alexametrics
26.1 C
Banjarmasin
Kamis, 19 Mei 2022

Tahun ini, Karhutla Terparah Sejak 2016, Paling Banyak Disebabkan Manusia

BANJARBARU – Sejumlah wilayah di Kalsel saat ini tengah memasuki musim hujan. Hal ini menggembirakan karena kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akan jauh berkurang dibandingkan saat cuaca sedang panas-panasnya beberapa waktu lalu.

Berkurangnya titik api tentu membuat Satgas Karhutla lega, pasalnya dari catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel karhutla tahun ini ternyata menjadi yang terparah sejak 2016 lalu atau dalam empat tahun terakhir.

Kepala Pelaksana BPBD Kalsel Wahyuddin mengatakan, total hutan dan lahan yang terbakar pada 2019 mencapai 6.737,51 hektare. Jauh meningkat dibandingkan tahun lalu yang hanya 3.902,17 hektare.

“Pada 2017 lahan yang terbakar juga hanya 2.034,14 hektare, sedangkan 2016 cuma 252,5 hektare. Jadi, tahun ini paling parah sejak empat tahun terakhir,” katanya.

Dia mengungkapkan, tahun ini karhutla menjadi yang paling parah lantaran cuaca pada musim kemarau juga menjadi yang terpanas. “Kemarau tahun ini dipengaruhi el nino moderate, jadi cuaca lebih panas dibandingkan 2016 hingga 2018,” ungkapnya.

Namun, menurutnya meski tahun ini cuaca terasa lebih panas. Ternyata masih kalah panas dengan 2015 lalu. “2015 lalu, benar-benar el nino. Bukan moderate lagi. Sehingga, karhutla juga lebih luas yakni mencapai 7.138,1 hektare,” ujarnya.

Lalu di mana karhutla paling parah tahun ini? Pria yang akrab disapa Ujud ini menyampaikan, dari awal kemarau hingga memasuki musim hujan karhutla terluas berada di Kabupaten Banjar. “Di Banjar ada 1.294,75 hektare hutan dan lahan yang terbakar pada tahun ini,” bebernya.

Selain Banjar, dia menuturkan, karhutla juga menjadi-jadi di Tanah Laut. Di mana, pada 2019 ini lahan dan hutan yang terbakar di sana mencapai 1.280,15 hektare. “Karhutka terluas ketiga ada di Tapin dengan luasan 930,56 hektare. Disusul Balangan, 629,06 hektare dan Banjarbaru, 574,41 hektare,” rincinya.

Dengan masuknya musim hujan, Ujud menyampaikan saat ini karhutla jauh menurun dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Apalagi pada Oktober tadi, titik api bisa mencapai ratusan dan mengakibatkan beberapa daerah diselimuti kabut asap.

“Sekarang fokus kita tidak lagi di karhutla, tapi di bencana musim hujan. Sebab, pada musim hujan dikhawatirkan timbul sejumlah bencana. Seperti, banjir, tanah longsor dan angin puting beliung,” paparnya.

Secara terpisah, Kepala Pelaksana BPBD Banjarbaru Surianoor juga menyampaikan bahwa karhutla di Banjarbaru tahun ini lebih parah dari tahun lalu. “Iya lahan yang terbakar lebih luas dari tahun sebelumnya. Mungkin karena cuaca yang lebih panas,” ucapnya.

Akan tetapi, dia mengungkapkan, lahan yang terbakar setiap tahunnya titiknya hampir sama. Hanya saja luasannya yang berbeda. “Kejadiannya berulang-ulang pada titik tertentu. Contohnya saja di kawasan Tambak Buluh dan Guntung Damar, saban tahun pasti terbakar,” ungkapnya.

Dari pantauan mereka, karhutla masih banyak disebabkan oleh faktor manusia.” Tapi masyarakat juga ikut melakukan penanganan dengan cepat ketika ada karhutla,” pungkasnya. (ris/ran/ema)

BANJARBARU – Sejumlah wilayah di Kalsel saat ini tengah memasuki musim hujan. Hal ini menggembirakan karena kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akan jauh berkurang dibandingkan saat cuaca sedang panas-panasnya beberapa waktu lalu.

Berkurangnya titik api tentu membuat Satgas Karhutla lega, pasalnya dari catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel karhutla tahun ini ternyata menjadi yang terparah sejak 2016 lalu atau dalam empat tahun terakhir.

Kepala Pelaksana BPBD Kalsel Wahyuddin mengatakan, total hutan dan lahan yang terbakar pada 2019 mencapai 6.737,51 hektare. Jauh meningkat dibandingkan tahun lalu yang hanya 3.902,17 hektare.

“Pada 2017 lahan yang terbakar juga hanya 2.034,14 hektare, sedangkan 2016 cuma 252,5 hektare. Jadi, tahun ini paling parah sejak empat tahun terakhir,” katanya.

Dia mengungkapkan, tahun ini karhutla menjadi yang paling parah lantaran cuaca pada musim kemarau juga menjadi yang terpanas. “Kemarau tahun ini dipengaruhi el nino moderate, jadi cuaca lebih panas dibandingkan 2016 hingga 2018,” ungkapnya.

Namun, menurutnya meski tahun ini cuaca terasa lebih panas. Ternyata masih kalah panas dengan 2015 lalu. “2015 lalu, benar-benar el nino. Bukan moderate lagi. Sehingga, karhutla juga lebih luas yakni mencapai 7.138,1 hektare,” ujarnya.

Lalu di mana karhutla paling parah tahun ini? Pria yang akrab disapa Ujud ini menyampaikan, dari awal kemarau hingga memasuki musim hujan karhutla terluas berada di Kabupaten Banjar. “Di Banjar ada 1.294,75 hektare hutan dan lahan yang terbakar pada tahun ini,” bebernya.

Selain Banjar, dia menuturkan, karhutla juga menjadi-jadi di Tanah Laut. Di mana, pada 2019 ini lahan dan hutan yang terbakar di sana mencapai 1.280,15 hektare. “Karhutka terluas ketiga ada di Tapin dengan luasan 930,56 hektare. Disusul Balangan, 629,06 hektare dan Banjarbaru, 574,41 hektare,” rincinya.

Dengan masuknya musim hujan, Ujud menyampaikan saat ini karhutla jauh menurun dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Apalagi pada Oktober tadi, titik api bisa mencapai ratusan dan mengakibatkan beberapa daerah diselimuti kabut asap.

“Sekarang fokus kita tidak lagi di karhutla, tapi di bencana musim hujan. Sebab, pada musim hujan dikhawatirkan timbul sejumlah bencana. Seperti, banjir, tanah longsor dan angin puting beliung,” paparnya.

Secara terpisah, Kepala Pelaksana BPBD Banjarbaru Surianoor juga menyampaikan bahwa karhutla di Banjarbaru tahun ini lebih parah dari tahun lalu. “Iya lahan yang terbakar lebih luas dari tahun sebelumnya. Mungkin karena cuaca yang lebih panas,” ucapnya.

Akan tetapi, dia mengungkapkan, lahan yang terbakar setiap tahunnya titiknya hampir sama. Hanya saja luasannya yang berbeda. “Kejadiannya berulang-ulang pada titik tertentu. Contohnya saja di kawasan Tambak Buluh dan Guntung Damar, saban tahun pasti terbakar,” ungkapnya.

Dari pantauan mereka, karhutla masih banyak disebabkan oleh faktor manusia.” Tapi masyarakat juga ikut melakukan penanganan dengan cepat ketika ada karhutla,” pungkasnya. (ris/ran/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/