alexametrics
33.1 C
Banjarmasin
Saturday, 28 May 2022

Sudah 2019 nih, Apa Kabar Siring Veteran?

Warga Banjarmasin sempat dihibur dengan maket menawan Jalan Veteran. Jalannya dibelah oleh sungai, komplet dengan kawasan wisata Pecinan. Bagaimana kelanjutannya?

 —

MUNDUR ke tahun 2018, wajah baru Jalan Veteran baru berupa desain. Rancangannya cantik. Jalan dibangun dua lajur. Pembatasnya bukan trotoar, tapi bentangan sungai, lengkap dengan siringnya.

Konsepnya luar biasa. Veteran tak cuma bisa diakses melalui darat. Tapi juga lewat kanal yang terhubung ke Sungai Martapura. Sangat menjanjikan untuk potensi wisata kota ini.

Setahun kemudian, Veteran mulai digarap. Melibatkan tiga lembaga sekaligus. Balai Wilayah Sungai Kalimantan II, Pemprov Kalsel melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, dan tentu Pemko Banjarmasin.

Balai Sungai kebagian jatah membangun siring dan normalisasi sungai. PUPR bertanggung jawab untuk jalan. Sedangkan pemko menangani pembebasan lahan.

Tahun 2019, proyek berhenti. Setidaknya Balai Sungai telah menuntaskan satu sisi pembangunan siring sepanjang 330 meter. Tahap awal untuk menunjukkan keseriusan mereka. Biayanya sekitar Rp9,4 miliar.

Apa cuma sampai di situ? Jawabnya, tentu saja tidak. Niat untuk mempercantik kawasan itu masih ada. Sayang, tak bisa dilanjutkan tahun ini. Balai Wilayah Sungai Kalimantan II menyetop kucuran bantuannya.

Kepala Satuan Kerja Balai Wilayah Sungai Kalimantan II, M Harliansyah mengaku serba salah. Mereka tak bisa begitu saja melanjutkan pekerjaan. Menyiring ataupun mengeruk sungai. Mengingat, Veteran bukan lahan kosong. Tapi permukiman padat penduduk. “Soal ini yang harus di-clear-kan terlebih dulu,” katanya.

Contoh, jika normalisasi sungai dilakukan, beberapa titik jembatan mesti dibongkar. Pertanyaannya, ke mana akses warga? “Otomatis mereka butuh jalan baru agar tidak lagi menyeberang,” sebutnya.

Pemikiran Harliansyah sebenarnya tak berlebihan. Karena, sesuai konsep, jalur Veteran tak lagi sendiri. Di bagian seberang sungai akan dibuatkan jalan baru. Hanya saja dia menginginkan pekerjaan ini bisa dilakukan berbarengan. Biar efektif dan efisien. “Yang pasti kami tak bisa sendirian. Butuh sinergitas antar lembaga,” katanya.

Yang dia maksud adalah peran pemprov dan pemko. Paling krusial soal kesiapan lahan. Tanpa itu, akan sia-sia melanjutkan pekerjaan. “Lihat saja hasilnya saat ini. Kelihatannya, ya begitu-begitu saja,” sindirnya.

Mengacu desain, kawasan Veteran seutuhnya akan dirombak. Skalanya mencapai 3,5 kilometer hingga Sungai Lulut. Ongkos yang keluar ditaksir mencapai Rp182 miliar. Belum termasuk biaya pembebasan lahan. Dikerjakan dengan pola tahun jamak.

Pada tahun lalu, Balai Sungai baru menyiring sepanjang 330 meter. Dari pembebasan yang dilakukan pemko sekitar 800 meter.

Kapan sisanya dilanjutkan? Harliansyah tak bisa memberi jawaban pasti. Mereka masih menunggu kabar baik soal kesiapan lahan. Apakah bisa digarap atau tidak. Begitu juga soal anggaran, belum bisa dihitung.

“Pada dasarnya, kami punya komitmen untuk menuntaskan pekerjaan. Dari ujung ke ujung. Tinggal bagaimana kesiapan lahan,” jaminnya.

Terpisah, Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman Banjarmasin Ahmad Fanani Saifudin mengaku belum bisa berbicara banyak soal Veteran. Dia menyarankan untuk mendatangi Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Barenlitbangda) Banjarmasin. Yang dianggapnya lebih tahu detil proyek.

