alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Selasa, 17 Mei 2022

Ratusan Sekolah di Kalsel Mendesak Diperbaiki

BANJARMASIN – Bangunan sekolah di Kalsel nampaknya banyak yang rusak. Pasalnya, saban tahun Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalsel selalu menerima ratusan proposal permohonan perbaikan SMA dan SMK. Baik yang swasta, maupun negeri.

Informasi tersebut disampaikan Kepala Disdikbud Kalsel M Yusuf Effendi. “Iya, ada ratusan permohonan (perbaikan). Untuk jumlah detailnya datanya bisa dilihat di Bidang SMA dan SMK,” katanya kepada Radar Banjarmasin.

Padahal pihaknya setiap tahunnya selalu berupaya mengurangi sekolah yang rusak dengan cara melakukan rehab. Akan tetapi, hingga kini belum juga tuntas lantaran keterbatasan anggaran. “Saban tahun kami hanya bisa memperbaiki puluhan sekolah yang jadi prioritas, dari ratusan proposal yang masuk,” ungkapnya.

Selain perbaikan, Disdikbud Kalsel juga berupaya membangun sekolah baru di beberapa daerah yang kekurangan fasilitas pendidikan. Tahun ini misalnya ada lima sekolah baru yang dibangun. “Kalau di daerah perkotaan, sekolah yang ada sudah cukup. Jadi, kami fokuskan membangun di daerah pinggiran,” ucap Yusuf.

Lanjutnya, lima sekolah itu terdiri dari tiga SMA dan dua SMK. Khusus untuk SMA, satu unit dibangun di Kiram, Kabupaten Banjar. Satunya lagi di daerah Tanah Bumbu. “Kalau yang SMK, dibangun di Jaro, Tabalong. Lalu, di Kecamatan Sungai Pinang, Kabupaten Banjar dan di Marabahan, Barito Kuala,” rincinya.

Di samping membangun unit sekolah baru, dia menyampaikan, tahun ini pihaknya juga memiliki program pembangunan ruang kelas baru untuk sejumlah sekolah menengah atas. “Penambahan dilakukan untuk meningkatkan daya tampung dari peserta didik. Sebab, ada beberapa sekolah yang kekurangan ruang kelas,” ujarnya.

Program pembangunan sekolah dan ruang kelas baru juga dimaksudkan, agar anak usia sekolah yang tersebar di kabupaten/kota bisa melanjutkan pendidikan. Sehingga tidak ada lagi siswa SMP yang tidak meneruskan ke sekolah tingkat atas. “Sebagaimana program pemerintah, anak-anak wajib belajar 12 tahun,” kata Yusuf.

Terkait jumlah sekolah yang masih rusak, Kasi Sarana dan Prasarana SMA Sri Mawarni menuturkan bahwa tahun ini pihaknya telah menerima 300 lebih proposal perbaikan sekolah. “Paling banyak minta perbaikan ruang kelas. Seperti atap dan lantainya,” paparnya.

Akan tetapi, dia menyampaikan, lantaran keterbatasan anggaran tahun ini mereka hanya bisa merehab 10 SMA menggunakan APBD. Namun, dirinya enggan membeberkan berapa anggaran yang sudah dihabiskan. “Kami memprioritaskan merehab sekolah yang rusaknya sudah parah. Misal, karena bangunannya sudah rapuh dan rusak lantaran terkena angin puting beliung atau terbakar,” ucapnya.

Dibeberkannya, bangunan SMA yang perlu direhab sebagian besar berada di daerah pelosok. Seperti, di kawasan Kabupaten Banjar, HST dan Tapin. “Tapi, kalau di daerah tambang sekolahnya dapat bantuan dari perusahaan. Seperti di Tanjung dan Batulicin,” jelasnya.

Tidak berbeda jauh dengan SMA, bangunan SMK juga masih banyak yang rusak. Berdasarkan informasi yang diterima Radar Banjarmasin dari Bidang SMK Disdikbud Kalsel, saban tahun ada puluhan hingga ratusan proposal permohonan perbaikan.

