlandia sudah dapat menata luas hutan mereka dengan bagus. “Finlandia menjadi barometer pembangunan kehutanan Internasional, lantaran luas hutan mereka yang hampir 80 persen dari luas daratannya dapat terkelola dengan baik,” lanjutnya.

Bahkan Hanif menyampaikan, kendala yang besar seperti adanya musim salju sudah bukan jadi kendala bagi Finlandia untuk bisa mengelola hutannya dengan baik karena adanya e-service. “Model pengelolaan hutan digital di sana mau kita aplikasikan ke Kalsel dan Indonesia,” ucapnya.

Dia berharap pola pengelolaan tanaman berbasis digital lewat aplikasi e-service bisa mulai efektif pada 2020. “Dengan menghadapi revolusi 4.0, maka semuanya harus berbasis online,” bebernya.

Hanif optimis dengan belajar dan menerapkan e-service ke depannya hasil perhutanan akan dikerjakan teratur mulai hulu sampai hilirnya.

Sebab, selama ini dia mengakui pola penanaman dan hilirisasi hasil hutan di Kalsel kurang optimal. Sehingga belum berdampak signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat lokal.

“E-service bisa detail, pemasaran kemana. Ketika hilirnya masih lemah, kita bisa orientasi pasar atau hasil,” pungkas Hanif. (ris/ran/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/