alexametrics
34.1 C
Banjarmasin
Thursday, 19 May 2022

Ditangani Para Pakar ULM, Stafsus Presiden Pun Takjub

Keceriaan dan kebahagian terpancar di wajah Rektor Universitas Lambung Mangkurat Prof Sutarto Hadi saat turun dari mobilnya. Di depannya membentang hamparan padi yang menguning. Itulah program riset aksi ULM di Jejangkit Muara.

Ahmad Mubarak, Marabahan

Hari Pangan Sedunia (HPS) ke 38 tahun 2018 telah lama usai. Ribuan hektare lahan eks HPS kembali digarap keroyokan warga, Pemkab Batola, dan Pemko Banjarmasin. Direncanakan, 430 hektare lahan pertanian di sana akan ditanam kembali. Padi di daerah tersebut sudah dalam tahap tanam dan pemeliharaan.

Dari ribuan lahan di eks HPS yang sedang dalam tahap tanam, ada lahan yang sedang panen. Itulah Lahan SIUTI ((Sistem Integrasi Unit Tani Intensif) yang diinisiasi ULM. Lahan ini secara simbolis dipanen Rektor ULM, Prof Sutarto Hadi bersama Staf Khusus Presiden Bidang Pangan, Luwarso, dan instansi terkait lainnya, Jumat (28/6).

Panen perdana di Jejangkit ini menjadi perhatian besar Rektor ULM, Prof Sutarto Hadi. Di lahan dua hektare ini ULM bersama para dosen dari Fakultas Pertanian berhasil panen dengan hasil yang memuaskan. Satu hektare lahan, menghasilkan 6,2 ton atau lebih banyak dari hasil warga Jejangkit yang hanya 5 ton per hektare.

“Ini lahan yang subur marjinal, cukup berat untuk mengolahnya. Tapi ULM membuktikan, kami bisa panen besar di lokasi ini,” ujar Sutarto Hadi bangga.

Sutarto menambahkan riset yang dilakukan meneguhkan elain jati diri ULM yang menguasai lahan basah, juga sebagai kajian yang akan diterapkan untuk masyarakat mengelola ribuan lahan eks HPS.

“Lahan yang mencapai 4000 hektare ini, apabila berproduksi dengan baik maka akan menjadi penyangga pangan di Kalsel. Bahkan Nasional,” ujarnya optimistis.

Dalam penggarapan lahan ini pihaknya menurunkan berbagai pakar pertanian yang dimiliki kampus tertua di Kalsel ini. Lahan di HPS bukan hanya permasalahan produksi. Tetapi ada pengelolaan lahan, persolan tumbuh kembang padi, serta pemeliharaan pasca panen. Serta distribusi padi yang harus ada kajian yang komprehensif. “Yang utama padinya harus ada,” senyum Sutarto.

Walaupun sudah berhasil, Sutarto mengaku, ke depannya akan menyusun kajian yang lebih bagus bersama tim yang akan dibentuk. Demi perkembangan lebih lanjut lahan di desa Jejangkit.

“Semua ahli, kita miliki. 80 persen dosen di Fakultas Pertanian, sudah doktor dan banyak yang jadi profesor,” ungkapnya seraya mengatakan ULM akan malu kalau tidak bisa panen di lokasi HPS. “Ini pertaruhan untuk kita (ULM). Hari ini kita berbahagia,” senang Prof Sutarto Hadi.

Prof Sutarto Hadi menambahkan, lahan basah merupakan keunggulan ULM. Bahkan menurutnya di dunia yang semakin basah, bumi yang semakin panas, kutub es mencair, kajian lahan basah lahan basah dari berbagai aspek yang dimiliki ULM, akan menjadi penyelamat Dunia.

“Semua ada di ULM, masa depan dunia ada di kita (ULM), kita harus buktikan bisa menyelamatkan dunia yang semakin panas dan basah ini,” ujarnya.

Sementara itu Staf Khusus Presiden Bidang Pangan, Luwarso mengaku optimistis dengan riset yang dilakukan ULM. Dia menekankan ke depannya ULM harus memperhatikan berbagai aspek dalam riset ini. Jangan sampai biaya produksi beras baik tetapi pengelolaan yang mahal.

“Kedepannya kami akan membuat tim bersama Rektor ULM, membuat road map revitalisasi, guna investasi yang ada disini bisa bermanfaat,” ujarnya seraya mengatakan pada dasarnya tanaman padi bisa hidup di mana saja, selama ada matahari, udara, air, dan tanah.

Luwarso tidak menampik lokasi yang digarap memiliki kelemahan air yang berlebihan dan kadar asam yang tinggi. Hanya saja menurutnya di zaman maju ini, teknologi sudah mumpuni. Dia memuji Kalsel merupakan salah satu kandidat kuat calon ibu kota.

“Aneh rasanya jika sampai memasok beras dari luar karena gagal memaksimalkan lahan yang ada,” ucapnya memotivasi.

Sekretaris Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalsel, Herlianur tak kalah bangga.