Bukan berarti Disperkim lepas tangan. Mereka siap saja bekerja asalkan ada instruksi. “Kami tergantung instansi yang membutuhkan tanah. Dokumen perencanaannya juga harus disiapkan instansi tersebut,” jelas Fanani. (nur/fud/ema)

Warga Banjarmasin sempat dihibur dengan maket menawan Jalan Veteran. Jalannya dibelah oleh sungai, komplet dengan kawasan wisata Pecinan. Bagaimana kelanjutannya?

 —

MUNDUR ke tahun 2018, wajah baru Jalan Veteran baru berupa desain. Rancangannya cantik. Jalan dibangun dua lajur. Pembatasnya bukan trotoar, tapi bentangan sungai, lengkap dengan siringnya.

Konsepnya luar biasa. Veteran tak cuma bisa diakses melalui darat. Tapi juga lewat kanal yang terhubung ke Sungai Martapura. Sangat menjanjikan untuk potensi wisata kota ini.

Setahun kemudian, Veteran mulai digarap. Melibatkan tiga lembaga sekaligus. Balai Wilayah Sungai Kalimantan II, Pemprov Kalsel melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, dan tentu Pemko Banjarmasin.

Balai Sungai kebagian jatah membangun siring dan normalisasi sungai. PUPR bertanggung jawab untuk jalan. Sedangkan pemko menangani pembebasan lahan.

Tahun 2019, proyek berhenti. Setidaknya Balai Sungai telah menuntaskan satu sisi pembangunan siring sepanjang 330 meter. Tahap awal untuk menunjukkan keseriusan mereka. Biayanya sekitar Rp9,4 miliar.

Apa cuma sampai di situ? Jawabnya, tentu saja tidak. Niat untuk mempercantik kawasan itu masih ada. Sayang, tak bisa dilanjutkan tahun ini. Balai Wilayah Sungai Kalimantan II menyetop kucuran bantuannya.

Kepala Satuan Kerja Balai Wilayah Sungai Kalimantan II, M Harliansyah mengaku serba salah. Mereka tak bisa begitu saja melanjutkan pekerjaan. Menyiring ataupun mengeruk sungai. Mengingat, Veteran bukan lahan kosong. Tapi permukiman padat penduduk. “Soal ini yang harus di-clear-kan terlebih dulu,” katanya.

Contoh, jika normalisasi sungai dilakukan, beberapa titik jembatan mesti dibongkar. Pertanyaannya, ke mana akses warga? “Otomatis mereka butuh jalan baru agar tidak lagi menyeberang,” sebutnya.

Pemikiran Harliansyah sebenarnya tak berlebihan. Karena, sesuai konsep, jalur Veteran tak lagi sendiri. Di bagian seberang sungai akan dibuatkan jalan baru. Hanya saja dia menginginkan pekerjaan ini bisa dilakukan berbarengan. Biar efektif dan efisien. “Yang pasti kami tak bisa sendirian. Butuh sinergitas antar lembaga,” katanya.

Yang dia maksud adalah peran pemprov dan pemko. Paling krusial soal kesiapan lahan. Tanpa itu, akan sia-sia melanjutkan pekerjaan. “Lihat saja hasilnya saat ini. Kelihatannya, ya begitu-begitu saja,” sindirnya.

Mengacu desain, kawasan Veteran seutuhnya akan dirombak. Skalanya mencapai 3,5 kilometer hingga Sungai Lulut. Ongkos yang keluar ditaksir mencapai Rp182 miliar. Belum termasuk biaya pembebasan lahan. Dikerjakan dengan pola tahun jamak.

Pada tahun lalu, Balai Sungai baru menyiring sepanjang 330 meter. Dari pembebasan yang dilakukan pemko sekitar 800 meter.

Kapan sisanya dilanjutkan? Harliansyah tak bisa memberi jawaban pasti. Mereka masih menunggu kabar baik soal kesiapan lahan. Apakah bisa digarap atau tidak. Begitu juga soal anggaran, belum bisa dihitung.

“Pada dasarnya, kami punya komitmen untuk menuntaskan pekerjaan. Dari ujung ke ujung. Tinggal bagaimana kesiapan lahan,” jaminnya.

Terpisah, Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman Banjarmasin Ahmad Fanani Saifudin mengaku belum bisa berbicara banyak soal Veteran. Dia menyarankan untuk mendatangi Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Barenlitbangda) Banjarmasin. Yang dianggapnya lebih tahu detil proyek.

Bukan berarti Disperkim lepas tangan. Mereka siap saja bekerja asalkan ada instruksi. “Kami tergantung instansi yang membutuhkan tanah. Dokumen perencanaannya juga harus disiapkan instansi tersebut,” jelas Fanani. (nur/fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/