alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Saturday, 20 August 2022

Di Pasar Terapung, MTR Ajak Pedagang Jauhi Riba

BANJARMASIN – Masyarakat Tanpa Riba (MTR) Kalsel menyapa Pasar Terapung, Minggu (23/6) pagi. Start dari Soto Bang Amat di Banua Anyar, pegiat komunitas itu menyusuri Sungai Martapura menuju Lok Baintan, Kabupaten Banjar.

Dalam kesempatan itu, 28 pegiat MTR mebagikan buku kepada ibu-ibu yang berjualan di atas jukung. Buku itu untuk megedukasi masyarakat tentang bahaya utang dan riba.

“Buku itu menceritakan pengalaman orang-orang yang terlilit utang. Dari yang awalnya kecil sampai terus membesar,” ungkap salah seorang pegiat MTR Kalsel, Busran Suhaimi.

Dia bersyukur karena MTR mendapat sambutan antusias. Baik dari pedagang maupun wisatawan. “Alhamdulillah, mereka antusias. Karena mereka juga ingin mengetahui hukum utang dan riba secara lebih mendalam,” tambahnya.

Tujuan kegiatan, yakni menjauhkan masyarakat dari riba. Secara psikologis, jerat utang, sedikit apalagi banyak akan membebani pikiran. “Bahkan ada yang ingin bunuh diri gara-gara tak sanggup membayar utangnya,” kisahnya.

Ibu-ibu pedagang Pasar Terapung diimbau agar tak ikut-ikutan berutang kepada rentenir yang kerap mengatasnamakan koperasi dan masuk ke kampung-kampung.

“Karena sudah masuk dalam kategori riba. Bayangkan, riba yang terkecil saja, dosanya sama dengan menzinahi ibu kandung. Itu Islam yang mengatakan,” bebernya.

Bursan menyampaikan, mereka akan kembali lagi ke Pasar Terapung dengan jumlah pegiat yang lebih banyak. “16 Agustus nanti kami akan kembali lagi. Bahkan pegiat MTR seluruh Indonesia akan datang. Kami menjadi tuan rumah. Sekalian untuk mengenalkan destinasi wisata yang di Banjarmasin,” pungkasnya.

Sebelum pulang, mereka diberikan pantun dari ibu-ibu pedagang. “Sampit Pangkalambun, kepala sakit, hutang bertimbun,” seloroh seorang pedagang Pasar Terapung. (mr-154/fud/ema)

BANJARMASIN – Masyarakat Tanpa Riba (MTR) Kalsel menyapa Pasar Terapung, Minggu (23/6) pagi. Start dari Soto Bang Amat di Banua Anyar, pegiat komunitas itu menyusuri Sungai Martapura menuju Lok Baintan, Kabupaten Banjar.

Dalam kesempatan itu, 28 pegiat MTR mebagikan buku kepada ibu-ibu yang berjualan di atas jukung. Buku itu untuk megedukasi masyarakat tentang bahaya utang dan riba.

“Buku itu menceritakan pengalaman orang-orang yang terlilit utang. Dari yang awalnya kecil sampai terus membesar,” ungkap salah seorang pegiat MTR Kalsel, Busran Suhaimi.

Dia bersyukur karena MTR mendapat sambutan antusias. Baik dari pedagang maupun wisatawan. “Alhamdulillah, mereka antusias. Karena mereka juga ingin mengetahui hukum utang dan riba secara lebih mendalam,” tambahnya.

Tujuan kegiatan, yakni menjauhkan masyarakat dari riba. Secara psikologis, jerat utang, sedikit apalagi banyak akan membebani pikiran. “Bahkan ada yang ingin bunuh diri gara-gara tak sanggup membayar utangnya,” kisahnya.

Ibu-ibu pedagang Pasar Terapung diimbau agar tak ikut-ikutan berutang kepada rentenir yang kerap mengatasnamakan koperasi dan masuk ke kampung-kampung.

“Karena sudah masuk dalam kategori riba. Bayangkan, riba yang terkecil saja, dosanya sama dengan menzinahi ibu kandung. Itu Islam yang mengatakan,” bebernya.

Bursan menyampaikan, mereka akan kembali lagi ke Pasar Terapung dengan jumlah pegiat yang lebih banyak. “16 Agustus nanti kami akan kembali lagi. Bahkan pegiat MTR seluruh Indonesia akan datang. Kami menjadi tuan rumah. Sekalian untuk mengenalkan destinasi wisata yang di Banjarmasin,” pungkasnya.

Sebelum pulang, mereka diberikan pantun dari ibu-ibu pedagang. “Sampit Pangkalambun, kepala sakit, hutang bertimbun,” seloroh seorang pedagang Pasar Terapung. (mr-154/fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/