alexametrics
32.1 C
Banjarmasin
Thursday, 11 August 2022

Psikolgis Atlet jangan Diremehkan

BANJARMASIN – Untuk mencetak atlet yang berprestasi, maka tak cukup dengan memberikan materi latihan fisik dan teknik. Namun, ada faktor lain yang juga menentukan keberhasilan atlet tersebut, yakni psikologis. Tanpa kondisi psikologis yang kuat, maka atlet yang matang secara fisik dan teknik akan kesulitan dalam memaksimalkan potensinya. Alhasil, hal ini akan berdampak terhadap prestasi atlet.

Menurut Shanty Komalasari, psikolog Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin, untuk mencetak atlet berprestasi, sisi psikologis tak bisa diremehkan.

“Hal ini penting, untuk membentuk mental yang kuat kepada atlet tersebut. Selain itu, dengan memberikan bimbingan psikologis yang tepat, maka akan menambah rasa percaya diri dan optimisme si atlet,” ujar Shanty di hadapan peserta Rapat Koordinasi Peningkatan Sinergisitas Kinerja Olahraga yang diadakan oleh Biro Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah (Kesra Setra) Kalsel di Aula Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kalsel, kemarin (27/6).

Penguatan psikologis inilah yang menurut Shanty perlu ditanamkan kepada para atlet Kalsel. Sehingga, mereka bisa semakin percaya diri dan tidak mudah tertekan dalam menghadapi sebuah pertandingan. “Salah satu metodenya yakni dengan memberikan pelatihan dan penguatan motivasi kepada para atlet. Sehingga, mereka bisa lebih rileks ketika menghadapi pertandingan dan tidak gentar menghadapi lawan-lawannya,” paparnya.

Sementara itu, akademisi Jurusan Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Universitas Lambung Mangkurat (JPOK ULM), H Sarmidi tak menampik kondisi psikologis atlet bisa berpengaruh terhadap performanya di lapangan.

“Bisa saja atlet yang tadinya kuat di stamina dan terampil secara teknik, kemudian justru tak bisa maksimal ketika bertanding. Dan biasanya, hal itu dikarenakan ada persoalan psikologis yang sedang dialaminya. Kematangan fisik, teknik, dan psikologis harus imbang, supaya atlet bisa fokus dalam menjalani pertandingan,” sebutnya.

Sementara itu, Murjani, Panitia Pelaksana menuturkan Rakor ini diadakan guna menjalin sinergisitas dengan para insan olahraga Banua.

“Tujuannya, untuk saling berbagi pandangan dari para pelaku olahraga demi kemajuan olahraga di Kalsel. Peserta rakor ini adalah dari berbagai kalangan insan olahraga Kalsel, yakni KONI Kalsel dan daerah, organisasi olahraga, serta para pelatih cabang olahraga, dan para guru olahraga,” tandasnya.(oza/ema)

BANJARMASIN – Untuk mencetak atlet yang berprestasi, maka tak cukup dengan memberikan materi latihan fisik dan teknik. Namun, ada faktor lain yang juga menentukan keberhasilan atlet tersebut, yakni psikologis. Tanpa kondisi psikologis yang kuat, maka atlet yang matang secara fisik dan teknik akan kesulitan dalam memaksimalkan potensinya. Alhasil, hal ini akan berdampak terhadap prestasi atlet.

Menurut Shanty Komalasari, psikolog Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin, untuk mencetak atlet berprestasi, sisi psikologis tak bisa diremehkan.

“Hal ini penting, untuk membentuk mental yang kuat kepada atlet tersebut. Selain itu, dengan memberikan bimbingan psikologis yang tepat, maka akan menambah rasa percaya diri dan optimisme si atlet,” ujar Shanty di hadapan peserta Rapat Koordinasi Peningkatan Sinergisitas Kinerja Olahraga yang diadakan oleh Biro Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah (Kesra Setra) Kalsel di Aula Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kalsel, kemarin (27/6).

Penguatan psikologis inilah yang menurut Shanty perlu ditanamkan kepada para atlet Kalsel. Sehingga, mereka bisa semakin percaya diri dan tidak mudah tertekan dalam menghadapi sebuah pertandingan. “Salah satu metodenya yakni dengan memberikan pelatihan dan penguatan motivasi kepada para atlet. Sehingga, mereka bisa lebih rileks ketika menghadapi pertandingan dan tidak gentar menghadapi lawan-lawannya,” paparnya.

Sementara itu, akademisi Jurusan Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Universitas Lambung Mangkurat (JPOK ULM), H Sarmidi tak menampik kondisi psikologis atlet bisa berpengaruh terhadap performanya di lapangan.

“Bisa saja atlet yang tadinya kuat di stamina dan terampil secara teknik, kemudian justru tak bisa maksimal ketika bertanding. Dan biasanya, hal itu dikarenakan ada persoalan psikologis yang sedang dialaminya. Kematangan fisik, teknik, dan psikologis harus imbang, supaya atlet bisa fokus dalam menjalani pertandingan,” sebutnya.

Sementara itu, Murjani, Panitia Pelaksana menuturkan Rakor ini diadakan guna menjalin sinergisitas dengan para insan olahraga Banua.

“Tujuannya, untuk saling berbagi pandangan dari para pelaku olahraga demi kemajuan olahraga di Kalsel. Peserta rakor ini adalah dari berbagai kalangan insan olahraga Kalsel, yakni KONI Kalsel dan daerah, organisasi olahraga, serta para pelatih cabang olahraga, dan para guru olahraga,” tandasnya.(oza/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/