alexametrics
28.1 C
Banjarmasin
Kamis, 19 Mei 2022

Sawah di Gambut Berkurang, Omzet Penjual Pupuk Menurun

Berkurangnya lahan pertanian yang beralih fungsi ke perumahan ini, menimbulkan multi effect. Salah satu yang terkena dampaknya yaitu penjual pupuk untuk padi.

Bani (49), penjual pupuk pertanian di Desa Kayu Bawang Kecamatan Gambut mengatakan, kalau dibandingkan sebelum ada perumahan hingga menjamur seperti sekarang, omzetnya berkurang dari 10 sampai 20 persen.

Masalah muncul ketika pupuk bersubsidi hanya tersedia sampai bulan Maret. Sementara masih banyak petani yang baru memulai bercocok tanam di bulan Juni. Di sisi lain, petani kurang berminat dengan pupuk bersubsidi, lantaran harganya yang cukup tinggi.

“Harga pupuk urea yang paling banyak dipakai petani Rp90.000, sedangkan pupuk urea non subsidi mencapai Rp250.000,” bebernya.

Dikatakannya, walaupun ada petani yang membeli pupuk non subsidi, karena terpaksa karena baru memulai bertani di lewat bulan Maret, itu pun hanya dengan jumlah sedikit. Jadi petani sekarang berasumsi, yang penting menggunakan pupuk. Sehingga hasil pertanian pun tidak seproduktif dulu.

Melihat kondisi itu, Bani pun mengaku saat ini dia tidak berani lagi menyetok pupuk non subsidi dengan jumlah banyak, karena kurang berminatnya petani dalam penggunaannya. (why/ay/ran/ema)

Berkurangnya lahan pertanian yang beralih fungsi ke perumahan ini, menimbulkan multi effect. Salah satu yang terkena dampaknya yaitu penjual pupuk untuk padi.

Bani (49), penjual pupuk pertanian di Desa Kayu Bawang Kecamatan Gambut mengatakan, kalau dibandingkan sebelum ada perumahan hingga menjamur seperti sekarang, omzetnya berkurang dari 10 sampai 20 persen.

Masalah muncul ketika pupuk bersubsidi hanya tersedia sampai bulan Maret. Sementara masih banyak petani yang baru memulai bercocok tanam di bulan Juni. Di sisi lain, petani kurang berminat dengan pupuk bersubsidi, lantaran harganya yang cukup tinggi.

“Harga pupuk urea yang paling banyak dipakai petani Rp90.000, sedangkan pupuk urea non subsidi mencapai Rp250.000,” bebernya.

Dikatakannya, walaupun ada petani yang membeli pupuk non subsidi, karena terpaksa karena baru memulai bertani di lewat bulan Maret, itu pun hanya dengan jumlah sedikit. Jadi petani sekarang berasumsi, yang penting menggunakan pupuk. Sehingga hasil pertanian pun tidak seproduktif dulu.

Melihat kondisi itu, Bani pun mengaku saat ini dia tidak berani lagi menyetok pupuk non subsidi dengan jumlah banyak, karena kurang berminatnya petani dalam penggunaannya. (why/ay/ran/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/