Namun, sama dengan SMA setiap tahun tidak sampai 20 unit SMK yang bisa direhab karena keterbatasan anggaran. Tahun ini misalnya, hanya ada 15 bangunan SMK yang direhab. (ris/ran/ema)

BANJARMASIN – Bangunan sekolah di Kalsel nampaknya banyak yang rusak. Pasalnya, saban tahun Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalsel selalu menerima ratusan proposal permohonan perbaikan SMA dan SMK. Baik yang swasta, maupun negeri.

Informasi tersebut disampaikan Kepala Disdikbud Kalsel M Yusuf Effendi. “Iya, ada ratusan permohonan (perbaikan). Untuk jumlah detailnya datanya bisa dilihat di Bidang SMA dan SMK,” katanya kepada Radar Banjarmasin.

Padahal pihaknya setiap tahunnya selalu berupaya mengurangi sekolah yang rusak dengan cara melakukan rehab. Akan tetapi, hingga kini belum juga tuntas lantaran keterbatasan anggaran. “Saban tahun kami hanya bisa memperbaiki puluhan sekolah yang jadi prioritas, dari ratusan proposal yang masuk,” ungkapnya.

Selain perbaikan, Disdikbud Kalsel juga berupaya membangun sekolah baru di beberapa daerah yang kekurangan fasilitas pendidikan. Tahun ini misalnya ada lima sekolah baru yang dibangun. “Kalau di daerah perkotaan, sekolah yang ada sudah cukup. Jadi, kami fokuskan membangun di daerah pinggiran,” ucap Yusuf.

Lanjutnya, lima sekolah itu terdiri dari tiga SMA dan dua SMK. Khusus untuk SMA, satu unit dibangun di Kiram, Kabupaten Banjar. Satunya lagi di daerah Tanah Bumbu. “Kalau yang SMK, dibangun di Jaro, Tabalong. Lalu, di Kecamatan Sungai Pinang, Kabupaten Banjar dan di Marabahan, Barito Kuala,” rincinya.

Di samping membangun unit sekolah baru, dia menyampaikan, tahun ini pihaknya juga memiliki program pembangunan ruang kelas baru untuk sejumlah sekolah menengah atas. “Penambahan dilakukan untuk meningkatkan daya tampung dari peserta didik. Sebab, ada beberapa sekolah yang kekurangan ruang kelas,” ujarnya.

Program pembangunan sekolah dan ruang kelas baru juga dimaksudkan, agar anak usia sekolah yang tersebar di kabupaten/kota bisa melanjutkan pendidikan. Sehingga tidak ada lagi siswa SMP yang tidak meneruskan ke sekolah tingkat atas. “Sebagaimana program pemerintah, anak-anak wajib belajar 12 tahun,” kata Yusuf.

Terkait jumlah sekolah yang masih rusak, Kasi Sarana dan Prasarana SMA Sri Mawarni menuturkan bahwa tahun ini pihaknya telah menerima 300 lebih proposal perbaikan sekolah. “Paling banyak minta perbaikan ruang kelas. Seperti atap dan lantainya,” paparnya.

Akan tetapi, dia menyampaikan, lantaran keterbatasan anggaran tahun ini mereka hanya bisa merehab 10 SMA menggunakan APBD. Namun, dirinya enggan membeberkan berapa anggaran yang sudah dihabiskan. “Kami memprioritaskan merehab sekolah yang rusaknya sudah parah. Misal, karena bangunannya sudah rapuh dan rusak lantaran terkena angin puting beliung atau terbakar,” ucapnya.

Dibeberkannya, bangunan SMA yang perlu direhab sebagian besar berada di daerah pelosok. Seperti, di kawasan Kabupaten Banjar, HST dan Tapin. “Tapi, kalau di daerah tambang sekolahnya dapat bantuan dari perusahaan. Seperti di Tanjung dan Batulicin,” jelasnya.

Tidak berbeda jauh dengan SMA, bangunan SMK juga masih banyak yang rusak. Berdasarkan informasi yang diterima Radar Banjarmasin dari Bidang SMK Disdikbud Kalsel, saban tahun ada puluhan hingga ratusan proposal permohonan perbaikan.

Namun, sama dengan SMA setiap tahun tidak sampai 20 unit SMK yang bisa direhab karena keterbatasan anggaran. Tahun ini misalnya, hanya ada 15 bangunan SMK yang direhab. (ris/ran/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/