alexametrics
27.1 C
Banjarmasin
Sunday, 22 May 2022

Mantan Birokrat Kelas Kakap yang Memutuskan Mengabdi ke Daerah

BANJARBARU – Selain melantik AR Iwansyah sebagai Wakil Ketua DPRD Banjarbaru. Pelantikan dan pengambilan sumpah/janji pimpinan definitif DPRD Kota Banjarbaru juga turut melantik wakil ketua lainnya, yakni Nafsiani Samandi.

Legislator dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini bersama Iwansyah akan masuk dalam jajaran unsur pimpinan DPRD periode 2019-2024 beesanding dengan Ketua DPRD Banjarbaru, Fadliansyah.

Di ranah legislatif, nama Nafsiani tergolong baru. Periode ini pun merupakan karir legislatifnya yang perdana. Ya, legislator berusia 67 tahun ini baru pertama menginjakkan kakinya di ranah parlemen.

Di tarik ke belakang, Nafsiani pada dasarnya merupakan seorang birokrat. Mengawali karir sebagai Camat pada tahun 1986. Karirnya di lingkup pemerintahan terus naik.

Saat itu, ketika Kota Banjarbaru masih masuk dalam kawasan Kabupaten Banjar. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Bagian (Kabag) Pemerintahan Desa & Umum. Beberapa tahun setelahnya, ia dipercaya menjabat sebagai Sekretaris Kota Administrasi (Banjarbaru) Kabupaten Banjar.

Diketahui juga, Nafsiani merupakan salah satu inisiator dalam proses pemekaraan Kota Banjarbaru. Bahkan, lambang Pemko Banjarbaru yang dipakai hingga sekarang juga adalah salah satu karyanya kala itu.

Setelah sukses jadi birokrat di Kota Banjarbaru, di tahun 1999 ia memutuskan hijrah ke daerah tetangga; Kabupaten Banjar. Di sana, ia menjabat sebagai Asisten II Bidang Pemerintahan.

Tak mentok di sana, setelah jadi Asisen II beberapa tahun. Ia dipercaya menjadi Kepala Dinas Pendapatan Kabupaten Banjar hingga tahun 2005. Karirnya di dunia pemerintahan mencapai puncaknya kala ia berhasil menduduki kursi Kepala Dinas Pendapatan Pemprov Kalsel di masa jabatan Gubernur Rudy Arifin pada tahun 2005 hingga 2011.

Usia yang terus bergulir membuat Nafsiani sampai pada masa abdinya. Ya, di akhir jabatannya di Dinas Pendapatan, ia memutuskan untuk pensiun sebagai ASN Pemprov Kalsel.

Namun keinginannya tetap bekerja untuk daerah masih menggebu-gebu. Pasca pensiun di Pemprov Kalsel, ia ditunjuk sebagai Komisaris Utama Bank Kalsel. Bahkan periodenya cukup mencengangkan, yakni dari tahun 2011 hingga 2017.

Merasa cukup pada saat itu, Nafsiani memutuskan rehat. Ia benar-benar menikmati masa pensiunnya setidaknya dua tahun. Hingga pada akhirnya ia memutuskan mengambil jalan legislatif dan berniat jadi wakil rakyat.

PPP jadi pelabuhannya dalam mewujudkan targetnta di Parlemen. Benar saja, maju di Dapil 1 Banjarbaru, ia berhasil terpilih dengan mendulang 1.174 suara. Ini juga menjadikannya salah satu dari empat “tentara” PPP untuk meraih total 4 kursi parlemen.

Alasan Nafsiani terjun menjadi politisi ternyata simpel. Diakuinya bahwa ia hanya ingin mengabdi untuk Kota Banjarbaru di usia senjanya. Apalagi secara emosional, ia begitu erat dengan pembangunan awal Kota Banjarbaru silam. (rvn/ema)

BANJARBARU – Selain melantik AR Iwansyah sebagai Wakil Ketua DPRD Banjarbaru. Pelantikan dan pengambilan sumpah/janji pimpinan definitif DPRD Kota Banjarbaru juga turut melantik wakil ketua lainnya, yakni Nafsiani Samandi.

Legislator dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini bersama Iwansyah akan masuk dalam jajaran unsur pimpinan DPRD periode 2019-2024 beesanding dengan Ketua DPRD Banjarbaru, Fadliansyah.

Di ranah legislatif, nama Nafsiani tergolong baru. Periode ini pun merupakan karir legislatifnya yang perdana. Ya, legislator berusia 67 tahun ini baru pertama menginjakkan kakinya di ranah parlemen.

Di tarik ke belakang, Nafsiani pada dasarnya merupakan seorang birokrat. Mengawali karir sebagai Camat pada tahun 1986. Karirnya di lingkup pemerintahan terus naik.

Saat itu, ketika Kota Banjarbaru masih masuk dalam kawasan Kabupaten Banjar. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Bagian (Kabag) Pemerintahan Desa & Umum. Beberapa tahun setelahnya, ia dipercaya menjabat sebagai Sekretaris Kota Administrasi (Banjarbaru) Kabupaten Banjar.

Diketahui juga, Nafsiani merupakan salah satu inisiator dalam proses pemekaraan Kota Banjarbaru. Bahkan, lambang Pemko Banjarbaru yang dipakai hingga sekarang juga adalah salah satu karyanya kala itu.

Setelah sukses jadi birokrat di Kota Banjarbaru, di tahun 1999 ia memutuskan hijrah ke daerah tetangga; Kabupaten Banjar. Di sana, ia menjabat sebagai Asisten II Bidang Pemerintahan.

Tak mentok di sana, setelah jadi Asisen II beberapa tahun. Ia dipercaya menjadi Kepala Dinas Pendapatan Kabupaten Banjar hingga tahun 2005. Karirnya di dunia pemerintahan mencapai puncaknya kala ia berhasil menduduki kursi Kepala Dinas Pendapatan Pemprov Kalsel di masa jabatan Gubernur Rudy Arifin pada tahun 2005 hingga 2011.

Usia yang terus bergulir membuat Nafsiani sampai pada masa abdinya. Ya, di akhir jabatannya di Dinas Pendapatan, ia memutuskan untuk pensiun sebagai ASN Pemprov Kalsel.

Namun keinginannya tetap bekerja untuk daerah masih menggebu-gebu. Pasca pensiun di Pemprov Kalsel, ia ditunjuk sebagai Komisaris Utama Bank Kalsel. Bahkan periodenya cukup mencengangkan, yakni dari tahun 2011 hingga 2017.

Merasa cukup pada saat itu, Nafsiani memutuskan rehat. Ia benar-benar menikmati masa pensiunnya setidaknya dua tahun. Hingga pada akhirnya ia memutuskan mengambil jalan legislatif dan berniat jadi wakil rakyat.

PPP jadi pelabuhannya dalam mewujudkan targetnta di Parlemen. Benar saja, maju di Dapil 1 Banjarbaru, ia berhasil terpilih dengan mendulang 1.174 suara. Ini juga menjadikannya salah satu dari empat “tentara” PPP untuk meraih total 4 kursi parlemen.

Alasan Nafsiani terjun menjadi politisi ternyata simpel. Diakuinya bahwa ia hanya ingin mengabdi untuk Kota Banjarbaru di usia senjanya. Apalagi secara emosional, ia begitu erat dengan pembangunan awal Kota Banjarbaru silam. (rvn/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/