alexametrics
28.1 C
Banjarmasin
Kamis, 19 Mei 2022

Rawan, Martapura dan Banjarbaru Kewalahan Hadapi Penyalahgunaan Lem

BANJARBARU – Peredaran narkotika sudah masif menyasar ke instansi pendidikan. Tak sedikit pelajar bahkan dari tingkat SLTP (Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama) yang jadi korban penyalahgunaan narkotika.

Kerawanan narkoba di tingkat pelajar pun tak ditampik oleh Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Banjarbaru. Bahkan, wilayah Banjarbaru dan Martapura disebut-sebut salah satu kawasan rawan.

Kemarin, dalam Bimtek terkait Pengembangan Kapasitas dan Pembinaan Masyarakat Anti Narkoba di Instansi Pendidikan di Novotel Banjarbaru. BNNK Banjarbaru menyebut jika tren penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar masih ada ditemukan beberapa waktu terakhir.

“Di sekolah kadang-kadang masih ada anak-anak yang mendapat informasi salah tentang bahaya narkoba. Di golongan pelajar juga memang ada terindikasi pemakaian yang dikategorikan bahan adiktif, termasuk obat-obat yang bebas di pasaran tapi di salah gunakan,” kata Kasi Pencegahan & Pemberdayaan Masyarakat (P2M) BNNK Banjarbaru, M Khairani Nor.

Bimtek kemarin mengundang guru-guru SLTP di Banjarbaru. Mereka dilatih sebagai penggiat atau penyuluh anti narkoba di lingkungan sekolahnya. Hal ini, kata Khairani sebagai langkah kongkrit pencegahan peredaran narkoba dari dini di lingkup instansi pendidikan.

Pelajar di tingkat SLTP terang Khairani memang tergolong rawan. Pasalnya, di usia tersebut pelajar masih dalam fase pencarian jati diri. “Inilah yang kerap dimanfaatkan, karena mereka masih minim mendapat informasi soal pencegahan dan bahaya narkoba.”

Keduapuluh guru dari SMP hingga MTs ini kata Khairani diharapkan menjadi informan dalam program P4GN (Pencegahan, Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba) kepada siswanya.

Contoh nyata yang kerap didapati di sekolah kata Khairani adalah paparan rokok di kalangan pelajar SLTP. Yang mana dinilainya bahwa rokok merupakan salah satu pintu masuk narkoba.

“Belum lagi ancaman penyalahgunaan lem yang selama ini banyak didapati kasus. Pasalnya, lem ini dijual bebas dan mudah didapat pelajar. Nah hal ini jadi salah satu konsentrasi kita juga, meskipun statusnya legal,” ujarnya.

Ancaman lem bagi pelajar juga tam ditampik oleh Kepala BNN Provinsi Kalsel -selanjutnya ditulis BNNP-, Brigjend Pol Muhammad Aris Purnomo. Ia yang didaulat sebagai narasumber di gelaran Bimtek kemarin juga menyoroti ihwal bahaya lem ini.

Dipaparkannya, lem berdampak buruk dan serius terhadap pelajar. Yang paling fatal katanya selain berpengaruh ke fisik khususnya bagian pernafasan. Lem juga sangat mengancam kesehatan psikis anak.

“Anak-anak SLTP itu rawan sekali ngelem. Nah ini dapat memicu kerusakan otak permanen. Seringkali kita menjumpai kalau anak-anak yang ngelem tidak mampu lagi mengingat dan menghafal, daya ingatnya rusak,” cerita Aris.

Perubahan perilaku pun lanjutnya juga marak terjadi kepada anak-anak yang ngelem. Semisal katanya tidak produktif, menyendiri dan malas melakukan sesuatu yang positif.

“Kita pernah mendapati saking akutnya ngelem anak ini tidak mengingat nama orang tuanya bahkan tanggal lahirnya. Nah ini yang sangat bahaya, kerusakan saraf otak,” tegasnya.

Diakuinya lem masih sangat mudah dijumpai, bahkan statusnya legal. Inilah yang membuat BNN cukup kewalahan dalam mencegah penyalahgunaan lem di kalangan anak-anak.

“Kita sudah pernah menyampaikan ke Dinas Perdagangan dan Pemda agar membatasi bahkan melarang penjualan lem kepada anak sekolah. Karena kan lem ini mudah didapat di toko-toko, nah kita minta agar pemilik toko tidak menjualbelikan lem ke anak-anak,” katanya.

Terkait dengan acara Bimtek, selain mencegah peredaran narkoba yang berstatus terlarang. Ia juga mengingatkan agar pihak sekolah turut pro aktif dalam menyosialisasikan penyalahgunaan lem oleh pelajar.

“Ini juga bagaimana kita nantinya dapat mengajarkan mereka (pelajar) tentang pola hidup yang sehat, agar jangan mencoba-coba menyentuh narkoba hingga lem, miras atau obat-obatan terlarang,” pesannya.

Aris juga menyebut jika wilayah yang rawan peredaran narkoba dan termasuk penyalahgunaan lem cenderung di areal yang cukup kumuh. Semisal katanya di Banjarmasin ada Kelayan serta Alalak, dan Banjarbaru di wilayah Cempaka.

“Faktornya itu biasanya karena keretakan rumah tangga, kemiskinan serta lingkungan. Nah ini yang memicu mereka terjun ke sana (narkoba) atau karena dipaksa suatu kelompok tertentu,” bebernya.