“Kami masih menunggu hasil perhitungan efisiensi riset ini. Apabila sangat efesien, maka riset ini akan menjadi rekomendasi dinas untuk diterapkan di lahan eks HPS dan pada umumnya di seluruh pertanian yang ada di Kalsel,” sambutnya bersemangat.(bar/ema)

Keceriaan dan kebahagian terpancar di wajah Rektor Universitas Lambung Mangkurat Prof Sutarto Hadi saat turun dari mobilnya. Di depannya membentang hamparan padi yang menguning. Itulah program riset aksi ULM di Jejangkit Muara.

Ahmad Mubarak, Marabahan

Hari Pangan Sedunia (HPS) ke 38 tahun 2018 telah lama usai. Ribuan hektare lahan eks HPS kembali digarap keroyokan warga, Pemkab Batola, dan Pemko Banjarmasin. Direncanakan, 430 hektare lahan pertanian di sana akan ditanam kembali. Padi di daerah tersebut sudah dalam tahap tanam dan pemeliharaan.

Dari ribuan lahan di eks HPS yang sedang dalam tahap tanam, ada lahan yang sedang panen. Itulah Lahan SIUTI ((Sistem Integrasi Unit Tani Intensif) yang diinisiasi ULM. Lahan ini secara simbolis dipanen Rektor ULM, Prof Sutarto Hadi bersama Staf Khusus Presiden Bidang Pangan, Luwarso, dan instansi terkait lainnya, Jumat (28/6).

Panen perdana di Jejangkit ini menjadi perhatian besar Rektor ULM, Prof Sutarto Hadi. Di lahan dua hektare ini ULM bersama para dosen dari Fakultas Pertanian berhasil panen dengan hasil yang memuaskan. Satu hektare lahan, menghasilkan 6,2 ton atau lebih banyak dari hasil warga Jejangkit yang hanya 5 ton per hektare.

“Ini lahan yang subur marjinal, cukup berat untuk mengolahnya. Tapi ULM membuktikan, kami bisa panen besar di lokasi ini,” ujar Sutarto Hadi bangga.

Sutarto menambahkan riset yang dilakukan meneguhkan elain jati diri ULM yang menguasai lahan basah, juga sebagai kajian yang akan diterapkan untuk masyarakat mengelola ribuan lahan eks HPS.

“Lahan yang mencapai 4000 hektare ini, apabila berproduksi dengan baik maka akan menjadi penyangga pangan di Kalsel. Bahkan Nasional,” ujarnya optimistis.

Dalam penggarapan lahan ini pihaknya menurunkan berbagai pakar pertanian yang dimiliki kampus tertua di Kalsel ini. Lahan di HPS bukan hanya permasalahan produksi. Tetapi ada pengelolaan lahan, persolan tumbuh kembang padi, serta pemeliharaan pasca panen. Serta distribusi padi yang harus ada kajian yang komprehensif. “Yang utama padinya harus ada,” senyum Sutarto.

Walaupun sudah berhasil, Sutarto mengaku, ke depannya akan menyusun kajian yang lebih bagus bersama tim yang akan dibentuk. Demi perkembangan lebih lanjut lahan di desa Jejangkit.

“Semua ahli, kita miliki. 80 persen dosen di Fakultas Pertanian, sudah doktor dan banyak yang jadi profesor,” ungkapnya seraya mengatakan ULM akan malu kalau tidak bisa panen di lokasi HPS. “Ini pertaruhan untuk kita (ULM). Hari ini kita berbahagia,” senang Prof Sutarto Hadi.

Prof Sutarto Hadi menambahkan, lahan basah merupakan keunggulan ULM. Bahkan menurutnya di dunia yang semakin basah, bumi yang semakin panas, kutub es mencair, kajian lahan basah lahan basah dari berbagai aspek yang dimiliki ULM, akan menjadi penyelamat Dunia.

“Semua ada di ULM, masa depan dunia ada di kita (ULM), kita harus buktikan bisa menyelamatkan dunia yang semakin panas dan basah ini,” ujarnya.

Sementara itu Staf Khusus Presiden Bidang Pangan, Luwarso mengaku optimistis dengan riset yang dilakukan ULM. Dia menekankan ke depannya ULM harus memperhatikan berbagai aspek dalam riset ini. Jangan sampai biaya produksi beras baik tetapi pengelolaan yang mahal.

“Kedepannya kami akan membuat tim bersama Rektor ULM, membuat road map revitalisasi, guna investasi yang ada disini bisa bermanfaat,” ujarnya seraya mengatakan pada dasarnya tanaman padi bisa hidup di mana saja, selama ada matahari, udara, air, dan tanah.

Luwarso tidak menampik lokasi yang digarap memiliki kelemahan air yang berlebihan dan kadar asam yang tinggi. Hanya saja menurutnya di zaman maju ini, teknologi sudah mumpuni. Dia memuji Kalsel merupakan salah satu kandidat kuat calon ibu kota.

“Aneh rasanya jika sampai memasok beras dari luar karena gagal memaksimalkan lahan yang ada,” ucapnya memotivasi.

Sekretaris Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalsel, Herlianur tak kalah bangga.

“Kami masih menunggu hasil perhitungan efisiensi riset ini. Apabila sangat efesien, maka riset ini akan menjadi rekomendasi dinas untuk diterapkan di lahan eks HPS dan pada umumnya di seluruh pertanian yang ada di Kalsel,” sambutnya bersemangat.(bar/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/