alexametrics
33.1 C
Banjarmasin
Senin, 16 Mei 2022

Akhirnya, Nenek Sabariah Dibantu

BANJARMASIN – Komisi IV DPRD Banjarmasin menyambangi Sabariah, kemarin (13/11). Nenek 88 tahun itu tinggal di Kelurahan Antasan Kecil Timur. Rumanya nyaris roboh.

Rombongan dipimpin Ketua Komisi IV Matnor Ali. Selain melihat langsung kehidupan Nenek Sabariah, mereka juga menyalurkan bantuan.

“Melihat kondisi Nenek Sabariah, kami merasa bahagia sekaligus haru. Bahagia karena masalah nenek sudah teratasi. Haru karena melihat kondisinya sangat memprihatinkan,” ungkapnya.

Sebelumnya, kehidupan Nenek Sabariah menarik rasa iba publik. Selama ini ia hanya bergantung pada uluran tangan warga sekitar.

Dia tinggal bersama anaknya Abdul Manaf, 48 tahun. Dia sudah menetap di bantaran Sungai Antasan sejak 70 tahun silam.

Selain miring, rumahnya juga tak dialiri listrik. Untuk penerangan malam, mereka cuma menggunakan lampu teplok minyak tanah.

Pemko tahu ada warga yang begitu kesusahan. Ingin membantu perbaikan rumah, tapi terkendala aturan. Karena tempat tinggal Nenek Sabariah berada di jalur hijau. Berdiri di atas sungai. Tak mungkin dibedah menggunakan APBD.

Dicarikan opsi lain, untuk tempat tinggal baru, sang nenek justru menolak. Dia lebih memilih tinggal di rumahnya saat ini.

Pilihan terakhir, pemko melalui Dinas Sosial Banjarmasin akhirnya berkoordinasi dengan kelurahan. Guna membuka penggalangan dana demi membantu perbaikan rumah Nenek Sabariah.

“Sebenarnya tidak ada pembiaran. Hanya saja ada regulasi yang tidak membolehkan membangun bangunan di atas bantaran sungai. Sehingga saat rapat bersama Dinsos, kami mendapatkan alternatif dengan dana swadaya masyarakat,” tutur politikus Partai Golkar itu.

Ditekankannya, dewan bersama pemko akan mengkaji ulang peraturan daerah yang berkaitan dengan sungai. Mengingat kehidupan masyarakat di Banjarmasin begitu dekat dengan sungai. “Nanti akan kami tinjau lagi. Apakah perlu direvisi atau tidak. Akan dipertimbangkan,” tukasnya.

Terkait soal bantuan, Matnor berharap bisa digunakan sebagai biaya hidup sehari-hari dan memasang listrik ketika rumah sudah dipugar.

“Kami ingin beliau memasang listrik di rumahnya. Meski hanya 450 watt atau 900 watt. Untuk PDAM, nanti saya rekomendasikan untuk dipasang gratis,” janjinya. (nur/fud/ema)

BANJARMASIN – Komisi IV DPRD Banjarmasin menyambangi Sabariah, kemarin (13/11). Nenek 88 tahun itu tinggal di Kelurahan Antasan Kecil Timur. Rumanya nyaris roboh.

Rombongan dipimpin Ketua Komisi IV Matnor Ali. Selain melihat langsung kehidupan Nenek Sabariah, mereka juga menyalurkan bantuan.

“Melihat kondisi Nenek Sabariah, kami merasa bahagia sekaligus haru. Bahagia karena masalah nenek sudah teratasi. Haru karena melihat kondisinya sangat memprihatinkan,” ungkapnya.

Sebelumnya, kehidupan Nenek Sabariah menarik rasa iba publik. Selama ini ia hanya bergantung pada uluran tangan warga sekitar.

Dia tinggal bersama anaknya Abdul Manaf, 48 tahun. Dia sudah menetap di bantaran Sungai Antasan sejak 70 tahun silam.

Selain miring, rumahnya juga tak dialiri listrik. Untuk penerangan malam, mereka cuma menggunakan lampu teplok minyak tanah.

Pemko tahu ada warga yang begitu kesusahan. Ingin membantu perbaikan rumah, tapi terkendala aturan. Karena tempat tinggal Nenek Sabariah berada di jalur hijau. Berdiri di atas sungai. Tak mungkin dibedah menggunakan APBD.

Dicarikan opsi lain, untuk tempat tinggal baru, sang nenek justru menolak. Dia lebih memilih tinggal di rumahnya saat ini.

Pilihan terakhir, pemko melalui Dinas Sosial Banjarmasin akhirnya berkoordinasi dengan kelurahan. Guna membuka penggalangan dana demi membantu perbaikan rumah Nenek Sabariah.

“Sebenarnya tidak ada pembiaran. Hanya saja ada regulasi yang tidak membolehkan membangun bangunan di atas bantaran sungai. Sehingga saat rapat bersama Dinsos, kami mendapatkan alternatif dengan dana swadaya masyarakat,” tutur politikus Partai Golkar itu.

Ditekankannya, dewan bersama pemko akan mengkaji ulang peraturan daerah yang berkaitan dengan sungai. Mengingat kehidupan masyarakat di Banjarmasin begitu dekat dengan sungai. “Nanti akan kami tinjau lagi. Apakah perlu direvisi atau tidak. Akan dipertimbangkan,” tukasnya.

Terkait soal bantuan, Matnor berharap bisa digunakan sebagai biaya hidup sehari-hari dan memasang listrik ketika rumah sudah dipugar.

“Kami ingin beliau memasang listrik di rumahnya. Meski hanya 450 watt atau 900 watt. Untuk PDAM, nanti saya rekomendasikan untuk dipasang gratis,” janjinya. (nur/fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/