Ia pun sangat berharap kalau dalam Bimtek ini dapat dimaksimalkan dalam pencegahan narkoba di kalangan anak-anak. “Karena program P4GN ini harus dilakukan bersama, termasuk guru serta peranan orang tua juga,” pungkasnya. (rvn/bin/ema)

BANJARBARU – Peredaran narkotika sudah masif menyasar ke instansi pendidikan. Tak sedikit pelajar bahkan dari tingkat SLTP (Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama) yang jadi korban penyalahgunaan narkotika.

Kerawanan narkoba di tingkat pelajar pun tak ditampik oleh Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Banjarbaru. Bahkan, wilayah Banjarbaru dan Martapura disebut-sebut salah satu kawasan rawan.

Kemarin, dalam Bimtek terkait Pengembangan Kapasitas dan Pembinaan Masyarakat Anti Narkoba di Instansi Pendidikan di Novotel Banjarbaru. BNNK Banjarbaru menyebut jika tren penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar masih ada ditemukan beberapa waktu terakhir.

“Di sekolah kadang-kadang masih ada anak-anak yang mendapat informasi salah tentang bahaya narkoba. Di golongan pelajar juga memang ada terindikasi pemakaian yang dikategorikan bahan adiktif, termasuk obat-obat yang bebas di pasaran tapi di salah gunakan,” kata Kasi Pencegahan & Pemberdayaan Masyarakat (P2M) BNNK Banjarbaru, M Khairani Nor.

Bimtek kemarin mengundang guru-guru SLTP di Banjarbaru. Mereka dilatih sebagai penggiat atau penyuluh anti narkoba di lingkungan sekolahnya. Hal ini, kata Khairani sebagai langkah kongkrit pencegahan peredaran narkoba dari dini di lingkup instansi pendidikan.

Pelajar di tingkat SLTP terang Khairani memang tergolong rawan. Pasalnya, di usia tersebut pelajar masih dalam fase pencarian jati diri. “Inilah yang kerap dimanfaatkan, karena mereka masih minim mendapat informasi soal pencegahan dan bahaya narkoba.”

Keduapuluh guru dari SMP hingga MTs ini kata Khairani diharapkan menjadi informan dalam program P4GN (Pencegahan, Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba) kepada siswanya.

Contoh nyata yang kerap didapati di sekolah kata Khairani adalah paparan rokok di kalangan pelajar SLTP. Yang mana dinilainya bahwa rokok merupakan salah satu pintu masuk narkoba.

“Belum lagi ancaman penyalahgunaan lem yang selama ini banyak didapati kasus. Pasalnya, lem ini dijual bebas dan mudah didapat pelajar. Nah hal ini jadi salah satu konsentrasi kita juga, meskipun statusnya legal,” ujarnya.

Ancaman lem bagi pelajar juga tam ditampik oleh Kepala BNN Provinsi Kalsel -selanjutnya ditulis BNNP-, Brigjend Pol Muhammad Aris Purnomo. Ia yang didaulat sebagai narasumber di gelaran Bimtek kemarin juga menyoroti ihwal bahaya lem ini.

Dipaparkannya, lem berdampak buruk dan serius terhadap pelajar. Yang paling fatal katanya selain berpengaruh ke fisik khususnya bagian pernafasan. Lem juga sangat mengancam kesehatan psikis anak.

“Anak-anak SLTP itu rawan sekali ngelem. Nah ini dapat memicu kerusakan otak permanen. Seringkali kita menjumpai kalau anak-anak yang ngelem tidak mampu lagi mengingat dan menghafal, daya ingatnya rusak,” cerita Aris.

Perubahan perilaku pun lanjutnya juga marak terjadi kepada anak-anak yang ngelem. Semisal katanya tidak produktif, menyendiri dan malas melakukan sesuatu yang positif.

“Kita pernah mendapati saking akutnya ngelem anak ini tidak mengingat nama orang tuanya bahkan tanggal lahirnya. Nah ini yang sangat bahaya, kerusakan saraf otak,” tegasnya.

Diakuinya lem masih sangat mudah dijumpai, bahkan statusnya legal. Inilah yang membuat BNN cukup kewalahan dalam mencegah penyalahgunaan lem di kalangan anak-anak.

“Kita sudah pernah menyampaikan ke Dinas Perdagangan dan Pemda agar membatasi bahkan melarang penjualan lem kepada anak sekolah. Karena kan lem ini mudah didapat di toko-toko, nah kita minta agar pemilik toko tidak menjualbelikan lem ke anak-anak,” katanya.

Terkait dengan acara Bimtek, selain mencegah peredaran narkoba yang berstatus terlarang. Ia juga mengingatkan agar pihak sekolah turut pro aktif dalam menyosialisasikan penyalahgunaan lem oleh pelajar.

“Ini juga bagaimana kita nantinya dapat mengajarkan mereka (pelajar) tentang pola hidup yang sehat, agar jangan mencoba-coba menyentuh narkoba hingga lem, miras atau obat-obatan terlarang,” pesannya.

Aris juga menyebut jika wilayah yang rawan peredaran narkoba dan termasuk penyalahgunaan lem cenderung di areal yang cukup kumuh. Semisal katanya di Banjarmasin ada Kelayan serta Alalak, dan Banjarbaru di wilayah Cempaka.

“Faktornya itu biasanya karena keretakan rumah tangga, kemiskinan serta lingkungan. Nah ini yang memicu mereka terjun ke sana (narkoba) atau karena dipaksa suatu kelompok tertentu,” bebernya.

Ia pun sangat berharap kalau dalam Bimtek ini dapat dimaksimalkan dalam pencegahan narkoba di kalangan anak-anak. “Karena program P4GN ini harus dilakukan bersama, termasuk guru serta peranan orang tua juga,” pungkasnya. (rvn/bin/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/